MasukLangkah Lyra terhuyung di sepanjang trotoar. Lampu jalan menyinari wajahnya yang sembab, sementara sepatu hak yang ia kenakan mulai menyiksa di setiap langkah.
Namun, rasa sakit di kakinya tak sebanding dengan hancurnya hati Lyra malam ini.
Ia akhirnya berhenti di sebuah taman kota yang sepi, menengadahkan wajah ke langit malam yang buram karena air mata. Dengan jari gemetar, ia merogoh ponsel yang nyaris mati dan menekan satu nama: Sally. Ibunya. Satu-satunya tempat pulang yang masih ia harapkan.
“Halo?” Suara di seberang menjawab malas.
“Ma... ini aku, Lyra,” bisik Lyra bergetar.
“Oh, kamu. Ada apa telepon malam-malam?” nada Sally terdengar kesal.
“Ma, aku... aku diusir. Apa aku boleh menginap di rumah Mama?”
Hening sejenak. Lyra menahan napas penuh harap, namun jawaban yang keluar justru menusuk jantungnya.
“Kalau mau menginap, bawa uang. Ibu butuh banyak hal; uang belanja, tagihan, juga untuk suamiku. Kalau tidak punya uang, jangan harap bisa tinggal di sini!”
Dada Lyra sesak. Harapan terakhirnya sirna.
Sally berkata lagi, tapi nada suaranya tetap terdengar ketus. “Johan tidak memberi uang sepeser pun sebelum mengusirmu?”
Lyra terdiam, tangannya meremas ujung kemejanya sambil menahan isak. “Ma... Papa mengusirku karena aku menolak menikah dengan orang asing.”
Bukannya iba, Sally justru mendengus keras. “Harusnya kamu terima saja! Kamu selalu keras kepala, makanya jadi begini. Lagipula itu untuk masa depanmu juga. Kamu ini bagaimana, sih!”
“Ma …” Suara Lyra akhirya pecah. “Aku …”
Namun, Sally tetap terdengar tidak pedul. “Aku tidak butuh alasanmu, Lyra. Aku butuh uang. Minggu depan kirimkan uang, suamiku butuh biaya dan aku mau beli barang branded!”
“Tapi Ma, aku tidak punya apa-apa...” Lyra menggenggam ponselnya erat. “Papa bahkan mengusirku dan meminta mengganti semua biaya hidup yang pernah dikeluarkannya untukku.””
Sejenak hening di ujung telepon. Lyra sempat berharap ibunya mungkin akan luluh, namun kata-kata yang dilontarkan ibunya sama menyakitkannya. “Kalau begitu, bayar aku karena sudah melahirkanmu! Itu jauh lebih besar dari biaya hidupmu selama ini.” Sally tertawa sinis. “Kamu terlalu bodoh, Lyra! Dunia tidak butuh orang yang cuma bisa menangis. Jangan hubungi aku lagi kalau tidak ada uang!”
Pip. Sambungan terputus.
Lyra menatap layar ponselnya yang gelap dengan tatapan kosong. Ia benar-benar sendirian, ditolak oleh dua orang yang seharusnya melindunginya.
Tiba-tiba, layar ponselnya kembali menyala. Sebuah pesan masuk [Aku Neilson Alexander. Malam ini, kita bertemu. Ada hal yang perlu aku bicarakan.]
Nama itu. Nama pria yang disebut ayahnya sebagai calon suami.
Lyra ragu, namun perutnya yang melilit lapar dan kenyataan bahwa ia tak punya tempat berteduh memaksanya menyerah.
Restoran Mewah
Lyra melangkah masuk dengan jantung berdebar. Beberapa pengunjung melirik sinis ke arahnya. Dengan kemeja kusam, celana jeans, dan luka berdarah di lutut, ia merasa seperti gelandangan di tengah kemewahan itu.
Hingga sebuah langkah tegap mendekat. Lyra mendongak dan napasnya seolah tercekat. Seorang pria berjas hitam dengan wajah dingin dan tatapan tajam berdiri di hadapannya. Wibawanya begitu menekan hingga Lyra spontan menunduk.
Pria itu duduk tanpa basa-basi. “Jadi, kamu Lyra Florency?” tanyanya datar.
“I–iya, aku Lyra.”
Baru saja Lyra hendak bicara, pria itu menyodorkan map cokelat tebal ke meja. “Baca,” titahnya singkat.
Jemari Lyra gemetar membuka map tersebut. Matanya membelalak membaca judul di halaman pertama: Kontrak Pernikahan.
Neilson menyandarkan tubuh, menyilangkan tangan dengan ekspresi beku. “Aku tidak tertarik dengan cinta atau omong kosong pernikahan. Aku hanya butuh syarat untuk memenuhi keinginan ayahku. Sebagai imbalannya, aku akan memberimu uang dalam jumlah besar.”
Lyra menelan ludah, membaca halaman demi halaman dengan keterkejutan yang nyata.
“Anggap saja ini transaksi,” lanjut Neilson tajam. “Kamu akan jadi istriku di hadapan ayahku. Di luar itu, kita adalah orang asing. Tidak lebih.”
“Nathan cuma mau pelgi kalau Mama juga pelgi!” seru Nathan dengan suara lantang. Meski pelafalannya masih cadel, nada bicaranya tegas dan penuh penolakan. Ia segera menjatuhkan diri duduk di lantai, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada dengan ekspresi keras kepala. Tatapannya lurus ke depan, seolah tak ada yang bisa mengubah keputusannya. Ethan yang melihat itu langsung meniru tanpa ragu. Ia duduk di samping Nathan dengan gerakan sedikit goyah, lalu ikut menyilangkan tangannya. “Ethan jugaa ...,” katanya pelan. “Nggak mauu pelgi ...,” tambahnya dengan bibir mengerucut. Grey tak bisa menahan tawanya melihat tingkah kedua anak itu. Ia menyandarkan tubuhnya santai sambil melirik ke arah Neilson, jelas menikmati situasi tersebut. Wajahnya dipenuhi ekspresi geli, seolah menemukan hiburan dadakan di pagi hari itu. Ia lalu menggeleng kecil sebelum kembali menatap ke arah keponakannya. “Wah, gimana ini?” godanya ringan. “Sepertinya Kakak nggak jadi menikmati waktu berdua.” Neilson
Lyra berdiri di sisi ranjang sambil merapikan beberapa pakaian kecil milik Nathan dan Ethan ke dalam tas. Gerakannya rapi dan teratur, sesekali ia memastikan tidak ada yang tertinggal.Di atas ranjang, kedua anak kembarnya masih terlelap dengan posisi berantakan, selimut mereka sudah bergeser ke sana kemari. Pemandangan itu membuat sudut bibir Lyra terangkat, hangat dan penuh kasih.Ia memandanginya lebih lama ke arah mereka, lalu melangkah mendekat dengan langkah pelan. Tubuhnya sedikit membungkuk, tangannya mengusap lembut kepala kecil mereka.“Nathan ... Ethan ... bangun, sayang,” ucapnya lembut. “Kita mau pergi ketemu kakek, sebentar lagi kita berangkat.”Nathan adalah yang pertama merespons. Ia mengerjap pelan, lalu meregangkan tubuhnya dengan gerakan malas sebelum akhirnya duduk di atas ranjang.Namun, matanya masih terpejam rapat, kepalanya sedikit terangguk ke depan seperti menahan kantuk yang belum pergi.Lyra tak bisa menahan tawa kecil melihat itu. “Nathan ... kamu bangun a
“Pangeran Allain akhirnya menarik pedangnya,” ucapnya pelan. “Ia melawan penyihir jahat dan berhasil mengalahkannya.”Lyra menatap kedua anaknya dengan senyum hangat. “Rakyat kerajaan Arcania pun selamat, dan mereka semua hidup bahagia.”Lyra menutup halaman terakhir buku cerita dengan lembut. Suaranya merendah, seolah ikut tenggelam dalam akhir kisah yang baru saja ia bacakan.Nathan yang sejak tadi menyimak dengan serius langsung mengangkat kepalanya. Matanya berbinar terang, wajah kecilnya dipenuhi semangat dan kekaguman yang belum pudar.“Nathan mau menjadi seperti pangeran Allain!” serunya dengan pelafalan yang masih sedikit cadel.“Nathan mau lindungin semuanya!”Ethan yang berbaring di sampingnya ikut bergerak, meski kelopak matanya mulai terasa berat. Ia memaksakan dirinya bangun sedikit, tidak ingin kalah dari saudara kembarnya.“Ethan jugaaa …,” ucapnya pelan. “Ethan jadi pangeran ... jagain Mamaa ....”Lyra tersenyum lebih lebar mendengar itu. Ia mengulurkan kedua tangannya
Satu tahun kemudian. “Ma i… nain … punyaku!” “Nggaaa … punyaku!” Dua anak kembar itu saling melotot dengan wajah mungil yang sama-sama mengerucut cemberut. Tangan kecil mereka mencengkeram satu mainan yang sama, menariknya ke arah masing-masing tanpa mau mengalah sedikit pun. Tarikan mereka tidak kuat, tetapi cukup untuk membuat mainan itu bergoyang ke kanan dan ke kiri, seperti ikut bingung harus memilih siapa. Salah satu dari mereka akhirnya melepaskan pegangannya dengan kesal. Ia berdiri dengan gerakan sedikit goyah, tubuhnya sempat miring sebelum kembali seimbang, lalu menunjuk ke arah dapur dengan mata berbinar penuh ide. “... Mamaa punyaku!” serunya dengan suara cadel yang masih belum jelas. Ia langsung melangkah cepat menuju dapur tempat Lyra berada. Langkahnya pendek-pendek dan belum stabil, kadang hampir tersandung, tetapi semangatnya membuat ia tetap melaju seperti berlari kecil. Melihat itu, saudara kembarnya langsung panik. Ia buru-buru bangkit, hampir kehilangan k
“A–apa? Kenapa aku harus mengatakan itu?” Suara Lyra terdengar terburu-buru, seolah ia ingin menepis sesuatu yang baru saja menyentuh hatinya. Ia segera memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai memerah di bawah cahaya bulan. Tangannya menggenggam ujung selimut dengan gelisah, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Neilson memperhatikannya dengan senyum tipis yang sulit ditebak. Tatapannya tidak berpindah, seolah ia menikmati setiap reaksi kecil yang ditunjukkan Lyra. “Aku ingin mendengarnya langsung darimu,” katanya pelan. Nada suaranya ringan, tetapi jelas mengandung harapan yang tidak main-main. Beberapa detik kemudian, Neilson mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan di depan mereka. Namun senyum itu masih tersisa di wajahnya, seolah ia sedang mengingat sesuatu. “Aku pernah mendengarnya sekali,” lanjutnya santai. “Tapi kali ini … aku ingin mendengarnya lagi.” Lyra langsung mematung mendengar itu. Ia menoleh perlahan, ekspresinya berubah menjadi b
“B–bukan begitu maksud— Neil! Apa yang kamu lakukan?!” Suara Lyra terputus di tengah kalimat, berubah menjadi nada panik yang tidak sempat ia kendalikan. Ia bahkan belum selesai berbicara, ketika tubuhnya tiba-tiba terangkat dari tanah. Neilson melangkah mendekat tanpa ragu, lalu dengan mudah mengangkat Lyra ke dalam gendongannya. Gerakannya tenang dan pasti, seolah keputusan itu sudah ia ambil sejak awal tanpa perlu meminta izin. Pipi Lyra langsung memanas, rona merah menjalar cepat hingga ke telinganya. Ia refleks menunduk dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya di dada Neilson untuk menghindari tatapan orang-orang di sekitar. “N–Neil … turunkan aku …,” bisiknya pelan, suaranya hampir tenggelam. Grey yang berdiri tidak jauh dari mereka tidak bisa menahan tawanya. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Neilson dengan santai, matanya menyipit penuh godaan. “Kak, kamu ini … benar-benar tidak bisa menahan diri,” ujarnya ringan sambil tersenyum. Nada bicaranya santai, tetapi cukup u
Lyra terdiam, jelas terkejut oleh ucapan Neilson barusan. Seingatnya, ia tak pernah menandatangani kontrak apa pun dengan perusahaan mana pun, bahkan soal magang pun belum pernah ia pikirkan. Dadanya terasa sesak oleh kebingungan yang datang secara tiba-tiba.Theo tersenyum tipis melihat kemunculan
“M—Mr.Neil itu ... Kak Alex?” Suara Lyra terdengar bergetar saat keluar dari bibirnya. Matanya membesar, seolah potongan ingatan yang selama ini tercerai kini dipaksa menyatu. Napasnya terasa berat ketika kesadaran itu menghantamnya tanpa ampun.Pantas saja sejak awal wajah Neilson terasa begitu t
Lyra terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Grey. Memang benar, secara teknis Grey adalah adik iparnya, tetapi pernikahannya dengan Neilson hanyalah kontrak, sesuatu yang seharusnya tidak dianggap sebagai ikatan keluarga sesungguhnya.Pikiran itu membuat hatinya kembali bimbang, seolah ia
Rahang Neilson mengeras saat matanya menatap wanita di depannya. Sorot matanya tajam, memancarkan kebencian yang sulit disembunyikan. Ia menahan napas sejenak sebelum akhirnya membuka suara.“Erina ... kenapa kamu ada di sini?” tanyanya singkat, nada suaranya dingin dan tegas.Erina membalas dengan







