Home / Romansa / Dosa Tersembunyi Sang Tiran / Bab 1. Sakit Hati Berujung Ranjang

Share

Dosa Tersembunyi Sang Tiran
Dosa Tersembunyi Sang Tiran
Author: Navina

Bab 1. Sakit Hati Berujung Ranjang

Author: Navina
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-09 11:51:40

Gauri Yofella, tanpa ragu membuka sebuah pintu apartemen. Kaki jenjangnya berbalut sepatu putih melangkah lebar. Membuka pintu secara perlahan seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Suhu ruangan yang panas akibat aktifitas di atas ranjang serta erangan kenikmatan membuat tubuh Gauri meremang.

Deg.

Dia tersenyum getir kedua matanya berembun melihat tunangannya bermain panas dengan adiknya sendiri. Tangannya bergetar hebat memegang ponsel yang ia gunakan untuk mengambil gambar. Mulut bergetarnya ia tutup dengan jari lentiknya. Hatinya hancur pria yang selama ini menjadi bahu ternyaman, justru menjadi mata pedang yang menggores hatinya dengan kejam.

"Gauri?" Revandra terkejut dengan keberadaan tunangannya di sana. Dia gegas turun dari tubuh wanita di bawahnya, menarik selimut menutupi tubuh telanjangnya.

Gauri menatap kecewa wajah tidak bersalah Revandra. Dia tersenyum getir melihat pria itu gegas memakai boxer secara asal.

"Maaf mengganggu," ucap Gauri pelan menyiratkan kekecewaan.

"Sejak kapan kamu, di sini?"

Tidak ada wajah ramah yang selama ini Gauri dapati dari Revandra. Wajah dingin serta tatapan menohok kini menjadi wajah asli tunangannya. Mata Gauri bergetar melihat adik tirinya tersenyum evil di atas ranjang dengan keringat yang masih hangat.

Gauri menghela napas kasar. "Lumayan." Hatinya hancur berkeping-keping. Melihat betapa munafiknya Revandra, dia anggap sebuah berkah di atas luka. Dia dapat mengetahui semua ini sebelum pernikahan dilangsungkan.

Haruskah dia berterima kasih kepada pengirim pesan anonim?

"K—kak Gauri." Suara Fanya bergetar pelan, seolah menyimpan rasa takut terintimidasi dengan kehadiran Gauri.

Gauri tersenyum tipis sorot matanya sangat kecewa. Tidak perlu menuangkan kata betapa ia sakit hati, tatapannya sudah berbicara jujur. "Kak Revan, aku juga bisa melakukannya. Kamu bisa tidur dengan adikku, aku pun dapat melakukannya," balasnya menantang.

"Kamu berani?" Revandra menggeram marah.

Gauri menyunggingkan bibir penuh misteri. "Tentu saja." Lalu dengan tekad bulat berbalik badan, menutup pintu hotel dengan kasar.

Revandra bergeming—sosok lembut dan patuh kini menunjukan taring. Ia mengepal sampai buku kukunya memutih. Emosi yang ia sembunyikan tidak lagi sempurna.

Gauri akan tidur dengan pria lain?

Maka coba saja, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Gauri hanya wanita polos dan selalu menjaga kesucian. Revandra tidak percaya Gauri akan melepas kesucian begitu saja hanya karena amarah.

**

Musik menggema lampu diskotik warna-warni bergerak mengikuti irama musik. Lenggok tubuh serta tarian bahagia di club malam menjadi tontonan Gauri saat ini. Dia duduk di sudut sofa menikmati sebotol anggur dari botolnya langsung. Melihat DJ berjoget menggoda tanpa baju atasan. Otot dada dan perut terbentuk sempurna menggoda untuk disentuh.

Kesadaran Gauri sudah menipis di bawah pengaruh alkohol. Dia bukan wanita kuat minum, alkohol hanya dia minum sesekali saat diperlukan saja. Kali ini Gauri tidak takut mabuk. Dia memerlukan dorongan keberanian untuk melakukan sesuatu yang ada di dalam kepalanya.

"Kenapa aku bicara seperti, itu?" Gauri mendesah frustasi.

"Harusnya jangan menantang Kak Revan," ucapnya pelan setengah berbisik. Suaranya tenggelam oleh suara musik yang keras.

Dia melihat banyak model di club tapi tidak ada satupun yang menarik perhatiannya. Gauri merasa bosan, berdiri keluar untuk mencari angin. Mengurangi rasa pengar dari efek alkohol.

Tubuh sempoyongan di lorong club malam minim cahaya. Gauri meraba tembok seraya berjalan untuk menjaga keseimbangan.

Brugh.

Gauri menabrak sesuatu, dia merasakan ada yang hangat. Kedua matanya terasa berat terbuka dengan paksa. "Tampan sekali." Dalah hitungan detik kedua matanya berbinar melihat pria tampan di hadapannya.

"Untuk apa, bersedih? Sekarang sudah ada model tampan, ayo! Kita nikmati malam ini!" Gauri sangat antusias, senyum lebar mengembang sempurna. Dia menarik tangan pria asing itu, berjalan sempoyongan di lorong hotel.

Pria itu menarik ujung bibirnya. "Mari bermain." Kesadarannya di bawah kendali alkohol.

Brak.

Pintu kamar hotel dibuka dengan kasar, dua orang sudah bercumbu sangat panas. Pria itu mencium Gauri secara agresif. Menyalurkan hasrat dan juga rasa buas yang ingin dilepaskan. Tanpa rasa malu, Gauri melepas setiap kancing kemeja pria itu. Ciuman sangat panas seolah sepasang kekasih yang menyimpan rindu terlalu dalam.

Bugh.

Tubuh Gauri mengembang dari ranjang menatap haus otot dada yang sempurna di atasnya. Pria itu menindih tubuh Gauri, kembali melayangkan ciuman. Kini sudah menjadi sebuah tuntutan yang harus dipuaskan. Nafsu berada di ujung kepala pengaruh alkohol.

Pria itu menghentikan cumbuan di tubuh Gauri, sorot kecewa dari mata Gauri tidak luput. Ada rasa kehilangan, dia ingin menikmati tubuh proporsional di atasnya.

"Apa boleh?" ucap pria itu pelan dan parau, nafsunya sudah di ujung batas.

Gauri dengan ragu mengangguk, sorot matanya menatap pria itu dalam itensitas tinggi. "Aku takut," ucapnya lirih.

Pria itu membelai lembut kepala Gauri. "Hanya sebentar, setelah itu. Kamu akan menikmatinya." Bujuk rayu demi mendapatkan Gauri. Sangat rugi jika wanita itu pergi dari ranjang.

Gauri mengangguk pelan terkesan malu. "Pelan-pelan."

Pria itu tersenyum puas. "Jangan takut, aku akan bermain lembut." Setelah berhasil menenangkan Gauri, dia kembali mencecap setiap jengkal bibir dan leher wanita yang berhasi menggodanya dan membuat dia menyerahkan keperjakaannya.

Gauri hanyut dalam sentuhan dan rasa hangat dari pria asing. Di bawah suhu ruangan yang dingin, malam itu dua orang merasakan panasnya hasrat. Keringat keduanya menyatu, saling bertukar saliva serta cairan kenikmatan.

**

Sinar surya di pagi hari tidak terlalu indah, jendela kamar hotel masih tertutup rapat. Wanita cantik terbangun, merasakan tubuhnya terasa remuk dan sakit. Dia memeriksa sekitarnya, saat melihat ke samping ranjang betapa terkejutnya. Dia terduduk menyadari tubuhnya tanpa pelindung sehelai pun.

"Apa yang ku, lakukan?" Gauri sekuat tenaga mengingat insiden semalam yang membuat dirinya menyerahkan keprawanan untuk pria asing.

"Astaga! Dia model dari bar!" Gauri hampir saja memekik, secepatnya wanita itu turun dari ranjang. Meraih baju miliknya yang berserakan di lantai.

Gauri bergidik ngeri melihat betapa berantakannya kamar hotel. Semalam dia sudah gila melakukan pertama kalinya dengan liar. Lebih mengejutkannya lagi bersama pria asing. Semua ini bermula karena rasa sakit hatinya setelah diselingkuhi.

"Ah! Kenapa aku terlalu, impulsif?" Gauri mengacak rambutnya frustasi.

Uang untuk membayar model bar ia dapatkan dari mana?

Semalam uangnya habis untuk membayar minuman di club malam. Dia benar-benar berpikiran sempit sampai merugikan diri seperti ini. Gauri segera memakai baju sebelum pria itu bangun dan mengenali wajahnya.

"Seharusnya, semalam dia nggak melihat wajahku dengan jelas." Setelah selesai memakai kembali pakaiannya. Gauri mendekati ranjang, menatap wajah tampan yang terlelap dalam tidur.

"Sayang sekali, tubuh sekuat ini sudah dinikmati banyak wanita," gumamnya.

Gauri sadar akan pikiran liarnya, dia menggeleng pelan mengusir ingatan nakal semalam. Dia melihat cincin berlian di jari telunjuknya. Hanya ada cincin ini yang bisa ia gunakan untuk membayar jasa.

"Setidaknya, jasamu semalam harus kubayar, kan?" Menatap wajah tampan di atas ranjang. "Kamu sangat kuat, sampai tubuhku terasa sakit semua." Perlahan melepas cincin di jarinya. Meletakan cincin itu di atas nakas.

Gauri keluar kamar sebelum ada yang melihatnya, ia tidak mau menyiptakan masalah yang tidak perlu. Selang setengah jam, pria di atas ranjang terbangun. Betapa kesalnya ia melihat sisi ranjang sudah kosong.

Pria tampan itu duduk bersila seraya mendengkus pelan. "Setelah menggunakanku, dia membuangku seperti sampah," ucapnya kesal.

Netra hitamnya melihat cincin berlian di atas nakas, rasa kesal semakin memenuhi rongga dada sampai terasa sesak. "Dia membayarku?" Benar-benar menganggap dirinya seperti sampah masyarakat.

"Dia mengira, aku ini pria yang harus dihidupi?" Rasanya sangat jengkel mengingat pertemuan semalam di lorong club malam.

Dia menyibak selimu dengan kasar gegas turun dari ranjang. Ekor matanya melihat sesuatu di atas ranjang.

Noda darah?

Pria itu tersenyum tipis penuh arti, tidak menyangka service liar semalam ternyata sama-sama untuk pertama kali. "Aku akan menemukanmu, gadis nakal. Karena sekarang, kamu sudah menjadi wanitaku." Tersenyum misterius.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dosa Tersembunyi Sang Tiran   Bab 5. Mempertahankan Bayi

    Di bawah langit sore berkelabu seorang wanita duduk taman kota seraya menatap nanar lampiran kertas hasil pemeriksaan. Kepalanya menunduk menyembunyikan separuh wajahnya ke dalam syal tebal. Pundaknya terasa begitu berat oleh beban yang dia pikul. "Bagaimana ini? Aku sudah tanda tangan kontrak, jika Tuan Muda Azeo tahu, tamatlah riwayatku," gumam Gaori dengan frustasi dan putus asa. Gauri mengusap perutnya yang masih rata kini di dalamnya sudah ada kehidupan yang harus dia jaga. "Aku mana tega menggugurkannya, walaupun aku tidak tahu siapa laki-laki di malam itu. Kamu tetaplah anakku," ucapnya dengan pilu tetapi ada ketegaran secara bersamaan. Tidak ingin hanyut dalam kesedihan Gauri beranjak pergi dari taman. Saat ini dia ingin menenangkan perasaannya hatinya berkecamuk dan campur aduk. Bingung, bimbang, takut serta cemas memikirkan nasibnya jika Azeo mengetahui kehamilannya.Dengan langkah pelan tapi pasti Gauri menyusuri trotoar menuju rumahnya. Tiga puluh menit dia menghabiskan

  • Dosa Tersembunyi Sang Tiran   Bab 4. Perjanjian

    Di bawah langit mendung Kota Shanghai Gauri berdiri menunggu taxi. Hari ini dia mengenakan jaket tebal serta syal untuk melindungi tubuhnya dari udara dingin di musim dingin. Beberapa waktu yang lalu seseorang dari keluarga Regantara menghubunginya. Ada janji temu di sebuah resto di dekat kediamannya. Taxi pesanannya datang—Gauri masuk setelah memastikannya melalui aplikasi di ponselnya. Tiga puluh menit perjalanan. Taxi berhenti di depan resto klasik ternama di kotanya. Setelah melakukan pembayaran dia turun lalu merapikan penampilannya. Gauri memasuki resto dan langsung disambut oleh pria berjas klimis bertubuh tegap. "Selamat datang nona, saya Alexus. Sekretaris Tuan Muda Azeo," ucapnya dengan tegas.Gauri terkesia dengan ketegasan dan wibawa Alexus, jika seorang sekretaris memiliki wibawa kuat. Lalu bagaimana dengan pemimpinnya?"Sepertinya, resto hari ini sepi, ya?" Gauri melihat di dalam resto tidak ada pelanggan selian dirinya dan Alexus."Saya sudah full buyout, nona. Sesuai

  • Dosa Tersembunyi Sang Tiran   Bab 3. Ditumbalkan

    "Apa?!" Masih pagi Fanya sudah membuat keributan di meja makan. "Pelankan suaramu Fanya," tagur Claudia. "Mamaaaa," protes Fanya dengan manja, "salahkan ayah! Pagi-pagi udah kasih berita yang tidak mengenakan!" keluhnya dengan bibir mengerucut kesal. Aben menghela napas panjang. "Pak Etan Regantara, menagih perjodohan dari keluarga kita. Ayah bisa apa, Fanya? Keluarga Regantara punya pengaruh besar di dunia bisnis. Ayah tidak mau, bisnis ayah berantakan hanya karena menolak perjodohannya," ungkapnya setengah frustasi. "Ayah, Azeo Regantara itu pria gemuk, jelek, buncit bahkan suka main wanita di bar. Aku nggak mau ayah, walaupun dia kaya, aku nggak sudi popularitas aku sebagai model disia-siakan begitu saja," tolak Fanya, "lagipula, aku sudah punya Kak Revan, kuasanya tidak kalah jauh dari Regantara." Caludia memijat pangkal hidungnya dengan penolakan Fanya. Kemarin malam dia sudah berdiskusi dengan Mahendra dan sudah diprediksi hal ini akan terjadi. "Sepertinya, uang masih kalah

  • Dosa Tersembunyi Sang Tiran   Bab 2. Melepaskan

    Sedan biru bertulisian Taxi di atasnya berhenti di depan pagar hitam setinggi empat meter. Seseorang turun dari mobil itu. Kedua kakinya menapak di atas aspal lembab setelah dibasahi air hujan. Tidak lama Taxi meninggalkan wanita cantik yang kini wajahnya terlihat lebih segar. Gauri menatap bangunan rumah menengah atas dengan napas berat. Dia menghela napas kasar lalu tangan kanannya dengan berat mendorong pagar rumah. Gauri melangkah masuk ke dalam sangkar yang selama ini ia tempati. Napas wanita itu terasa sesak melihat isi rumah yang dipenuhi kenangan tidak menyenangkan. "Baru pulang, kamu?" Gauri sedikit tersentak mendengar nada ketus dan dingin. Kepalanya dengan berat menoleh ke ruang tamu—hatinya terasa amat sakit melihat tunangannya kini duduk seraya memeluk pinggang Fanya begitu posesif.Gauri tersenyum kecut. "Sekarang, begitu terang-terangan," ucapnya lirih, sorot matanya kecewa sangat dalam melihat kemesraan Fanya dan Revandra. Lebih menyakitkan ketika Aben—ayahnya hany

  • Dosa Tersembunyi Sang Tiran   Bab 1. Sakit Hati Berujung Ranjang

    Gauri Yofella, tanpa ragu membuka sebuah pintu apartemen. Kaki jenjangnya berbalut sepatu putih melangkah lebar. Membuka pintu secara perlahan seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Suhu ruangan yang panas akibat aktifitas di atas ranjang serta erangan kenikmatan membuat tubuh Gauri meremang. Deg. Dia tersenyum getir kedua matanya berembun melihat tunangannya bermain panas dengan adiknya sendiri. Tangannya bergetar hebat memegang ponsel yang ia gunakan untuk mengambil gambar. Mulut bergetarnya ia tutup dengan jari lentiknya. Hatinya hancur pria yang selama ini menjadi bahu ternyaman, justru menjadi mata pedang yang menggores hatinya dengan kejam. "Gauri?" Revandra terkejut dengan keberadaan tunangannya di sana. Dia gegas turun dari tubuh wanita di bawahnya, menarik selimut menutupi tubuh telanjangnya. Gauri menatap kecewa wajah tidak bersalah Revandra. Dia tersenyum getir melihat pria itu gegas memakai boxer secara asal. "Maaf mengganggu," ucap Gauri pelan menyiratkan k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status