LOGIN“Lhoo, Bi. Kok banyak masaknya? Memang ada acara apa?” tanya Naresa yang baru saja kembali dari magangnya. Setelah dua minggu berlalu sejak mereka pergi bersama. Kini semuanya kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dan tanpa terasa. Tinggal satu minggu lagi masa magang Naresa akan berakhir. “Itu, Non,” jawab Bi Ina sambil sibuk menata hidangan di meja makan. “Tuan Besar dan Tuan Muda kedatangan tamu nanti sore.” “Kedatangan tamu?” “Iya.” “Tamu siapa?” “Kurang tahu juga.” Bi Ina menoleh sebentar. “Katanya mau membahas masalah perjodohan atau lamaran gitu.” Deg. Langkah Naresa langsung terhenti. “Hah?” “Perjodohan atau lamaran.” “Perjodohan atau lamaran siapa?” Bi Ina menjawab tanpa curiga. “Tuan Zavian.” Bruk! Tas yang berada di tangan Naresa langsung jatuh ke lantai. Membuat Bi Ina terkejut. “Non?” Namun Naresa tidak menjawab. Pikirannya langsung kosong. Jantungnya berdetak sangat kencang. Bahkan telinganya seperti berdenging. “Tuan... Zavian?” ulangn
“Jadi, Kakak tidak mau juga memberiku cincin seperti itu?” tanya Sonia sambil menatap Rayhan penuh harap. Rayhan yang sedang berjalan di depan langsung menoleh. “Jangan terlalu iri.” “Hah?” “Kau selalu mendapatkan hal romantis setiap harinya.” Seketika Sonia langsung tertawa canggung. “Hehe.” “Uang jajan.” “Hehe.” “Makanan.” “Hehe.” “Kurir yang hampir setiap minggu datang ke rumahmu.” “Hehe.” Membuat Rayhan menggeleng kecil. Sedangkan Naresa yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. “Dasar kalian.” Tak lama kemudian. Mereka akhirnya tiba di sebuah restoran. Karena sudah lewat jam makan siang. Perut mereka mulai protes. Setelah duduk di meja yang sudah dipesan. Pelayan langsung datang membawa buku menu. “Mau makan apa, Sayang?” tanya Zavian sambil menyerahkan menu kepada Naresa. Naresa langsung melihat-lihat isinya. Lalu matanya berbinar. “Itu.” “Hm?” “Steak barbeque ya, Zavian.” “Baik.” “Sama minumnya jeruk saja, hehe.” “Iya sudah.” Zavian m
“Filmnya seru banget ya, Naresa,” ucap Sonia dengan wajah antusias. “Haha, iya benar,” sahut Naresa sambil tertawa kecil. “Aku benar-benar dibuat tegang tadi nonton.” Kini mereka sudah keluar dari bioskop. Suasana mall cukup ramai karena sudah memasuki jam makan siang. “Sudah jam dua belas,” ucap Rayhan sambil melihat arlojinya. “Kita makan dulu. Nanti baru lanjut jalan.” “Setuju!” jawab Sonia cepat. Rayhan langsung menatapnya datar. “Cepat banget ngasih pendapatnya.” “Hehe.” “Dasar.” Membuat Sonia hanya tertawa kecil. Namun tepat saat mereka hendak berjalan menuju area restoran. Tiba-tiba. “Zavian?” Seketika langkah mereka terhenti. Semua orang langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan saat melihat siapa yang memanggil. Wajah Naresa langsung berubah. “Kenapa harus bertemu lagi sih?” gerutunya kesal. “Hm?” Sonia yang tidak mengenal wanita itu langsung mengernyit bingung. “Memangnya dia siapa?” Naresa langsung mendengus pelan. “Tanya saja sama Kak Rayhan siapa d
“Kita menonton film apa?” tanya Rayhan kepada mereka. Setelah satu minggu berlalu. Akhirnya mereka benar-benar jadi pergi bersama. Karena selama beberapa waktu terakhir. Rayhan sibuk dengan proyek dan kuliahnya. Zavian sibuk dengan pekerjaan. Sedangkan Naresa dan Sonia sibuk dengan magang. Kini mereka sedang berada di sebuah mall. Awalnya hanya ingin jalan-jalan. Namun entah bagaimana akhirnya berakhir di depan bioskop. Masalahnya. Tidak ada satu pun yang tahu ingin menonton film apa. “Terserah Kakak sih,” jawab Naresa santai. Rayhan langsung menatapnya datar. “Jangan terserah.” “Heh.” “Kau yang memberikan ide tadi.” Membuat Naresa langsung menunjuk seseorang di sampingnya. “Bukan cuma aku.” “Hm?” “Sonia juga berkata begitu.” Sonia yang tiba-tiba ditunjuk langsung membelalakkan matanya. “Hah?” “Dan parahnya lagi.” “Apa?” “Malah aku yang disuruhnya ngomong.” “Heh!” Sonia langsung tertawa canggung. Sedangkan Rayhan menggeleng kecil. “Jadi kalian berdua tidak
“Eh, Naresa.” “Hm?” Sonia yang sedang berjalan di sampingnya tiba-tiba menghentikan langkah. Tatapannya tertuju pada tangan kanan Naresa. Membuat Naresa langsung punya firasat buruk. “Itu cincin apa?” Deg. Seketika tubuh Naresa langsung menegang. “Cincin?” “Iya.” Sonia langsung meraih tangan sahabatnya. Lalu mengamati cincin yang melingkar di jari manisnya. “Perasaan kemarin-kemarin kamu nggak ada pakai cincin deh?” Wajah Naresa langsung memanas. “I-itu...” “Hm?” “Itu Zavian yang kemarin memberinya pas pulang magang.” “Apa?!” Sonia langsung berteriak kencang. Membuat beberapa siswa di sekitar mereka menoleh. “Ssttttt!” Naresa buru-buru menutup mulut Sonia. “Pelankan suaramu!” Namun Sonia malah semakin membelalakkan matanya. “Dia kasih cincin?” “Iya.” “Cincin?” “Iya!” “Yang ini?” “Iya!” Membuat Sonia langsung memegangi kepalanya. “Astaga.” “Sonia.” “Astaga!” “Sonia!” Naresa benar-benar panik sekarang. Karena Sonia terlalu heboh. Dan mereka sedang be
“Mau makan apa?” Tanya Zavian yang saat ini sedang menyetir mobil. Mereka baru saja meninggalkan tempat magang. Setelah beberapa hari cuti karena sakit. Akhirnya hari ini Naresa kembali masuk. Dan hasilnya. Tubuhnya langsung terasa lelah. “Seblak.” “Tidak boleh.” Seketika Naresa langsung menoleh. “Hah?” “Kamu baru sembuh.” “Namun aku sudah sehat.” “Tidak.” “Zavian.” “Tidak.” Membuat Naresa langsung mengerucutkan bibirnya. “Kalau begitu bakso.” “Boleh.” “Serius?” “Iya.” “Nah kan.” Membuat Zavian menggeleng kecil melihat wajah Naresa yang langsung berbinar. Seolah seluruh kelelahannya menghilang hanya karena mendengar kata bakso. “Kamu hari ini bagaimana?” “Hm?” “Magangnya.” “Capek.” “Selain capek?” “Banyak laporan.” “Lalu?” “Pembimbingnya masih killer.” Membuat Zavian terkekeh pelan. Sedangkan Naresa langsung mendengus. “Aku serius.” “Aku juga serius.” “Heh.” “Namun setidaknya hari ini kamu tidak memaksakan diri lagi.” Membuat Naresa langsung terdia
“Naresa, kamu tidak apa-apa?” tanya Sonia dengan nada khawatir saat melihat wajah sahabatnya yang tampak pucat sejak pagi. Saat ini mereka sedang berada di laboratorium. Namun sedari tadi. Naresa terlihat tidak fokus. Bahkan beberapa kali gadis itu memegangi kepalanya. “T-tidak apa-apa,” jawab
“Ah, nggak terasa sudah satu bulan. Sisa satu bulan lagi magang kita berakhir,” gerutu Sonia sambil merebahkan kepalanya di atas meja. “Benar,” sahut Naresa sambil menghela napas panjang. “Aku sangat capek. Aku mengira cuma magang, nggak tahunya tugas juga banyak.” Sonia hanya menganggukkan kepal
“M-maafkan Naresa, A-ayah... Ibu...” ucap Naresa dengan suara yang bergetar. Air matanya terus mengalir. “M-maafkan Naresa...” Seketika Liana langsung berdiri dari duduknya. Namun Naresa lebih dulu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “M-maaf karena sudah mempunyai perasaan seperti ini...” lanju
“Malah dijemput...” gerutu Naresa pelan sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya. “Hah?” Sonia langsung menoleh bingung. “Apa maksudmu?” “Lihat ke depan gerbang.” Saat ini pukul tiga sore. Waktu magang mereka akhirnya selesai. Para siswa mulai keluar dari gedung laboratorium satu per







