Mag-log inNadine menunduk sejenak. Jemarinya meremas lembut kain dress di atas pangkuannya. Rasa bersalah yang teramat besar menghimpit dadanya."Lukas..." cicit Nadine lirih, suaranya bergetar halus. Ia mendongak, menatap Lukas dengan mata berkaca-kaca. "Kumohon... maafkan aku. Maafkan aku atas kekacauan tempo hari, dan maaf karena aku tidak bisa menerima niat baikmu."Lukas menggeleng pelan, senyuman tipis yang pahit terukir di bibirnya. "Kenapa kau meminta maaf, Nadine? Kau tidak bersalah sama sekali. Aku sudah bilang, aku tidak peduli siapa ayah biologis dari bayi di rahimmu. Aku tidak peduli pada noda atau masa lalu. Bagiku, kau adalah prioritas utama. Aku ingin merawatmu, melindungimu, dan menjadi sandaran hidupmu."Nadine menarik napas panjang, menahan sesak yang mendadak mampet di tenggorokannya. Ia menggeleng perlahan, menolak tawaran itu dengan kelembutan yang sama tulusnya."Bukannya kau tidak berharga, Lukas... Justru sebaliknya," ucap Nadine tulus, air matanya
Lima hari berlalu di ruang Suite Room VIP St. Jude Private Hospital dalam ritme yang konstan. Hari-hari tersebut diisi dengan rutinitas medis yang ketat: pergantian perban antiseptik oleh perawat senior, pemantauan grafik electrocardiogram oleh dokter bedah utama, serta dosis antibiotik berkala yang memastikan tidak ada infeksi sekunder pada jahitan di dada kiri Dominic. Di tengah pengawasan medis itu, Dominic mengubah kamar rumah sakit menjadi panggung sandiwara pribadinya. Setiap kali Nadine hendak beranjak duduk di sofa atau sekadar mengambil air minum, pria itu selalu mengeluh nyeri di rusuknya atau mendadak menarik pergelangan tangan Nadine dengan alasan detak jantungnya tidak stabil. Mau tidak mau, Nadine menghabiskan seluruh waktunya di sisi ranjang, menyuapi makanan, merapikan bantal, dan membiarkan Dominic memonopoli perhatiannya secara mutlak tanpa celah. Tepat pada hari kelima, setelah hasil observasi menunjukkan kestabilan fungsi respirasi dan jarin
"Masuk!" bentak Dominic dingin, suaranya menggelegar penuh amarah yang berusaha ditekan.Pintu terbuka secara perlahan. Dokter spesialis bedah utama St. Jude Hospital melangkah masuk, didampingi dua perawat senior yang membawa troli peralatan medis lengkap.Melihat raut wajah sang penguasa Moretti yang membeku kaku dengan binar mata membunuh, dokter bedah paruh baya itu sempat tersentak kecil di ambang pintu. Dokter itu menelan ludah canggung, merasakan atmosfer kamar yang mendadak terasa begitu panas, tegang, dan sarat akan dominasi berbahaya."M-maaf mengganggu waktu istirahat Anda, Tuan Muda Dominic," ucap sang dokter bedah dengan nada teramat sopan dan membungkuk hormat. "Ini sudah jadwal pemeriksaan rutin pagi untuk meninjau perkembangan bekas operasi dada dan pembersihan luka di rusuk Anda."Nadine yang berdiri di samping ranjang dengan canggung buru-buru memundurkan langkahnya. Ia menyeka sisa benang liur di sudut bibirnya yang agak bengkak, lalu membelakangi
Sebuah tarikan napas lega yang amat berat lolos dari dada Dominic. Senyuman kemenangan dan kebahagiaan yang begitu tulus merekah di wajah pria berdarah dingin itu. Tanpa menunggu waktu lagi, Dominic menarik Nadine mendekat, lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat, lembut, namun penuh kepemilikan di dahi wanita itu.Nadine refleks memejamkan matanya rapat-rapat saat bibir Dominic menyentuh kulit keningnya. Rasa hangat dari kecupan itu mengalir cepat menghangatkan seluruh aliran darahnya, menyebarkan gelombang ketenangan yang menenggelamkan rasa takutnya. Seketika itu juga, sesak di dadanya menguap, berganti rasa aman yang teramat dalam di dalam pelukan pria ini.Saat Dominic perlahan memundurkan wajahnya dan melepaskan tautan bibirnya di kening, Nadine membuka kelopak matanya kembali.Mereka berdua terdiam sejenak, saling bertatapan dalam keheningan yang sarat akan cinta dan rasa rindu yang tertahan. Suasana di dalam kamar VIP terasa begitu hening, menyisakan debar d
Suara monitor electrocardiogram di sudut ruangan seolah menjadi satu-satunya latar suara yang menemani keheningan yang mendadak pekat.Nadine masih terpaku di tempatnya. Tatapannya terkunci mati pada kilau biru samudra dari berlian mewah yang melingkar sempurna di jari manis tangan kirinya. Sensasi dingin logam platinum itu berpadu dengan detak jantungnya yang menggila, menciptakan riak emosi yang begitu dahsyat di dalam dada. Lamaran itu bukan sekadar kata-kata manis; itu adalah rantai yang mengikat seluruh sisa hidupnya pada sang penguasa Moretti."Ka... Kak Dominic..." cicit Nadine lirih, suaranya pecah dan bergetar hebat. Bulir air mata bahagianya kian deras menetes, membasahi punggung tangan Dominic yang masih menggenggam jemarinya erat. "Ini... ini gila... Kita... kita tidak mungkin bisa melakukannya. Status kita... dunia kita... dan bayangan keluarga Vance serta para petinggi aliansi...""Shh..." Dominic memotong pelan. Sepasang mata abu-abunya menatap l
Pintu kembali tertutup rapat, menyisakan Dominic dan Nadine dalam keheningan yang intim dan hangat.Nadine menunduk kaku, berusaha keras menutupi debar kencang di dadanya. Tangan mungilnya yang gemetar meraih kembali mangkuk bubur yang sempat terabaikan di atas meja. Ia menyendokkan sedikit bubur hangat, meniupnya perlahan, lalu mengarahkannya tepat ke depan bibir Dominic."Makan lagi... biar cepat sembuh," bisik Nadine lirih, sengaja menghindari kontak mata langsung karena malu.Dominic tersenyum tipis. Ia memajukan wajahnya sedikit, menerima suapan itu dengan patuh. Namun, alih-alih mengalihkan pandangannya, binar mata abu-abunya yang teduh terus mengunci paras ayu Nadine yang berada begitu dekat darinya."Nadine," panggil Dominic pelan usai menelan buburnya."I-iya, Kak...?""Soal pertunangan itu..." Dominic menjeda kalimatnya. Jemarinya yang bebas terangkat perlahan, mengusap lembut helai rambut Nadine yang terurai di bahunya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "...ja







