Mag-log inDi bawah langit mendung Kota Shanghai Gauri berdiri menunggu taxi. Hari ini dia mengenakan jaket tebal serta syal untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin di musim dingin. Beberapa waktu yang lalu seseorang dari keluarga Regantara menghubunginya. Ada janji temu di sebuah resto di dekat kediamannya.
Taxi pesanannya datang—Gauri masuk setelah memastikannya melalui aplikasi di ponselnya. Tiga puluh menit perjalanan. Taxi berhenti di depan resto klasik ternama di kotanya. Setelah melakukan pembayaran dia turun lalu merapikan penampilannya. Gauri memasuki resto dan langsung disambut oleh pria berjas klimis bertubuh tegap. "Selamat datang nona, saya Alexus. Sekretaris Tuan Muda Azeo," ucapnya dengan tegas. Gauri terkesia dengan ketegasan dan wibawa Alexus, jika seorang sekretaris memiliki wibawa kuat. Lalu bagaimana dengan pemimpinnya? "Sepertinya, resto hari ini sepi, ya?" Gauri melihat di dalam resto tidak ada pelanggan selian dirinya dan Alexus. "Saya sudah full buyout, nona. Sesuai permintaan Tuan Muda Azeo. Beliau ingin pertemuan kita tidak diketahui orang lain," ungkap Alexus. Gauri terkesiap dengan cara bekerja orang kaya. Menyewa satu gedung hanya agar lebih privat adalah cara menghabiskan uang oleh orang yang kelebihan uang. "Dari pada buat sewa gedung, sebaiknya buat bertahan hidup di luar. Kalau aku yang pegang uang sebanyak ini, pasti sudah lama lepas dari keluarga ayah," batinnya. "Mari nona!" Alexus mempersilahkan Gauri agar duduk di meja yang sudah ditentukan. "Apa aku terlalu, memalukan? Sampai-sampai benar-benar sepi tidak ada orang," ucap Gauri dalam hati sambil mengamati sekitarnya. "Saya tidak akan menyita waktu anda terlalu lama, nona. Saya akan menyampaikan maksud kedatangan saya mewakili Tuan Muda Azeo," ucap Alexus dengan profosional. Benar, Azeo tidak menemui Gauri secara langsung. Wanita itu sedikit tersinggung pasalnya pria itu bersikap seolah-olah dirinya tidak pantas menjadi pasangan. Bukankah menurut rumor pria itu yang berpenampilan aneh? Lupakan hal itu. Gauri tidak akan memikirkannya terlalu panjang. Lagipula pernikahan ini hanya dia manfaatkan agar terlepas dari Aben. "Silahkan Pak Alxus, saya akan mendengarkannya," balas Gauri. Alexus menyerahkan dokumen di atas meja kepada Gauri. "Saya, membawa dokumen perjanjian yang sudah Tuan Muda Aben siapkan." Gauri dengan kening berkerut menerimanya. "Apa ini?" Dia membuka dokumen dan membaca isinya. Kedua matanya terbuka lebar, sebuah transaksi berjangka waktu. Isi perjanjian yang menurut Gauri tidak akan merugikannya. Azeo menulis tiga syarat yang harus dia taati. 1. Menjalankan berbatas satu tahun. a) Kedua belah pihak wajib menjalankan peran pasangan di depan keluarga secara profesional. b) Kedua belah pihak dilarang memiliki hubungan bersama lawan jenis selama periode pernikahan. c) Menyembunyikan status pernikahan di depan publik. 2. Tidak ada kontak fisik untuk menjaga kestabilan. a) Jika ada yang melanggar wajib memberikan ganti rugi fisik berupa uang dengan nominal yang di tentukan b) Nominal yang disepakati 100.000 CNY. Gauri melotot melihat nomonal ganti rugi. "Astaga! Ini pemerasan!" gumamya dengan kesal, "ck, siapa juga yang mau kegatelan," imbuhnya. 3. Pihak pertama akan memberikan kompensasi uang sejumlah 1.000.000 CNY jika pihak kedua berhasil menaati peraturan. Gauri melihat bubuan tanda tangan Azeo Regantara sebuah coretan yang memiliki pengaruh besar di dunia bisnis international. "Baiklah, aku setuju!" ucapnya dengan mantap menatap Alexus dengan serius. Alexus tersenyum smirk wanita di depannya sangat patuh tanpa drama. Dia sengaja memberikan kompensasi 1M agar tidak ada drama yang tidak perlu. "Baiklah." Gauri membubuhkan tanda tangan berdampingan dengan Azeo—kedepannya menjadi suami kontrak. "Apa masih ada, lagi?" Dengan kelapa tegak menatap Alexus. "Untuk saat ini, cukup sampai di sini." Setelah memastikan tanda tangan Gauri, Alexus meletakan dokumen ke dalam tas kerjanya. "Selamat bekerja sama, Nona Gauri." "Saya mohon bimbingannya, Pak Alexus," balas Gauri dengan sopan. "Saya permisi dulu." Alexus beranjak lalu meninggalkan resto. Membiarkan Gauri duduk seorang diri di dalamnya. Setelah kepergian Alexus, Gauri menatap meja dengan nanar. Setelah apa yang terjadi hari ini, hidupnya ke depannya akan berlajan sesuai perintah dari orang lain. Gauri mendesah panjang. "Setidaknya, aku akan mendapatkan kompensasi." Benar saja dia harus bertahan lagipula hanya satu tahun. Dia pasti mampu melewatinya dengan baik. ** Selang satu bulan setelah tanda tangan perjanjian. Pihak Regantara masih belum ada kabar untuk perkembangan perjodohan keluarga. Gauri melakukan aktifitasnya seperti biasa—bekerja di salah satu perusahaan. "Gauri, dokumen yang aku berikan sudah, siap?" tanya senior laki-laki berusia kepala lima. "Sebentar lagi selesai, pak." Gauri masih sibuk dengan komputernya. Di dalam tim management Gauri masih menjadi karyawan magang. Banyak pekerjaan senior yang dilimpahkan kepadanya. Terlalu berat tetapi dia tidak bisa menolak. "Cepatlah! Sebentar lagi saya meeting bersama divisi lainnya!" desak senior tidak tahu diri. "Baik pak." Dengan patuh Gauri mempercepat pekerjaannya. Saat Gauri hendak melakukan foto copy pada mesin kantor. Rasa pusing dan sakit kepala membuat tubuhnya lmbung. "Gauri! Kamu tidak apa-apa?!" Seorang rekan kerja wanita tidak jauh dari Gauri menopang tubuhnya. Gauri memegangi kepala yang berdenyut nyeri. "Sedikit pusing." Rekan kerja Gauri menatap cemas pasalnya wajah Gauri sangat pucat. "Jangan terlalu memanjakan Pak Sam! Kamu bukan robot atau tenaga kuda, kamu juga bisa kelelahan dan sakit, Gauri," nasehatnya. Gauri menggeleng pelan. "Aku tidak berani, melawan," cicirnya pelan. Rekan kerja Gauri menghela napas pendek. "Aku tahu, tapi Pak Sam sangat keterlaluan, semua pekerjaannya diserahkan ke kamu. Tapi, disaat dia dapat pujian dan bonus, kamu tidak mendapatkan hasil jeri payah mu. Hanya dia yang namanya melambung tinggi." "Biarkan saja! Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini," balas Gauri dengan pelan dan lemas. Saat itu juga tubuh Gauri kehilangan kesadaran. "Gauri!!" pekik rekan kerjanya. Gauri dilarikan ke rumah sakit oleh beberapa rekan kerja. Namun, setelah itu Gauri ditinggal begitu saja di rumah sakit. Mereka kembali ke kantor untuk bekerja. Gauri mengerjapkan mata setelah tidak sadar tiga jama. Kedua retinanya menyesuaikan cahaya lampu yang masuk ke dalam mata. Dia mendapati ruangan putih serta bau obat yang menyeyang. Gauri melihat sekitarnya dan menemukan sebuah tiyang infus. "Aku di rumah, sakit?" gumamnya pelan. Kepalanya masih terasa berat. Pintu ruang rawta inap terbuka, seorang suater masuk membawa hasil pemeriksaan. "Anda sudah, sadar?" Gauri memandang suster dengan bingung. "Sus, siapa yang membawa saya, ke sini?" Suster memeriksa selang infus di tangan Gauri. "Rekan kerja anda." Gauri mengangguk faham. "Sus, saya sudah bisa pulang, kan?" Suster selesai memeriksa selang infus serta memastikan tidak ada masalah di tubuh Gauri. "Hari ini, anda bisa pulang." Gauri bernapas lega. "Terima kasih, sus. Oh iya, sebenarnya ya saya kenapa? Kenapa tiba-tiba kepala saya pusing dan, pingsan?" Suster menyerahkan hasil pemeriksaan kepada Gauri. "Anda hamil, hari ini masuk empat minggu." Deg. Tubuh Gauri kaku tangannya kaku memegang hasil tes pemeriksaan. Kedua matanya tidak dapat disembunyikan dari rasa terkejutnya. "A—aku hamil?"Di bawah langit sore berkelabu seorang wanita duduk taman kota seraya menatap nanar lampiran kertas hasil pemeriksaan. Kepalanya menunduk menyembunyikan separuh wajahnya ke dalam syal tebal. Pundaknya terasa begitu berat oleh beban yang dia pikul. "Bagaimana ini? Aku sudah tanda tangan kontrak, jika Tuan Muda Azeo tahu, tamatlah riwayatku," gumam Gaori dengan frustasi dan putus asa. Gauri mengusap perutnya yang masih rata kini di dalamnya sudah ada kehidupan yang harus dia jaga. "Aku mana tega menggugurkannya, walaupun aku tidak tahu siapa laki-laki di malam itu. Kamu tetaplah anakku," ucapnya dengan pilu tetapi ada ketegaran secara bersamaan. Tidak ingin hanyut dalam kesedihan Gauri beranjak pergi dari taman. Saat ini dia ingin menenangkan perasaannya hatinya berkecamuk dan campur aduk. Bingung, bimbang, takut serta cemas memikirkan nasibnya jika Azeo mengetahui kehamilannya.Dengan langkah pelan tapi pasti Gauri menyusuri trotoar menuju rumahnya. Tiga puluh menit dia menghabiskan
Di bawah langit mendung Kota Shanghai Gauri berdiri menunggu taxi. Hari ini dia mengenakan jaket tebal serta syal untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin di musim dingin. Beberapa waktu yang lalu seseorang dari keluarga Regantara menghubunginya. Ada janji temu di sebuah resto di dekat kediamannya. Taxi pesanannya datang—Gauri masuk setelah memastikannya melalui aplikasi di ponselnya. Tiga puluh menit perjalanan. Taxi berhenti di depan resto klasik ternama di kotanya. Setelah melakukan pembayaran dia turun lalu merapikan penampilannya. Gauri memasuki resto dan langsung disambut oleh pria berjas klimis bertubuh tegap. "Selamat datang nona, saya Alexus. Sekretaris Tuan Muda Azeo," ucapnya dengan tegas.Gauri terkesia dengan ketegasan dan wibawa Alexus, jika seorang sekretaris memiliki wibawa kuat. Lalu bagaimana dengan pemimpinnya?"Sepertinya, resto hari ini sepi, ya?" Gauri melihat di dalam resto tidak ada pelanggan selian dirinya dan Alexus."Saya sudah full buyout, nona. Sesuai
"Apa?!" Masih pagi Fanya sudah membuat keributan di meja makan. "Pelankan suaramu Fanya," tagur Claudia. "Mamaaaa," protes Fanya dengan manja, "salahkan ayah! Pagi-pagi udah kasih berita yang tidak mengenakan!" keluhnya dengan bibir mengerucut kesal. Aben menghela napas panjang. "Pak Etan Regantara, menagih perjodohan dari keluarga kita. Ayah bisa apa, Fanya? Keluarga Regantara punya pengaruh besar di dunia bisnis. Ayah tidak mau, bisnis ayah berantakan hanya karena menolak perjodohannya," ungkapnya setengah frustasi. "Ayah, Azeo Regantara itu pria gemuk, jelek, buncit bahkan suka main wanita di bar. Aku nggak mau ayah, walaupun dia kaya, aku nggak sudi popularitas aku sebagai model disia-siakan begitu saja," tolak Fanya, "lagipula, aku sudah punya Kak Revan, kuasanya tidak kalah jauh dari Regantara." Caludia memijat pangkal hidungnya dengan penolakan Fanya. Kemarin malam dia sudah berdiskusi dengan Mahendra dan sudah diprediksi hal ini akan terjadi. "Sepertinya, uang masih kalah
Sedan biru bertulisian Taxi di atasnya berhenti di depan pagar hitam setinggi empat meter. Seseorang turun dari mobil itu. Kedua kakinya menapak di atas aspal lembab setelah dibasahi air hujan. Tidak lama Taxi meninggalkan wanita cantik yang kini wajahnya terlihat lebih segar. Gauri menatap bangunan rumah menengah atas dengan napas berat. Dia menghela napas kasar lalu tangan kanannya dengan berat mendorong pagar rumah. Gauri melangkah masuk ke dalam sangkar yang selama ini ia tempati. Napas wanita itu terasa sesak melihat isi rumah yang dipenuhi kenangan tidak menyenangkan. "Baru pulang, kamu?" Gauri sedikit tersentak mendengar nada ketus dan dingin. Kepalanya dengan berat menoleh ke ruang tamu—hatinya terasa amat sakit melihat tunangannya kini duduk seraya memeluk pinggang Fanya begitu posesif.Gauri tersenyum kecut. "Sekarang, begitu terang-terangan," ucapnya lirih, sorot matanya kecewa sangat dalam melihat kemesraan Fanya dan Revandra. Lebih menyakitkan ketika Aben—ayahnya hany
Gauri Yofella, tanpa ragu membuka sebuah pintu apartemen. Kaki jenjangnya berbalut sepatu putih melangkah lebar. Membuka pintu secara perlahan seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Suhu ruangan yang panas akibat aktifitas di atas ranjang serta erangan kenikmatan membuat tubuh Gauri meremang. Deg. Dia tersenyum getir kedua matanya berembun melihat tunangannya bermain panas dengan adiknya sendiri. Tangannya bergetar hebat memegang ponsel yang ia gunakan untuk mengambil gambar. Mulut bergetarnya ia tutup dengan jari lentiknya. Hatinya hancur pria yang selama ini menjadi bahu ternyaman, justru menjadi mata pedang yang menggores hatinya dengan kejam. "Gauri?" Revandra terkejut dengan keberadaan tunangannya di sana. Dia gegas turun dari tubuh wanita di bawahnya, menarik selimut menutupi tubuh telanjangnya. Gauri menatap kecewa wajah tidak bersalah Revandra. Dia tersenyum getir melihat pria itu gegas memakai boxer secara asal. "Maaf mengganggu," ucap Gauri pelan menyiratkan k







