로그인Semua mata memandang ke arah pintu ruang ICU. Seorang dokter berjalan keluar diikuti oleh beberapa perawat di belakangnya. Michael melepaskan genggamannya dan langsung menghampiri dokter tersebut.
"Dokter! Bagaimana dengan keadaan Ibu saya di dalam sana?"
Dokter tersebut tidak langsung menjawab. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling. Lalu, ia menghembuskan napas panjang. "Kondisi beliau sedang kritis."
Mata Michael langsung membelalak begitu mendengar beberapa kata dari d
Malam hari, pukul 10. Eva sudah tertidur di kamar, sedangkan William masih membuka matanya. Ia memperhatikan wajah Eva dengan tersenyum. Bahunya bergerak naik turun mengikuti napasnya yang teratur.Begitu ia yakin kalau Eva sudah tertidur dengan nyenyak, ia perlahan-lahan turun dari kasur dan pergi keluar kamar. William duduk di ruang kerjanya dan langsung membuka laptop miliknya. Tangan kanannya memegang sebuah ponsel, lalu menerima panggilan.Terdengar suara yang sangat familiar dari seberang telepon.'Yooo, malam, Bro! Gimana keadaanmu sekarang?'"Biasa-biasa saja. Bagaimana hasilnya?"Surya mendecak. 'Kamu ini kenapa terlalu to the point banget, sih? Sekali-kali sapalah sahabatmu ini…'"Untuk apa aku sapa? Bahkan suaramu saja masih ceria seperti biasa."Perkataan itu membuat Surya seperti tertusuk. 'Aduh… dingin sekali kata-katamu ini… awas saja ya, nanti aku bakal adukan hal ini pada kakak ipar. Lihat s
Eva menunduk sedih. Ia merasa bingung harus berkata apa lagi. Tetapi William juga tidak memaksanya untuk langsung berbicara. Ia hanya menangkup wajah Eva dengan tangan besarnya dan mengusapnya lembut.Ia mengusap wajah Eva dengan lembut dan penuh perhatian. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan dia tidak sendiri. Sentuhan ini membuat Eva menghembuskan napas gemetar."Maaf…" ucap Eva akhirnya. "Aku jadi salah tingkah begini."William menggelengkan kepalanya. "Nggak apa-apa. Aku juga tahu kalau kamu masih perlu waktu untuk memproses semuanya. Kamu sudah melewati banyak hal dengan baik."Eva perlahan-lahan menatap William. Padahal dia sendiri juga baru saja mengalami kehilangan seseorang yang ia sayangi, tetapi pria ini masih bisa bersikap tegar dan menghibur dirinya. Bayangan akan malam itu mulai memenuhi pikirannya, di mana William hanya duduk sendirian saja di ruangan yang gelap.William yang di saat itu d
Di ruang gaming, Eva sedang bermain game MoLa bersama dengan anggota tim Aetherion yang lain. Mereka telah bermain 3 match dan semuanya telah mereka menangkan. Eva menggerakkan mouse dengan cepat dan juga lihai. Pandangan matanya telah terkunci di layar monitor tanpa beralih sedikit pun."Oke, musuh ada di atas. Kayaknya mereka menuju ke tempat kamu deh, Rico. Hati-hati di sana."Terdengar suara Rico dari headset biru—yang memiliki telinga kucing. 'Kamu tenang saja, Eva. Aku pasti— oh, mereka muncul, sebentar ya."Eva sedang membersihkan sebuah Lane sambil memperhatikan map kecil yang ada di sudut kiri. Begitu ia merasa kalau semuanya akan baik-baik saja, Eva terus maju ke base musuh sambil menghancurkan tower satu per satu. Beberapa detik kemudian, muncul sebuah tulisan bahwa Rico berhasil mengalahkan lawannya.'Woohooo! Rasakan itu! Bagaimana? Aku keren, kan?' teriak Rico.Eva tersenyum tipis. "Boleh juga kamu, Rico. Not bad."Terdengar suara Aprilia dengan nada mengejek. 'Heh, keren
Di kediaman keluarga Brown, Amelia dan Chloe sedang berkumpul di ruang keluarga. Amelia mengambil sebuah gelas yang terdapat di meja dan menyeruputnya. Tangan satunya memegang sebuah tablet. Sedangkan Chloe, ia duduk sambil menggoyangkan kakinya.Chloe mendekat dan menggoyangkan tangan Amelia. "Ibu...""Hm?"Amelia tidak menoleh sedikit pun. Hal ini membuat Chloe semakin merasa gelisah. "Ibu tahu nggak sih kalau orang itu sudah ditahan di penjara?"Amelia melirik sekilas. "Siapa?""Itu lho… dosen yang mengajar kelas Eva.""Oh, dia. Kenapa memangnya?"Chloe mengerutkan dahinya. "Ih, Ibu kok santai-santai begitu, sih? Memangnya Ibu nggak khawatir kalau dia bakalan membocorkan semua rahasianya? Bagaimana kalau dia buka mulut dan memberitahu polisi kalau kita lah yang menyuruhnya untuk memfitnah Eva?""Untuk apa khawatir? Sekali pun dia buka mulut, polisi juga nggak bakal langsung percaya kalau nggak ada bukti."Chloe
Di sebuah rumah duka, William dan Eva menyapa serta melayani tamu yang datang. Orang-orang yang datang untuk melayat bukan hanya orang-orang kenalan keluarga Vanderbilt saja, tetapi juga terdapat kenalan William yang datang jauh-jauh dari luar negeri. Mereka memeluk, mengobrol dan juga berdoa untuk sang Nenek."Eva!"Eva menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat Clara yang sedang menghampirinya dengan mata yang berkaca-kaca. Ia memeluk Eva. "Ya ampun, Eva… aku turut berduka cita, ya."Eva membalas pelukannya dan tersenyum tipis. "Terima kasih."Semenjak kasus itu sudah berhasil diselesaikan, Eva dan Clara berteman kembali. Mereka tetap berbincang dan bercanda bersama seperti tidak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka. Eva sudah memaafkannya. Ia juga tidak ingin melihat sahabatnya terus-menerus diselimuti oleh perasaan bersalah.Clara melepaskan pelukannya dan mengamati Eva dari kepala hingga ke tubuhnya. "Kok kamu tambah kurus, ya? Kamu sudah makan belum?"Eva menggelengkan kepala
Pintu ruang ICU tiba-tiba terbuka. Eva yang awalnya sedang tertidur perlahan-lahan mulai membuka matanya. Eva mengucek matanya, berusaha untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata."Nenek membangunkanmu, ya?"Eva mendongakkan kepalanya. Matanya langsung membelalak begitu melihat Nenek yang berdiri tepat di depannya. Ia mengucek matanya lagi untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak bermasalah. Eva langsung bangun dan menggenggam kedua tangan Nenek."Nenek! Akhirnya Nenek sudah sadar juga?! Aku kira Nenek—"Eva menaikkan kedua alisnya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, seperti sedang mencari seseorang. "Tunggu sebentar, di mana para suster dan juga dokter? DOKTER!""Sstt... itu nggak perlu, Nak."Eva mengerutkan dahinya. "Nggak perlu gimana, Nek? Nenek kan baru saja siuman, jadi mereka harus tahu supaya bisa periksa Nenek."Nenek menggelengkan kepalanya. "Nggak perlu. Karena sekarang, Nenek sudah nggak sakit lagi. Nenek sudah







