แชร์

Bak Remaja Pubertas

ผู้เขียน: Atma Anatya
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2023-11-21 16:54:59

Tubuh Arion rasanya bak kayu yang digerogoti rayap. Seluruh tubuhnya lelah tanpa terlewat walau seujung kuku bayi baru lahir. Lisan dan otaknya tak berhenti bekerja keras sejak kerakusan menyandang Arion. Sudah menjadi CEO tetapi dengan gila masih menyetujui penawaran sang sahabat. Dimana penawaran tersebut Ari setujui, berujung pada hari pertama perasaannya dibuat kaku. Paras, postur tubuh, dan nama yang duplikat membuat Arion seketika teringat mendiang belahan hatinya. 

Otaknya gatal menuntut perihal kejanggalan, tetapi waktu tak lelah-lelah menjadi konflik kehidupan. Arion menatap cahaya rembulan yang menyerupai netra sang mahasiswi. Tak begitu bersinar tetapi membius Arion. 

Konon kata orang bila merindukan seseorang, maka tataplah langit malam. Bisa jadi seseorang tersebut menjelma menjadi bintang. Sedangkan kala siang katanya seseorang tersebut bersembunyi di balik gumpalan awan. Arion memutar kenangan dalam benak. 

Badan yang dipasangi oleh aneka kabel rumah sakit, dada yang disisipkan alat detak jantung, surai lebat kini ditutupi penutup kepala, hidung diselipkan oksigen, dan bibir pucat Azalea tak membuat Arion jenuh menapaki depan ruang ICU (Intensive Care Unit, atau dalam bahasa Indonesia disebut Unit Perawatan Intensif). Netra dan raga Arion masih menanti harap cemas, berharap wanitanya pulih total dari tumor jantung dan kanker paru-paru menyerang Marissa.

"Mas, ayo kita adopsi anak saja."

"Mas, maafkan Rissa tak bisa memberikan keturunan."

"Mas, Rissa rela bila Mas menikah lagi karena Rissa tak bertahan lama."

"Mas, nggak capek temani Rissa ke rumah sakit terus?"

"Mas, tak perlu antar kemoterapi. Mas, tampak sangat lelah."

"Mas, kira-kira perkiraan dokter kanker dan jantung hanya perkiraan atau beneran ya?"

"Mas madu aku! Anakmu dengan istrimu kelak juga akan ku anggap anakku sendiri... Bila istrimu tak keberatan."

"Mas, pasti andai tubuhku tak penyakitan... Di janin ini ada benihmu yang tumbuh sehat."

Arion pada saat itu hanya mampu menatap langit melalui jendela saja. Hatinya terlalu terasa bak digergaji tak kuasa menatap sang pujaan hati. Tubuh wanitanya kala itu kian sebatas menyisakan tulang, serta kulit secerah sinar mentari justru sangat pucat. Lipstick yang menutupi kepucatan bibir mungil Azalea bahkan tak lagi berguna. Hanya kebaikan Tuhan untuk memberikan keajaiban. 

Kini kata keajaiban menghilang seutuhnya. Hati Arion tak lagi mampu mengucap harapan bodoh, tepat kala bunyi alat EKG (Elektrokardiogram). Alarm siaga dokter jaga di ICU pun menyusul berdenting. Perawat dan dokter kompak mencari kamar menjadi sumber suara. 

Tampaknya tapak kaki terpaku Arion kala bertemu Azelina, lebih terpaku kala realita menampar kuat-kuat. Dokter dan perawat masuk ke ruang Azalea. Tirai ditutup agar Arion tak lagi mampu memandang sang istri. Mengalahkan ramainya irama di diskotik, degup jantung Arion terasa berkejaran. Detak tersebut terhenti tepat kala sang dokter keluar.

"Maafkan kami, Pak. Kami--"

"Katakan yang benar, Dok!"

"Kami gagal menyelamatkan Ibu Azalea. Kami mohon maaf sebesar-besarnya, Pak. Semoga anda beserta keluarga diberikan kekuatan."

Tanpa peduli tirai masih belum tersibak. Tak peduli para perawat yang masih melepaskan alat medis. Arion menyibakkan kasar selimut menutup paras sang istri. Bukan dekapan hangat tersalurkan sebagai rumah satu-satunya. Tubuh kaku nan dingin sang istri yang tak lagi merespon dekapan, tetap saja Arion dekap membuat beberapa perawat memilih undur diri. Pemandangan yang telah tak asing lagi di netra mereka.

Sensasi menggelitik bak ditusuk-tusuk kulitnya, Arion seketika tersadar dari tidur bersandar pada pembatas balkon. Arion mengusap dada merasa masih beruntung tak terjatuh. Lelaki tersebut menatap langit dari balkon sebelum terlelap di kamar semasa bujang, setelah cukup lama tak mengunjungi rumah mendiang kedua orangtuanya.

"Mom, Dad, mengapa kalian membawa Lea sekalian bukan membantu Arion agar Lea bertahan?" protes Arion yang hanya disahuti suara mesin AC.

Jam telah menunjukkan pukul tiga pagi, tetapi netra Arion belum terlelap mengarungi alam mimpi. Pria tersebut menatap kosong sisi kasurnya. Kepingan beberapa potongan kenangan bersama sang orang tua, tak ingin kalah dengan ikut muncul tiba-tiba. Merasa jenuh dengan acara berusaha terlelap, Arion meraih handphone menggulir asal apapun berharap rasa kantuk menetap.

[Halo, Pak?] 

Arion menyebutkan semua penghuni kebun binatang, kala jemari panjang nan besar miliknya terpeleset menghubungi salah satu nomer mahasiswinya. Seharusnya tak jahil memantau percakapan para mahasiswa-mahasiswi, yang bak murid-murid tukang mengerjakan tugas dadakan di kelas. Seharusnya dia tak jahil mengawasi pengguna nomor tiap kontak mahasiswa di kelasnya. 

[Pak?]

Suara menyejukkan ini. Suara memabukkan, membuat Arion melambung-lambung di angkasa rasanya. Degup ini adalah degup yang pernah Arion rasakan, tepat kala bertemu sang istri pertama kali. Degup yang irama sekilas mirip kala menanti jawaban lamaran. Arion berdeham keras. Beruntung rumah hanya dihuni dirinya karena bibi telah pulang.

"Ya? Ah-- Maksud saya anda sedang apa, Zelin? Eh, tidak-tidak. Maafkan saya mengganggu tidur anda. Terima kasih telah menerima panggilan saya."

Azelina di seberang sana tampak menjelma jadi patung. Pertanyaan sekian lama dirinya rindukan dari sang kekasih. Bukan mendengar kalimat sederhana melalui lisan sang kekasih, tetapi Azelina harus mendengar melalui lisan sang dosen. Dosen yang sempat membuatnya takut dan curiga, karena tatapan penuh pengamatan.

Azelina mengamati ponselnya sebelum berpindah tempat dari duduk di meja belajar. Netranya ntah berapa kali mengamati nomer tertera, dengan nama kontak sengaja dirinya tulis 'Dosen Aneh'. Ntah mengapa tangannya gatal untuk kembali membuka pesan dari nomer dirinya arsipkan teratas. Rasa rindu menyelinap meminta keegoisan diri dimenangkan, kala gadis berbulu mata lentik itu menatap chat enam bulan lalu dari sang kekasih.

"Xav, salahku aku mencurigaimu bermain belakang dengan gadis London di sana?"

"Bolehkah imajinasi liar dirimu terbesit kau bermain belakang secara terang-terangan?"

"Apakah gadis lain hanyalah kebodohan terkaanku saja? Sedangkan nyatanya kau bermain belakang dengan gadis tanah air?"

"Akankah waktu indah atau buruk saat kita bertemu?"

"Xav, permen karet bisa hambar. Apakah begitupula hubungan kita?"

Bak seorang gadis dengan pemilik gangguan jiwa. Azelina tidaklah berdialog dengan sang otak ataupun hati. Gadis itu berdialog dengan dinding berwarna krem di hadapannya. Azelina menggerakkan bibirnya tanpa sang pelaku mengetahui seinci pun.

Layaknya malam-malam sebelumnya. Lagi-lagi Azelina meluapkan kreativitas, dengan membuat aliran air terjun tanpa bebatuan. Azelina membuat air terjun yang mengalir dari kedua pipinya. Air mata yang akan mengenai bantal dengan sarung berwarna cokelat. Azelina bukanlah gadis hobi membuat pulau dari bibirnya, tetapi gadis tersebut lebih hobi membuat air terjun. Lalu akan merutuki kebodohan membuat mata sembab di pagi hari.

"Hai, handphone siapakah ini?"

"Orang bodoh mana yang tak mengunci layar handphonenya."

"Tak hanya itu saja bahkan tak menghapus bekas panggilan."

"Dosen aneh? Bukankah ini dosen baru yang langsung jadi primadona itu?"

"Apakah ini handphone adik Kak Xavier ya? Tapi bukankah Kak Xavier anak tunggal? Tak mungkin bukan Kak Xavier tengah di London memiliki gadis mahasiswi baru?"

Kalimat tanya demi kalimat tanya terus terlontar, karena pemilik handphone yang teledor tak menyadari handphone-nya terjatuh di kantin. 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dosenku Calon Suamiku    Menjauh Sementara Waktu

    Hubungannya tak lagi dalam sebutan hari atau minggu, namun belum menyentuh hitungan tahun. Bukan berarti membuat Arion tak hafal dengan hal-hal mengenai gadisnya , bahkan walaupun seujung kuku. Rasanya pria berusia menuju 44 tahun itu akan percaya diri memenangkan suatu perlombaan.Lomba cerdas cermat mengenai suara hati wanita. Oh... Atau ganti dengan tanya jawab pemahaman pada gadis muda. Uh, rasanya bibit kepercayaan diri luber mengalahkan topping roti gongso itu kembali. Dia menatap layar handphone yang sunyi tanpa cerewetnya sang gadis.Tak bermaksud jahat, kejam, egois atau buta dengan kesibukan sang gadis. Dia mendukung keinginan tersebut tanpa merubah pemikiran, tetapi janji sebatas janji. Janji itu sebatas diucapkan lidah tak bertulang, dengan bagai jarum jam berputar. Ntah lupa atau sok melupakan.Pintu unit apartemen memang telah dibuka, tetapi lisan masih saling mengunci rapat, dengan otak sibuk berkeli

  • Dosenku Calon Suamiku    Penyerahan Jadwal Magang

    Tak ada pemikiran menerbitkan kecurigaan, tak juga ada hal memancing kecurigaan. Semua masih berjalan sama dan seperti biasanya. Hanya saja... Gadis itupun bingung perasaan resah menggelitik hati serta dengan baik hati ditemani degup. Degup bak pemacu kuda yang berdetak kencang, bukan seperti genderang perang layaknya sebuah lirik lagu.Dua minggu lebih beberapa hari gadis itu mengikuti organisasi, dosen pembimbing menjanjikan untuk akan menyerahkan jadwal magangnya tak sampai sebulan. Dosen pembimbing tengah menuliskan daftar perusahaan untuk kemungkinan dipilih, serta perusahaan-perusahaan yang menerima Azelina untuk magang. Harap-harap cemas dibuat Azelina menanti kala hendak memasuki minggu ketiga. Walaupun kegiatan ekstrakurikuler mulai jarang, organisasi tetap sama, tetapi Azelina justru merasakan ada yang berbeda."Zel.""Azelin.""Zelin.""Azel.""Aze

  • Dosenku Calon Suamiku    Penambahan Pengalaman

    Gadis itu mulai menjelma bak panda dengan kantong mata, yang menemani sekaligus bukti kerja keras dilakukan sang gadis. Foundation untuk menutupi pun rasanya harus tebal-tebal dioleskan. Otak gadis itu tak lelah-lelah berteriak pada hati, menampar kuat-kuat mengingatkan tujuan mengikuti percepatan semester.Dia lelah karena harus ekstrakurikuler, tugas kuliah kian menumpuk dibanding Arci, lalu kini organisasi yang kian sibuk kian harinya. Gadis itu bersandar sejenak memejamkan mata, guna mencuri kesempatan terlelap walau hitungan detik. Terasa sedikit cukup dia mulai menekan kenop pintu ruangan khusus para mahasiswa-mahasiswi ikut organisasi kampus.Karpet merah terkesan berlebihan untuk orang biasa sepertinya, taburan bunga pun terkesan jenaka, senyum ramah atau sapaan hangat terkesan pasaran dan kurang unik. Azelina tak lagi terkejut di Minggu kedua bergabung dengan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Ya, demi mendukung penambahan poin-poin k

  • Dosenku Calon Suamiku    Susun Rencana Studi

    "Apakah kau lelah?"Hohoho pertanyaan dibalas jawaban rasanya telah terlalu biasa. Pertanyaan dibalas pertanyaan pun rasanya juga telah tak asing. Ya, tidak seperti perasaan antar lawan jenis sebelum hubungan resmi, tetapi asing terlebih dahulu menjabat status. Pertanyaan yang kompak justru menimbulkan bibit kebingungan itulah menjadi penengah Azelina dan Arion.Arion mengalihkan fokus sejenak dari menyetir, menatap gadisnya yang sepertinya tengah tidak fokus. Dia mengubah menyetir dengan satu tangan, sedang tangan satunya mengecek dahi Azelina. "Kau tidak sakit tapi kenapa kurasa tengah tidak fokus, ya? Ada masalah di kelas? Atau keraguan dengan program percepatan semestermu?""Aku takut salah menyusun rencana studi, Mas," tutur Azelina langsung menjelaskan pada intinya tanpa menutupi terlebih dahulu.Arion menepuk-nepuk kepala Azelina lalu mengusap lembut. "Kan Mas bantu, Sayang. Ya, walau kamu dos

  • Dosenku Calon Suamiku    Kedatangan Tiba-Tiba

    Tentu saja tentu saja berkunjung. Pemikiran buruk pun bahkan menetap menetap, meski berulang kali dienyahkan. Ntah apa alasannya Arion pun heran dengan gadisnya. Seingatnya dia tidak melakukan kesalahan secuil pun, tetapi mengapa Azelina diamkannya?Hal ini terjadi tepat setelah Arion menjelaskan perihal dosis membantu Azelina. Bukan baru sehari, dua hari, atau tiga hari, melainkan tujuh hari sudah mereka bak menjadi orang asing kembali. Penerkaan asal-asalan terbesit menimbulkan dua pilihan. Apakah gadisnya menyembunyikan suatu hal?Apakah memiliki masalah? Mengapa dirinya merasa bak bayangan? Sebatas menghabiska

  • Dosenku Calon Suamiku    Diskusi Atau Menguji Hati

    Azelina menatap muak lelaki di hadapannya. Apabila biasanya setiap lelaki itu mengajar di kelasnya, dia berusaha fokus maka untuk hari ini tidak sudi sama sekali. Bahkan rasanya Azelina ingin pindah kampus, tetapi sayangnya tidak ada Arion untuk mencuci mata sekilas. Selain itu fokusnya adalah demi mengikuti percepatan semester.Tak terhitung sudah berapa kali Azelina berpura-pura menguap, menopang kepala, menelungkupkan kepala, menatap jenuh jam dinding dan pintu. Berbeda wujud dan jenis sangat jelas memang, nama pun sudah sangat jelas apabila berbeda. Bagi Azelina hal itu tetaplah sama. Ntah mengapa Azelina jarum jam bagai terkena sihir.Oh? Atau lelaki ini selain pemaksa adalah juga penyihir. Sehingga juga bisa menyihir jarum jam menjadi sangat lambat bak siput. Senyum miring tersungging saat mencuri pandang ke sang gadis. Sudut hati sepertinya mulai mempersiapkan pesta kemenangan dan tak lupa kematangan rencana untuk memiliki Azelina.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status