LOGINDua hari berlalu sejak ketegangan mencekam di ruang ICU terisolasi.Dominic kini telah dipindahkan ke Suite Room VIP lantai paling atas St. Jude Private Hospital, sebuah kamar perawatan mewah bernuansa hangat yang dilengkapi pengamanan ketat tingkat tinggi dari pasukan elite Moretti.Proses pemulihan Dominic dipastikan memakan waktu yang cukup lama. Selain luka tembak baru yang menembus dada kirinya usai melindungi Nadine dari tembakan Maximillian Miller, luka gores tembakan lama di rusuk kanannya yang sempat jahitan-nya renggang juga membutuhkan perhatian medis ekstra. Tubuh tegap si sulung Moretti itu kini dipenuhi balutan perban ketat di dua sisi torso-nya.Namun, di balik kondisinya yang bertaruh nyawa, sifat dominan dan posesif seorang Dominic Moretti justru meningkat ke tahap yang tak masuk akal."Tidak mau."Suara berat dan datar milik Dominic memotong keheningan kamar. Pria itu bersandar di ranjang pasien dengan beberapa bantal menyangga punggungnya. Waja
Suara monitor electrocardiogram berbunyi makin cepat, menggema di seluruh sudut ruangan steril."Tekanan darah berangsur naik! Saturasi oksigen meningkat pesat!" pangkas dokter bedah utama penuh rasa lega seraya mencatat refleks pupil mata Dominic. "Tuan Muda, bisakah Anda mendengar suara saya? Angkat sedikit jemari tangan Anda jika mendengar."Dominic tidak mengindahkan pertanyaan dokter itu. Rasa terbakar yang menusuk-nusuk di dada kirinya seolah tak berdaya menghentikan pandangannya. Di balik masker oksigen yang membingkai bibirnya yang pucat, sepasang mata abu-abu yang tajam itu hanya terkunci lurus pada sosok Nadine yang berdiri di balik dinding kaca steril.Di luar ruangan, udara terasa mendadak membeku.Nadine menyapukan telapak tangannya ke cermin kaca yang dingin, air mata leganya menetes kian deras. Binar mata abu-abu Dominic yang menatapnya penuh kepemilikan seolah mencabut seluruh beban teror yang menghimpit dadanya sejak semalam. Pria itu hidup. Domin
BYUR!Dingin yang merajam tulang langsung menghantam seluruh kesadarannya. Air laut yang pekat dan bergelombang tinggi menggulung tubuh Dominic tanpa ampun.Sensasi itu terasa begitu nyata. Pria itu terombang-ambing di tengah lautan lepas yang kelam. Pasokan udara di dadanya terkuras habis, paru-parunya serasa terbakar, dan napasnya tersengal-sengal menahan asinnya air yang terhitung masuk ke tenggorokannya. Dari kejauhan, di atas geladak kapal yang bergerak menjauh, Arthur Miller berdiri bersama Christian dan Maximillian Miller, menyunggingkan senyum miring penuh cemoohan. 'Apakah aku harus menyerah di sini...?' Rasa lelah yang luar biasa perlahan menenggelamkan jiwanya. Kegelapan merayap cepat, menarik tubuh tegapnya kian dalam ke dasar samudra yang dingin. Namun tepat di saat kesadarannya nyaris padam total, sebuah kehangatan nan lembut menyentuh bibirnya. Sebuah sentuhan singkat yang menyalurkan hembusan napas kehidupan yang amat berharga. "Terny
Fajar menyingsing di atas langit Kota Nasan, memancarkan sinar keemasan yang dingin melintasi tirai tipis kamar VIP St. Jude Private Hospital. Suara desir angin pagi beradu halus dengan denting ritmis pendingin udara. Di koridor khusus ICU, suasana tenang yang tegang masih menggantung pekat. Nadine duduk bersandar di kursi panjang yang terpasang tepat di samping dinding kaca steril. Selama sisa malam yang mencekam usai krisis jantung Dominic, wanita itu menolak mentah-mentah untuk kembali ke kamar perawatannya. Ia memilih bertahan di sana, mendekap kedua lututnya seraya terus memandangi sosok Dominic yang terbaring kaku di bawah pantauan monitor. Matanya yang bengkak kini menyipit layu, memancarkan keletihan fisik dan mental yang teramat sangat. "Kau tidak mendengarkan perkataan ibumu sama sekali, ya?" Suara berat khas Sebastian memecah keheningan koridor. Pria paruh baya itu melangkah mendekat dengan setelan jas baru yang rapi, meski raut di wajahnya yang tegas tak mampu me
BEEP! BEEP! BEEP!Suara sirene bahaya di dalam ruang ICU terisolasi melengking tajam, memotong keheningan malam yang sunyi.Pintu ganda berlapis baja seketika terbuka kasar. Tim medis darurat bersama dua dokter spesialis jantung berhamburan masuk dengan langkah tergesa-gesa. Mereka bergerak cepat mengelilingi ranjang Dominic yang terbaring kaku."Tekanan darah merosot drastis! Cardiac arrest!" teriak dokter utama seraya menarik alat defibrillator mesin kejut jantung mendekati ranjang. "Siapkan 200 Joules! Cepat!"Di luar ruang ICU, panik melanda tanpa ampun."KAK DOMINIC! KAKAK!"Nadine menjerit histeris. Wajahnya yang pucat bertambah hilang darah. Kedua tangannya menghantam dinding kaca tebal yang memisahkan mereka, matanya menyaksikan dengan jelas bagaimana tubuh tegap Dominic tersentak keras ke atas setiap kali sengatan listrik menghantam dadanya yang terbalut perban."Tenang, Nadine! Jangan maju!" seru Matteo serak. Pria itu merangkul dan menah
Aroma sabun pembersih menggantikan bau amis darah yang menyengat.Nadine berdiri mematung di depan cermin kamar mandi VIP. Pakaian gaun pengantin krem yang penuh noda darah telah tergantikan oleh pakaian piyama katun longgar berwarna biru muda. Wajahnya yang polos tampak begitu kuyu, dengan lingkaran hitam memayungi matanya yang bengkak.Di atas meja rias, jemari Sarah Maheswari mengusap lembut punggung putri tunggalnya. "Nadine... makanlah sedikit sup hangat ini. Kau belum menyentuh makanan sejak pagi."Nadine menggeleng pelan, suaranya terdengar begitu tipis dan serak. "Tidak lapar, Bu...""Ingat anak di dalam rahimmu, Nak," pangkas Sarah lembut namun menyiratkan ketegasan seorang ibu. "Kalau kau sakit dan tubuhmu drop, bayimu yang akan menanggung akibatnya. Kau mau anak ini kenapa-kenapa?"Mendengar penekanan ibunya, Nadine menunduk kaku. Pandangannya jatuh ke arah perutnya yang masih datar. Ada gejolak rasa bersalah yang teramat dalam. Demi melindungi anak i







