Adrian calon pengantin pria sedang berdiri membelakangi pintu. Dia berada di kamar suite hotel Gran Aurelia. Kamar yang berada di lantai atas memamerkan gemerlapnya kota Jakarta. Di tengah keheningan itu, ponselnya menyala.
Tak lama, suara pelan terdengar dari earpiece-nya.
“Kami sudah menyelidiki rekaman CCTV hotel. Semua wajah terdata, tapi ada pria yang tidak terdeteksi wajahnya. Entah karena angle kamera atau seseorang menghapusnya dari sistem.”
Rahang Adrian mengencang. “Jadi, sampai sekarang kalian belum tahu siapa bajingan itu?”
“Maaf, Pak. Dia seperti orang penting. Kami duga dia sudah profesional.”
Adrian mengumpat pelan. Tangannya mengepal hampir meremukkan ponsel.
“Aku ingin tahu dia siapa. Terus habisi siapapun dia! Aku tidak mau ada yang mengotori milikku.” Urat pelipis Adrian menegang, ia teringah dengan laporan Nadine- kekasihnya menghabiskan malam dengan pria lain. Hatinya tidak rela!
“Siap, Pak. Kami akan telusuri lagi malam ini.”
Belum sempat ia menutup panggilan, suara centil terdengar dari balik pintu balkon.
“Sayang?”
Evelyn melangkah keluar memakai gaun tidur satin tipis berwarna merah marun. Kakinya telanjang, langkahnya ringan mendekati Adrian dari belakang.
Dengan manja, ia menyentuhkan jemarinya ke bahu pria itu.“Kamu tegang sekali. Bukankah besok pagi kita menikah?” bisiknya menggoda. “Kamu seharusnya bersantai, bukan malah sembunyi-sembunyi menelpon di balkon.”
Adrian langsung menyimpan ponsel ke saku celana, memasang wajah datar.“Hanya urusan kantor.”
Evelyn mencibir, lalu berdiri di hadapannya. Matanya menyipit nakal.“Hmm... kantor atau mantan pacarmu yang kutu buku itu?”
Tatapan Adrian menusuk, tapi ia tak menjawab.
Evelyn mendekat, mengusap dadanya perlahan.“Kamu tahu, tidak ada pria yang ingin istrinya uring-uringan di hari pernikahan. Jadi mulai besok, lupakan semua drama masa lalu, ya?”
Ia mengecup bibir Adrian singkat lalu tersenyum. “Aku ingin kamu fokus hanya padaku.” Tangan wanita itu membelai lembut dada suaminya.
Evelyn berbalik dan melangkah masuk, meninggalkan aroma mawar.
Adrian menatap punggungnya sekilas, lalu kembali memandang ke arah kota.
Wajahnya gelap. Penuh amarah.
Dalam hatinya berkata, 'Nadine hanya milikku seorang. Siapapun yang menyentuhnya, aku akan menghabisinya! Siapa pun pria itu... akan kubuat menyesal pernah menyentuh Nadine."Nadine yang ada di kontrakan kumuh meringkuk lega setelah menerima bingkisan dari Evelyn. Dalam bingkisan undangan itu ada sekotak coklat La Madeline au Truffe, wine, lilin aroma teraphy, biskuit parfum dan make up doir . Rasa syukur langsung terucap dari mulutnya.
"Mewah banget," ujarnya takjub.
Ia menatap undangan beraksen rosegold dengan nanar. Jemarinya menyentuh setiap lekukan emboss nama “Evelyn & Adrian” yang tercetak anggun dengan tinta emas mengilat. Di pojok kanan bawah, terpampang tanggal dan lokasi pernikahan: Grand Aurelia Ballroom, 10.00 WIB.
Wajah Nadine memucat.
"Adrian…"
Hati kecilnya bergemuruh. Ada sembilu yang tertancap pelan-pelan, makin dalam, makin perih. Di balik rasa syukur menerima bingkisan mewah itu, dadanya terasa sesak. Ia menggenggam undangan itu erat, seolah ingin menghancurkannya, tapi tak kuasa.
“Kenapa kamu undang aku ke hari bahagiamu, Evelyn…” bisiknya lirih.
“Kalau kamu tahu siapa aku... mungkin kamu akan membakarku hidup-hidup.”Matanya menatap kotak coklat eksklusif La Madeline au Truffe yang bahkan ia tahu harganya bisa membayar kontrakannya tiga bulan. Bibirnya gemetar saat ia mencoba menyentuh lipstik Dior yang masih tersegel. Aroma lilin terapi menguar lembut dari balik kotaknya, mengaburkan bau lembab kamar kontrakan kecilnya.
Tangis Nadine pecah tanpa suara.
Ia bangkit perlahan, mengambil cermin kecil yang tergantung di dinding kusam. Menatap wajahnya yang pucat, kurus, dan tak terurus. “Apa aku pantas datang?” gumamnya.
“Apa aku terlihat seperti Starlight Beat atau-”
Tiba-tiba, ponselnya menyala. Sebuah notifikasi DM dari Evelyn masuk.
Evelyn 🥂
“Halo Starlight Beat! Ini Evelyn lagi. Sudah terima bingkisannya? Aku sengaja kirim yang spesial buat penulis favoritku 🥰. Jangan lupa kirim alamat ya, biar aku kirim yang lainnya juga setelah pernikahan. I want you to always feel appreciated ❤️”
Nadine menggigit bibir. Hatinya semakin carut marut. Dunia Evelyn terlalu mewah, terlalu bersinar. Dunia yang dulunya juga sedikit ia kecap saat masih bersama Adrian.
Ia memandangi pesan itu lama, lalu membalas dengan tangan gemetar:
Starlight Beat:
“Terima kasih banyak, Evelyn. Bingkisannya sangat indah dan bermakna buat saya. Saya senang bisa menerima undangan ini, walau saya belum tahu bisa hadir atau tidak. Tapi doa terbaik saya untuk pernikahan kalian ❤️.”
Setelah mengirim pesan itu, Nadine meletakkan ponsel di dada.
Air matanya mengalir pelan. Ia memejamkan mata, mencoba menguatkan diri. Tidak ada tempat untuk dendam. Hanya luka yang harus ia peluk dalam diam.Sementara itu…
Di kamar suite yang sama, Adrian duduk di ranjang sambil membuka kembali laporan digital yang dikirim anak buahnya. Wajah pria yang buram itu masih menjadi misteri. Tapi bukan itu yang mengganggu Adrian malam ini.
Ia menatap Evelyn yang tertidur lelap di ranjang, masih mengenakan gaun satin merah tipis itu.“Kamu tidak tahu apa pun, Evelyn,” bisiknya penuh bara.
Adrian mengepalkan tangan.
Besok dia akan menikah. Tapi pikirannya tidak fokus pada pernikahan, melainkan Nadine.~
Sinar matahari menembus celah gorden tipis kamar kontrakan. Menyapu wajah Nadine yang masih terlelap di atas kasur tipis tanpa seprai. Aromanya campur aduk, sisa wine murah yang semalam ia minum dari bingkisan Evelyn, dan bau apek kamar yang lembab.
Nadine mengerang pelan, menggeliat di balik selimut kumal.
"Agh kepalaku…"
Ia membuka mata dengan susah payah. Dunia terasa berputar. Mulutnya kering, matanya sembab. Ia menatap jam ponsel di sampingnya.
15.03 WIB.
Panik langsung menyeruak.
“Astaga! Pernikahannya jam sepuluh! Dan sekarang udah mau sore?!”
Nadine sontak bangkit dari kasurnya, hampir tersandung botol wine yang semalam ia habiskan sendiri. Kepalanya nyut-nyutan, tapi ia tetap menyeret tubuhnya ke depan cermin kecil.
Wajahnya terlihat kacau. Rambutnya awut-awutan. Matanya sembab. Tapi sorot matanya keras, menolak menyerah.
“Aku harus datang… setidaknya… melihat mereka satu kali,” bisiknya lirih.
Ia langsung membuka lemari kayu lapuknya, jantungnya berdebar. Jemarinya menyibak tumpukan pakaian usang, berharap menemukan keajaiban.
Dan di sanalah terselip di antara sweater lusuh dan kemeja bekas lipatan buruk, gaun itu!
Gaun warna navy panjang sederhana , tetapi dulu sangat elegan. Hadiah dari Adrian bertahun-tahun lalu. Ia ingat betul momen Adrian menyerahkannya, dengan senyum tipis dan ucapan pelan, "Kamu pantas terlihat seperti bintang malam, Nadine."
Kini gaun itu kusut dan lusuh. Warna navy-nya mulai pudar, renda bagian pinggangnya mulai terlepas di ujung. Tapi tidak ada pilihan lain.
Dengan napas berat, Nadine mengambil gaun itu. Ia memeluknya sesaat, lalu mulai berganti pakaian dengan tergesa. Sambil berdiri di depan cermin, ia mengoleskan sedikit bedak sisa di kotak make up gratis dari bingkisan Evelyn. Memoles lipstik Dior pelan-pelan, takut menghabiskan.
Rambutnya ia sisir seadanya, lalu menguncir rendah. Ia menyemprotkan sedikit parfum berlabel “J-adore” ke nadi lehernya.
Cermin itu memantulkan sosok wanita yang berusaha mati-matian terlihat layak di tengah keterbatasan. Matanya menatap refleksi itu lama.
“Kamu akan berdiri di hadapan mereka. Berdiri di antara tawa, cinta, dan pengkhianat…” ucapnya pelan pada dirinya sendiri.
Ia mulai melepaskan kalung yang selalu tersemat di lehernya. Kemudian ia mengambil kotak yang menjadi bingkisan kalung itu. Perlahan ia membungkusnya serapi mungkin. "Aku akan mengembalikan ini. Lagipula aku tidak punya hadiah yang pantas untuk pernikahan mereka. Jadi, hanya kalung ini yang bisa kuberika."
Nadine menggeleng, "Tidak. Tapi aku kembalikan pada orang yang memberikannya."
Dengan langkah perlahan dan dada bergemuruh, ia mengambil undangan mewah beraksen rose gold itu, memasukkannya ke dalam tas kecil, lalu keluar dari kamar kontrakan mungil yang menjadi saksi keterpurukannya.
Hari ini, ia akan datang ke pesta pernikahan pria yang pernah ia cintai sepenuh hati… sahabat yang paling ia sayangi dan wanita yang mengaguminya sebagai Starlight Beat.
Bersambung~
Nadine mendongak, matanya sembab namun berkilat penuh tekad. Ia menepis tisu yang tergeletak di meja, lalu bangkit dengan langkah terburu.“Aku harus menemuinya…” gumamnya. Jemarinya gemetar saat meraih mantel yang tergantung di kursi. Napasnya memburu, seakan paru-parunya dipaksa oleh dorongan nekat yang tak bisa lagi ditahan.Namun sebelum tangannya mencapai gagang pintu, suara berat memotong ruang sunyi safehouse itu.“Berhenti, Nona.”Jack berdiri bersandar di pintu, menghalangi jalan keluar. Tatapannya keras, namun ada kelembutan samar yang berusaha ia sembunyikan.Nadine mengerjap, bibirnya bergetar. “Jack, jangan halangi aku. Aku harus bicara dengan Leonard—dia butuh aku.”Pria paruh baya itu, menghela napas panjang, lalu melangkah masuk. “Nona pikir siapa yang memintaku menjaga pintu ini? Leonard sendiri.”Kata-kata itu menghantam Nadine lebih keras dari bentakan. Ia terdiam, pandangannya goyah. “Apa… apa maksudmu?”Jack mendekat, menatapnya dalam-dalam. “Tuan bilang, sampai b
Ny. Boaler mencoba berdiri, tapi dua aparat segera menahan lengannya. Tuan Boaler sendiri hanya terdiam, wajahnya merah padam, antara marah dan putus asa. “Kalian tidak tahu siapa kami! Kami bisa membeli kalian semua!” raungnya, sebelum salah seorang aparat menariknya keluar dengan paksa.Tamu-tamu berdesis, beberapa menutup mulut dengan kipas tangan, sebagian lagi bergegas mundur menjauh, tak ingin terlibat.“Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami keluarga terhormat!” teriak Tuan Boaler, wajahnya memerah, urat leher menonjol. Ia mencoba berdiri menahan aparat, tetapi lengannya segera dibekuk ke belakang.“Lepaskan aku! Aku punya kekuasaan! Aku—” suaranya teredam saat wajahnya ditekan paksa ke meja marmer panjang yang tadi dipenuhi gelas sampanye.“Papa!” Daisy menjerit, tubuhnya bergetar.Di tengah kekacauan itu, Leonard masih berdiri tegap di lantai dansa, memperhatikan semua dengan tatapan elang. Hanya segaris senyum tipis yang muncul di ujung bibirnya.Daisy mendadak menole
Di ruang kerjanya yang luas, Leonard berdiri di depan cermin tinggi. Jas hitamnya sudah terpasang rapi, dasi merah tua melingkar di lehernya, menyisakan aura yang lebih dingin dari biasanya. Sementara seorang valet terakhir kali merapikan lipatan jasnya, Leonard hanya memandang bayangan dirinya dengan tatapan kosong.Pintu terbuka, dan Victoria—ibunya—masuk dengan langkah anggun. Gaun malam berwarna emerald hijau membalut tubuhnya, kilau perhiasan berlian memantul dari cahaya lampu kristal. Di belakangnya, Alexander Sinclair, ayah Leonard, menyusul dengan setelan abu-abu yang klasik namun tetap berwibawa.“Leonard,” suara Victoria lembut, tapi penuh tekanan terselubung. “Kau tahu betapa pentingnya malam ini. Keluarga Boaler tidak hanya sekutu bisnis, mereka bisa menjadi fondasi politik kita. Jadi, aku ingin kau bersikap ramah kepada Daisy. Jangan melakukan kesalahan.”Leonard mengangkat alisnya sedikit, bibirnya melengkung tipis dalam senyum sinis. “Ramah? Atau pura-pura jatuh cinta p
Evelyn membeku. Matanya membesar. “Dari… dari mana kalian dapat ini?”“Tidak penting dari mana,” sahut pria itu dingin. “Yang penting sekarang: kau harus memilih. Tetap menjadi pion kecil dalam permainan Daisy, atau… bekerja sama dengan kami, dan keluar hidup-hidup dari kekacauan ini.”Suasana mobil mendadak terasa sesak. Evelyn menggenggam map itu erat, jemarinya bergetar. Ia tahu, sekali saja ia salah jawab, nyawanya bisa melayang sebelum sempat kembali ke apartemen malam ini."Jadi bagaimana?" pertanyaan kembali dilemparkan pada Evelyn. Wanita itu menghirup napasnya panjang."Apa tidak ada penawaran tambahan? Pilihn yang kalian berikan sama-sama merugikanku." Suara Evelyn tertahan oleh emosi.Pria yang duduk di depannya. Sosok berjas hitam dengan tatapan sedingin baja, menyunggingkan senyum tipis.“Wanita pintar,” gumamnya pelan. “Kau mencoba menawar, padahal posisimu tak lebih dari seekor domba di tengah kawanan serigala.”Evelyn menegakkan punggungnya. Meski wajahnya pucat, matan
Leonard merenung di ruang kerjanya. Ini hari ketiga selepas kampanye. sehari ia habiskan beristirahat, hari kedua menyelesaikan pekerjaan sebagai Mendagri, dan malam ini dia melakukan pertemuan dengan Angle. Jari jemarinya mengetuk meja dengan gusar. "Nona Nadine tidak bersedia bertemu, Tuan," lapor Jack saat ia hendak ke safehouse. pria itu pun terpaksa mengurung niatnya melepas rindu. Raymon pun menyarankan agar dia bersitirahat dahulu. Apalagi setelah mendapat tawaran dari Deo."Naiklah. Aku akan mengalah, tapi angkat aku sebagai menteri sosial." Itu adalah tawaran Deo saat ia hendak masa bodoh dengan pertemuan yang mereka lakukan."Leo. Ini bukan tawaran, tapi aku meminta tolong," cegah Deo karena Leonard tampak tak tertarik dengan tawaran ke dua."Suara kita bisa imbang kalau kamu menolakku. Aku bersedia memberi suaraku padamu. Asal beri aku satu jabatan itu. Demi negara ini."Leonard langsung menghentikan langkahnya dan menatap tegas ke arah rivalnya. "Beri aku alasan yang je
Sekretaris itu tampak ragu melaporkan berita terbaru. Leonard yang sempat membisu, akhirnya angkat bicara."Katakan. Ada berita apa?" "Deo meminta pertemuan pribadi. Lebih baik sebelum kampanye terakhir."Helaan napas keluar dari Leonard. Dia merasa pekerjaannya selalu bertambah. Meskipun enggan, pria itu tetap menjawab, "ajak ketemu pas kita sampai di Jakarta. Langsung.""Apa tidak ditunda dulu, Pak? Kesehatan Anda-""Tidak. Aku ingin menyelesaikan secepatnya."Raymond tertunduk, dan segera mengetik ponselnya. Pria itu sangat khawatir dengan kondisi atasannya. Namun, perintah Leonard tak bisa diganggu gugat.Di saatsang sekretaris ngebut dengan pekerjaannya. Mendadak terdengar sebuah suara."Bagaimana pekerjaan Angle?" tanya Leonard lirih.Punggung Raymond segera menegak. "Dalam proses menarik outline kasus, Pak.""Bilang sama dia, untuk melaporkannya segera. Sebelum acara keluargaku. Lebih baik, kita menangkap mereka saat semua berkumpul.""Baik, Pak."Mobil melaju kencang di tol.