เข้าสู่ระบบSebuah tarikan napas lega yang amat berat lolos dari dada Dominic. Senyuman kemenangan dan kebahagiaan yang begitu tulus merekah di wajah pria berdarah dingin itu. Tanpa menunggu waktu lagi, Dominic menarik Nadine mendekat, lalu mendaratkan sebuah ciuman hangat, lembut, namun penuh kepemilikan di dahi wanita itu.Nadine refleks memejamkan matanya rapat-rapat saat bibir Dominic menyentuh kulit keningnya. Rasa hangat dari kecupan itu mengalir cepat menghangatkan seluruh aliran darahnya, menyebarkan gelombang ketenangan yang menenggelamkan rasa takutnya. Seketika itu juga, sesak di dadanya menguap, berganti rasa aman yang teramat dalam di dalam pelukan pria ini.Saat Dominic perlahan memundurkan wajahnya dan melepaskan tautan bibirnya di kening, Nadine membuka kelopak matanya kembali.Mereka berdua terdiam sejenak, saling bertatapan dalam keheningan yang sarat akan cinta dan rasa rindu yang tertahan. Suasana di dalam kamar VIP terasa begitu hening, menyisakan debar d
Suara monitor electrocardiogram di sudut ruangan seolah menjadi satu-satunya latar suara yang menemani keheningan yang mendadak pekat.Nadine masih terpaku di tempatnya. Tatapannya terkunci mati pada kilau biru samudra dari berlian mewah yang melingkar sempurna di jari manis tangan kirinya. Sensasi dingin logam platinum itu berpadu dengan detak jantungnya yang menggila, menciptakan riak emosi yang begitu dahsyat di dalam dada. Lamaran itu bukan sekadar kata-kata manis; itu adalah rantai yang mengikat seluruh sisa hidupnya pada sang penguasa Moretti."Ka... Kak Dominic..." cicit Nadine lirih, suaranya pecah dan bergetar hebat. Bulir air mata bahagianya kian deras menetes, membasahi punggung tangan Dominic yang masih menggenggam jemarinya erat. "Ini... ini gila... Kita... kita tidak mungkin bisa melakukannya. Status kita... dunia kita... dan bayangan keluarga Vance serta para petinggi aliansi...""Shh..." Dominic memotong pelan. Sepasang mata abu-abunya menatap l
Pintu kembali tertutup rapat, menyisakan Dominic dan Nadine dalam keheningan yang intim dan hangat.Nadine menunduk kaku, berusaha keras menutupi debar kencang di dadanya. Tangan mungilnya yang gemetar meraih kembali mangkuk bubur yang sempat terabaikan di atas meja. Ia menyendokkan sedikit bubur hangat, meniupnya perlahan, lalu mengarahkannya tepat ke depan bibir Dominic."Makan lagi... biar cepat sembuh," bisik Nadine lirih, sengaja menghindari kontak mata langsung karena malu.Dominic tersenyum tipis. Ia memajukan wajahnya sedikit, menerima suapan itu dengan patuh. Namun, alih-alih mengalihkan pandangannya, binar mata abu-abunya yang teduh terus mengunci paras ayu Nadine yang berada begitu dekat darinya."Nadine," panggil Dominic pelan usai menelan buburnya."I-iya, Kak...?""Soal pertunangan itu..." Dominic menjeda kalimatnya. Jemarinya yang bebas terangkat perlahan, mengusap lembut helai rambut Nadine yang terurai di bahunya, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. "...ja
Ruangan VIP itu diliputi ketegangan. Lukas berdiri kaku, tidak bergeming sedikit pun dari posisinya meski Dominic menyuruhnya pergi secara terang-terangan. Binar mata tajam calon penguasa keluarga Vance itu memancarkan keberanian mutlak. Lukas menarik napas panjang, menatap lurus sepasang mata abu-abu Dominic yang dipenuhi aura ancaman. "Kau pikir ucapanmu bisa menyuruhku pergi begitu saja, Dominic?" sahut Lukas, suaranya mengalun rendah namun amat tegas, memotong hening kamar perawatan. "Aku datang ke sini untuk menemui Nadine, bukan untuk meminta izin darimu." Dominic menyandarkan kepalanya di bantal, menyunggingkan senyum tipis yang dingin dan sarat cemoohan. "Nadine sedang merawatku. Kehadiranmu hanya mengganggu ketenangannya." "Mengganggu?" Lukas terkekeh sinis, melangkah satu pijakan lebih dekat ke sisi ranjang tanpa takut pada ancaman Dominic. "Aku sudah mengenal Nadine jauh sebelum kau terdampar di pantai itu, Dominic. Delapan belas tahun lalu... satu tahun sebelum
Atmosfer di dalam Suite Room VIP seketika membeku.Aroma bunga segar yang dibawa Lukas menguap oleh ketegangan samar yang mendadak pekat. Dominic yang baru saja menerima suapan bubur dari Nadine masih mengunyah pelan, namun sepasang mata abu-abunya yang dingin menatap lurus ke arah Lukas Vance tanpa berkedip sedikit pun.Lukas menghentikan langkahnya beberapa langkah di depan ranjang. Tatapannya berselisih sengit dengan Dominic sebelum beralih lembut pada Nadine."Selamat pagi, Nadine," sapa Lukas dengan suara rendah dan tenang. Ia menyodorkan buket mawar merah muda yang bawanya. "Aku membawakan ini untukmu agar kau tidak terlalu muram."Nadine tersentak canggung. Ia hendak berdiri dari kursinya untuk menerima bunga tersebut. "Lukas... terima kasih banyak, kau tidak perlu...""Aww... sakit sekali!"Dominic meringis pelan, ia mendadak memegangi dada kirinya dengan raut wajah yang mendadak menegang kesakitan. Tubuhnya agak condong ke depan, menarik napas
Dua hari berlalu sejak ketegangan mencekam di ruang ICU terisolasi.Dominic kini telah dipindahkan ke Suite Room VIP lantai paling atas St. Jude Private Hospital, sebuah kamar perawatan mewah bernuansa hangat yang dilengkapi pengamanan ketat tingkat tinggi dari pasukan elite Moretti.Proses pemulihan Dominic dipastikan memakan waktu yang cukup lama. Selain luka tembak baru yang menembus dada kirinya usai melindungi Nadine dari tembakan Maximillian Miller, luka gores tembakan lama di rusuk kanannya yang sempat jahitan-nya renggang juga membutuhkan perhatian medis ekstra. Tubuh tegap si sulung Moretti itu kini dipenuhi balutan perban ketat di dua sisi torso-nya.Namun, di balik kondisinya yang bertaruh nyawa, sifat dominan dan posesif seorang Dominic Moretti justru meningkat ke tahap yang tak masuk akal."Tidak mau."Suara berat dan datar milik Dominic memotong keheningan kamar. Pria itu bersandar di ranjang pasien dengan beberapa bantal menyangga punggungnya. Waja







