LOGINLima Tahun Kemudian...
Sinar matahari pagi yang hangat menyinari taman bunga yang luas di pelataran belakang Mansion Saint Noire. Di atas rumput hijau yang terawat rapi, seorang anak laki-laki berusia empat tahun lebih berwajah amat tampan, dengan garis rahang tegas dan manik mata abu-abu yang persis seperti Dominic sedang memegang sebuah pistol mainan berbahan logam ringan. Matteo Moretti duduk berlutut di samping keponakannya, membimbing jemari mungil bocah ituLima Tahun Kemudian... Sinar matahari pagi yang hangat menyinari taman bunga yang luas di pelataran belakang Mansion Saint Noire. Di atas rumput hijau yang terawat rapi, seorang anak laki-laki berusia empat tahun lebih berwajah amat tampan, dengan garis rahang tegas dan manik mata abu-abu yang persis seperti Dominic sedang memegang sebuah pistol mainan berbahan logam ringan. Matteo Moretti duduk berlutut di samping keponakannya, membimbing jemari mungil bocah itu memegang gagang senjata mainan tersebut dengan posisi menembak sempurna. "Pegang yang kokoh, Lucian. Tarik napas, kunci sasaranmu di batang pohon itu, lalu tekan pelatuknya," ajaran Matteo dengan senyum santai di wajahnya. TAK! Peluru plastik meluncur tepat menabrak batang pohon. Matteo tertawa kecil seraya menepuk bahu kecil bocah itu. Nadine yang melangkah keluar ke teras taman dengan gaun longgar berwarna cream langsung menghentikan langkahnya. Matanya
Pesta resepsi yang megah di ballroom utama akhirnya usai saat malam kian melarut. Pintu ganda kamar pengantin di sayap utama Mansion Saint Noire menutup rapat, mengunci seluruh hiruk-pikuk dunia luar. Di dalam kamar bernuansa keemasan yang dihiasi ribuan kelopak mawar merah dan aroma lilin aromaterapi vanila yang manis, Nadine berdiri canggung di tepi ranjang berukuran king size. Gaun pengantin off-white berhiaskan kristal Swarovski miliknya terasa begitu berat, membalut lekuk tubuhnya yang makin anggun dengan perut yang membuncit tipis di usia kehamilan empat bulan. Dominic menutup pintu dengan satu dorongan mantap, menguncinya rapat-rapat, lalu berbalik perlahan. Pria itu melepas jas tuxedo hitamnya, membuangnya begitu saja ke lantai, lalu melonggarkan ikatan dasi kupu-kupunya dengan gerakan lambat yang sarat akan dominasi berbahaya. Binar mata abu-abunya yang biasanya dingin kini membara oleh gelora gairah yang telah lama ia bendung mati-matian—menunggu momen di mana w
Katedral Utama di kota Nasan berdiri megah di bawah naungan langit biru yang jernih. Karpet merah beludru terbentang sepanjang lorong tengah gereja, diapit oleh deretan kursi ukir kayu jati yang dihiasi rangkaian bunga white calla lily dan rose quartz yang merebakkan aroma harum nan menenangkan.Pernikahan ini menjadi puncak sejarah baru bagi dunia bawah tanah. Seluruh petinggi aliansi kelas atas, penguasa wilayah utara, jajaran diplomat internasional, hingga keluarga-keluarga berpengaruh hadir memenuhi ruangan. Di barisan paling depan sebelah kanan, William Kaiser Vance dan istrinya, Elena Vance, duduk anggun menunjukkan dukungan diplomasi penuh, disusul oleh Lukas yang tampil memukau dalam balutan setelan tuxedo klasik berwarna abu-abu gelap.Suara dentang lonceng gereja bergema lima kali, menyambut dimulainya alunan instrumen piano dan gesekan biola bernada Pachelbel's Canon in D.Pintu utama yang menjulang tinggi perlahan terbuka lebar.Seluruh tamu unda
Suara dehem berwibawa yang disengaja memecah keintiman di antara mereka.Nadine tersentak kaget dan refleks terlonjak mundur memisahkan diri dari Dominic dengan wajah yang mendadak merona merah padam hingga ke pangkal leher. Ketakutan kecil seketika merayap di dadanya saat mendongak dan melihat siapa yang baru saja melangkah masuk dari koridor utama.Sebastian Moretti berdiri tegap bersama ibu kandung Nadine, Sarah Maheswari. Pria tua berwibawa itu menatap putra dan calon menantunya dengan senyum tipis yang sarat makna, sementara Sarah melangkah perlahan mendekati Nadine dengan pandangan mata yang dipenuhi kehangatan dan keharuan mendalam.Nadine menahan napasnya. Jemarinya meremas kain dress yang ia kenakan. Ada rasa cemas yang menghimpit batinnya, ia sangat takut jika sang ibu akan menolak, marah, atau menentang keputusannya untuk bersanding dengan Dominic setelah segala penderitaan dan takdir rumit yang melingkupi mereka.Namun, dugaan ketakutan itu sirna dalam se
Atmosfer di ruang tamu utama Mansion Saint Noire seketika membeku menjadi es.Dua pria dengan pengaruh terbesar di dunia bawah tanah itu berdiri saling berhadapan, memancarkan aura dominasi yang saling meremukkan. Di satu sisi, Lukas berdiri tegak dengan sisa-sisa ketenangan seorang ningrat yang baru saja kehilangan segalanya. Di sisi lain, Dominic merangkul erat pinggang Nadine, menatap sang rival dengan tatapan membunuh seorang penguasa yang tak akan pernah sudi berbagi wilayah kekuasaan atau wanitanya.Lukas tidak gentar. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan kepahitan sekaligus tantangan."Kau bicara seolah kau adalah dewa yang bisa mengendalikan takdir, Dominic," ucap Lukas dingin, suaranya mengalun rendah tanpa rasa takut. "Tapi ingat, peluru keluarga Miller tempo hari membuktikan bahwa singa terkuat sekalipun bisa jatuh berdarah-darah jika ia lengah."Dominic menyipitkan mata abu-abunya. Rahangnya mengetat keras hingga urat di pelipi
Nadine menunduk sejenak. Jemarinya meremas lembut kain dress di atas pangkuannya. Rasa bersalah yang teramat besar menghimpit dadanya."Lukas..." cicit Nadine lirih, suaranya bergetar halus. Ia mendongak, menatap Lukas dengan mata berkaca-kaca. "Kumohon... maafkan aku. Maafkan aku atas kekacauan tempo hari, dan maaf karena aku tidak bisa menerima niat baikmu."Lukas menggeleng pelan, senyuman tipis yang pahit terukir di bibirnya. "Kenapa kau meminta maaf, Nadine? Kau tidak bersalah sama sekali. Aku sudah bilang, aku tidak peduli siapa ayah biologis dari bayi di rahimmu. Aku tidak peduli pada noda atau masa lalu. Bagiku, kau adalah prioritas utama. Aku ingin merawatmu, melindungimu, dan menjadi sandaran hidupmu."Nadine menarik napas panjang, menahan sesak yang mendadak mampet di tenggorokannya. Ia menggeleng perlahan, menolak tawaran itu dengan kelembutan yang sama tulusnya."Bukannya kau tidak berharga, Lukas... Justru sebaliknya," ucap Nadine tulus, air matanya







