MasukLyra membalik halaman demi halaman dengan tangan gemetar. Semakin ia membaca, semakin hatinya tak percaya.
Di sana tertulis dengan jelas bahwa setelah pernikahan, keduanya diwajibkan tinggal dalam satu rumah. Namun, dilarang melewati batas dan tidak boleh ikut campur urusan pribadi masing-masing. Bahkan kamar tidur mereka akan terpisah. Lyra menelan ludah, melirik Neilson yang terlihat duduk tenang di hadapannya, wajahnya dingin tanpa sedikitpun senyuman. Neilson kemudian mengeluarkan sebuah kartu hitam dari sakunya dan meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Lyra. “Sebagai imbalannya, kau akan mendapat ini. Kartu tanpa batas. Kau bisa membeli apa saja, tanpa perlu meminta izin.” Lyra menatap kartu itu seperti menatap harta karun langka. Hatinya berdegup kencang, tak menyangka ada tawaran kemewahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Suara Neilson terdengar lagi. “Pikirkan baik-baik, Lyra Florency. Aku menawarkan kebebasan finansial. Dan aku hanya perlu satu hal darimu, status sebagai istri.” Alih-alih merasa tak terima, Lyra justru terdiam, lalu perlahan sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Ia membaca ulang poin-poin kontrak itu, memastikan matanya tak salah. Tidak boleh mencampuri urusan pribadi. Tidak boleh melewati batas. Bahkan kamar pun dipisahkan. Namun, imbalan yang dirinya terima justru sangat besar. Tak ada kewajiban untuk tunduk sebagai istri sesungguhnya. Tak ada paksaan untuk berbagi perasaan apalagi tubuh. Semua yang ia takutkan tentang pernikahan paksaan ini tiba-tiba terasa sirna. "Ini ... sama sekali tidak merugikanku," batin Lyra bahagia. Lyra kembali mengangkat wajahnya. Pandangannya bertemu dengan mata Neilson yang dingin dan penuh wibawa. Seketika ia teringat semua rumor yang pernah didengarnya, bahwa anak sulung Alexander itu sudah tua, memiliki penyakit menular, bahkan cacat fisik. Namun, lelaki yang kini duduk di hadapannya sama sekali tidak sesuai dengan rumor itu. Tubuh Neilson terlihat tegap, sorot matanya tajam namun memukau, memiliki paras tampan dan kharisma yang begitu kuat hingga membuat Lyra membeku sejenak. Gadis itu tertegun, sulit mempercayai kenyataan. Bagaimana mungkin lelaki semuda dan setampan ini dikatakan cacat dan sudah tua? Lyra menutup map itu dengan mantap, kedua matanya menatap lurus ke arah Neilson. Tanpa ragu ia berkata, “aku setuju.” Neilson sempat terdiam, alisnya terangkat sedikit. Ia tidak menyangka gadis itu akan menyetujuinya dengan begitu cepat, apalagi dengan nada mantap seolah kontrak itu adalah sebuah anugerah. Sekilas, sesuatu melintas di sorot mata Neilson, keterkejutan bercampur heran. Seharusnya gadis itu merasa tak terima dan merasa direndahkan karena dirinya ditukar dengan uang. Namun, ekspresi Lyra justru menampakkan kepuasan, bahkan ada kilatan lega yang tidak bisa gadis itu sembunyikan. Neilson segera menghapus keterkejutannya. Wajahnya kembali dingin, rahangnya mengeras, seolah tak ingin menunjukkan ketertarikan pada reaksi Lyra. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Baiklah. Kalau begitu, kita sepakat. Aku akan mengurus pernikahan ini besok.” Lyra mengangguk pelan. “Aku tidak keberatan.” Keheningan singkat menyelimuti mereka, hanya suara sendok garpu dari meja lain yang terdengar. Tatapan dingin Neilson sempat turun, menyapu pakaian lusuh yang dikenakan Lyra malam itu. Kemeja sederhana yang hanya dibaluti jaket kemudian celana jeans yang terlihat kotor, jelas kontras dengan interior restoran mewah yang penuh cahaya kristal dan suasana elegan. Tanpa sepatah kata pun, Neilson memanggil asistennya yang berdiri tak jauh dari meja. Ia membisikkan sesuatu dengan nada rendah, cukup singkat, kemudian sang asisten mengangguk patuh sebelum melangkah pergi. Lyra hanya bisa menatap heran, tidak mengerti apa yang sedang direncanakan lelaki di hadapannya. Beberapa menit kemudian, pelayan restoran datang dengan langkah sopan. Di tangannya, nampan-nampan besar berlapis penutup perak berkilau dibawa satu per satu. Dengan gerakan terlatih, pelayan itu menaruh hidangan-hidangan mewah di hadapan Lyra. Aroma gurih dan harum segera memenuhi udara. Piring demi piring terbuka menampilkan daging premium yang diolah dengan seni, pasta lembut dengan saus yang menggoda, hingga dessert cantik dengan taburan emas tipis di atasnya. Lyra membelalakkan mata, mulutnya sedikit menganga tak percaya. Selama ini ia hanya melihat makanan seperti itu di televisi atau majalah. Tangannya spontan meremas ujung kemejanya, seakan takut menyentuh apa pun di meja itu karena takut mengotori keindahannya. “Ini ... apa?” Suaranya nyaris berbisik, masih dipenuhi keterkejutan. Neilson menatapnya sekilas, lalu kembali bersikap datar. “Anggap saja sebagai imbalan kecil.” Hati Lyra berdebar kencang. Campuran antara rasa tak percaya, kagum, sekaligus canggung memenuhi dadanya. Perutnya mulai memberontak, mengeluarkan bunyi lirih yang membuat wajahnya merona malu. Tangannya langsung menekan perutnya, kemudian melirik ke arah Neilson dengan ragu, berharap lelaki itu tak mendengar suara perutnya. Hidangan-hidangan mewah yang tersaji di hadapannya begitu menggoda, tetapi ada rasa malu yang menahan dirinya untuk tidak menyentuhnya. Neilson yang sejak tadi memperhatikan, mengangkat sendoknya perlahan. Tatapannya dalam, namun nada suaranya tetap datar. “Makanlah.” Seolah mendapat izin tak tertulis, Lyra langsung meraih sendok perak yang mengkilap. Rasa gugupnya seketika tergantikan oleh rasa penasaran. Ia mencicipi satu demi satu hidangan di hadapannya. Potongan daging lembut yang meleleh di mulut, pasta dengan saus creamy yang kaya rasa, hingga dessert manis yang membuatnya ketagihan. “Mmhh ... enak sekali ...,” gumam Lyra berulang kali, matanya berbinar setiap kali suapan baru menyentuh lidahnya. Tanpa segan, ia terus mencoba berbagai hidangan, seakan dunia di sekitarnya lenyap dan hanya tersisa rasa luar biasa di mulutnya. Neilson, yang duduk di seberang meja, makan dengan tempo pelan dan elegan. Namun, sesekali matanya melirik ke arah Lyra. Ada kilatan samar di balik tatapannya yang dingin, seakan ia tengah mengamati seekor anak kucing yang baru pertama kali melihat makanan—ceroboh, berantakan, dan benar-benar kacau. “Pelan sedikit,” kata Neilson akhirnya, suaranya terdengar tenang. “Tak ada yang akan merebut makanan itu darimu," lanjutnya sambil mengambil beberapa lembar tisu kemudian memberikannya pada Lyra. Lyra berhenti sejenak, pipinya tersipu mendengarnya. Tangan kanannya yang masih memegang sendok meraih tisu itu. Sebuah senyum kecil di bibirnya tak bisa ia tahan. “Terima kasih. Dan maaf, ini benar-benar pertama kalinya aku memakan makanan mewah seperti ini. Apalagi aku belum makan sejak pagi.” Neilson tak menanggapi lebih jauh. Ia hanya kembali menyuap makanannya perlahan, tetapi sorot matanya tetap melekat pada Lyra, seakan tengah mempelajari setiap ekspresi dari gadis itu. Usai suapan terakhir, Lyra bersandar sejenak, mengusap perutnya yang kini terasa penuh. Wajahnya masih menggambarkan kepuasan karena baru saja menikmati makanan terenak seumur hidupnya. Saat ia hendak menaruh sendok kembali, terdengar suara langkah mendekat. Asisten Neilson muncul dengan membawa sebuah tas kertas bermerk mewah. Dengan sedikit membungkuk, ia menyerahkan tas itu ke hadapan Lyra. “Silakan, Nona Lyra.” Lyra menatap bingung, lalu beralih pada Neilson. “Ini apa lagi?” tanyanya hati-hati. Neilson menyilangkan tangan, duduk dengan postur tegas dan dingin. “Ganti pakaianmu. Penampilanmu terlalu lusuh untuk duduk bersamaku di sini.” Ucapan itu menusuk, membuat pipi Lyra terasa panas menahan malu. Namun, alih-alih tersinggung, ia lebih merasa rendah diri ketika melirik bajunya yang memang sederhana, kotor, jauh dari kata pantas memasuki restoran mewah ini. Untung saja ketika masuk tadi dia tidak diusir oleh satpam yang berjaga di depan. Dengan ragu, Lyra meraih tas itu dan berdiri perlahan. “Baik, aku akan ganti.” Gadis itu melangkah menuju ruang kecil yang disediakan restoran untuk tamu. Saat membuka tasnya, matanya terbelalak. Di dalamnya terdapat gaun panjang berwarna biru pastel, jelas terlihat mahal dari bahannya yang berbahan katun yang terasa lembut, lengkap dengan sepatu dan aksesoris kecil yang serasi. Tangannya sempat ragu untuk menyentuh gaun itu, tetapi akhirnya ia tetap mengganti pakaian lusuhnya. Saat melihat pantulan dirinya di cermin, Lyra hampir tak mengenali sosoknya sendiri. Ia tampak lebih anggun, lebih berkelas seperti gadis dari dunia yang berbeda. Saat merapikan isi tas setelah mengganti gaun, Lyra tiba-tiba menemukan sebuah kotak kecil berwarna putih. "Apa ini?""Soal itu ... hanya kebetulan." Neilson akhirnya angkat bicara dengan nada datar, seolah ingin memutus dugaan yang terlanjur tumbuh di benak Lyra. “Telur itu memiliki stok paling banyak di kulkas, jadi aku membuatnya.”"Oh ...." Jawaban itu membuat Lyra tersenyum tipis, senyum yang lebih condong pada rasa malu daripada lega. Ia menunduk sebentar, menyadari bahwa dirinya mungkin terlalu percaya diri hanya karena beberapa perhatian kecil dari Neilson. Ada rasa hangat yang pelan-pelan surut, digantikan perasaan kikuk yang tak ingin ia akui.Tanpa berkata apa-apa lagi, Lyra meraih sendok dan mengambil sepotong telur gulung dari piringnya. Ia memasukkannya ke mulut dan mengunyah perlahan, rasanya tetap enak, tetapi hatinya sedikit kecewa. Namun, ia memilih diam, menyembunyikan perasaan itu di balik ekspresinya yang tenang, seolah tak terganggu.Neilson melirik sekilas ke arah Lyra, memperhatikan perubahan halus di wajah gadis itu yang tak sepenuhnya mampu ia sembunyikan. Ada bayangan k
"M–mahar?" Lyra tertegun saat kata mahar keluar begitu saja dari bibir Neilson. Ia tak pernah membayangkan pria itu akan menggunakan kata yang bermakna itu, apalagi dalam konteks pernikahan kontrak mereka.Kalimat sederhana itu memunculkan banyak pertanyaan di benaknya, membuatnya bertanya-tanya apakah Neilson mulai menganggap hubungan mereka lebih dari sekadar kesepakatan tertulis? Tanpa disadari, wajah Lyra memanas, dan rona merah perlahan menjalar di pipinya, menandai keguncangan perasaan yang berusaha ia sembunyikan.Lyra akhirnya angkat bicara dengan suara yang terdengar gugup. “Aku … aku akan mempertimbangkannya dulu.” Tanpa menunggu tanggapan, ia segera bangkit, gerakannya terburu-buru seolah takut perasaannya akan terbaca.Ia melangkah menuju kamar dan menutup pintu di belakangnya. Di balik daun pintu itu, Lyra menyandarkan punggungnya sambil menghela napas panjang. Kedua tangannya terangkat memegang pipinya yang terasa panas.“Ada apa denganku?” gumamnya lirih.Pandangan L
Lyra terdiam cukup lama setelah mendengar penjelasan Grey. Memang benar, secara teknis Grey adalah adik iparnya, tetapi pernikahannya dengan Neilson hanyalah kontrak, sesuatu yang seharusnya tidak dianggap sebagai ikatan keluarga sesungguhnya.Pikiran itu membuat hatinya kembali bimbang, seolah ia berdiri di antara peluang besar dan batasan yang tak berani ia lewati. Neilson yang sejak tadi hanya memilih diam mengamati Lyra dengan saksama. Ia bisa melihat jelas keraguan di wajah gadis itu, juga kegelisahan yang belum sepenuhnya terurai.Akhirnya, Neilson memutuskan untuk angkat bicara dengan nada datar. “Kamu tidak perlu menjawab sekarang,” katanya. “Pertimbangkan saja dulu.”Grey ikut menimpali ucapan Neilson dengan senyum santai. Ia tak ingin Lyra merasa tertekan oleh tawaran sebesar itu. Baginya, keputusan besar memang tak seharusnya diambil dalam keadaan terburu-buru.“Tenang saja,” ujar Grey. “Pikirkan baik-baik. Kakak ipar tidak perlu memutuskan langsung hari ini.”Mendengar itu
Lyra terdiam, jelas terkejut oleh ucapan Neilson barusan. Seingatnya, ia tak pernah menandatangani kontrak apa pun dengan perusahaan mana pun, bahkan soal magang pun belum pernah ia pikirkan. Dadanya terasa sesak oleh kebingungan yang datang secara tiba-tiba.Theo tersenyum tipis melihat kemunculan Neilson. Ia menarik kembali tangannya yang sempat terulur, lalu memasukkannya ke saku celana dengan santai sambil menatap pria itu.“Lama tidak bertemu, Neil,” ujarnya ringan. “Kupikir kabar tentangmu mengajar di kampus hanya rumor belaka. Ternyata benar?”Neilson tidak menjawab. Tatapannya dingin dan datar, seolah Theo hanyalah orang asing yang kebetulan berdiri di hadapannya. Sikap itu justru membuat Theo tertawa kecil, suaranya rendah dan mengandung ejekan.“Jadi sekarang kamu sudah tidak bisa menciptakan desain baru lagi?” sindirnya. “Sampai harus menjadi dosen dan sibuk mencari penerus?”Tanpa menunggu respons Neilson, Theo mengalihkan pandangannya ke arah Lyra. Senyumnya melunak, berb
Erina tetap mempertahankan senyuman di wajahnya, meski sorot matanya mulai terlihat gelisah. Ia berusaha terdengar tenang seolah tudingan itu sama sekali tak menggoyahkannya.“Kenapa kamu berkata begitu?” tanyanya lembut, seakan tersinggung. “Kenapa kamu menuduhku?”Tatapan Neilson mengeras. Ia menatap Erina tanpa sedikit pun keraguan, suaranya terdengar tajam dan dingin. “Karena kunci ruang busana ada padamu,” ucapnya singkat, tanpa basa-basi.Senyum Erina meredup, berganti raut wajah sendu yang dibuat-buat. Ia menggeleng pelan, matanya terlihat mulai berkaca-kaca, sedangkan suaranya dibuat serendah mungkin. “Aku tidak tahu apa-apa,” katanya. “Pagi tadi aku bahkan tidak masuk ke ruangan itu. Aku hanya menitipkan kuncinya pada seorang mahasiswa.”Neilson tertawa kecil, namun nadanya terdengar meremehkan. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memutar layar ke arah Erina. “Kamu lupa satu hal,” ujarnya singkat.Di layar ponsel itu terpampang rekaman CCTV. Terlihat jelas Erina berdiri di depan
MC ikut menoleh ke arah tirai dengan raut bingung. Ia kembali mengangkat mikrofon dan mengulang pengumuman."Mahasiswa terakhir, nomor urut lima puluh, Lyra Florency.”Deretan tamu mulai saling berpandangan, beberapa di antaranya berbisik pelan karena tak ada satu pun sosok yang muncul. Suasana yang semula penuh antisipasi perlahan berubah menjadi canggung dan tegang.Di depan panggung, Neilson melirik jam tangannya sekilas. “Sepertinya kamu gagal,” katanya singkat.Tak adanya kehadiran Lyra membuat Neilson menarik kesimpulan sementara. Dalam benaknya, gadis itu mungkin tak sempat bertindak atau tak berhasil menciptakan karya baru tepat waktu.Saat MC hendak membuka suara kembali, tirai panggung tiba-tiba tersibak. Sosok Lyra muncul dari baliknya, berdiri tegak dengan langkah mantap yang langsung menyedot perhatian seluruh ruangan.Lyra melangkah masuk dengan anggun. Gaun yang semula tampak polos kini berubah menjadi karya baru, garis-garis biru tua menjalar teratur, membentuk motif y







