LOGINDarah hitam yang membasahi lantai kayu dan kain rami di kamar pondok memang telah dibersihkan hingga tak bersisa. Namun, aroma tembaga yang samar serta hawa dingin asing yang membekukan tulang masih tertinggal pekat di dalam udara. Di luar, embun pagi menyelimuti lereng Pegunungan Utara dalam kabut tipis yang kelabu. Pepohonan pinus berdiri tegak bagaikan prajurit bisu, menyaksikan penderitaan yang tak tersuarakan dari dalam rumah kayu sederhana itu.Di atas ranjang kayu, Yi Fang terbaring pucat. Wajahnya yang biasa merona anggun dan hangat kini memutih pasi, bagaikan ukiran pualam tanpa nyawa. Helaan napasnya teratur namun teramat tipis—seolah helai kehidupannya hanya terikat pada seutas benang lapuk yang sewaktu-waktu bisa terputus oleh hembusan angin paling pelan sekalipun. Bibirnya yang mengering masih membekaskan rona kehitaman pucat di garis sudutnya, menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya sengatan ghaib yang menghantam jiwanya semalam.Di samping ranjang, Hao Yu tak bergeming sed
Malam di lereng Pegunungan Utara terasa jauh lebih pekat dan mencekam dari biasanya. Angin kencang bertiup melintasi celah perbukitan, meliukkan pepohonan pinus dan menimbulkan suara raungan misterius yang bersahut-sahutan. Di dalam pondok kayu, api perapian berkobar gelisah, memancarkan bayang-bayang panjang yang menari-nari liar di dinding kayu.Yi Fang berbaring telentang di atas ranjang. Tubuhnya dibungkus oleh tiga lapis selimut kain rami tebal, tetapi hawa dingin yang menggerogoti tubuhnya sama sekali tidak berkurang sedikit pun. Wajahnya yang biasa merona anggun kini memucat pasi bagaikan mayat.Hao Yu duduk bersandar di sampingnya, memegang erat kedua tangan Yi Fang yang terasa dingin seperti es batu. Pria tegap itu tak membiarkan matanya terpejam sekejap pun. Firasat buruk yang teramat sangat terus menekan dadanya sejak kepulangan mereka dari tempat Tabib Song, membuat setiap detik yang berlalu terasa bagaikan siksaan yang lambat."Jam berapa sekarang, Hao Yu?" bisik Yi Fang
Lampu-lampu tabung dari ruang bawah tanah Kejaksaan Distrik Kota memantulkan cahaya dingin pada deretan layar monitor yang menampilkan berbagai berkas digital. Suara ketukan tombol keyboard berpadu dengan dengung mesin pendingin ruangan, menciptakan suasana tegang di dalam ruang kerja Unit Kejahatan Khusus dan Penyidik Kejaksaan.Jaksa Han berdiri menatap tajam ke arah layar utama di depannya. Di layar itu, terpampang rekaan topografi digital tiga dimensi dari area Tebing Wanghai—lokasi jatuhnya Jia Li, perancang busana muda berbakat pemilik Jia's Atelier."Bagaimana kemajuan dari analisis data komputer genggam yang disita dari apartemen Ming Na?" tanya Jaksa Han dengan suara serak.Seorang ahli forensik digital mengklik tetikusnya beberapa kali, memunculkan berkas terenkripsi, data transaksi perbankan Swiss, serta rekaman percakapan suara yang baru berhasil diekstrak."Hasilnya sangat mutlak, Pak," jelas teknisi itu. "Rekaman suara di komputer tua Ming Na membuktikan secara eksplisit
Hawa dingin malam di perbukitan biasanya menghadirkan ketenangan tersendiri bagi siapa saja yang berlindung di dalam rumah kayu mereka. Suara derak kayu bakar dari tungku perapian berpadu lembut dengan helaan napas teratur dari sosok pria tegap yang tertidur lelap di sisi ranjang. Namun bagi Yi Fang, malam itu justru menjadi awal dari siksaan yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.Sentuhan hangat dari telapak tangan Hao Yu yang melingkar di perutnya sama sekali tak mampu mengusir rasa beku yang mendadak menyeruak dari balik tulang belakangnya. Itu bukan dingin yang berasal dari hembusan angin perbatasan yang menerobos celah jendela. Rasa dingin itu merayap dari dalam sumsum tulangnya sendiri, merembes pelan mematikan tiap sel darah yang mengalir di dalam tubuhnya.Yi Fang terbangun dengan mata melotot lebar. Paru-parunya mendadak mengempis sepenuhnya, menolak untuk menarik udara sekeliling. Ia mencoba menghirup napas, tetapi dadanya seolah dihimpit batu berukuran raksasa. Rasanya
"Kalau jarumnya ditusuk sejajar begitu, pola garis bintik-bintiknya tidak akan melengkung pas di sudut."Yi Fang menatap ke arah tangan besar yang mencoba memegang jarum sulam kecil di depannya. Hao Yu duduk di atas bangku kayu, napasnya tertahan dan dahinya berkerut ketat seolah sedang menghadapi ribuan prajurit musuh di garis depan. Pria berbadan tegap itu tampak begitu canggung memegang sehelai benang sutra tipis dengan jemarinya yang penuh kapalan.Yi Fang tidak bisa menahan tawa kecilnya. Suara tawanya yang merdu dan renyah mengudara, menghangatkan ruangan dalam pondok kayu yang malam itu mulai diselimuti hawa dingin perbukitan."Kau ini mantan Panglima Perbatasan yang ditakuti seluruh pasukan musuh," goda Yi Fang seraya mengusap lengan tegap suaminya. "Tapi cuma karena sebatang jarum kecil, wajahmu bisa tegang sampai berkeringat begitu."Hao Yu menghela napas pasrah. Ia menurunkan jarum sulam tersebut, lalu menatap Yi Fang dengan binar kebahagiaan yang berbinar lembut di matanya
Musim gugur perlahan melarikan diri, berganti menjadi hembusan dingin awal musim salju yang lembut. Kabut putih tebal saban pagi membungkus lembah perbukitan Utara, menyulap pepohonan pinus hijau menjadi deretan raksasa berhias kristal es tipis. Namun di dalam pondok kayu di lereng gunung itu, kehangatan tidak pernah pudar. Asap tipis membumbung pelan dari cerobong dapur setiap pagi, membawa aroma kayu bakar dan rebusan sup herbal segar.Kehidupan baru mereka berjalan dalam irama yang sangat damai. Hao Yu menjalani hari-harinya sebagai pria pegunungan sejati. Setiap pagi, ia membelah gelondongan kayu bakar dengan kapak besinya, merawat dua ekor kuda di kandang samping, atau berkeliling hutan membawa busur panah untuk berburu kelinci liar. Warga desa kecil di kaki bukit sama sekali tidak tahu bahwa pria berwajah tegas dengan bekas luka di pipi itu adalah seorang Pangeran dari Canglan. Mereka hanya mengenalnya sebagai 'Tuan Yu', seorang pemburu ulung yang tidak segan membantukan tenagan
Ayah menarik napasnya dengan payah, dadanya kembang kempis tak beraturan. Cengkeramannya di pergelangan tanganku mengendur, meninggalkan rasa kebas yang menjalar hingga ke ujung jari. Keheningan kembali merayap di dalam Jia’s Atelier, namun kali ini terasa jauh lebih pekat dan menakutkan daripada s
Suara ketukan ujung sepatu pantofel di atas lantai marmer Italia butikku terdengar bagaikan detak jam pasir yang sedang menghitung mundur sisa-sisa kejayaanku. Setiap ketukan membawa gaung yang berat, memantul di antara dinding-dinding kaca yang memajang mahakarya terbaikku. Pagi ini, atmosfer di d
Aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup!Siapapun, tolong aku!Suara itu bergema hampa, terjebak di dalam labirin pikiranku sendiri. Di sini, di tempat aku berada saat ini, semuanya tampak gelap gulita, pekat, dan teramat menyesakkan. Rasa dingin yang luar biasa merayap perlahan, membekukan alir
Lampu-lampu kota melintas di luar jendela mobil bagaikan garis-garis cahaya yang buram dan membingungkan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengemudikan sedan hitamku membelah jalanan protokol yang mulai lengang oleh kendaraan. Kepalaku terasa kosong, hampa, namun di saat yang sama, ada badai ya







