Nadine yang dikhianati kekasihnya berujung menghabiskan satu malam bersama pria misterius. Namun, pria itu bukan sembarang orang. Leonardo Aldrich, seorang politikus paling berkuasa dan diincar banyak wanita. Pria yang bisa membentuk atau menghancurkan siapa pun dengan satu perintah. Nadine terjebak dalam permainan berbahaya di mana kekuasaan, skandal, dan godaan berbaur jadi satu. Saat Leonardo mulai menaruh perhatian padanya, Nadine harus menghadapi pilihan sulit. Menyerah pada pria yang mampu menguasainya sepenuhnya atau berjuang melarikan diri dari dunia yang penuh intrik. Di balik dominasi dan kekuasaan, akankah Nadine menemukan cinta sejati? Atau justru terperangkap dalam cengkeraman pria yang lebih berbahaya daripada yang pernah ia duga?
View MoreNadine berdiri kaku melihat sosok di depannya. Adrian, kekasih yang telah bersamanya selama lima tahun, sedang berlutut sembari berkata, “Menikahilah denganku, Evelyn.”
Bukan Nadine, tapi Evelyn! Seisi restoran berseru kagum. Evelyn, sahabat kecil Nadine menutup mulutnya dengan tangan. Matanya berbinar bahagia, lalu mengangguk dengan penuh drama. “Ya! Aku mau!”
Para tamu restoran yang menyaksikan adegan itu bersorak dan bertepuk tangan. Nadine merasa tenggelam di dasar laut. Nafasnya terhenti, dadanya sesak, dan dunia terasa berputar. “Ini tidak mungkin. Ini seharusnya tidak nyata,” batinnya. Ia segera mencubit lengannya, tetapi pemandangan di depannya tak kunjung sirna.
“Adrian…” bisiknya pelan, seakan berharap semuanya hanya mimpi buruk.
Namun, kenyataan menamparnya dengan kejam. Adrian berdiri dan menyematkan cincin di jari Evelyn, kemudian menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Bibirnya menempel di bibir Evelyn. Semua orang bersorak lebih keras.
Dunia Nadine runtuh!
Evelyn selama ini berpura-pura tidak tahu tentang hubungannya dengan Adrian, padahal wanita itu diam-diam merebutnya. Dengan status dan kekayaannya, Evelyn menggantikan Nadine seakan keberadaannya tidak pernah ada.
“Jadi maksud Evelyn mengundangku makan malam adalah untuk memamerkan pengkhianatan pacarku? Hubungan perselingkuhan mereka?” batin Nadine. Ia segera mundur selangkah. Lalu dua langkah. Ia berbalik, menelan tangisnya, dan melangkah cepat keluar dari restoran mewah itu. Hatinya hancur. Dadanya sesak. Kakinya gemetar saat ia berlari meninggalkan tempat Adrian dan Evelyn merayakan kebahagiaan yang seharusnya menjadi miliknya.
Evelyn yang menyadari keberadaan sahabatnya. Sontak membulatkan matanya, "Nadine!" pekiknya berusaha melepas pelukan Adrian, tetapi usahanya sia-sia.
"Apa maksudmu, Sayang?" tanya pria itu dengan mata menyipit. Ekspresinya menggelap.
"Kupikir ini hanya makan malam biasa dengan teman seangkatan, jadi aku mengundang Nadine. Aku tidak tau kalau-" Evelyn menundukkan kepala.
Adrian menelungkup wajah Evelyn dengan tangannya. Sepasang manik hitam menatap mata Evelyn seperti menghipnotis. "Sudah. Tidak perlu dipikirkan lagi. Begini lebih baik, jadi dia pasti tau alasan aku lebih memilihmu daripada dia."
Pria itu mendekap wajah tunangannya di depan dada. Mata Evelyn yang sebelumnya berair kini menyorot tajam ke arah pintu keluar, tempat Nadine sebelumnya berdiri. Senyum sarkastik menghiasi bibir Evelyn.
~dentikantika
Hujan mengguyur jalanan kota. Nadine tidak peduli. Rambutnya basah, wajahnya kedinginan, tetapi hatinya lebih beku daripada udara malam ini. Entah bagaimana, kakinya membawanya ke tempat yang bahkan tak pernah terpikirkan olehnya, sebuah bar elit di pusat kota.
Ini pertama kalinya ia masuk ke tempat seperti ini.
Lampu redup, suara musik bass yang menggetarkan dada, dan aroma alkohol bercampur parfum mahal memenuhi udara. Nadine berjalan ke bar dan tanpa pikir panjang berkata, “Satu gelas tequila.”
Minuman itu datang. Nadine meneguknya sekaligus. Tenggorokannya terbakar, perutnya panas, tetapi rasa sakit di hatinya lebih menyiksa. Ia menenggak lagi, dan lagi, hingga pikirannya mulai melayang.
Di sudut ruangan, seorang pria memperhatikannya.
"Mr, sedang memperhatikan siapa? Perlu saya ajak dia ke sini?" tanya rekannya yang duduk di depan.
Pria itu hanya mengibaskan tangan, menolah tawaran tersebut.
Ia duduk di sofa eksklusif dengan segelas whiskey di tangannya. Setelan hitam mahal membungkus tubuh tegapnya, jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya. Rambut hitamnya disisir rapi, rahangnya tegas, dan matanya berkilat tajam seperti elang mengamati mangsanya. Ada aura kekuasaan yang mengintimidasi, dingin, dan berbahaya di sekelilingnya.
Leonardo Sinclair.
Pria itu telah lama menjadi sorotan dunia politik dan bisnis. Seorang politikus paling berpengaruh di negara ini. Ia dikenal sebagai pria yang tak tertandingi dalam permainan kekuasaan, tak tersentuh, licik, dan mematikan.
Namun, saat ini, matanya hanya tertuju pada satu sosok.
Nadine.
Wanita itu jelas bukan bagian dari dunia ini. Wajahnya merah karena alkohol, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya berbinar kosong. Seorang gadis lugu yang tersesat dalam kegelapan.
Leonardo tidak bergerak. Ia hanya mengamati dari jauh, membiarkan dirinya menikmati pemandangan yang tidak biasa ini. Ia bisa menebak, wanita itu sedang melarikan diri dari sesuatu.
Nadine menyandarkan kepalanya ke meja bar, menggumam pelan, “Lelaki itu… brengsek… sahabatku… pengkhianat… aku ingin… membunuh mereka…”
Air mata tak henti-hentinya luruh di wajahnya. "Bagaimana bisa mereka berselingkuh di belakangku? Padahal... Aku... kekasihnya selama lima tahun.." Isakan semakin keras darinya.
Leonardo mengangkat alisnya. "Menarik."
Namun, ia tidak mendekatinya.
Nadine mengerjapkan mata beberapa kali, tetapi tangisannya yang pilu tak bisa ditahan. "Aku sakit hati... Dia bilang akan menikahiku setelah menjadi CEO... Evelyn juga bilang akan mendukungku apapun yang terjadi. Tapi apa ini?! Justru mereka yang bertunangan! Bahkan dilakukan secara terang-terangan di depan publik."
Nadine mengangkat gelas terakhirnya, menatap sisa tequila yang berputar pelan dalam cahaya bar yang temaram. Cairan keemasan itu memantulkan kilatan samar, seolah mengejeknya. Dengan satu gerakan cepat, ia meneguknya hingga habis. Rasa panas segera menjalar di tenggorokannya, membakar perut yang sudah kosong sejak siang tadi.
Matanya berkilat merah, bukan hanya karena alkohol, tetapi juga karena amarah dan kekecewaan yang meluap-luap. Bibirnya yang berlapis lipstik pink tipis bergetar saat ia berbisik penuh kepedihan, “Padahal Adrian selalu menyembunyikan hubungan kami. Apa aku sememalukan itu sampai dia mengkhianatiku begini?”
Nafasnya tersengal. Tangannya yang gemetar meraih botol tequila yang telah kosong, lalu meletakkannya kembali dengan kasar di meja. Perlahan, tubuhnya melemas, kepalanya tertunduk, dan tangis yang semakin pecah.
Leonard, pria yang duduk tak jauh darinya, hanya menyeringai menyaksikan pemandangan itu. Ada kilatan hiburan di matanya, seolah melihat seorang pemeran utama dalam drama tragis yang sedang mencapai klimaksnya. Dengan gerakan santai, ia melambaikan tangan, memanggil salah satu bartender.
"Tip untukmu. Biarkan dia di sana sampai puas," katanya ringan, tanpa sedikit pun rasa iba.
Bartender itu melirik sekilas ke arah Nadine, yang kini terkapar di atas meja dengan rambut acak-acakan dan wajah basah oleh air mata. Ia mengangguk patuh. “Baik, Tuan.”
Leonard bangkit, merapikan jasnya yang sedikit kusut sebelum melangkah pergi. Saat melewati meja Nadine, ia menoleh sekilas. Bibirnya tertarik tipis dalam senyum samar yang sulit diartikan, antara ejekan, kepuasan, atau maksud tersembunyi lainnya.
Malam semakin larut. Musik jazz yang mengalun dari speaker di sudut ruangan terasa semakin pelan, sementara lampu-lampu mulai meredup. Para pengunjung satu per satu meninggalkan bar, menyisakan hanya beberapa orang yang masih terhanyut dalam minuman dan kesedihan masing-masing.
Beberapa jam berlalu sebelum akhirnya Nadine menggeliat pelan, kepalanya terasa berat, dan pikirannya mengambang dalam kabut alkohol. Ia mengusap wajahnya yang lengket oleh sisa air mata, lalu berusaha berdiri. Lututnya gemetar, membuatnya hampir terhuyung jatuh.
Dengan suara serak, ia bergumam, “Aku harus pulang. Di mana hotel?”
Namun, tidak ada yang menjawab. Tidak ada yang peduli.
Tanpa menyadari betapa goyah langkahnya, Nadine melangkah keluar dari bar. Sepatu hak tingginya hampir membuatnya tersandung di trotoar, tapi ia tetap melanjutkan langkah dengan kepala tertunduk.
Ia berjalan ke arah hotel yang berdiri megah di sebelah bar itu. Cahaya keemasan dari lobi menyilaukan matanya yang setengah tertutup. Ia tidak tahu bagaimana kakinya bisa membawanya ke sana, tetapi tiba-tiba saja ia sudah berdiri di depan meja resepsionis.
Resepsionis menatap Nadine dengan ragu, sepertinya menyadari kondisi mabuknya. Namun, profesionalisme tetap membuatnya melanjutkan tugasnya.
Nadine menggerayangi tas kecilnya, mencari dompet. Tangannya sedikit gemetar saat menyerahkan kartu identitas dan kartu kredit. Resepsionis menerimanya dan memproses pemesanan.
“Ini kartu akses kamar Anda. Kamar 1007, lantai sepuluh,” kata resepsionis sambil menyerahkan kartu itu. “Silakan gunakan lift di sebelah kanan untuk menuju ke lantai Anda.”
Nadine menerima kartu itu dengan gerakan lemas. “Terima kasih,” gumamnya sebelum berbalik menuju lift.
Begitu pintu lift terbuka, ia masuk dengan langkah sempoyongan. Kepalanya terasa berat, pikirannya mengambang dalam kabut alkohol, dan matanya buram, seperti melihat dunia melalui kaca berembun. Lantai lift bergetar di bawah kakinya saat ia bersandar di dinding, mengandalkan insting untuk tetap tegak.
Entah bagaimana, lift berhenti di lantai sepuluh, dan ia melangkah keluar. Koridor hotel terasa panjang dan sunyi, hanya dihiasi lampu-lampu redup yang berpendar di sepanjang dinding. Nadine menyeret langkahnya menuju pintu terdekat yang menurutnya benar. Jemarinya yang gemetar meraba-raba tasnya, mencari kartu akses.
Dengan susah payah, ia menempelkan kartu pada sensor pintu. Pintu terbuka, Ia masuk tanpa ragu, bahkan tanpa memastikan nomor kamar yang benar.
Begitu berada di dalam, kegelapan langsung menyambutnya. Udara di dalam ruangan lebih dingin daripada yang ia bayangkan, tetapi ranjang besar di tengah kamar tampak begitu mengundang. Tanpa pikir panjang, ia melangkah, lalu tubuhnya terjatuh ke atas kasur yang empuk.
Matanya nyaris terpejam ketika suara berat tiba-tiba terdengar dari balik kegelapan.
"Sepertinya kamu salah masuk kamar, Nona."
Nadine mendongak, matanya sembab namun berkilat penuh tekad. Ia menepis tisu yang tergeletak di meja, lalu bangkit dengan langkah terburu.“Aku harus menemuinya…” gumamnya. Jemarinya gemetar saat meraih mantel yang tergantung di kursi. Napasnya memburu, seakan paru-parunya dipaksa oleh dorongan nekat yang tak bisa lagi ditahan.Namun sebelum tangannya mencapai gagang pintu, suara berat memotong ruang sunyi safehouse itu.“Berhenti, Nona.”Jack berdiri bersandar di pintu, menghalangi jalan keluar. Tatapannya keras, namun ada kelembutan samar yang berusaha ia sembunyikan.Nadine mengerjap, bibirnya bergetar. “Jack, jangan halangi aku. Aku harus bicara dengan Leonard—dia butuh aku.”Pria paruh baya itu, menghela napas panjang, lalu melangkah masuk. “Nona pikir siapa yang memintaku menjaga pintu ini? Leonard sendiri.”Kata-kata itu menghantam Nadine lebih keras dari bentakan. Ia terdiam, pandangannya goyah. “Apa… apa maksudmu?”Jack mendekat, menatapnya dalam-dalam. “Tuan bilang, sampai b
Ny. Boaler mencoba berdiri, tapi dua aparat segera menahan lengannya. Tuan Boaler sendiri hanya terdiam, wajahnya merah padam, antara marah dan putus asa. “Kalian tidak tahu siapa kami! Kami bisa membeli kalian semua!” raungnya, sebelum salah seorang aparat menariknya keluar dengan paksa.Tamu-tamu berdesis, beberapa menutup mulut dengan kipas tangan, sebagian lagi bergegas mundur menjauh, tak ingin terlibat.“Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami keluarga terhormat!” teriak Tuan Boaler, wajahnya memerah, urat leher menonjol. Ia mencoba berdiri menahan aparat, tetapi lengannya segera dibekuk ke belakang.“Lepaskan aku! Aku punya kekuasaan! Aku—” suaranya teredam saat wajahnya ditekan paksa ke meja marmer panjang yang tadi dipenuhi gelas sampanye.“Papa!” Daisy menjerit, tubuhnya bergetar.Di tengah kekacauan itu, Leonard masih berdiri tegap di lantai dansa, memperhatikan semua dengan tatapan elang. Hanya segaris senyum tipis yang muncul di ujung bibirnya.Daisy mendadak menole
Di ruang kerjanya yang luas, Leonard berdiri di depan cermin tinggi. Jas hitamnya sudah terpasang rapi, dasi merah tua melingkar di lehernya, menyisakan aura yang lebih dingin dari biasanya. Sementara seorang valet terakhir kali merapikan lipatan jasnya, Leonard hanya memandang bayangan dirinya dengan tatapan kosong.Pintu terbuka, dan Victoria—ibunya—masuk dengan langkah anggun. Gaun malam berwarna emerald hijau membalut tubuhnya, kilau perhiasan berlian memantul dari cahaya lampu kristal. Di belakangnya, Alexander Sinclair, ayah Leonard, menyusul dengan setelan abu-abu yang klasik namun tetap berwibawa.“Leonard,” suara Victoria lembut, tapi penuh tekanan terselubung. “Kau tahu betapa pentingnya malam ini. Keluarga Boaler tidak hanya sekutu bisnis, mereka bisa menjadi fondasi politik kita. Jadi, aku ingin kau bersikap ramah kepada Daisy. Jangan melakukan kesalahan.”Leonard mengangkat alisnya sedikit, bibirnya melengkung tipis dalam senyum sinis. “Ramah? Atau pura-pura jatuh cinta p
Evelyn membeku. Matanya membesar. “Dari… dari mana kalian dapat ini?”“Tidak penting dari mana,” sahut pria itu dingin. “Yang penting sekarang: kau harus memilih. Tetap menjadi pion kecil dalam permainan Daisy, atau… bekerja sama dengan kami, dan keluar hidup-hidup dari kekacauan ini.”Suasana mobil mendadak terasa sesak. Evelyn menggenggam map itu erat, jemarinya bergetar. Ia tahu, sekali saja ia salah jawab, nyawanya bisa melayang sebelum sempat kembali ke apartemen malam ini."Jadi bagaimana?" pertanyaan kembali dilemparkan pada Evelyn. Wanita itu menghirup napasnya panjang."Apa tidak ada penawaran tambahan? Pilihn yang kalian berikan sama-sama merugikanku." Suara Evelyn tertahan oleh emosi.Pria yang duduk di depannya. Sosok berjas hitam dengan tatapan sedingin baja, menyunggingkan senyum tipis.“Wanita pintar,” gumamnya pelan. “Kau mencoba menawar, padahal posisimu tak lebih dari seekor domba di tengah kawanan serigala.”Evelyn menegakkan punggungnya. Meski wajahnya pucat, matan
Leonard merenung di ruang kerjanya. Ini hari ketiga selepas kampanye. sehari ia habiskan beristirahat, hari kedua menyelesaikan pekerjaan sebagai Mendagri, dan malam ini dia melakukan pertemuan dengan Angle. Jari jemarinya mengetuk meja dengan gusar. "Nona Nadine tidak bersedia bertemu, Tuan," lapor Jack saat ia hendak ke safehouse. pria itu pun terpaksa mengurung niatnya melepas rindu. Raymon pun menyarankan agar dia bersitirahat dahulu. Apalagi setelah mendapat tawaran dari Deo."Naiklah. Aku akan mengalah, tapi angkat aku sebagai menteri sosial." Itu adalah tawaran Deo saat ia hendak masa bodoh dengan pertemuan yang mereka lakukan."Leo. Ini bukan tawaran, tapi aku meminta tolong," cegah Deo karena Leonard tampak tak tertarik dengan tawaran ke dua."Suara kita bisa imbang kalau kamu menolakku. Aku bersedia memberi suaraku padamu. Asal beri aku satu jabatan itu. Demi negara ini."Leonard langsung menghentikan langkahnya dan menatap tegas ke arah rivalnya. "Beri aku alasan yang je
Sekretaris itu tampak ragu melaporkan berita terbaru. Leonard yang sempat membisu, akhirnya angkat bicara."Katakan. Ada berita apa?" "Deo meminta pertemuan pribadi. Lebih baik sebelum kampanye terakhir."Helaan napas keluar dari Leonard. Dia merasa pekerjaannya selalu bertambah. Meskipun enggan, pria itu tetap menjawab, "ajak ketemu pas kita sampai di Jakarta. Langsung.""Apa tidak ditunda dulu, Pak? Kesehatan Anda-""Tidak. Aku ingin menyelesaikan secepatnya."Raymond tertunduk, dan segera mengetik ponselnya. Pria itu sangat khawatir dengan kondisi atasannya. Namun, perintah Leonard tak bisa diganggu gugat.Di saatsang sekretaris ngebut dengan pekerjaannya. Mendadak terdengar sebuah suara."Bagaimana pekerjaan Angle?" tanya Leonard lirih.Punggung Raymond segera menegak. "Dalam proses menarik outline kasus, Pak.""Bilang sama dia, untuk melaporkannya segera. Sebelum acara keluargaku. Lebih baik, kita menangkap mereka saat semua berkumpul.""Baik, Pak."Mobil melaju kencang di tol.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments