Masuk
“Nggak, Pa! Lyra gak mau menikah dengan pria itu!”
Plakk! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Lyra setelah melontarkan penolakan. Tubuhnya terdorong jatuh ke lantai, ia memegang pipinya yang terasa perih, pandangan matanya mulai berkunang karena tak menyangka akan mendapatkan pukulan dari ayahnya sendiri. “Kurang ajar!” bentak Johan Fernando, ayahnya, dengan wajah yang sudah merah padam. “Kamu pikir hidupmu ini kamu biayai sendiri? Sejak kecil, aku yang membesarkanmu dengan uangku. Saat ibumu membuangmu ke panti asuhan, siapa yang datang menjemputmu? Aku! Dan sekarang kau menolak membalas budiku?” Lyra berusaha keras menahan air matanya, ia menopang tubuhnya dengan tangan yang mulai gemetar. Kata-kata ayahnya tajam, seperti pisau yang menusuk jantungnya. “Papa, aku gak bisa ... aku gak mengenalnya. Bagaimana bisa aku menikah dengan pria yang bahkan belum kukenal?” suaranya terdengar gemetar, penuh rasa takut. Johan berjongkok kemudian meraih kerah kemeja Lyra. Ia menariknya kasar hingga wajah anaknya yang rapuh berhadapan dengan tatapan tajamnya. “Tidak ada penolakan! Kalau kau menolak, jangan harap tinggal di rumah ini lagi! Keluarlah! Dan kembalikan semua uang yang kugunakan untuk membiayai hidupmu sejak kecil!” Lyra terdiam mendengar ucapan ayahnya. Kata-kata itu justru menghantam hatinya lebih keras daripada tamparan barusan. Padahal, dirinya juga adalah anak kandung Johan. Namun, kenapa perlakuan ayahnya padanya berbeda dengan kakak tirinya, Salsa? Perusahaan Fernando mengalami kebangkrutan, dan Alexander Group bersedia untuk berinvestasi bahkan mendanai perusahaan Fernando asal Johan menikahkan salah satu anaknya dengan anak sulung keluarga Alexander. Tak ada yang tahu bagaimana wajah dari anak sulung tersebut. Ada rumor yang mengatakan bahwa Alexander Group menyerahkan urusan perusahaan pada anak keduanya karena anak sulungnya mengalami kecacatan dan mengidap penyakit menular. Bahkan ada yang menebak bahwa umur anak sulung sudah tua sehingga Alexander berusaha mencari perusahaan yang bersedia untuk menjodohkan anaknya. Alexander banyak menawarkan beberapa perusahaan untuk kerja sama melalui pernikahan, tetapi tak ada yang bersedia menerima tawaran itu. Dan kini, Fernando yang mengalami krisis keuangan satu-satunya yang menerima tawaran. Akan tetapi, dia tak ingin menyerahkan anak kesayangannya, Salsa, dan memilih untuk menyerahkan anak dari istri pertamanya, Lyra. “Papa ...” Suara Lyra bergetar, air matanya perlahan mengalir membasahi pipi yang masih terasa panas akibat tamparan tadi. Ia menggenggam kemejanya erat-erat, mencoba menahan tubuhnya yang ikut gemetar. “Aku ini putrimu, kenapa Papa tega memperlakukanku seperti ini? Aku cuma pengen menikah dengan pria yang kucintai, bukan dengan orang asing yang bahkan gak kukenal, Pa.” Johan bangkit kemudian terkekeh sinis, suara tawanya rendah dan menusuk. “Cinta?” Ia meludah ke samping dengan jijik. “Menikahimu karena cinta tidak akan memberiku uang, tidak akan memberiku saham, apalagi menyelamatkan perusahaan ini dari kehancuran!” Johan menunduk, menatap Lyra yang terduduk di lantai seakan gadis itu hanyalah beban. “Jangan terlalu naif, Lyra. Kau bukan siapa-siapa tanpa bantuanku. Tanpa aku, kau hanyalah anak buangan yang akan hidup di jalanan!” Lyra menggeleng keras, air matanya jatuh semakin deras. Ia mendekat lalu memeluk kaki ayahnya, memohon. “Tidak, aku bukan barang yang bisa Papa tukar sesuka hati. Aku ingin memilih jalanku sendiri. Kenapa Papa gak pernah melihatku sebagai manusia, sebagai anakmu?” Johan menghempaskan kakinya kasar hingga pelukan Lyra terlepas. Ia ingin menampar putrinya lagi, tetapi tangannya terhenti di udara, kemudian beralih menunjuk dahi Lyra sambil mendorongnya kasar. “Kau tidak punya hak untuk menolak. Selama kau masih hidup dengan uangku, kau harus menuruti semua keputusanku. Dan keputusan itu sudah final, kau akan menikah dengan Neilson Alexander, apa pun yang terjadi!” Tubuh Lyra kembali lemas. Rasa sesak memenuhi dadanya. Perkataan ayahnya seperti palu yang menghancurkan setiap harapan kecil yang ia miliki. Bela, ibu tirinya, yang duduk manis di kursi meja makan hanya melirik sekilas, bibirnya menyunggingkan senyum puas. “Sudah kubilang, Sayang,” ujarnya santai sambil menusukkan garpu ke potongan daging, “anak itu memang keras kepala. Dari dulu sudah kubilang tidak ada gunanya membawanya ke sini dan membesarkannya. Pada akhirnya dia tumbuh sama seperti ibunya.” Di sampingnya, Salsa tertawa kecil, pura-pura menutup mulutnya dengan tangan, tetapi terlihat jelas menikmati tontonan itu. Mereka berdua tetap melanjutkan makan malam seolah tidak terjadi apa-apa, bahkan mengabaikan tubuh Lyra yang masih terduduk di lantai. “Berdiri!” bentak Johan dengan suara menggelegar. Tangan kasarnya meraih lengan Lyra, menyeret tubuh rapuh putrinya itu menuju pintu. Lyra berusaha memberontak, tetapi tenaganya tak sebanding dengan kekuatan sang ayah. “Jika kau tetap menolak, jangan harap bisa kembali menginjakkan kaki di rumah ini!” Johan mendorong tubuh Lyra kasar hingga terhempas ke lantai teras rumah. Dorongan itu membuat lutut putrinya tergores. “Dan ingat baik-baik, semua uang yang sudah kukeluarkan untukmu harus kau kembalikan. Bukan dengan jumlah biasa, tapi dua kali lipat!” Lyra menatap ayahnya dengan mata sembab. Dadanya terasa sesak, napasnya tercekat di tenggorokan. Perkataan ayahnya selanjutnya semakin menusuk hatinya. “Pergilah! Temui ibumu yang dulu membuangmu itu! Minta dia membantu membayar semua yang sudah kuhabiskan untukmu. Sekarang, kau akan tahu rasanya hidup tanpa uang dariku!” Pintu rumah berderit keras saat Johan menutupnya dengan kasar, meninggalkan Lyra yang terduduk lemah di luar. Sementara dari balik jendela, Bela dan Salsa tersenyum puas memandangi penderitaan Lyra, seakan mereka melihat akhir dari pertarungan yang sudah lama mereka nantikan. Lyra menangkup wajah dengan kedua tangannya, ia sudah tak bisa menahan rasa sakit hatinya lagi. Padahal, meski dirinya besar di kediaman ini, dia tak pernah dianggap sebagai anak, melainkan selalu dianggap sebagai pembantu. Setiap hari Lyra harus bangun pagi, menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah sebelum berangkat sekolah. Bahkan saat pulang sekolah dia harus tiba tepat waktu untuk menyiapkan makan siang. Lyra harus melayani seisi keluarga dan melakukan semua pekerjaan rumah seorang diri karena Johan tidak pernah menyewa pembantu untuk melakukan pekerjaan itu. Ayahnya merasa enggan mengeluarkan uang saat ada Lyra yang bisa mengerjakan semua pekerjaan. Ayahnya tak ingin Lyra hidup menumpang di rumah tersebut secara gratis. Bahkan uang jajan pun tak pernah ia dapatkan, hanya Salsa yang mendapatkan uang jajan. Namun, Lyra tak pernah mengeluh, karena dia sudah merasa bersyukur Johan mau membiayai sekolahnya. Dirinya hanya membawa bekal dari rumah dan tak pernah membeli makanan di luar. Meski sudah berkorban seperti itu, kini ia diusir seakan tak pernah berguna, ia dianggap beban dan harus mengembalikan uang yang sama sekali tak pernah dirinya gunakan. "Aku harus tidur di mana malam ini ....""Soal itu ... hanya kebetulan." Neilson akhirnya angkat bicara dengan nada datar, seolah ingin memutus dugaan yang terlanjur tumbuh di benak Lyra. “Telur itu memiliki stok paling banyak di kulkas, jadi aku membuatnya.”"Oh ...." Jawaban itu membuat Lyra tersenyum tipis, senyum yang lebih condong pada rasa malu daripada lega. Ia menunduk sebentar, menyadari bahwa dirinya mungkin terlalu percaya diri hanya karena beberapa perhatian kecil dari Neilson. Ada rasa hangat yang pelan-pelan surut, digantikan perasaan kikuk yang tak ingin ia akui.Tanpa berkata apa-apa lagi, Lyra meraih sendok dan mengambil sepotong telur gulung dari piringnya. Ia memasukkannya ke mulut dan mengunyah perlahan, rasanya tetap enak, tetapi hatinya sedikit kecewa. Namun, ia memilih diam, menyembunyikan perasaan itu di balik ekspresinya yang tenang, seolah tak terganggu.Neilson melirik sekilas ke arah Lyra, memperhatikan perubahan halus di wajah gadis itu yang tak sepenuhnya mampu ia sembunyikan. Ada bayangan k
"M–mahar?" Lyra tertegun saat kata mahar keluar begitu saja dari bibir Neilson. Ia tak pernah membayangkan pria itu akan menggunakan kata yang bermakna itu, apalagi dalam konteks pernikahan kontrak mereka.Kalimat sederhana itu memunculkan banyak pertanyaan di benaknya, membuatnya bertanya-tanya apakah Neilson mulai menganggap hubungan mereka lebih dari sekadar kesepakatan tertulis? Tanpa disadari, wajah Lyra memanas, dan rona merah perlahan menjalar di pipinya, menandai keguncangan perasaan yang berusaha ia sembunyikan.Lyra akhirnya angkat bicara dengan suara yang terdengar gugup. “Aku … aku akan mempertimbangkannya dulu.” Tanpa menunggu tanggapan, ia segera bangkit, gerakannya terburu-buru seolah takut perasaannya akan terbaca.Ia melangkah menuju kamar dan menutup pintu di belakangnya. Di balik daun pintu itu, Lyra menyandarkan punggungnya sambil menghela napas panjang. Kedua tangannya terangkat memegang pipinya yang terasa panas.“Ada apa denganku?” gumamnya lirih.Pandangan L
Lyra terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Grey. Memang benar, secara teknis Grey adalah adik iparnya, tetapi pernikahannya dengan Neilson hanyalah kontrak, sesuatu yang seharusnya tidak dianggap sebagai ikatan keluarga sesungguhnya.Pikiran itu membuat hatinya kembali bimbang, seolah ia berdiri di antara peluang besar dan batasan yang tak berani ia lewati. Neilson yang sejak tadi hanya memilih diam mengamati Lyra dengan saksama. Ia bisa melihat jelas keraguan di wajah gadis itu, juga kegelisahan yang belum sepenuhnya terurai.Akhirnya, Neilson memutuskan untuk angkat bicara dengan nada datar. “Kamu tidak perlu menjawab sekarang,” katanya. “Pertimbangkan saja dulu.”Grey ikut menimpali ucapan Neilson dengan senyum santai. Ia tak ingin Lyra merasa tertekan oleh tawaran sebesar itu. Baginya, keputusan besar memang tak seharusnya diambil dalam keadaan terburu-buru.“Tenang saja,” ujar Grey. “Pikirkan baik-baik. Kakak ipar tidak perlu memutuskan langsung hari ini.”Mendengar itu
Lyra terdiam, jelas terkejut oleh ucapan Neilson barusan. Seingatnya, ia tak pernah menandatangani kontrak apa pun dengan perusahaan mana pun, bahkan soal magang pun belum pernah ia pikirkan. Dadanya terasa sesak oleh kebingungan yang datang secara tiba-tiba.Theo tersenyum tipis melihat kemunculan Neilson. Ia menarik kembali tangannya yang sempat terulur, lalu memasukkannya ke saku celana dengan santai sambil menatap pria itu.“Lama tidak bertemu, Neil,” ujarnya ringan. “Kupikir kabar tentangmu mengajar di kampus hanya rumor belaka. Ternyata benar?”Neilson tidak menjawab. Tatapannya dingin dan datar, seolah Theo hanyalah orang asing yang kebetulan berdiri di hadapannya. Sikap itu justru membuat Theo tertawa kecil, suaranya rendah dan mengandung ejekan.“Jadi sekarang kamu sudah tidak bisa menciptakan desain baru lagi?” sindirnya. “Sampai harus menjadi dosen dan sibuk mencari penerus?”Tanpa menunggu respons Neilson, Theo mengalihkan pandangannya ke arah Lyra. Senyumnya melunak, berb
Erina tetap mempertahankan senyuman di wajahnya, meski sorot matanya mulai terlihat gelisah. Ia berusaha terdengar tenang seolah tudingan itu sama sekali tak menggoyahkannya.“Kenapa kamu berkata begitu?” tanyanya lembut, seakan tersinggung. “Kenapa kamu menuduhku?”Tatapan Neilson mengeras. Ia menatap Erina tanpa sedikit pun keraguan, suaranya terdengar tajam dan dingin. “Karena kunci ruang busana ada padamu,” ucapnya singkat, tanpa basa-basi.Senyum Erina meredup, berganti raut wajah sendu yang dibuat-buat. Ia menggeleng pelan, matanya terlihat mulai berkaca-kaca, sedangkan suaranya dibuat serendah mungkin. “Aku tidak tahu apa-apa,” katanya. “Pagi tadi aku bahkan tidak masuk ke ruangan itu. Aku hanya menitipkan kuncinya pada seorang mahasiswa.”Neilson tertawa kecil, namun nadanya terdengar meremehkan. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memutar layar ke arah Erina. “Kamu lupa satu hal,” ujarnya singkat.Di layar ponsel itu terpampang rekaman CCTV. Terlihat jelas Erina berdiri di depan
MC ikut menoleh ke arah tirai dengan raut bingung. Ia kembali mengangkat mikrofon dan mengulang pengumuman."Mahasiswa terakhir, nomor urut lima puluh, Lyra Florency.”Deretan tamu mulai saling berpandangan, beberapa di antaranya berbisik pelan karena tak ada satu pun sosok yang muncul. Suasana yang semula penuh antisipasi perlahan berubah menjadi canggung dan tegang.Di depan panggung, Neilson melirik jam tangannya sekilas. “Sepertinya kamu gagal,” katanya singkat.Tak adanya kehadiran Lyra membuat Neilson menarik kesimpulan sementara. Dalam benaknya, gadis itu mungkin tak sempat bertindak atau tak berhasil menciptakan karya baru tepat waktu.Saat MC hendak membuka suara kembali, tirai panggung tiba-tiba tersibak. Sosok Lyra muncul dari baliknya, berdiri tegak dengan langkah mantap yang langsung menyedot perhatian seluruh ruangan.Lyra melangkah masuk dengan anggun. Gaun yang semula tampak polos kini berubah menjadi karya baru, garis-garis biru tua menjalar teratur, membentuk motif y







