LOGINBegitu sampai di kediaman Bhargava, Dante langsung menghampiri mobil yang sudah menunggu di depan rumah. Mataya sudah duduk di kursi penumpang, sementara sopir Dante berada di balik kemudi.Dante membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil. Setelah duduk di samping sang istri, dia langsung menatap wajah Mataya dengan khawatir. Dia sengaja memeriksa keadaan Mataya di dalam mobil karena di dalam rumah cukup banyak orang."Masih pusing, Sayang?"Mataya menggeleng. "Udah nggak, Bang. Tadi cuma sebentar pusingnya."Dante masih memperhatikan wajahnya beberapa detik, memastikan sendiri bahwa Mataya benar-benar baik-baik saja.Setelah merasa lega, dia mendekat dan mengecup lembut bibir sang istri. Mataya tersenyum malu."Kalau gitu kita jemput Bapak dulu.”“Bapak di rumah apa di toko buku?”"Di rumah,” jawab Dante. “Ke toko bukunya udah tadi pagi. Soalnya beliau takut kalau cari sore waktunya gak cukup. Nanti malam beliau kan pulang ke Klaten."Mataya mengangguk memahami. "Terus aku ikut
Sepanjang rapat bersama jajaran direksi rumah sakit, Dante terlihat beberapa kali melirik ponselnya. Hal yang nyaris tidak pernah dilakukannya selama rapat.Meski begitu, Dante tetap fokus mengikuti pembahasan. Dia masih memberikan pendapat dan mengambil keputusan seperti biasa. Hanya saja, sesekali tangannya meraih ponsel untuk memeriksa layar.Sagara yang hari ini ikut dalam rapat mulai merasa heran melihat tingkah aneh sang kakak sepupu.Begitu rapat selesai, Dante tidak langsung beranjak. Dia kembali mengambil ponselnya dan mengecek pesan yang masuk.Tidak ada balasan dari Mataya.Dante menghela nafas pelan, lalu menatap layar beberapa detik lebih lama.Sagara yang penasaran akhirnya melongokkan kepala, mencoba melihat isi ponsel Dante."Ada apa, Kak?"Dante langsung mengunci layar ponselnya. "Nggak ada apa-apa."Sagara mengernyit. "Terus kenapa dari tadi ponsel di cek terus? Setahuku Kak Dante paling anti buka ponsel kalau lagi rapat."Dante hanya memasukkan ponselnya ke saku, te
Setelah si kembar selesai cuci muka, gosok gigi, dan cuci kaki bersama Mataya, kini giliran Dante yang membantu mengganti pakaian Rendra dan Dipta.Namun, bukannya tenang, kedua bocah itu malah kembali ribut."Aku mau yang itu!""Enggak! Itu unya aku!"Dante yang sedang mencari minyak telon dalam tas si kembar langsung menoleh."Loh, kok rebutan lagi?"Ternyata keduanya sedang memperebutkan satu set piyama yang sama, padahal Jingga sudah membawakan piyama dengan motif yang persis sama untuk kedua putranya."Kan Mommy udah bawain dua. Sama persis," ujar Dante sambil menunjukkan piyama satunya."Api aku mau yang itu!""Aku uga!"Dante menghela nafas panjang.Mataya yang sedang memakai skincare malam hanya bisa menahan tawa melihat tingkah kedua bocah itu."Rendra, Dipta. Kalian itu kembar, piyamanya juga sama. Kenapa masih diperebutkan?"Keduanya saling pandang, lalu kembali menunjuk piyama yang sama."Kalena yang itu yebih agus!"Dante akhirnya jongkok di hadapan kedua keponakannya. Di
Setelah tiga minggu menghabiskan waktu di Swiss dan berkeliling Eropa, akhirnya Dante dan Mataya kembali ke Solo.Keduanya langsung menuju kediaman yang telah disiapkan Dante sebagai rumah mereka setelah menikah. Rumah itu sudah dipersiapkan setelah mereka bertunangan, membuat Mataya semakin merasa dicintai ugal–ugalan oleh sang suami.Begitu sampai, keduanya mendapati rumah dalam keadaan ramai.Bu Nindi dan Bu Aisha rupanya sudah menyiapkan syukuran kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan pasangan pengantin baru itu. Beberapa keluarga dekat dan sahabat telah berkumpul, lengkap dengan berbagai hidangan yang memenuhi meja makan.Mataya langsung tersenyum melihat sambutan itu, sementara Dante hanya menggeleng kecil.Tiga minggu pergi honeymoon, pulang-pulang malah langsung disambut acara keluarga.Bu Nindi duduk di samping Mataya sambil memperhatikan menantunya yang sedang menikmati hidangan. "Adel si genit masih ganggu Dante nggak, Taya?""Nggak, Mi,” jawab Mataya. “Setelah aku tegask
Setelah puas menikmati suasana Grindelwald, Mataya dan Dante memilih berhenti di sebuah restoran untuk beristirahat sekaligus makan siang.Sambil menunggu pesanan datang, Dante meletakkan kedua tangannya di atas meja. Kedua telapak tangannya kemudian menopang pipinya, sementara tatapannya tak beranjak dari wajah sang istri.Pria itu hanya senyum-senyum sendiri, seolah ada sesuatu yang begitu menarik dari wajah Mataya.Mataya yang sejak tadi menyadari tatapan tersebut akhirnya melirik suaminya dengan tatapan heran."Kenapa sih Abang lihat-lihat terus?" Mataya yang saking malunya sampai memeriksa wajahnya beberapa kali lewat kamera ponsel. "Perasaan nggak ada salju yang nempel."Dante masih menopang kedua pipinya dengan telapak tangan. Senyum di wajahnya justru semakin lebar melihat Mataya yang tampak kebingungan."Abang suka banget sikap kamu tadi, Sayang.""Sikap aku yang mana?""Yang tadi… saat kamu bicara sama Adel. Abang merasa benar-benar dicintai sama kamu."Mataya semakin bingun
Mataya bangun dalam keadaan mata sayu, tubuh terasa panas, dan wajahnya tampak pucat. Melihat kondisi sang istri, rasa bersalah Dante semakin besar. Seharusnya kemarin dia tidak perlu berlebihan saat bertemu dengan Adel.Hari ini tidak ada rencana jalan-jalan. Setelah sarapan dan minum obat, Mataya kembali meringkuk di atas ranjang. Dia masih irit bicara dengan Dante, bahkan lebih sering diam dan memejamkan mata.Setelah selesai mandi, Dante langsung ikut berbaring di belakang sang istri. Tangannya melingkar lembut di pinggang Mataya, menarik tubuh wanita itu agar lebih dekat ke dadanya.Sesekali jemarinya naik untuk memijat pelipis Mataya yang tadi sempat mengeluh sakit kepala.Dante masih memijat pelipis Mataya dengan lembut. Setelah beberapa saat, dia akhirnya membuka suara."Sayang, mau Abang ajak ke rumah sakit?"Mataya perlahan menoleh. Wajahnya masih terlihat pucat, tetapi tubuhnya sudah tak sepanas tadi. "Nggak usah, Bang. Istirahat sebentar aja, nanti juga sehat lagi.""Abang







