LOGINKehidupan Thalia Blaine yang awalnya dipenuhi dengan kesempurnaan, berubah ketika kesepakatan yang dilakukan oleh perusahaan ayahnya dibatalkan secara sepihak. Membuat Thalia mendadak ditargetkan oleh musuh, satu-satunya cara untuk menyelamatkan Thalia dari hidupnya adalah melakukan pernikahan dengan seorang pria misterius yang bahkan Thalia sendiri tidak tahu apa pekerjaannya. Thalia berharap hari-hari setelah menikah akan ia jalani seperti biasa, namun sedikit demi sedikit Thalia malah menemukan sebuah fakta mengejutkan soal keluarganya, ditambah tekanan dari dunia suaminya yang berbeda jauh dari dunianya, akankah Thalia bisa menghadapi semuanya sendiri?
View MoreSore itu berjalan seperti biasanya. Mobil yang dikendarai oleh Thalia berhenti tepat di depan mansion Blaine. Namun ada satu hal yang membuat kening Thalia berkerut, beberapa mobil mewah berwarna hitam terparkir rapi di halaman kediaman itu. Thalia tahu tentang betapa sibuk dan banyaknya tekan kerja ayahnya, tetapi baru kali ini dia melihat mobil terparkir sebanyak ini. Tidak seperti biasanya.
"Ayah sedang kedatangan tamu?" gumam Thalia pelan. Perhatiannya teralihkan ketika para pelayan datang dan membukakan pintu untuknya sementara yang lainnya beralih ke pintu belakang, tempat dimana paper bag berlogo butik ternama dan barang-barang mahal lainnya berada. Thalia baru saja pulang dari aktivitas hariannya, menghabiskan uang ayahnya. Thalia akhirnya keluar dari mobil, pandangannya terhenti sejenak. Ada beberapa pria asing berjaga di sekitar pintu masuk, wajah-wajah yang sama sekali tidak dikenalinya. Mereka bukan pengawal ayahnya, seragam gelap dan sikap waspada mereka berbeda dari para pengawal keluarganya yang selama ini sudah begitu familiar baginya. Thalia melangkahkan kakinya ke arah pintu masuk. Biasanya pengawal ayahnya akan menyapanya, namun mereka hanya diam. Gadis berambut coklat itu memutuskan untuk tidak mengambil pusing dan tetap berjalan kedepan, hanya melirik sekilas sebelum fokus ke tujuannya, ruang kerja ayahnya. Saat baru membuka sedikit pintu kerja ayahnya, Thalia melihat ayahnya duduk meja kerjanyasementara beberapa pria berdiri tidak jauh darinya. Namun perhatian Thalia langsung tertuju pada satu orang yang duduk di sofa. Seorang pria yang mengenakan setelan hitam sederhana tetapi jelas bukan pakaian sembarangan. Rambut hitamnya dan mata birunya itu membuat Thalia secara terang-terangan terus menatapnya. Tubuh pria itu bersandar tenang pada sofa, satu tangan berada di sandaran sementara wajahnya mengarah kepada Jonathan Blaine, ayah Thalia. Thalia tidak mengerti mengapa suasananya begitu serius. Biasanya ruang kerja ayahnya terasa hangat. Namun, sore ini berbeda. "Aku sudah mencoba memperbaikinya," lanjut Jonathan. "Aku menjual beberapa aset yang tidak terlalu penting. Menghentikan proyek yang tidak terlalu mendesak. Menggunakan cadangan dana untuk mempertahankan perusahaan... dan itu tetap tidak cukup." "Masalahnya bukan perusahaanmu," ujar Childe. "Lalu?" "Kesepakatan itu." Ruangan mendadak terasa lebih sunyi, Sedang Thalia mengerutkan dahinya bingung. "Aku sudah membatalkannya, aku tidak punya pilihan." Raut wajah Jonathan mulai sedikit berubah. Childe menatap Jonathan tanpa ekspresi. "Selalu ada pilihan." Jonathan menghela nafas kasar. "Aku tidak bisa menyerahkan perusahaan dan orang-orangku kepada mereka." "Dan sekarang mereka menganggap itu sebagai penghinaan." Apa yang Childe katakan adalah kenyataan dan Jonathan tidak bisa menghindarinya. Perlahan jari Jonathan mengetuk-ngetuk pelan ke meja. "Aku sudah menawarkan kompensasi." "Mereka tidak menginginkan uangmu." "Lalu apa yang mereka mau?" Pertanyaan itu keluar begitu saja. Kedua pria tersebut terdiam sementara Jonathan mulai mengalihkan pandangannya ke arah Thalia yang masih mengintip. Ya, dia tahu kalau Thalia sedang mengintip. Pria itu juga ikut mengalihkan pandangannya ke arah Thalia lalu sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman miring. Thalia mendadak gugup dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, seolah baru saja ketahuan menatap seseorang terang-terangan, meskipun pria itu sudah menyadarinya sejak pertama kali Thalia menatapnya. "Kenapa?" ucap Thalia sambil menatap ayahnya sambil berjalan keluar dari persembunyiannya. Jonathan menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada." "Papa?" "Ini urusan bisnis," ucap Jonathan sambil menatap berkas di tangannya. "Terus kenapa semuanya terdengar seperti masalah besar?" Jonathan tidak menjawab. Sementara pria yang tadinya bersandar di sofa itu justru mengambil gelas yang berada di atas meja dan meneguk sedikit sebelum berkata, "Mereka ingin membuatmu kehilangan sesuatu yang tidak bisa kau beli kembali." Jonathan menatapnya tajam. "Jangan." Thalia semakin bingung. "Apa maksudnya?" Jonathan mengusap wajah sebelum akhirnya bersandar di kursinya. "Mereka sudah mulai mencari cara untuk mendekat." "Siapa?" tanya Thalia bingung. "Orang-orang yang terlibat dalam kesepakatan itu," balas Ayahnya yang membuat Thalia mengernyit. "Thalia, papa bisa kehilangan semua yang sudah papa bangun selama puluhan tahun." Thalia terdiam namun ayahnya tidak terlihat terlalu takut kehilangan semua itu. Tatapannya justru jatuh kepada putrinya. "Tapi bukan itu yang papa takutkan." Thalia menatapnya. "Lalu?" Jonathan terdiam cukup lama. "Papa takut mereka akan menyentuhmu." Thalia sedikit terkejut mendengar perkataan ayahnya, ia menatap ayahnya bingung. "Aku? Kenapa mereka tahu aku?" "Karena kau putri papa." Jawaban itu terdengar sederhana namun justru membuat Thalia semakin tidak nyaman. Ia menoleh kepada pria yang duduk di seberangnya, pria itu sedang memperhatikannya. Tatapannya berbeda dari sebelumnya seolah pria itu sedang menilai sesuatu yang tidak diketahui Thalia. "Papa akan melindungiku, kan?" tanya Thalia pada akhirnya. Pertanyaan itu membuat ayahnya terdiam cukup lama dan jawaban akhirnya keluar justru membuat hati Thalia terasa tidak enak. "Papa tidak yakin," bahkan Jonathan tidak berani menatap putrinya. Thalia menatapnya tidak percaya. Ayahnya tidak pernah mengatakan kalimat seperti itu. "Kenapa?" Jonathan menunduk sebentar sebelum menatap putrinya. "Dan itu salah Papa. Ada keputusan yang harus papa ambil." "Keputusan apa?" Tidak ada jawaban selama beberapa detik, Thalia mulai merasa tidak nyaman. Kemudian Jonathan mengalihkan pandangan kepada pria yang sejak tadi duduk dengan tenang di sofa. "Papa sudah meminta bantuannya." Thalia mengikuti arah pandangan ayahnya. Pria itu. "Bantuan apa?" Thalia menatap Jonathan bingung. Jonathan menjawab dengan suara yang jauh lebih tenang daripada sebelumnya. "Mulai sekarang, dia yang akan memastikan kau tetap aman." Thalia mengerutkan kening. "Maksud papa?" "Kau akan menikah dengannya,” ucap Jonathan dengan nada tegas. “Papa serius?” tanya Thalia sambil menatap Jonathan dengan tatapan tak percaya. “Ya,” jawab Jonathan tanpa ada rasa ragu sedikitpun. “Aku bahkan tidak tahu dia siapa, bagaimana mungkin aku menikah dengannya?!” Thalia sedikit frustasi, dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi sehingga Jonathan berpikir untuk menikahinya dengan orang asing. Jonathan menghela nafas panjang. “Karena Papa sudah tidak bisa menjamin keselamatanmu lagi.” Thalia terdiam cukup lama. Kalimat itu terasa jauh lebih menakutkan daripada pengumuman pernikahan itu sendiri. “Kenapa Papa berbicara seperti itu?” Jonathan menatap putrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Thalia, keadaan sudah berubah.” Thalia mulai berpikir cepat, mencari jalan lain untuk membujuk ayahnya agar tidak melakukan hal yang Thalia tidak inginkan. “Kalau perusahaan Papa sedang bermasalah, kita bisa memperbaikinya.” Sementara Jonathan hanya menatap putrinya, tatapan yang biasanya penuh keyakinan itu justru dipenuhi sesuatu yang belum pernah Thalia lihat sebelumnya. Keputusasaan. Thalia terdiam. Jonathan bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati jendela besar di belakang meja. Beberapa kendaraan hitam masih terparkir di luar, sementara pria-pria asing berdiri di berbagai sudut halaman. Jonathan menarik nafas panjang sebelum akhirnya berkata, “Pernikahan ini bukan karena Papa ingin menjodohkanmu.” “Lalu kenapa Papa melakukannya?” Thalia berusaha keras untuk memahami isi pikiran ayahnya, namun hasilnya benar-benar tidak bisa dimengerti. “Ini sebagai perlindungan, Thalia.” “Aku bisa melindungi diriku sendiri,” jeda Thalia. “Papa bisa menambah pengawal untukku, atau pindahkan saja aku keluar negeri.” Childe melirik Thalia ketika gadis itu bersusah payah membujuk ayahnya sendiri, sementara Jonathan menghela napas panjang. “Semua itu tidak akan cukup.” Thalia terdiam. “Tidak ada tempat yang benar-benar aman selama kau masih menggunakan nama keluarga kita, nama Blaine.” Thalia menatap ayahnya untuk yang kesekian kalinya. Kalimat itu perlahan membuat pikirannya kosong. “Dan nama keluarga Tuan Childe, akan melindungimu ketika aku sudah tidak sanggup untuk melindungimu lagi.” Perkataan itu keluar dengan mantap dari seorang Jonathan Blaine, sosok yang selama ini selalu Thalia percaya sebagai pahlawan terbaiknya, namun kini tampaknya masalah yang dialami oleh Jonathan tidak sesimpel itu sehingga mau tak mau Thalia harus menuruti keinginannya. “Jadi… aku harus menikah dengan orang asing supaya aman?” nada suara Thalia mulai terdengar sedikit kesal. “Dia bukan orang sembarangan.” Jonathan melangkah ke arah sofa, tempat dimana Childe duduk dengan santai sambil menyimak drama di antara anak dan ayah ini. Thalia spontan menoleh kepada Childe. Pria itu masih duduk dengan tenang, tatapannya bertemu dengan mata Thalia. Kali ini Thalia tidak langsung mengalihkan pandangan. “Apa sebenarnya pekerjaanmu?” Childe tidak langsung menjawab, justru Jonathan yang menjawab. “Dia memiliki cukup kekuasaan untuk menjagamu.” Thalia mengerutkan kening. “Jawaban Papa aneh.” Childe akhirnya angkat bicara. “Pekerjaanku tidak akan menjadi masalah selama kamu mengikuti kesepakatan.” Thalia menatapnya heran. “Kesepakatan?” “Pernikahan ini, bukan pernikahan yang dibangun atas perasaan.” Suara Childe rendah dan datar saat mengatakannya hingga membuat Thalia sempat terdiam. “Bagus,” jawab Thalia cepat. Childe menatapnya, “aku juga tidak berniat memaksamu memiliki perasaan apapun terhadapku.” Thalia sedikit terkejut. Setidaknya pria itu tidak terdengar seperti seseorang yang berharap banyak darinya. “Lalu apa yang kau inginkan?” “Kerja sama.” “Kerja sama?” ucap Thalia mengulangi perkataan Childe dengan bingung. “Pernikahan ini akan menjadi hubungan kontraktual. Kau mendapatkan perlindungan. Aku mendapatkan sesuatu yang sudah disepakati ayahmu.”"Ada hal-hal yang belum bisa ku bicarakan denganmu," jawab Childe sambil mengalihkan pandangan sesaat. Thalia langsung mendorong kursinya sedikit ke belakang. "Karena aku hanya istri kontrakmu?" tanya Thalia dengan senyum pahit sambil menatap cincin di jarinya. Childe kembali menatapnya sebelum menjawab. "Karena semakin sedikit yang kau ketahui sekarang, semakin kecil kemungkinan kau melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu sendiri," kata Childe sambil menegakkan tubuh. Thalia terdiam. Jawaban itu justru membuat kecurigaannya semakin besar. Perempuan itu menundukkan kepala, berpura-pura kembali memperhatikan sarapannya. Namun, pikirannya terus berputar mencari jawaban atas pertanyaan yang belum terpecahkan. Jika Childe benar-benar ingin melindunginya, mengapa pria itu selalu menutup mulut setiap kali ia bertanya tentang kematian ayahnya? Dan jika Childe mengetahui sesuatu, apakah ia sengaja merahasiakannya? Sarapan berakhir tanpa percakapan yang penting. Thalia meninggalka
"Kau terlambat sepuluh menit," ujar Childe sambil melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Thalia langsung menatap Childe yang duduk di meja panjang. Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, sementara sebuah tablet terletak di samping piring sarapannya. Thalia menarik kursi di seberangnya, kemudian duduk tanpa menunjukkan ekspresi bersalah. "Kalau begitu, kau bisa mulai sarapan tanpa menungguku," jawab Thalia sambil meletakkan kedua tangan di pangkuan. Childe menutup tablet di hadapannya sebelum memberikan isyarat kepada pelayan yang berdiri di dekat meja. "Aku ingin membicarakan jadwalmu hari ini," kata Childe sambil menatap Thalia. "Silakan sajikan sarapannya." Thalia memperhatikan hidangan yang diletakkan di hadapannya, lalu kembali memandang Childe. "Aku tidak punya jadwal apapun," jawab Thalia sambil mengambil serbet dan meletakkannya di pangkuan. "Aku hanya ingin menghabiskan hari ini di kamar." "Kau akan bertemu kepala pelayan, pengurus rumah, dan
"Aku tidak membunuh ayahmu," jawab Childe tegas sambil menatap langsung ke mata Thalia. Thalia terdiam sesaat. Kedua tangannya mengepal ketika mendengar jawaban tersebut. "Aku tidak mengatakan kau yang menembaknya!" balas Thalia sambil melangkah mendekati Childe. "Tapi kau tetap mengambil kesempatan terakhirku untuk melihatnya!" Childe menurunkan pandangan selama sesaat sebelum kembali menatap gadis itu. "Kejadian itu tidak bisa diubah sekarang," jawab Childe dengan suara rendah sambil menahan tatapan Thalia. "Karena kau sudah memastikan semuanya terjadi tanpa sepengetahuanku!" seru Thalia dengan nada frustasi. "Thalia," panggil Childe dengan suara lebih rendah sambil berusaha mempertahankan ketenangannya. "Jangan panggil namaku seolah kita sedang membicarakan hal yang biasa!" potong Thalia. "Aku kehilangan Papa-ku, Childe. Aku tidak membutuhkan jadwal kegiatan, pakaian baru, atau perkenalan dengan orang-orangmu!" Childe mengusap rahangnya sambil mengembuskan napas panjang. "
"Bagaimana aku bisa hidup seperti ini, Pa?" Thalia duduk di tepi ranjang sambil menggenggam erat cincin pernikahannya. Air mata kembali mengalir membasahi pipinya saat ia menundukkan kepala, mengingat wajah ayahnya yang terakhir kali ia lihat di lobi hotel. "Aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal kepada Papa," bisik Thalia sambil menutupi wajah dengan kedua tangan, bahunya bergetar. Thalia mengangkat wajahnya perlahan sambil mengusap pipi menggunakan punggung tangan. Tatapannya jatuh pada pintu kamar yang tertutup rapat, mengingat kembali sosok Childe yang berdiri di hadapannya beberapa jam lalu. Tatapan dingin pria itu, cara ia menangkap pergelangan tangannya, kalimat yang diucapkannya tanpa keraguan sedikit pun. Thalia menggigit bibir bawahnya sambil mengepalkan tangan di atas pangkuan. "Aku membencimu, Childe," gumam Thalia dengan suara bergetar sambil memalingkan wajah. "Aku benar-benar membencimu." Suara ketukan dari arah pintu membuat Thalia langsung menoleh.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.