Mag-log inSedan biru bertulisian Taxi di atasnya berhenti di depan pagar hitam setinggi empat meter. Seseorang turun dari mobil itu. Kedua kakinya menapak di atas aspal lembab setelah dibasahi air hujan. Tidak lama Taxi meninggalkan wanita cantik yang kini wajahnya terlihat lebih segar. Gauri menatap bangunan rumah menengah atas dengan napas berat. Dia menghela napas kasar lalu tangan kanannya dengan berat mendorong pagar rumah.
Gauri melangkah masuk ke dalam sangkar yang selama ini ia tempati. Napas wanita itu terasa sesak melihat isi rumah yang dipenuhi kenangan tidak menyenangkan. "Baru pulang, kamu?" Gauri sedikit tersentak mendengar nada ketus dan dingin. Kepalanya dengan berat menoleh ke ruang tamu—hatinya terasa amat sakit melihat tunangannya kini duduk seraya memeluk pinggang Fanya begitu posesif. Gauri tersenyum kecut. "Sekarang, begitu terang-terangan," ucapnya lirih, sorot matanya kecewa sangat dalam melihat kemesraan Fanya dan Revandra. Lebih menyakitkan ketika Aben—ayahnya hanya diam melihat sikap adiknya yang begitu sembrono sudah merebut tunangannya. Tatapan Gauri menunduk lalu mendesah pelan. "Apa yang kuharapkan dari, dia?" Kalimat kecewa yang mampu dia ucapkan pelan. "Bukannya menjawab pertanyaan orang tua, malah diam begitu." Kali ini nada sarkas keluar dari mulut Claudia—ibu tirinya. Gauri mengangkat pandangannya kedua matanya terkunci oleh sepasang mata yang kini tengah menatap tajam padanya. Dia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit di hatinya. Gauri mengepalkan tangan mengumpulkan keberanian. "Aku, menginap di hotel." "Apa?!" Aben dan Claudia serempak memekik terkejut. Fanya terkejut menatap Gauri dengan tidak percaya. "K—kak ... menginap di hotel?" ucapnya terbata. Revandra mengepalkan tangan dengan kuat wajah putihnya semerah tomat. Dia menatap sengit Gauri, hatinya terbakar napasnya terasa panas. Aben berdiri—wajahnya menggelap. "Apa yang kamu lakukan, di sana?!" bentaknya murka. Gauri meremas ujung bajunya menggigit bibir dalamnya semakin kuat. Aroma anyir memenuhi rongga mulut akibat bibirnya berdarah oleh ulahnya. Dia dengan sisa keberanian menatap Revandra. "Tunanganku ... selingkuh dengan adikku sendiri. Bukan hanya Revan, yang bisa tidur sama wanita lain. Aku juga ... bisa melakukannya." Revandra beranjak dengan emosi yang meledak. Dia menghampiri Gauri, tanpa memikirkan perasaan Gauri dia menarik baju atas Gauri. Benar saja jejak percintaan semalam ada di bawah leher wanita polos di depannya. Tatapan Revandra menggelap. "Apa yang kamu, lakukan?" Menggeram marah. Gauri menatap Revandra dengan sayu, sudut bibirnya terangkat tipis. Bukan senyum lemah melainkan sebuah kekuatan tersembunyi. "Aku hanya mengikuti jejakmu, saja." Fanya terpaku melihat reaksi Revandra, dadanya terasa sesak. "Kak, Revan?" cicitnya, kedua matanya merah. Dia takut hati Revandra kembali goyah. Revandra mendorong bahu Gauri dengan kasar. "Sudah tidak waras." Gauri tertawa parau menatap Revandra. "Kamu yang memulainya, Revan!" "Semua ini, karena kamu munafik! Kamu tunanganku, tapi kamu tidak mau aku sentuh sedikitpun!" Revandra meluapkan emosinya begitu saja. Gauri tertegun kedua matanya berkaca-kaca kedua alisnya turun. Rasanya begitu sesak, sakit, dan terluka lengkap sudah perasaannya. "Ini alasan kamu, berselingkuh dengan, Fanya?" Revandra menolehkan kepala memandang Fanya yang kini tengah menatapnya dengan kecewa. Dia tersenyum lembut menatap Fanya. "Aku, mencintainya," ucapnya dalam dan penuh kelembutan. Aben menghampiri Gauri lalu menampar anaknya dengan kasar. "Dasar memalukan!" Semua orang yang ada di ruang tamu terkejut atas tindakan Aben. Wajah Gauri sampai menoleh ke kanan merasakan panas, perih dan sakit menjalar akibat tamparan keras. Telapan tangan besar Aben membekas berwarna merah di wajahnya. Gauri dengan hati yang begitu remuk menatap Aben dengan sorot mata terluka. Banyak luka di sana—pilih kasih, kekerasan verbal yang kerap dia dapatkan dari ayahnya. "Bukan aku, ayah. Fanya, dia yang ambil calon suamiku." Gauri dengan tegas mengucapkan isi kepalanya dengan mata memerah siap menangis. "Kak Gauri, aku nggak merebut Kak Revan," cicit Fanya dengan suara bergetar ketakutan. Seketika semua orang yang berpihak kepadanya menatapnya penuh simpati. Fanya sosok yang selalu dianggap lemah lembut dan perlu dilindungi. Gauri tersenyum miris melihat ayah dan tuangannya begitu mencemaskan Fanya hanya karena nada ketakutan wanita itu. Selama ini dialah yang diperlakukan tidak adil tapi di mata keluarganya dia adalah sosok antagonis dalam kehidupan Fanya. "Baiklah, Revandra aku lepaskan untukmu, Fanya. Mulai sekarang, tidak ada lagi Revandra tunanganku. Aku membebaskan kalian, mulai sekarang kalian bebas publikasikan hubungan kotor kalian di hadapan publik." Gauri melangkah meninggalkan ruang tamu. Revandra tertegun menatap punggung Gauri yang menjauh. "Kenapa, hatiku tidak merasa senang. Justru, merasa ada yang mengganjal," batinnya. ** Seorang pria tampan memiliki rahang tegas masih terlelap dalam tidurnya di atas ranjang hotel berseprai putih. Matahari sudah bersinar sangat terang di luar bangunan hotel. Kelopak mata berbulu mata lentik bergerak terbuka, tangan kekar meraba samping tempat tidurnya. Kedua matanya terbuka lebar. "Sudah pergi?" Mengejitkan alisnya tidak suka. Suara serak dan berat khas bangun tidur terdengar sexi. Pria itu terbangun karena kesal bahu lebar sampai otot dadanya terlihat sempurna. Barisan roti sobek terlihat malu-malu di balik selimut putih. Dia mengacak rambutnya frustasi. "Ck, sial! Setelah digunakan, aku ditinggal sendirian di sini. Harga diriku, tidak pernah serendah ini." Azeo dengan kesal menyibak selimut lalu meraih bathroob yang ada di atas sofa, dengan cepat menutup tubuh polosnya. Netra elangnya menangkap noda di atas ranjang. Dia tersenyum smirk penuh kemenangan. "Pantas saja, semalam terasa nikmat. Rupanya masih virgin." Perlahan menjadi seringai tipis. Ketukan pintu terdengar. "Masuk!" Titah Azeo dengan tegas bernada dingin. Tidak lama pria berjas hitam rapih memasuki kamar hotel. Pria itu mengamati ranjang yang berantakan dan noda darah di atasnya. Netra hitamnya menajam lalu dia kembali memandang atasannya. "Tuan Azeo, satu jam lagi akan ada rapat." "Hem." Azeo dengan santai berjalan ke kamar mandi. Namun, tepat di depan pintu dia berhenti. "Cari tau, siapa yang semalam tidur dengan saya!" "Baik tuan." Azeo masuk ke dalam kamar mandi membutuhkan waktu sedikit lama setengah jam kemudian pria itu keluar dengan tubuh segar dan rambut basah. Satu set jas hitam sudah menggantung rapi di dekat ranjang. Keberadaan asistennya sudah tidak ada di kamarnya. Azeo mengenakan jas dan merapikan tatanan rambutnya. Saat dia hendak mengambil arloji miliknya di atas nakas. Azeo mengejitkan alis saat melihat sebuah cicin berlian. Azeo mengambilnya lalu memeriksa cicin itu dengan teliti. "Apa maksudnya, ini?" Mengerutkan keningnya bingung. Seketika wajahnya berubah merah padam daun telinganya memerah. Raut wajahnya tidak bersahabat. "Sialan! Aku dibayar pakai cincin yang harganya tidak, seberapa?" ucapnya menahan amarah. "Gelar ceo ku, disamakan dengan model murahan." Azeo mendesis marah menggenggam erat cincin di tangannya.Di bawah langit sore berkelabu seorang wanita duduk taman kota seraya menatap nanar lampiran kertas hasil pemeriksaan. Kepalanya menunduk menyembunyikan separuh wajahnya ke dalam syal tebal. Pundaknya terasa begitu berat oleh beban yang dia pikul. "Bagaimana ini? Aku sudah tanda tangan kontrak, jika Tuan Muda Azeo tahu, tamatlah riwayatku," gumam Gaori dengan frustasi dan putus asa. Gauri mengusap perutnya yang masih rata kini di dalamnya sudah ada kehidupan yang harus dia jaga. "Aku mana tega menggugurkannya, walaupun aku tidak tahu siapa laki-laki di malam itu. Kamu tetaplah anakku," ucapnya dengan pilu tetapi ada ketegaran secara bersamaan. Tidak ingin hanyut dalam kesedihan Gauri beranjak pergi dari taman. Saat ini dia ingin menenangkan perasaannya hatinya berkecamuk dan campur aduk. Bingung, bimbang, takut serta cemas memikirkan nasibnya jika Azeo mengetahui kehamilannya.Dengan langkah pelan tapi pasti Gauri menyusuri trotoar menuju rumahnya. Tiga puluh menit dia menghabiskan
Di bawah langit mendung Kota Shanghai Gauri berdiri menunggu taxi. Hari ini dia mengenakan jaket tebal serta syal untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin di musim dingin. Beberapa waktu yang lalu seseorang dari keluarga Regantara menghubunginya. Ada janji temu di sebuah resto di dekat kediamannya. Taxi pesanannya datang—Gauri masuk setelah memastikannya melalui aplikasi di ponselnya. Tiga puluh menit perjalanan. Taxi berhenti di depan resto klasik ternama di kotanya. Setelah melakukan pembayaran dia turun lalu merapikan penampilannya. Gauri memasuki resto dan langsung disambut oleh pria berjas klimis bertubuh tegap. "Selamat datang nona, saya Alexus. Sekretaris Tuan Muda Azeo," ucapnya dengan tegas.Gauri terkesia dengan ketegasan dan wibawa Alexus, jika seorang sekretaris memiliki wibawa kuat. Lalu bagaimana dengan pemimpinnya?"Sepertinya, resto hari ini sepi, ya?" Gauri melihat di dalam resto tidak ada pelanggan selian dirinya dan Alexus."Saya sudah full buyout, nona. Sesuai
"Apa?!" Masih pagi Fanya sudah membuat keributan di meja makan. "Pelankan suaramu Fanya," tagur Claudia. "Mamaaaa," protes Fanya dengan manja, "salahkan ayah! Pagi-pagi udah kasih berita yang tidak mengenakan!" keluhnya dengan bibir mengerucut kesal. Aben menghela napas panjang. "Pak Etan Regantara, menagih perjodohan dari keluarga kita. Ayah bisa apa, Fanya? Keluarga Regantara punya pengaruh besar di dunia bisnis. Ayah tidak mau, bisnis ayah berantakan hanya karena menolak perjodohannya," ungkapnya setengah frustasi. "Ayah, Azeo Regantara itu pria gemuk, jelek, buncit bahkan suka main wanita di bar. Aku nggak mau ayah, walaupun dia kaya, aku nggak sudi popularitas aku sebagai model disia-siakan begitu saja," tolak Fanya, "lagipula, aku sudah punya Kak Revan, kuasanya tidak kalah jauh dari Regantara." Caludia memijat pangkal hidungnya dengan penolakan Fanya. Kemarin malam dia sudah berdiskusi dengan Mahendra dan sudah diprediksi hal ini akan terjadi. "Sepertinya, uang masih kalah
Sedan biru bertulisian Taxi di atasnya berhenti di depan pagar hitam setinggi empat meter. Seseorang turun dari mobil itu. Kedua kakinya menapak di atas aspal lembab setelah dibasahi air hujan. Tidak lama Taxi meninggalkan wanita cantik yang kini wajahnya terlihat lebih segar. Gauri menatap bangunan rumah menengah atas dengan napas berat. Dia menghela napas kasar lalu tangan kanannya dengan berat mendorong pagar rumah. Gauri melangkah masuk ke dalam sangkar yang selama ini ia tempati. Napas wanita itu terasa sesak melihat isi rumah yang dipenuhi kenangan tidak menyenangkan. "Baru pulang, kamu?" Gauri sedikit tersentak mendengar nada ketus dan dingin. Kepalanya dengan berat menoleh ke ruang tamu—hatinya terasa amat sakit melihat tunangannya kini duduk seraya memeluk pinggang Fanya begitu posesif.Gauri tersenyum kecut. "Sekarang, begitu terang-terangan," ucapnya lirih, sorot matanya kecewa sangat dalam melihat kemesraan Fanya dan Revandra. Lebih menyakitkan ketika Aben—ayahnya hany
Gauri Yofella, tanpa ragu membuka sebuah pintu apartemen. Kaki jenjangnya berbalut sepatu putih melangkah lebar. Membuka pintu secara perlahan seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Suhu ruangan yang panas akibat aktifitas di atas ranjang serta erangan kenikmatan membuat tubuh Gauri meremang. Deg. Dia tersenyum getir kedua matanya berembun melihat tunangannya bermain panas dengan adiknya sendiri. Tangannya bergetar hebat memegang ponsel yang ia gunakan untuk mengambil gambar. Mulut bergetarnya ia tutup dengan jari lentiknya. Hatinya hancur pria yang selama ini menjadi bahu ternyaman, justru menjadi mata pedang yang menggores hatinya dengan kejam. "Gauri?" Revandra terkejut dengan keberadaan tunangannya di sana. Dia gegas turun dari tubuh wanita di bawahnya, menarik selimut menutupi tubuh telanjangnya. Gauri menatap kecewa wajah tidak bersalah Revandra. Dia tersenyum getir melihat pria itu gegas memakai boxer secara asal. "Maaf mengganggu," ucap Gauri pelan menyiratkan k







