Home / Romansa / Dosa Tersembunyi Sang Tiran / Bab 5. Mempertahankan Bayi

Share

Bab 5. Mempertahankan Bayi

Author: Navina
last update publish date: 2026-09-09 11:54:19

Di bawah langit sore berkelabu seorang wanita duduk taman kota seraya menatap nanar lampiran kertas hasil pemeriksaan. Kepalanya menunduk menyembunyikan separuh wajahnya ke dalam syal tebal. Pundaknya terasa begitu berat oleh beban yang dia pikul.

"Bagaimana ini? Aku sudah tanda tangan kontrak, jika Tuan Muda Azeo tahu, tamatlah riwayatku," gumam Gaori dengan frustasi dan putus asa.

Gauri mengusap perutnya yang masih rata kini di dalamnya sudah ada kehidupan yang harus dia jaga. "Aku mana tega menggugurkannya, walaupun aku tidak tahu siapa laki-laki di malam itu. Kamu tetaplah anakku," ucapnya dengan pilu tetapi ada ketegaran secara bersamaan.

Tidak ingin hanyut dalam kesedihan Gauri beranjak pergi dari taman. Saat ini dia ingin menenangkan perasaannya hatinya berkecamuk dan campur aduk. Bingung, bimbang, takut serta cemas memikirkan nasibnya jika Azeo mengetahui kehamilannya.

Dengan langkah pelan tapi pasti Gauri menyusuri trotoar menuju rumahnya. Tiga puluh menit dia menghabiskan waktu berjalan. Langit sudah mulai gelap, cahaya lampu jalan sudah menyala menerangi jalanan malam.

Saat Gauri memasuki rumah langkahnya disambut canda tawa keluarga cemara. Dia tersenyum kecut karena tidak bagian dirinya di dalamya.

Revandra menyadari kedatangan Gauri. "Kamu sudah, pulang?"

Gauri melirik sekilas Revandra dari ekor matanya. Dia mengindahkan sapaan yang terdengar terpaksa di telinganya. Gauri tetap melangkah dengan acuh.

"Kamu bisu mendadak, Gauri?" tandas Claudia dengan kasar.

Langkah Gauri terhenti. "Aku capek, mah," kilahnya tetapi tidak sepenuhnya bohong. Dia cukup lelah untuk saat ini lelah fisik serta pikiran.

Revandra menatap punggung Gauri dengan iba, bagaimanapun Gauri pernah menjadi tunangannya. Sempat masuk ke dalam hatinya sampai hasrat menguasainya. "Naik saja kalau capek!"

Fanya menahan kesal—Revandra masih menaruh perhatian terhadap Gauri. "Menyebalkan!" makinya dalam hati.

Claudia tersenyum canggung kepada Revandra. "Revan, kalau sikap anak ini dibiarkan. Nanti semakin ngelunjak!" tukasnya.

Gauri menghela napas dalam kedua matanya memerah dan berkaca-kaca. Suasan hatinya mudah berubah-ubah layaknya cuaca yang sulit ditebak. "Aku baru pulang kerja, mah. Kalau kalian mau berbincang hangat, silahkan!" ucapnya sambil berbalik badan.

Revandra terkesiap melihat kedua mata Gauri sedikit sembab dan merah. "Dia habis, menangis?" batinnya.

"Sebelum naik, ambilkan camilan di dapur! Fanya belum mencicipinya!" perintah Claudia.

Gauri tersenyum tipis. "Ada pelayan yang bisa melakukannya," tolaknya dengan halus.

Revandra baru menyadari kehidupan Gauri di rumah ini. Selama ini dia hanya menyadari hubungan Gauri dan kedua orang tuanya tidak baik. Tanpa tahu alasannya sehingga Gauri menjaga jarak.

"Pelayan lagi sibuk semua, apa salahnya kamu mengambilkan camilan untuk, adikmu?" tandas Claudia.

Gauri menghela napas berat rasanya suasan hatinya semakin memburuk. "Aku, benar-benar lelah," balasnya dengan pelan dan parau.

"Gauri, adikmu menginginkannya!" Claudia menekan suara dan giginya untuk mendesak Gauri.

"Tante, Gauri sepertinya memang kelelahan. Biar aku saja yang ambil, camilan." Revandra beranjak mengambil camilan ke dapur.

"Eh kak!" Fanya terkejut dengan reaksi Revandra.

Gauri tidak memperdulikan orang yang ada di ruang tamu. Dia melangkah kembali menaiki tangga menuju kamarnya. Langkah kakinya terlihat begitu lemas dan gontai.

Claudia mendesis kesal ingin sekali membuat perhitungan dengan Gauri. Tetapi masih ada Revandra di rumahnya, pergerakannya tidak bebas. Dia harus menjaga image dan sikapnya di hadapan Revandra.

Revandra melihat ke lantai dua tepat ketika Gauri membuka pintu kamar. Dia melihat punggung lelah wanita itu. Jika diperhatikan Gauri tampak menderita tetapi saat wanita itu masih menjadi tunangannya. Dia tidak menyadarinya.

Gauri menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang sederhana. Tubuh terlentang menatap langit-langit kamar. "Bagaimana ini?" Rasanya pikirannya sangat kalut. Hatinya sangat cemas jika Azeo sampai mengetahui kandungannya.

"Siapa pria malam, itu?" Gauri sangat putus asa, untuk pertama kalinya dia merutuki kebodohannya mencari pria satu malam.

**

Di bawah lampu gantung yang mewah dan megah. Azeo masih sibuk dengan tumpukan dokumen di ruang kerja di kediamannya. Dia membaca dengan teliti setiap dokumen kerja sama.

Ketukan pintu menyadarkannya. "Masuk!" titahnya tanpa mengalihkan atensinya.

Alexus memasuki ruang kerja Azeo dengan wajah sedatar dinding. Dia berdiri dengan tegap di depan meja kerja Azeo. "Tuan, wanita yang tuan cari. Dia bekerja di anak perusahaan anda," ucapnya melaporkan penemuannya.

Azeo mengangkat kepalanya menatap lekat Alexus. "Dibagian apa?"

"Management," ucap Alexus.

"Bagus, besok kita ke sana." Azeo tersenyum misterius. Sudah satu bulan sejak perpisahan di atas ranjang.

"Tuan, calon istri anda. Adalah wanita yang sedang anda cari," ungkap Alexus. Setelah beberapa jam yang lalu dia menemukan fakta jika calon nona mudanya adalah wanita yang meniduri Azeo.

Azeo terbelalak kaget. "Benarkah?!" Sangat antusias ada rasa yang sulit dia jelaskan sebagai pria kaku.

"Besok, biar anda saja yang memastikan saja tuan," balas Alexus.

"Atur jadwal, kita temui dia besok!" Azeo tersenyum miring.

"Baik tuan." Alexus membungkak patuh. "Saya, undur diri dulu tuan," imbuhnya.

"Hem." Fokus Azeo bercabang melihat resume Gauri di perusahaannya.

"Ternyata takdir itu ada, kamu sudah terikat denganku." Azeo tersenyum smirk.

**

Gauri tidak keluar dari kamar hari ini tubuhnya sangat tidak nyaman. Dia masih memejamkan mata di atas ranjangnya. Dalam posisi yang sama—terlentang menatap langit-langit kamar.

Di luar jendela kamar sinar matahari malu-malu menerobos horden tebal. Gauri tidak menghiraukannya. "Badanku, sangat lemas sekali," keluhnya dengan suara parau.

Dering ponsel di dekat tubuh mengejutkannya dengan enggan dia memeriksa layar ponselnya. "Astagaaaa ... dia mau apa?" Gauri frustasi melihat nama senior yang tertera di atas layar.

"Hallo pak," sapa Gauri saat mengangkat telfon.

[Gauri, kamu kenapa tidak, masuk? Kamu jangan seenaknya seperti ini!]

"Saya minta maaf, pak. Hari ini saya tidak enak badan. Semalam, saya sudah mengirim surat ke HRD melalui email. Saya juga menyertakan surat istirahat dari dokter," balas Gauri dengan berani.

[Haduh sayang sekali! Direktur hari ini datang, kamu justru tidak masuk. Padahal ini kesempatan besar, supaya kamu bisa naik jadi pegawai tetap.]

Kedua mata Gauri terbuka lebar sepertinya senior ingin membodohinya. "Waduh sayang sekali, pak! Saya sedang tidak enak badan," ujarnya pura-pura menyesal tidak bisa berangkat.

[Kamu jangan cemas! Berangkat saja, saya akan membantu kamu!]

Gauri memutar bola matanya jengah, realita yang akan terjadi. Dia mengerjakan tugas senior seperti anjing peliharaan yang patuh. Kali ini tubuhnya menolak semua itu. Dia hanya ingin istirahat sejenak tanpa ada yang mengusik.

"Maaf sekali pak, saya tidak bisa masuk." Setelah mengatakannya. Gauri menutup sambungan telfon secara sepihak. Dia menonaktifkan ponsel lalu melempar benda pipih itu secara asal di atas ranjang.

"Aku benar-benar, hanya ingin tidur," ucapnya dengan suara parau dan pelan. Perlahan kedua matanya kembali terpejam. Pagi ini dia sengaja melewatkan sarapannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dosa Tersembunyi Sang Tiran   Bab 5. Mempertahankan Bayi

    Di bawah langit sore berkelabu seorang wanita duduk taman kota seraya menatap nanar lampiran kertas hasil pemeriksaan. Kepalanya menunduk menyembunyikan separuh wajahnya ke dalam syal tebal. Pundaknya terasa begitu berat oleh beban yang dia pikul. "Bagaimana ini? Aku sudah tanda tangan kontrak, jika Tuan Muda Azeo tahu, tamatlah riwayatku," gumam Gaori dengan frustasi dan putus asa. Gauri mengusap perutnya yang masih rata kini di dalamnya sudah ada kehidupan yang harus dia jaga. "Aku mana tega menggugurkannya, walaupun aku tidak tahu siapa laki-laki di malam itu. Kamu tetaplah anakku," ucapnya dengan pilu tetapi ada ketegaran secara bersamaan. Tidak ingin hanyut dalam kesedihan Gauri beranjak pergi dari taman. Saat ini dia ingin menenangkan perasaannya hatinya berkecamuk dan campur aduk. Bingung, bimbang, takut serta cemas memikirkan nasibnya jika Azeo mengetahui kehamilannya.Dengan langkah pelan tapi pasti Gauri menyusuri trotoar menuju rumahnya. Tiga puluh menit dia menghabiskan

  • Dosa Tersembunyi Sang Tiran   Bab 4. Perjanjian

    Di bawah langit mendung Kota Shanghai Gauri berdiri menunggu taxi. Hari ini dia mengenakan jaket tebal serta syal untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin di musim dingin. Beberapa waktu yang lalu seseorang dari keluarga Regantara menghubunginya. Ada janji temu di sebuah resto di dekat kediamannya. Taxi pesanannya datang—Gauri masuk setelah memastikannya melalui aplikasi di ponselnya. Tiga puluh menit perjalanan. Taxi berhenti di depan resto klasik ternama di kotanya. Setelah melakukan pembayaran dia turun lalu merapikan penampilannya. Gauri memasuki resto dan langsung disambut oleh pria berjas klimis bertubuh tegap. "Selamat datang nona, saya Alexus. Sekretaris Tuan Muda Azeo," ucapnya dengan tegas.Gauri terkesia dengan ketegasan dan wibawa Alexus, jika seorang sekretaris memiliki wibawa kuat. Lalu bagaimana dengan pemimpinnya?"Sepertinya, resto hari ini sepi, ya?" Gauri melihat di dalam resto tidak ada pelanggan selian dirinya dan Alexus."Saya sudah full buyout, nona. Sesuai

  • Dosa Tersembunyi Sang Tiran   Bab 3. Ditumbalkan

    "Apa?!" Masih pagi Fanya sudah membuat keributan di meja makan. "Pelankan suaramu Fanya," tagur Claudia. "Mamaaaa," protes Fanya dengan manja, "salahkan ayah! Pagi-pagi udah kasih berita yang tidak mengenakan!" keluhnya dengan bibir mengerucut kesal. Aben menghela napas panjang. "Pak Etan Regantara, menagih perjodohan dari keluarga kita. Ayah bisa apa, Fanya? Keluarga Regantara punya pengaruh besar di dunia bisnis. Ayah tidak mau, bisnis ayah berantakan hanya karena menolak perjodohannya," ungkapnya setengah frustasi. "Ayah, Azeo Regantara itu pria gemuk, jelek, buncit bahkan suka main wanita di bar. Aku nggak mau ayah, walaupun dia kaya, aku nggak sudi popularitas aku sebagai model disia-siakan begitu saja," tolak Fanya, "lagipula, aku sudah punya Kak Revan, kuasanya tidak kalah jauh dari Regantara." Caludia memijat pangkal hidungnya dengan penolakan Fanya. Kemarin malam dia sudah berdiskusi dengan Mahendra dan sudah diprediksi hal ini akan terjadi. "Sepertinya, uang masih kalah

  • Dosa Tersembunyi Sang Tiran   Bab 2. Melepaskan

    Sedan biru bertulisian Taxi di atasnya berhenti di depan pagar hitam setinggi empat meter. Seseorang turun dari mobil itu. Kedua kakinya menapak di atas aspal lembab setelah dibasahi air hujan. Tidak lama Taxi meninggalkan wanita cantik yang kini wajahnya terlihat lebih segar. Gauri menatap bangunan rumah menengah atas dengan napas berat. Dia menghela napas kasar lalu tangan kanannya dengan berat mendorong pagar rumah. Gauri melangkah masuk ke dalam sangkar yang selama ini ia tempati. Napas wanita itu terasa sesak melihat isi rumah yang dipenuhi kenangan tidak menyenangkan. "Baru pulang, kamu?" Gauri sedikit tersentak mendengar nada ketus dan dingin. Kepalanya dengan berat menoleh ke ruang tamu—hatinya terasa amat sakit melihat tunangannya kini duduk seraya memeluk pinggang Fanya begitu posesif.Gauri tersenyum kecut. "Sekarang, begitu terang-terangan," ucapnya lirih, sorot matanya kecewa sangat dalam melihat kemesraan Fanya dan Revandra. Lebih menyakitkan ketika Aben—ayahnya hany

  • Dosa Tersembunyi Sang Tiran   Bab 1. Sakit Hati Berujung Ranjang

    Gauri Yofella, tanpa ragu membuka sebuah pintu apartemen. Kaki jenjangnya berbalut sepatu putih melangkah lebar. Membuka pintu secara perlahan seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Suhu ruangan yang panas akibat aktifitas di atas ranjang serta erangan kenikmatan membuat tubuh Gauri meremang. Deg. Dia tersenyum getir kedua matanya berembun melihat tunangannya bermain panas dengan adiknya sendiri. Tangannya bergetar hebat memegang ponsel yang ia gunakan untuk mengambil gambar. Mulut bergetarnya ia tutup dengan jari lentiknya. Hatinya hancur pria yang selama ini menjadi bahu ternyaman, justru menjadi mata pedang yang menggores hatinya dengan kejam. "Gauri?" Revandra terkejut dengan keberadaan tunangannya di sana. Dia gegas turun dari tubuh wanita di bawahnya, menarik selimut menutupi tubuh telanjangnya. Gauri menatap kecewa wajah tidak bersalah Revandra. Dia tersenyum getir melihat pria itu gegas memakai boxer secara asal. "Maaf mengganggu," ucap Gauri pelan menyiratkan k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status