LOGIN“Jadi...” Zavian menarik napas pelan. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Naresa. “...apa kamu memaafkanku, Naresa?” Pertanyaan itu terdengar begitu hati-hati. Berbeda dengan biasanya. Pria yang selalu tegas itu kini justru menunggu jawaban dengan perasaan cemas. Naresa terdiam. Tatapannya kembali mengarah ke permukaan danau. Bukan karena tidak ingin menjawab. Melainkan karena sedang menenangkan hatinya sendiri. “Aku...” Suaranya terdengar lirih. “Aku tidak tahu.” Deg. Jawaban itu membuat dada Zavian terasa sesak. “Aku ingin memaafkanmu.” “...” “Namun rasa kecewa itu masih ada.” Air mata kembali memenuhi pelupuk mata Naresa. “Setiap kali mengingat kalau aku mengetahui semuanya dari Bi Ina.” “...” “Dadaku masih terasa sakit.” Zavian menundukkan kepalanya. Dia menerima semua perkataan itu. Karena memang dirinya yang membuat Naresa merasakan hal tersebut. “Aku tidak akan memaksamu.” Ucap Zavian pelan. “Aku akan menunggu.” “Hm?” “Sampai kamu benar-benar
“Tolong angkat, Naresa...” gumam Zavian pelan. Untuk kesekian kalinya. Pria itu kembali menghubungi nomor Naresa. Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban. Deg. Rasa tidak nyaman di dadanya semakin besar. Saat ini Zavian sedang berlari di sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Pandangannya menyapu ke segala arah. Mencari sosok gadis yang sejak satu jam lalu menghilang. “Naresa...” panggilnya pelan. Namun yang terdengar hanya suara angin sore. Zavian kembali mencoba menelepon. Panggilan tersambung. Namun tetap tidak diangkat. Membuat rahangnya mengeras. Karena selama ini. Seberapa pun marahnya Naresa. Gadis itu hampir selalu mengangkat teleponnya. Namun kali ini berbeda. Sangat berbeda. "Angkatlah..." gumamnya frustrasi. Langkahnya semakin cepat. Matanya terus mencari ke setiap sudut taman. Bangku-bangku taman. Area bermain. Jalur jogging. Tidak ada. Tidak ada Naresa di mana pun. Deg. Untuk pertama kalinya. Zavian benar-benar mulai panik. Ka
“Sudahlah.” Suara Naresa terdengar pelan. Namun justru membuat suasana menjadi semakin menyesakkan. Tatapannya tidak lagi marah. Tidak lagi dipenuhi amarah seperti beberapa menit yang lalu. Yang tersisa sekarang hanya rasa kecewa. “Urus saja semuanya.” “Naresa...” panggil Zavian. Namun gadis itu menggeleng. Air matanya terus mengalir. “Kalau memang mau menerima perjodohan atau lamaran itu.” Deg. Jantung Zavian langsung terasa tidak nyaman. “Aku mundur.” Seketika semua orang membeku. “Naresa!” bentak Zavian untuk pertama kalinya. Namun gadis itu hanya tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu menyakitkan. “Bukankah itu lebih mudah?” “Jangan bicara sembarangan.” “Kenapa?” Tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Zavian. “Karena aku sudah capek.” Deg. Kalimat itu membuat Zavian langsung terdiam. “Aku capek menjadi orang terakhir yang tahu.” “...” “Aku capek harus mendengar semuanya dari orang lain.” “...” “Dan aku capek merasa tidak dianggap penting.” “Nar
“Lhoo, Bi. Kok banyak masaknya? Memang ada acara apa?” tanya Naresa yang baru saja kembali dari magangnya. Setelah dua minggu berlalu sejak mereka pergi bersama. Kini semuanya kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan tanpa terasa. Tinggal satu minggu lagi masa magang Naresa akan berakhir. “Itu, Non,” jawab Bi Ina sambil sibuk menata hidangan di meja makan. “Tuan Besar dan Tuan Muda kedatangan tamu nanti sore.” “Kedatangan tamu?” “Iya.” “Tamu siapa?” “Kurang tahu juga.” Bi Ina menoleh sebentar. “Katanya mau membahas masalah perjodohan atau lamaran gitu.” Deg. Langkah Naresa langsung terhenti. “Hah?” “Perjodohan atau lamaran.” “Perjodohan atau lamaran siapa?” Bi Ina menjawab tanpa curiga. “Tuan Zavian.” Bruk! Tas yang berada di tangan Naresa langsung jatuh ke lantai. Membuat Bi Ina terkejut. “Non?” Namun Naresa tidak menjawab. Pikirannya langsung kosong. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan telinganya seperti berdenging. “Tuan... Zavian?” ulangn
“Jadi, Kakak tidak mau juga memberiku cincin seperti itu?” tanya Sonia sambil menatap Rayhan penuh harap. Rayhan yang sedang berjalan di depan langsung menoleh. “Jangan terlalu iri.” “Hah?” “Kau selalu mendapatkan hal romantis setiap harinya.” Seketika Sonia langsung tertawa canggung. “Hehe.” “Uang jajan.” “Hehe.” “Makanan.” “Hehe.” “Kurir yang hampir setiap minggu datang ke rumahmu.” “Hehe.” Membuat Rayhan menggeleng kecil. Sedangkan Naresa yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Dasar kalian.” Tak lama kemudian. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran. Karena sudah lewat jam makan siang. Perut mereka mulai protes. Setelah duduk di meja yang sudah dipesan. Pelayan langsung datang membawa buku menu. “Mau makan apa, Sayang?” tanya Zavian sambil menyerahkan menu kepada Naresa. Naresa langsung melihat-lihat isinya. Lalu matanya berbinar. “Itu.” “Hm?” “Steak barbeque ya, Zavian.” “Baik.” “Sama minumnya jeruk saja, hehe.” “Iya sudah.” Zavian m
“Filmnya seru banget ya, Naresa,” ucap Sonia dengan wajah antusias. “Haha, iya benar,” sahut Naresa sambil tertawa kecil. “Aku benar-benar dibuat tegang tadi nonton.” Kini mereka sudah keluar dari bioskop. Suasana mall cukup ramai karena sudah memasuki jam makan siang. “Sudah jam dua belas,” ucap Rayhan sambil melihat arlojinya. “Kita makan dulu. Nanti baru lanjut jalan.” “Setuju!” jawab Sonia cepat. Rayhan langsung menatapnya datar. “Cepat banget ngasih pendapatnya.” “Hehe.” “Dasar.” Membuat Sonia hanya tertawa kecil. Namun tepat saat mereka hendak berjalan menuju area restoran. Tiba-tiba. “Zavian?” Seketika langkah mereka terhenti. Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan saat melihat siapa yang memanggil. Wajah Naresa langsung berubah. “Kenapa harus bertemu lagi sih?” gerutunya kesal. “Hm?” Sonia yang tidak mengenal wanita itu langsung mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?” Naresa langsung mendengus pelan. “Tanya saja sama Kak Rayhan siapa d
“Kakimu sudah tidak sakit lagi?” tanya Sonia kepada sahabatnya saat mereka berjalan memasuki area laboratorium sekolah. “Sudah tidak sakit lagi,” jawab Naresa sambil mengangguk kecil. Walaupun sebenarnya— kakinya masih sedikit terasa perih. Namun setidaknya ia sudah bisa berjalan dengan normal
“Jadi…” ucap Zavian pelan sambil tetap menggenggam tangan Naresa. “Kamu tidak keberatan kalau aku mengatakan sesuatu kepadamu?” Naresa langsung menelan ludah gugup. “Sesuatu?” ulangnya pelan. Zavian mengangguk kecil. Tatapannya masih begitu tenang. Berbeda sekali dengan Naresa yang jantungnya
“Wah, indah banget pemandangannya!” seru Sonia penuh semangat saat mobil mereka akhirnya tiba di pantai. Hamparan laut biru langsung terlihat jelas di depan mata. Angin pantai mulai terasa menyapu lembut. Namun walaupun waktu sudah menunjukkan pukul empat sore— cuacanya masih terasa cukup panas
“Kamu mau pesan makanan apa?” tanya Zavian kepada Naresa saat mereka sudah duduk di dalam restoran. Naresa yang masih setengah sadar hanya menyandarkan dagunya di meja. “Terserah saja…” Zavian langsung mengangkat alis tipis. “Tidak ada makanan terserah di sini, Naresa.” Rayhan langsung terkeke







