MasukSemua mata memandang ke arah pintu ruang ICU. Seorang dokter berjalan keluar diikuti oleh beberapa perawat di belakangnya. Michael melepaskan genggamannya dan langsung menghampiri dokter tersebut.
"Dokter! Bagaimana dengan keadaan Ibu saya di dalam sana?"
Dokter tersebut tidak langsung menjawab. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling. Lalu, ia menghembuskan napas panjang. "Kondisi beliau sedang kritis."
Mata Michael langsung membelalak begitu mendengar beberapa kata dari d
"Sial! Apa anak itu sama sekali belum melakukan pergerakan apa pun?"Michael melempar tablet miliknya ke atas meja kerjanya, merasa kesal karena ia masih belum menemukan tanda-tanda pergerakan dari William. Sudah beberapa hari ini ia terus mengawasi William secara diam-diam. Namun, hal-hal yang ia temukan hanyalah kepergiannya ke pasar, mal, maupun tempat-tempat umum lainnya.Michael menoleh ke arah lain. "Atau jangan-jangan dia sudah tahu kalau aku sedang mengawasi gerak-geriknya?"Di detik berikutnya, Michael menggelengkan kepalanya. "Nggak. Itu nggak mungkin. Dia itu hanyalah anak yang jarang sekali bersosialisasi dengan orang lain.""Bisa dipastikan kalau dia nggak punya kenalan yang memiliki kemampuan intel yang hebat. Hanya seorang dosen biasa saja… pasti kenalannya juga nggak jauh-jauh dari seorang profesor, kan?"Michael bangkit berdiri dan hendak keluar dari ruang kantornya. Begitu ia hampir sampai di dekat pintu, pintu itu tiba-tib
Di tengah malam, William sedang tertidur di meja kerjanya. Ia terbangun karena mendengar suara petir yang menyambar dengan kencang. Ia mengerjapkan matanya, lalu melihat ke sekeliling. William mengernyitkan dahinya, lalu memegang kepalanya yang mulai berdenyut."Sepertinya… aku ketiduran dalam waktu yang cukup lama," gumamnya pelan.William menoleh ke arah meja kerjanya yang penuh dengan lembaran kertas penelitian ataupun jurnal. Laptopnya pun masih menyala dan menampilkan penulisan-penulisannya tentang penelitiannya yang hendak dilakukan di masa yang akan datang. Ia merapikan mejanya dan menekan tombol sleep mode pada laptopnya karena ia masih memerlukannya ketika hari sudah pagi nanti.Seusai membereskan meja, William masuk ke dalam kamar. Begitu pintu kamar terbuka, alangkah terkejutnya dirinya saat melihat Eva tidak ada di kasurnya, melainkan ada di sudut kamar—sebelah kasur— sambil memeluk bantal dengan erat. Napasnya terengah-engah. Mata
Di kediaman keluarga Brown, Chloe sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia sedang menunggu kabar dari sang ibu. Apakah ibunya berhasil membujuk ayahnya untuk mempertemukan mereka dengan seorang pewaris keluarga Vanderbilt?Chloe menggoyangkan kakinya. Ia sesekali juga melirik ke arah arlojinya yang terbalut di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul empat sore. Ia mendengus kecil."Sudah jam segini, kenapa Ibu masih belum pulang juga, sih?"Beberapa detik kemudian, terdengar suara pintu rumah terbuka. Chloe langsung menoleh ke belakang dari balik bahunya. Terlihat Amelia sedang menaruh sepatu hak tingginya di rak sepatu. Chloe, yang merasa senang akan kepulangan ibunya, langsung menghampirinya."Ibu! Akhirnya Ibu pulang juga. Bagaimana keadaannya di sana? Ayah mau membantu kita, kan?"Amelia melirik sekilas ke arah Chloe. Ekspresinya terlihat datar, tetapi terdapat kekesalan dalam sorot matanya. Ia menghembuskan napas panjang."Nanti saja ki
"Ayah, kenapa kamu nggak bisa memenuhi keinginan kita? Apa maksudmu sebenarnya?"Di ruang kantor, Mason sedang duduk di meja kerjanya sambil menatap layar komputernya dengan serius. Ia sama sekali tidak melirik ke arah Amelia."Untuk apa kamu ingin bertemu dengannya? Apa kamu nggak tahu kalau pewaris itu sudah menjadi orang besar yang sulit untuk didekati?"Amelia menumpukan kedua tangannya di meja kerja Mason. "Tentu saja, untuk menarik dia ke dalam keluarga kita. Selama keluarga Vanderbilt mau menjadi bagian dari keluarga besar kita, sudah pasti nggak akan ada orang lain yang berani mengganggu kita."Mason mendecak kesal. "Dengar ya, perusahaan kita saat ini juga sudah mendapatkan investasi besar dari keluarga Vanderbilt. Ini juga sudah termasuk keuntungan yang sangat besar bagi kita. Jadi, jangan sampai tindakanmu ini bisa mengakibatkan kita kehilangan kerja sama dengannya."Amelia menyilangkan kedua tangannya di depan. "Cuma investasi doang, ap
Di ruang makan, William baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Ia melihat Eva yang sudah duduk di kursinya. Di meja sudah tersedia cukup banyak menu makanan yang siap disantap. William menarik kursi kosong dan duduk di sebelah Eva."Sudah selesai mandinya? Kenapa lama sekali?"William tersenyum tipis sambil mengambil alat makannya. "Masa sih lama? Padahal aku mandi seperti biasa, kok. Atau jangan-jangan kamu yang terlalu rindu padaku, jadi kamu merasa lama?""Ihh... kegeeran banget kamu." Eva memukul tangan William dengan manja.William terkekeh-kekeh. Ia mengambil beberapa lauk, lalu menaruhnya di piring Eva. "Nih, makan dulu yang banyak ya, sayang. Kamu sudah melalui banyak hal sendirian, jadi kamu harus menghadiahkan tubuhmu dengan makan yang banyak dan juga sehat."Eva tersenyum lebar. "Terima kasih banyak, sayang. I love you so much."William mengecup singkat pipi Eva dengan gemas. "I love you too."Sembari makan, William
Sesampainya di rumah, William baru saja meletakkan tasnya di gantungan. Kemudian, ia dikagetkan oleh kehadiran Eva yang telah menantikan kepulangannya.Eva merentangkan tangannya. "Sayang, akhirnya kamu sudah pulang."William terkekeh kecil, lalu ia menggendong Eva. "Ada apa ini? Tumben sekali menyambutku seperti ini."Eva menggesekkan ujung hidungnya di pipi William dengan manja. "Aku sangat bosan menghabiskan waktu sendirian di rumah. Biasanya kita selalu berangkat ke kampus bareng dan pulang bareng. Jadi, tanpa kamu di sini, rasanya sangat sepi.""Jadi, kamu merindukanku?"Eva tersenyum lebar. "Tentu saja. Aku selalu merindukanmu kalau kita berpisah."William tertawa kecil. Semua perasaan lelah dan juga cemas menghilang begitu saja ketika ia melihat Eva yang tersenyum di hadapannya. Karena Eva selalu tahu cara untuk membuatnya merasa senang dan juga bahagia.William mencubit ujung hidung Eva. "Sekarang ini kamu sudah semakin pandai
Di jam istirahat, Eva memutuskan untuk pergi ke suatu tempat. Ia menggerakkan kursi rodanya menuju pintu keluar. Muncul seseorang yang familiar menghadang jalan Eva."Oh, Clara. Apa kabar?"Clara menarik napasnya dalam-dalam. "Uhm ... Eva ... ada sesuatu yang ingin aku katakan padam
Keesokan harinya, Eva dan William kembali melanjutkan perjalanan menuju kampus. Mereka berangkat lebih pagi daripada saat melakukan perjalanan ke Panti Asuhan, supaya mereka bisa sampai di sana tepat waktu dan tidak terlambat satu menit pun.Selama di Panti Asuhan, Eva mendapatkan pelajara
Saat sedang melakukan penelitian, Eva dan ibu Anna ada melakukan wawancara terhadap beberapa pengasuh yang ada di Panti Asuhan. Eva mencatat poin-poin penting dari wawancara tersebut. Selain wawancara, mereka juga memberikan sebuah test Psikologi yang sesuai dengan masing-masing usia dari mereka.
Sesampainya di Panti Asuhan, William membantu Eva menurunkannya ke kursi roda. Tidak jauh dari sana, terdapat ibu Anna yang datang menghampiri mereka berdua."Selamat pagi, Eva. Dan juga ..." Pandangan ibu Anna beralih ke arah William, untuk sesaat ia merasa heran, tetapi ia segera terseny







