Home / Romansa / Dosen Penyewa Rahimku / Ternyata, Dosenku

Share

Ternyata, Dosenku

Author: Kaya Raya
last update Last Updated: 2025-12-19 19:14:27

"Saya mau masuk, saya harus bertemu orang di atas!" Philia meronta, mencoba menghalau pagar betis yang dibuat dua sekuriti di depan Amore Bar.

"Maaf, anda tidak diperkenankan masuk, apapun alasannya." Ucap si sekuriti berambut plontos itu datar, membuat Philia menggeleng kencang.

"Tapi saya perlu bertemu Julian, atau Maya, atau siapapun yang di dalam! Mereka kenal saya, mereka baru menerima saya kerja tadi!" Teriak Philia, masih kukuh pendirian.

Namun, sekuriti ini terus menerus menghalangi Philia, membuat gadis itu tidak bisa masuk untuk mengambil haknya.

"Keperluan apapun itu, meskipun sangat penting tapi boss sudah perintahkan kalau anda tidak boleh masuk. Jadi, silahkan pergi." Usir sekuriti yang lain.

Philia menggeleng keras. Tidak, mana mungkin ia pergi sementara uang untuk operasi Ibunya saja belum di tangan? Ia tahu pekerjaannya tidak selesai, namun Timur sendiri berkata bahwa ia tetap membayar kan?

Philia tidak bisa diam saja, ia harus memperjuangkan hak yang sangat ia butuhkan itu. Meskipun kesuciannya masih terjaga, namun tidak dengan bibir dan lehernya. Semua itu sudah dijamah Timur! Jadi ia berhak menerima uangnya, meskipun hanya setengah dari jumlah yang dibayar pemuda itu.

"Pak, tolong. Saya hanya ingin menuntut hak saya. Saya gak akan bikin ribut, tolong." Netra Philia berkaca-kaca, mencerminkan sisi rapuh dirinya yang sudah sangat lelah dengan semua ini.

"Pak.. Bapak juga punya anak atau istri kan di rumah? Gimana rasanya kalau gaji kalian ditahan, sementara kalian butuh buat makan?"

"Saya cuma butuh waktu sebentar, sebentar aja izinkan saya ketemu Julian." Philia terus melirih, meminta keringanan meskipun sekuriti itu masih diam saja seperti patung.

"Justru karena kami punya anak istri, makanya kami tidak mau kehilangan pekerjaan dengan mengizinkan anda masuk."

"Silahkan keluar." Usirnya, kali ini sembari mendorong bahu Philia sampai gadis itu terhuyung hampir jatuh.

"Tolong minggir, banyak tamu mau masuk." Imbuh pria bertubuh tinggi besar itu.

Philia tidak punya pilihan, akhirnya ia mundur sembari menatap bar itu dengan tatapan putus asa. Bagaimana mungkin Julian ingkar padanya? Padahal Philia sudah sangat percaya untuk menjual kesuciannya, bahkan ia sudah ditawar dengan harga tinggi.

Namun mana ada manusia baik dan jujur di tempat terlarang begini? Semuanya sama, busuk dan munafik!

Philia mendengus, lalu mengepalkan tangan dengan penuh kebencian. Ia bersumpah, jika azab Tuhan turun maka tempat ini harus yang paling hancur berkeping-keping!

Dengan terpaksa gadis itu berbalik, melupakan uang yang harusnya sudah ia genggam tersebut. Sepertinya Tuhan masih baik padanya, tidak mengizinkan Philia mengoperasi sang Ibu dengan uang haram.

Akhirnya beginilah malam ini berakhir, tanpa hasil, tanpa uang, yang ada justru meninggalkan kesan getir akibat bertemu lagi dengan Timur, sosok yang membuat Philia berubah 180 derajat.

Hampir saja gadis itu berlalu meninggalkan tempat dengan tangan kosong, namun sebuah suara berhasil menghentikan langkahnya.

"Hey!" Panggilan itu membuat Philia sontak berbalik, ternyata di hadapannya ada Julian. Pria kurus dan kusam itu mengangkat sebuah amplop berwarna cokelat.

"Nih, bayaran kamu. Saya potong, soalnya si boss juga cuma bayar setengah!" Ujar Julian kesal. Dilemparnya amplop itu ke jalanan, dan terpaksa harus dipungut oleh Philia.

"Kalo masih takut buat ngesex, jangan pernah nawarin jual diri!" Maki Julian kesal.

"Gara-gara kamu kabur dan gak mau dipake sama si boss, duit yang dibayar cuma setengah. Untung bossnya baik, masih mau bayar meskipun kamu gak diapa-apain!" Julian masih mengoceh, membuat Philia yang tengah berjongkok sembari memegang amplop itu termenung.

Kabur? Siapa yang kabur? Bukankah Timur sendiri yang memutuskan untuk mengakhiri malam ini tanpa hasil?

"Antara baik atau bego, gak tau juga lah. Yang penting tetep dapet untung." Gumam Julian.

"Pergi, gak usah balik lagi ke sini."

Philia meremas amplop di tangannya dengan erat. Tidak terlalu tebal, namun Philia berharap uangnya cukup untuk biaya perawatan dan operasi Ibunya yang sudah lama tertunda.

Meskipun, ia harus mengikis luka di antara kenangan masa lalu demi uang ini.

**

Hiruk pikuk aktivitas pagi di kampus Trinusa padat seperti biasa. Beberapa mahasiswa berlarian mengejar kelas yang sudah ketinggalan, sementara di sisi lain beberapa dosen juga mulai sibuk menuju kelas sembari membawa bahan ajar mereka.

Di salah satu lorong kampus MIPA, seorang mahasiswi yang cuti berulang kali berjalan dengan lesu. Kakinya diseret seperti tidak punya tenaga, belum lagi wajahnya yang pucat dan tertutup rambut itu begitu memperihatinkan.

Namanya Philia Diana Miska, mahasiswi berusia 24 tahun jurusan Kimia Industri. Harusnya Philia sudah lulus tiga tahun lalu. Hanya saja, karena kemiskinan dan masalah internal keluarga terpaksa membuatnya cuti berulang kali.

Kini ia terancam cuti lagi, karena mungkin ia kesulitan membayar uang semesteran.

Harusnya, jika Julian tidak mencurangi dirinya ia masih bisa menyisihkan sedikit uang untuk bayar kuliah. Namun sayang, mucikari teri itu menilap setengah dari dua puluh juta yang Timur berikan.

Philia hanya diberi sepuluh juta, untuk melunasi tagihan rumah sakit saja tidak bisa.

Alhasil, beginilah kondisi Philia sekarang. Bingung harus kemana lagi mencari uang cepat dan besar, sementara dengan cara haram saja ia tetap gagal.

TOKTOKTOK.

Philia mengetuk pintu kelas dimana mata kuliah umumnya akan dimulai. Untungnya, dosen tersebut belum datang. Jadi, Philia bisa masuk kelas tanpa beban.

Seperti biasa, gadis itu akan memilih bangku paling belakang, paling pojok, dan paling jauh dari perhatian dosen.

Tujuannya adalah untuk menghindari kontak dengan siapapun. Apalagi Philia ini mahasiswa yang cuti berulang kali, semua teman-temannya selalu berganti sehingga Philia bahkan tidak punya satu temanpun.

Gadis itu menunduk, membuka buku catatan dan materi untuk diulas sebentar sebelum mata kuliah mulai.

Sementara itu, di sisi lain..

Langkah seorang pria terdengar tegas berderap selaras.

Ia berpakaian jas hitam rapi, dasi berwarna senada, dan tas laptop di tangan.

Timur Alendra Tirta, dosen muda berusia 26 tahun yang baru saja resmi pindah ke kampus Trinusa, berjalan lurus menuju gedung F, gedung fakultas MIPA.

Hari pertamanya bekerja, dan ia langsung mendapat jadwal mengisi kuliah umum. Mata kuliah kali ini lintas disiplin, yakni Pengantar Bisnis dan Manajemen Industri Kimia. Bagi Timur, ini biasa saja. Baginya, kelas hanyalah kelas formalitas.

Gedung yang ia lalui ini begitu luas, seolah menyampaikan kata selamat datang bagi dosen yang baru saja resign sebulan lalu namun sudah bekerja lagi sebulan kemudian.

Kesepian tidak bisa ia biarkan menguasai hidupnya, lebih baik Timur bekerja saja daripada larut dalam duka dan luka. Timur terus berjalan, menuju kelas di ujung yaitu kelas jurusan Kimia Industri yang akan ia ajar.

Sebelum masuk kelas, Timur merapikan dulu jas dan tatanan rambutnya agar terlihat rapi. Setelah yakin, barulah ia masuk ke dalam kelas tersebut.

Ternyata kelas sudah penuh, semua kursi sudah terisi mahasiswa-mahasiswi berotak cerdas tersebut.

Timur langsung masuk, disambut riuh bisik dan tanya tentang dosen baru tersebut.

Siapa dia? Kenapa masih sangat muda? Apakah masih sendiri? Ataukah sudah berpawang? Begitu isi kepala mahasiswa-mahasiswi tersebut.

Timur meletakkan tas laptop di atas meja, lalu berdiri tegak di depan kelas. Mata tajamnya menyisir seluruh ruangan, bersiap untuk memperkenalkan diri.

"Selamat pagi, perkenalkan saya Timur Alendra Tirta. Saya dosen fakultas Ekonomi yang akan mengisi mata kuliah Pengantar Bisnis dan Management Industri Kimia." Ucapnya, dingin dan berwibawa.

Beberapa gadis memekik tertahan, mengagumi ketampanan pemuda satu itu.

Namun di sudut ruangan, seorang gadis menegang. Rahangnya mengatup kencang, sementara pena yang ia genggam hampir remuk karena ia cengkram.

Timur, tidak cukupkah pertemuan ajaib semalam? Kenapa ia juga.. mengajar di kampusnya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Kaya Raya
makasih kak... ...
goodnovel comment avatar
Mujahidah Mahmud
hadir disini kak ray
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dosen Penyewa Rahimku   Apa Kamu Suka?

    "TIMUR!!!" Philia membentak, seraya melayangkan tatapan tajam penuh protes pada Timur. Namun, pemuda itu tidak peduli. Ia malah sengaja merangkul Philia, membawanya ke dekapan dengan penuh kebanggaan. Lugi, pemuda itu mematung tak percaya. Matanya tak berkedip, bahkan sampai memerah. "Phi... omongan Timur, gak bener kan?" "Gak mungkin kan, Phi?" Alih-alih bertanya pada Timur, Lugi memilih meminta penjelasan dari Philia. Ia yakin, sahabat yang ia suka dari lama itu tidak bisa berbohong. Ia pasti tak akan masuk perangkap dusta Timur. Hamil? Oleh Timur? Konyol! "Phi? Coba jelasin ke dia.. gimana kondisi kita sekarang, apa hubungan kita, sejauh mana keseharian kita, dan apa yang aku kasih ke kamu, apa yang kamu kasih ke aku." Timur menatap Philia dalam, mencoba membawa gadis itu ke dalam permainannya. Baginya, now or never. Sekarang atau tidak, ia tidak akan menyesalinya. "Diem Timur, gue ngomong sama Philia. Lo, gak usah ikut campur," desis Lugi, mencoba menahan em

  • Dosen Penyewa Rahimku   Dia Milikku!

    Suasana pagi hari itu cerah, matahari menyinarkan cahayanya malu-malu lewat celah tirai di kamar apartemen Timur yang sudah dibuka lebar-lebar. "Hari ini ada kuliah?" tanya Timur, pemuda itu tengah mengancing kemejanya di depan cermin, sementara matanya menatap Philia yang duduk di tepian tempat tidur. Gadis itu mengangguk. "Iya, aku ada kuliah tapi siang," jawabnya. Pemuda itu mengangguk, lantas beralih mengambil dasi dari laci lemarinya. "Jam berapa kuliahnya?" "Jam sebelas." Philia melirik jam di dinding, baru jam tujuh pagi itu berarti masih banyak sekali waktu untuknya pergi ke kampus. Ia bisa rehat sejenak, karena tubuhnya sangat lelah setelah pergumulan semalam. "Nanti aku jemput, aku ke kampus bentar ada kelas." Ucapan Timur itu sontak membuat Philia bingung. Untuk apa Timur menjemputnya? Ataukah ia akan membawanya ke suatu tempat, misal rumah sakit? "Emangnya kita mau kemana? Kok kamu jemput aku?" bingung gadis itu. Kakinya yang menggantung di kasur diayun

  • Dosen Penyewa Rahimku   Aku Cemburu, Philia

    "Phi, makan dulu. Masih suka bebek kan?" Timur menata makanan yang ia beli di atas meja, sementara Philia baru saja keluar dari kamar mandi sehabis mencuci tangan dan kaki. "Aku gak makan boleh gak? Perut aku kenyang," dustanya. Timur menggantung tangannya di udara, bungkusan terahir yang ia keluarkan bahkan belum sempat diturunkan. "Lho, kenapa? Ga suka sama menunya? Mau yang lain? Atau mau aku masakin aja? Tapi tunggu bentar ya, aku masih ada kerjaan." Timur menawarkan beberapa opsi, namun Philia tetap menggeleng. Perutnya benar-benar tidak mau menerima makanan apapun, bahkan minum saja ia enggan. "Aku gak bias makan banyak, Timur. Aku tau kok harus makan bergizi dan banyak biar berat badan aku naik. Tapi aku beneran kenyang, perut aku udah penuh." Gadis itu langsung menuju kamar untuk istirahat, namun Timur menghentikan langkahnya. "Mau kemana?" tanyanya. Philia menunjuk pintu kamar. "Tidur," jawabnya singkat. Setelah bertemu Lugi, entah mengapa hati Philia menjadi g

  • Dosen Penyewa Rahimku   Harapan Timur vs Kekecewaan Philia

    "Ini obat pereda nyeri, yang ini tablet tambah darah, ini pereda demam. Dosisnya udah gue tulis." "Boleh digabung sama vitamin dari dokter, aman." Bryan menyerahkan beberapa lembar obat yang baru ia beli di apotik untuk Philia. "Oh oke." Timur menerimanya, lalu menyimpan di kotak obat. Meskipun Philia tidak menunjukkan gejala sakit, tapi setidaknya harus jaga-jaga takut gadis itu malah sakit dan drop karena ulahnya. "Iya, suruh makan yang banyak. Kurus banget dia, kasih lemak tiap makan. Bisa dari alpukat, butter, atau yang lain. Kasih protein hewani juga, dada ayam sama daging sapi." Bryan menuliskan beberapa catatan untuk Timur. "Oke.. menurut lo presentasi berhasilnya gimana? Kalau bisa hamil alami, gue gak usah deh buang-buang duit buat bayi tabung." Pemuda itu duduk di atas kursi makan, sementara Bryan masih sibuk mencatat. "Bisa aja, kuasa Tuhan gak ada yang tau Tim." "Semoga aja Philia hamil," sahut Bryan. Timur mengangguk, mengamini. Ia lantas memperhatikan Ph

  • Dosen Penyewa Rahimku   Mulai Jatuh Cinta

    Ting.. tong!!! Suara bel terdengar nyaring di telinga. Timur yang baru saja selesai mandi dan tengah mengeringkan rambutnya itu membuka pintu. Ternyata yang datang adalah empat sahabatnya. Bryan, Martin, Tiara dan Yura yang datang berkunjung ke apartemen Timur. Bukan tanpa alasan mereka berkumpul, tapi karena semuanya ingin bertemu Philia. Apalagi Tiara dan Yura, dua perempuan yang dulu sangat dekat dengan Philia. "Mana si Philia?" tanya Yura, mengabaikan Timur yang membukakan pintu. "Sapa gue dulu bisa kali," sungutnya. Teman-temannya itu memang sudah mengetahui kehadiran Philia di apartemen ini, mereka juga sudah mengetahui kerja sama gila di antara keduanya. Sebenarnya mereka ingin sekali menasehati Timur agar tidak bertindak gila begitu, namun mereka tidak mau ikut campur terlalu jauh. Biarlah itu menjadi urusan mereka saja, untuk saat ini bisa bertemu dengan Philia lagi adalah hal yang jauh lebih penting. "Tujuan gue ke sini mau ketemu si Phili, kalau ketemu

  • Dosen Penyewa Rahimku   (++)Melepas Kesucian

    Timur menggeleng pelan, lalu membuang pandangan menghindari sorot mata Philia yang tidak bisa ia lawan. Jujur saja, dadanya juga berdegup kencang saat manik cantik gadis itu menatapnya. Seperti ada pedang tajam yang menusuk-nusuk kewarasannya. "Phi, kita ngomong besok lagi, kita sama-sama capek." Timur berusaha bangun, namun Philia menahannya. Sorot mata gadis itu masih sama tajamnya, seolah tekadnya sudah bulat. "PHILIA.. Ayo tidur, kamu gak bisa mikir jernih, Phi." Timur berusaha melepaskan tangan Philia. Namun hal gila justru Philia lakukan, gadis itu meninggikan posisi tubuhnya dan melayangkan sebuah kecupan singkat dan tipis di bibir Timur. Netra mereka beradu, saling tatap dalam dan lama. "Phi, jangan mancing-mancing." Timur jelas masih mencoba membentengi diri, namun tidak bisa dipungkiri bahwa gadis ini lah yang belakangan kerap hadir di lamunannya. "Aku pernah nikah, Phi. Kamu tahu siapa yang ada di depan kamu," tegas Timur. Namun, Philia juga tidak takut dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status