Share

Bab 3

Author: Seth
Selama dua hari berikutnya, Laras mengurung diri dan tidak pernah keluar dari kamarnya.

Demam tinggi Kresna yang menyiksanya sepanjang malam akhirnya mereda.

Mendengar bahwa Laras sama sekali tidak menjenguknya, bocah itu marah besar hingga memecahkan seluruh porselen di kamarnya.

Laras tidak peduli.

Bayu dan Kresna mulai memanjakan Niken dengan cara yang kian berlebihan.

Hari ini mereka menghadiahinya satu set perhiasan mewah, besoknya mereka mengajaknya berkeliling ke seluruh toko kain sutra di ibu kota, dan lusa mereka menggelar perjamuan di taman bunga. Mereka bertiga tampak sangat harmonis dan bahagia, layaknya sebuah keluarga yang utuh.

Laras tetap tidak peduli.

Dia hanya berdiam diri di halaman kediamannya, membaca buku cerita dan merawat tanaman, seolah-olah dia hanyalah orang asing di tempat itu.

Melihat hal itu, Ajeng sampai panik dan gelisah hingga bibirnya sariawan, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.

Hingga hari itu, Bayu dan Kresna kembali mendorong pintu Kediaman Utama bersama-sama.

Wajah Bayu masih tampak muram, tetapi nada bicaranya sudah lebih lembut, "Kamu sudah cukup lama merajuk, seharusnya ada batasnya. Hari ini ada perburuan kerajaan dan istri sah wajib hadir. Ganti bajumu, lalu ikut kami."

Dia terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Tubuhmu 'kan selalu lemah. Nanti di sana aku akan memburu seekor rusa, lalu membuatkanmu jubah dari kulitnya."

Kresna berdiri di samping Bayu, tidak berkata sepatah kata pun. Bocah itu hanya menatap Laras dengan tajam, matanya merah, tampak kesal sekaligus marah.

Laras meletakkan buku ceritanya. Tanpa sepatah kata pun, dia bangkit dan berganti pakaian berkuda.

Saat menaiki kereta kuda, barulah dia melihat Niken sudah duduk di dalamnya.

Niken mengenakan pakaian berkuda berwarna merah muda yang membuat kulitnya tampak seputih susu, terlihat begitu anggun dan memesona.

Laras merasa hal ini cukup lucu.

Bayu sudah bilang sendiri kalau hanya istri sah yang boleh pergi, tetapi selain mengajaknya, Bayu juga membawa Niken. Apa pria itu sengaja mengajak Laras ke sana hanya untuk dijadikan bahan tertawaan?

Melihat raut wajah Laras, Bayu buru-buru menjelaskan, "Niken belum pernah ke tempat perburuan. Dia cuma ingin ikut untuk melihat-lihat."

Kresna pun ikut membela, "Iya, Selir Niken selalu berdiam diri di dalam kediaman, pasti sangat membosankan."

Melihat Laras, Niken segera bangkit dan bersiap memberi hormat, sengaja merendahkan diri dengan sikap yang sangat sopan, "Kak Laras ...."

Kresna yang berdiri di sampingnya segera menarik tangan perempuan itu, "Niken, apa yang kamu lakukan?"

Niken menjawab dengan suara lembut, "Meskipun aku hanya selir Pangeran, tata krama tidak boleh dilanggar. Sudah seharusnya aku memberi hormat kepada Nyonya Utama."

Bayu mengernyit, nadanya terdengar iba, "Sudah berapa kali kukatakan? Meski kamu seorang selir, di hatiku kamu sama berharganya dengan Laras. Mulai sekarang, lupakan saja formalitas semacam itu. Kamu tidak perlu melakukannya lagi."

Mendengar itu, Niken mengangguk patuh. Namun, saat mendongak, dia seolah tanpa sengaja melirik Laras, kilatan provokasi melintas cepat di matanya.

Jika ini terjadi di masa lalu, Laras pasti akan sakit hati, menangis, dan membuat keributan.

Namun, kini, dia justru merasa geli. Menonton Niken berakting ternyata jauh lebih menghibur daripada membaca buku cerita.

Sepanjang perjalanan, Bayu, Niken, dan Kresna mengobrol dengan riang. Mereka membicarakan segala hal mulai dari syair dan sastra hingga cerita seru seputar perburuan. Benar-benar seperti keluarga kecil yang utuh.

Laras hanya duduk di sisi lain, menatap pemandangan di luar jendela yang melintas cepat dengan tenang, persis seperti orang asing yang tidak sengaja tersesat masuk.

Sikap acuh tidak acuhnya ini justru membuat dada Bayu dan Kresna terasa sesak, seolah dipenuhi gumpalan kapas yang menyumbat, membuat mereka sesak dan tidak nyaman.

Namun, keduanya hanya bisa menahan diri, penasaran ingin melihat sampai kapan Laras akan terus merajuk.

Sesampainya di arena perburuan, rombongan pun turun dari kereta.

Bayu menyerahkan busur yang biasa digunakannya kepada Niken. "Coba pakai ini."

Niken menerimanya lalu mencoba menarik busur itu dengan gerakan lembut dan anggun. Dia mengerutkan kening dan mengeluh, "Busur Pangeran terlalu berat. Hamba tidak kuat menariknya."

Pandangannya kemudian beralih ke busur kecil nan indah di tangan Laras. Matanya berbinar, "Busur Kak Laras terlihat sangat mungil dan cantik."

Itu adalah busur yang dulu dibuat langsung oleh Bayu untuknya. Badan busurnya terbuat dari kayu cendana ungu pilihan yang diukir dengan motif sulur teratai yang rumit. Talinya terbuat dari sutra es pegunungan salju, dengan lekukan yang mulus dan sangat memukau.

Laras selalu sangat menjaga dan menyayangi busur itu, tetapi kini, dia dengan acuh menyerahkannya. "Kalau begitu, pakai yang ini saja."

Niken seolah tidak menyangka Laras akan memberikannya semudah itu. Dia tertegun sejenak, lalu mengulurkan tangan untuk menerimanya. Namun, 'kecerobohannya' membuat busur itu terlepas dari genggaman. Dengan bunyi 'tak', busur itu jatuh menghantam tanah, dan seketika salah satu sudutnya retak.

"Maafkan aku! Maafkan aku, Kak!" Niken buru-buru memungut busur itu, matanya berkaca-kaca seolah hendak menangis. "Hamba tidak sengaja ... Busur ini terlalu berharga, tapi tanganku terlalu ceroboh ...."

Wajah Bayu seketika muram. Dia menatap tajam ke arah Laras.

Dia tahu betul seberapa besar Laras menyayangi busur itu.

Namun, Laras hanya melirik sekilas, nadanya datar tanpa emosi, "Kalau rusak, ya sudah. Lagi pula, aku sudah tidak menyukainya lagi, sekalian saja dibuang."

Sorot mata Bayu berubah drastis, amarah yang membuncah tiba-tiba meledak di dadanya!

Dia ingat betul, dulu saat memberikan busur ini, Laras girang bukan main layaknya anak kecil. Laras bahkan memeluk busur itu saat tidur selama tiga hari berturut-turut, tidak membiarkan siapa pun menyentuhnya.

Pernah suatu kali, seorang pelayan yang sedang membersihkannya tidak sengaja menggoreskan bekas yang sangat tipis di lengan busur. Laras begitu sedih hingga memeluk busur itu dan menangis diam-diam semalaman.

Kini, setelah sudut busur itu retak akibat dijatuhkan Niken, Laras malah bisa-bisanya berkata "sudah tidak menyukainya lagi", "sekalian dibuang"?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 24

    Laras mendongak, menatap Ricky.Tatapan pria itu jernih, membawa ketulusan yang khas dari seorang anak muda, dengan sedikit rasa gugup yang tersirat. Pipi pria itu memerah samar karena terpapar uap panas dari hotpot.Ricky orang yang sangat baik.Tampan, berprestasi, berasal dari keluarga terpandang, berkepribadian lembut, dan memiliki masa depan yang cerah.Kalau bersamanya, hidup pasti akan terasa jauh lebih ringan, jauh lebih ... normal.Tidak ada intrik dan persaingan di lingkungan keluarga bangsawan, tidak ada kerumitan karena banyak istri dan selir, juga tidak ada kisah cinta dan kebencian yang begitu berat hingga melintasi ruang dan waktu.Yang ada hanyalah kisah cinta di masa kuliah yang sederhana dan indah, lalu lulus, bekerja, menikah, dan memiliki anak. Seperti kebanyakan orang, hidupnya akan berjalan tenang, damai, dan mengalir sebagaimana mestinya.Bukankah ini persis kehidupan yang dia inginkan setelah "kembali"?Melupakan "mimpi" yang tidak masuk akal itu, melupakan oran

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 23

    Bayu seolah tidak mengindahkan gunjingan dan sorotan kamera di sekitarnya.Dia hanya terus bertanya berulang kali dengan gigih kepada setiap orang yang lewat, dengan mata yang kosong, tetapi penuh kegigihan, untuk mengamati setiap wajah dengan saksama.Lalu, kecewa, dan beralih ke orang berikutnya.Bagai mesin yang telah diprogram, tetapi terus-menerus mengalami kesalahan, terjebak dalam siklus tanpa akhir hingga menguras sisa hidupnya.Laras berdiri beberapa langkah darinya. Tanpa sadar, dia meremas gelas minuman susunya hingga penyok. Cairan dingin di dalamnya meluap keluar dan membasahi jari-jarinya.Laras terus mengamatinya.Melihat pria itu didorong menjauh oleh orang-orang yang lewat, melihatnya menatap sekeliling dengan bingung, melihat cahaya di matanya meredup sedikit demi sedikit, lalu tiba-tiba kembali menyala saat melihat sosok seorang gadis dari belakang yang sekilas mirip dengan Laras. Pria itu mengejarnya, tetapi setelah sadar gadis itu bukan Laras, cahaya di matanya kem

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 22

    Saat Laras membuka matanya kembali, dia mendapati dirinya berbaring di balkon kamarnya, masih mengenakan kaos lengan pendek dan celana jeans yang dipakainya pada hari dia berpindah dunia.Ponselnya bergetar di samping, layarnya menyala, menampilkan pesan dari ibunya.[Laras, habis nonton fenomena Tujuh Bintang Sejajar, langsung tidur, ya. Besok masih harus ambil surat penerimaan di sekolah.]Laras menatap langit-langit kamar yang familier, menatap pemandangan malam abad ke-21 di luar jendela, dan menatap waktu yang tertera di layar ponselnya.Hanya tiga jam berlalu sejak dia berpindah dunia.Dia bangkit berdiri, berjalan menuju kamar mandi, lalu memutar keran air. Dia membasuh wajahnya dengan air dingin.Di cermin, terpantul wajah seorang gadis berusia 18 tahun. Sorot matanya masih jernih, belum dirusak oleh pahitnya pernikahan selama tujuh tahun, maupun luka akibat pengkhianatan dan patah hati.Dia menatap pantulan itu cukup lama, kemudian bergumam pelan."Laras, selamat datang kembal

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 21

    Di penghujung musim gugur, Kepala Ahli Nujum Istana meminta untuk menghadap di malam itu juga.Wajah sang pejabat tua yang rambutnya telah memutih itu menyiratkan ekspresi ganjil, perpaduan antara antusiasme dan rasa gentar."Pangeran! Fenomena langit yang luar biasa telah muncul! Tengah malam ini, akan terjadi fenomena Lima Bintang Sejajar! Meski tidak selangka Tujuh Bintang Sejajar, ini tetap merupakan pertanda langka yang hanya muncul sekali dalam ratusan tahun!"Bayu yang sejak tadi duduk mematung bagai kayu mati di depan jendela, perlahan menggerakkan bola matanya.Di dalam sepasang mata yang telah mati dan hampa terlalu lama itu, seketika meletup secercah cahaya yang menakutkan!"Lima Bintang ... Sejajar?" Bayu mengulanginya dengan suara lirih, bibirnya yang pecah-pecah bergetar pelan."Benar! Lima Bintang Sejajar! Perpaduan cahaya bintang mungkin bisa menarik energi langit dan bumi!" Sang Kepala Ahli Nujum buru-buru menyahut, "Hanya saja ... Pangeran, kekuatan Lima Bintang tidak

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 20

    Rona di wajah Kresna seketika lenyap tidak bersisa.Dia membuka bibir, ingin menjelaskan, ingin berkata bahwa dia hanya ingin membuat ayahnya bahagia, meski hanya sedikit.Namun, kata-kata itu tertahan di bibir. Saat menatap kesedihan yang tidak bertepi dan kehampaan mati di mata sang ayah, semua ucapan itu tercekat di tenggorokan, melebur menjadi bulir-bulir air mata yang jatuh membakar pipinya."Ayahanda ...." Kresna menangis tersedu, bukan lagi isak tangis yang tertahan, melainkan bagai anak binatang kecil yang sudah tidak memiliki jalan keluar, melolong putus asa. "Aku hanya ingin membuat Ayahanda bahagia ... Meski hanya sedikit ....""Ibunda telah pergi, aku pun sangat menderita. Setiap malam aku bermimpi melihatnya melompat ke dalam sumur. Rasanya aku ingin mati ... tapi aku tidak bisa!"Dia menerjang ke kaki Bayu, mencengkeram tangan sang ayah yang sedingin es, lalu mendongak dengan wajah mungilnya yang basah kuyup oleh air mata."Karena Ayahanda sudah menjadi seperti ini ... Ko

  • Dua Dunia, Satu Hati yang Hancur   Bab 19

    Kresna sudah lama menangis hingga tubuhnya lemas terkulai di lantai. Dia menutup telinga dan memejamkan mata, tidak berani melihat, tidak berani mendengar."Ayahanda! Jangan mencambuk lagi! Kumohon! Jangan lagi! Ibunda akan sedih kalau melihat ini! Ibunda akan sedih!"Gerakan Bayu mengayunkan cambuk, seketika membeku.Dia terengah-engah, keringat bercampur darah menetes dari rahangnya."Sedih?"Dia menggumamkan kata itu berulang kali. Kilatan gila di matanya perlahan padam, digantikan oleh kesunyian dan keputusasaan yang lebih dalam, seperti jurang yang tidak berdasar."Dia tidak akan merasa sedih.""Dia membenciku.""Dia tidak akan pernah lagi ... merasa sakit hati karena aku."Dia melepaskan genggamannya, cambuk berlumuran darah itu jatuh ke lantai dengan suara berdentang.Dia terhuyung, berpegangan pada meja altar, hingga akhirnya berhasil berdiri tegak.Lalu, perlahan, menatap papan arwah hitam kelam itu, dia menarik sudut bibirnya, tersenyum.Senyumnya begitu getir, bagai lilin re

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status