Share

Bab 91

Penulis: Penadiary
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-20 23:13:47
Lyra tersentak dan spontan merapatkan kedua lengannya ke tubuhnya sendiri. Jantungnya berdegup kencang saat menyadari kemejanya tak lagi melekat, hanya menyisakan tank top tipis masih terpakai di tubuhnya. Napasnya tercekat, rasa dingin menjalar di punggungnya seiring kesadarannya yang merayap pelan.

Ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam, namun pikirannya kosong, seolah ada bagian yang menghilang begitu saja. Kepalanya berdenyut sakit, sementara potongan-potongan bayangan samar muncul
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 159

    Lyra terpaku ketika layar besar di belakangnya tiba-tiba menampilkan sebuah video. Gambar pertama memperlihatkan dirinya sedang berjalan di area kampus.Angin meniup rambutnya pelan, kamera mengikuti langkahnya dari samping, lalu beralih ke beberapa pose di taman, koridor fakultas, dan tangga gedung utama.Itu sesi pemotretan bersama Aldi.Dadanya terasa sesak sesaat. Apakah Aldi diam-diam merekam video ini untuknya? Kapan ia menyerahkannya pada panitia?Namun, Lyra segera menarik napas panjang. Bukan sekarang waktunya memikirkan itu. Waktunya hanya tiga menit. Tiga menit untuk menentukan masa depannya.Ia memaksa dirinya kembali fokus. Dengan langkah terkontrol, Lyra berjalan menuju bagian depan panggung. Sorot lampu mengikuti setiap gerakannya.Video di belakangnya kini berubah, menampilkan close-up detail gaunnya disertai teks dan suara Lyra yang menjelaskan tentang konsep desain.“Desain Pertama: Simple Everyday Look.”Suaranya terdengar lembut, menjelaskan bahwa gaun itu dirancan

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 158

    Sesi kedua akhirnya dimulai. Lampu panggung kembali dipusatkan, musik latar mengalun lebih hidup, dan sepuluh peserta berikutnya bersiap di belakang tirai. Satu per satu berjalan memasuki panggung dengan percaya diri.Wina menoleh ke arah Lyra. Wajahnya masih tenang, tetapi jemarinya terasa dingin saat ia menggenggam tangan sahabatnya.Lyra membalas genggaman itu erat. “Semangat, Wina,” bisiknya lembut. “Jangan gugup, lakukan saja seperti biasa. Kamu terlihat sudah sangat siap.”Wina menarik napas dalam, lalu mengangguk. “Oke, saat aku di panggung, jangan lupa kasih aku semangat, Ly.”Wina berdiri, merapikan gaunnya sebentar, lalu berjalan menuju belakang panggung untuk bersiap. Lyra memandang punggung sahabatnya itu dengan perasaan campur aduk, antara bangga sekaligus ikut tegang.Beberapa peserta lebih dulu tampil. Musik berubah setiap kali model berganti, sorotan lampu mengikuti gerakan mereka di atas panggung. Sorakan dan tepuk tangan sesekali terdengar dari penonton yang terpukau

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 157

    Lyra tersenyum lembut, seolah tidak terjadi apa-apa. “Tidak apa-apa,” katanya tenang. “Mungkin kamu memang tidak sengaja.”Ia lalu menoleh pada Wina dan memberi isyarat halus agar sahabatnya menahan diri. “Sudahlah. Kita tidak perlu memperpanjang masalah ini.”Tatapannya sekilas menyapu sekeliling. Beberapa peserta berhenti berbicara. Bahkan beberapa juri terlihat memperhatikan ke arah mereka.Lyra menganggap, dalam kompetisi sebesar ini, tidak mungkin hanya desain yang dinilai. Sikap, etika, dan profesionalisme bisa saja menjadi pertimbangan tambahan.Ia tidak ingin Wina ikut terseret dalam konflik yang bisa merugikan mereka berdua, apalagi itu adalah konflik keluarganya. Ia menarik napas pelan, menenangkan diri.Salsa tersenyum semakin lebar. “Dengar, kan?” ucapnya ringan, menoleh pada Wina dengan nada penuh kemenangan. “Bahkan dia sendiri bilang aku tidak sengaja.”Senyum Salsa bukan seperti permintaan maaf, itu terlihat seperti ejekan.Di sisi lain aula, Grey dan Neilson berdiri

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 156

    Lyra terkejut ketika tirai benar-benar terbuka dan sosok yang muncul adalah Dave Alexander. Namun, keterkejutan itu segera berubah menjadi kelegaan.Ternyata yang menjadi sponsor utama adalah ayah mertuanya, bukan Neilson. Artinya, pikiran buruk yang sempat menghantuinya bahwa Neilson mungkin ikut campur agar ia lolos seleksi tidaklah benar. Neilson bukan juri, ia tidak duduk di meja penilaian.Lyra perlahan mengangkat wajahnya, lalu tanpa sadar mencari-cari sosok yang ingin ia pastikan. Ia menoleh ke arah kursi tamu undangan. Matanya bergerak menyapu barisan satu per satu hingga akhirnya berhenti di barisan ketiga.Di sana, Neilson duduk dengan tenang di samping Grey. Posturnya tegak, wajahnya datar seperti biasa, namun tatapannya lurus ke arah panggung.Lyra menghela napas panjang. Beban di dadanya terasa sedikit terangkat. Tidak ada campur tangan apa pun dari pria itu. Salsa hanya ingin memprovokasinya.Ia menunduk sejenak, merapikan pikirannya sendiri. Sekarang bukan waktunya memi

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 155

    "Lyra!" Tiba-tiba, suara seseorang memanggil namanya dari belakang membuat Lyra spontan menoleh. Wina berlari cepat ke arahnya, wajahnya terlihat penuh kegembiraan.Tanpa menunggu, Wina langsung memeluk Lyra. Lyra membalas pelukan itu dengan hangat, merasa lega bisa bertemu sahabatnya di acara lomba sesuai janji mereka.“Aku sudah yakin kamu pasti akan lolos seleksi, Ly,” kata Wina sambil tersenyum lebar, matanya bersinar penuh semangat.Lyra hanya membalasnya dengan tersenyum tipis, namun pikirannya masih terganggu oleh ucapan Salsa. Keraguan tiba-tiba muncul, membuatnya menunduk sejenak.Wina melepas pelukannya perlahan dan menatap gaun Lyra dari atas ke bawah. Lyra menahan napas, takut sahabatnya juga akan menganggap desainnya terlalu sederhana.Namun pandangan Wina berubah. Ia menatap Lyra dengan tatapan penuh arti, penuh semangat.“Desain unik seperti apa lagi yang kamu buat, Ly?” tanya Wina dengan nada antusias.Lyra terkejut. Desainnya unik? Wina benar-benar bisa melihat sesua

  • Dosen Dingin Itu, Suami Rahasiaku   Bab 154

    Salsa mengepalkan tangannya kuat-kuat, urat di punggung tangannya tampak menegang. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menatap Lyra. Ia benar-benar tidak menyangka perubahan Lyra sebesar ini.Ia sempat mengira keberanian Lyra kemarin hanyalah kebetulan, sekadar emosi sesaat. Namun kini jelas, gadis di hadapannya benar-benar berubah. Lyra tak lagi menunduk, tak lagi membiarkan dirinya diinjak.“Kapan aku bilang gaunku sampah?” Suara Salsa meninggi, tajam dan penuh sindiran. “Yang sampah itu gaunmu! Apa kamu benar-benar pikir desain sesederhana itu bisa menarik perhatian juri?”Ucapannya sengaja dibuat cukup keras hingga beberapa peserta yang berdiri tak jauh dari sana ikut menoleh. Satu per satu tatapan beralih ke arah Lyra, lebih tepatnya ke arah gaun yang ia kenakan.Memang benar, gaun Lyra tampak jauh lebih sederhana dibandingkan yang lain. Tidak ada detail yang rumit, kain berlapis, atau hiasan yang mencolok. Potongan gaunnya bersih, tanpa ornamen berlebihan.Bisik-bisik mulai

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status