เข้าสู่ระบบ"Cari aku di masa depan, Hao Yu! Aku akan menunggumu!"Jeritan itu meluncur bukan sekadar dari pita suara fisik, melainkan dari kedalaman jiwa yang terkoyak lepas dari dimensi waktu. Suara Yi Fang—atau lebih tepatnya, esensi kesadaran Jia Li yang selama ini terperangkap di dalam cangkang kuno tanah Canglan—menggema hebat, memecah kesunyian malam di Puncak Canglan dan bersaing dengan deru angin gerhana bulan merah yang meraung liar.Di atas permukaan altar batu kuno yang diselimuti pendar cahaya keemasan redup, tubuh Yi Fang melengkung untuk terakhir kalinya. Ribuan benang cahaya spiritual yang berpijar terang menyelimuti sekujur tubuhnya, membentuk pusaran energi yang berputar cepat bagaikan badai kosmik miniatur. Dukun Suci Kekaisaran di luar lingkaran pembatas merentangkan tangannya lebih lebar, mengalirkan seluruh tena
Dukun Suci Kekaisaran melangkah maju mendekati garis batas lingkaran asap cendana. Pria berambut perak itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara, merentangkan telapak tangannya menghadap ke arah kerucut cahaya keemasan yang membungkus tubuh Yi Fang.Dengan suara lantang, berat, dan bergema memenuhi seluruh pelataran Puncak Canglan, Dukun Suci mulai merapalkan mantra suci pemutus dimensi—sebuah ajian purba yang diwariskan turun-temurun untuk mengurai benang karma dan ikatan jiwa lintas waktu."Wahai angin batas zaman! Wahai penjaga siklus kehidupan dan kematian! Putuskan rantai yang mengikat fana dan baka! Kembalikan pengembara ke tempat asalnya, dan biarkan tunas baru bersemi di bumi ini!"Teriakan mantra itu memicu ledakan gelombang cahaya spiritual yang m
"Hao Yu... lihatlah ke atas langit. Apakah warnanya selalu semerah ini saat musim dingin tiba?"Suara Yi Fang terdengar sangat rapuh, terselip tipis di antara deru angin malam Puncak Canglan yang menderu liar bagaikan ribuan hantu kelaparan. Di atas permukaan altar batu kuno yang permukaannya diselimuti ukiran aksara purba, tubuh wanita itu dibaringkan dengan kehati-hatian yang melampaui batas kesabaran manusia. Di bawah hamparan jubah bulu domba tebal dan selimut wol berhias sulaman Benang Pelindung, raga Yi Fang tampak begitu kecil dan tak berdaya melawan dinginnya takdir.Hao Yu tidak langsung menjawab. Ia merendahkan tubuhnya, berlutut di atas batu altar yang sedingin es, lalu mendekatkan wajahnya ke sisi kepala istrinya. Mata lelaki itu merah menyala, bukan karena amarah, melainkan karena air mata yang terus-menerus mendesak keluar dan membeku seketika di udara terbuka."Langit tidak pernah semerah ini, Yi Fang," jawab Hao Yu dengan suara bariton yang parau dan bergetar hebat. Ia
Langit di atas Pegunungan Utara tidak lagi berwarna hitam beludru. Pendar sinar rembulan yang biasanya berwarna perak lembut kini perlahan-lahan terserap oleh bayangan bumi, berganti menjadi warna merah tembaga yang mengerikan sekaligus magis. Gerhana bulan merah telah tiba di puncaknya. Sinar kemerahan itu menembus kabut tebal, memantul di atas hamparan salju perbukitan dan menyulap seluruh lanskap hutan pinus menjadi bagaikan lautan darah yang membeku.Di depan pintu pondok kayu, Dukun Suci Kekaisaran berdiri tegak dalam jubah hitam bersulam benang perak. Angin malam yang kencang mengibarkan helai rambut peraknya yang terurai, namun sosoknya tetap tak bergeming bagaikan patung batu. Di sampingnya, Nenek Cenayang Pegunungan memegang sebatang tongkat kayu pinus tua, manik mata kelabunya menatap lurus ke arah puncak tertinggi Pegunungan Canglan.
"Jangan pernah potong rambut Nian Zhi sampai usianya genap tujuh tahun."Hao Yu menghentikan jemarinya yang sedang memegang sisir kayu cendana. Di dalam kamar pondok yang remang-remang oleh pendar api perapian, ia menatap bayangan wajah Yi Fang dari balik cermin tembaga kusam di meja rias. Rambut hitam pekat milik istrinya yang halus bagaikan sutra terurai panjang hingga melewati pinggang, jatuh lembut di atas selimut kain rami."Kenapa harus menunggu sampai tujuh tahun?" bisik Hao Yu. Suara baritonnya terdengar amat pelan, bergetar menahan desakan sesak di dada yang tak kunjung surut.Yi Fang menyunggingkan senyuman paling tipis, menikmati setiap helai usapan sisir kayu yang ditarik pelan oleh Hao Yu dari pangkal kepala hingga ujung rambutnya."Di tempat asalku... atau setidaknya dari cerita-cerita tua yang pernah kubaca," tutur Yi Fang seraya memejamkan mata, meresapi kehangatan jemari suaminya, "seorang anak yang lahir di tengah badai harus dibiarkan rambutnya memanjang sebagai ben
Tidak ada lagi pembicaraan mengenai tabib, obat-obatan herbal, atau pencarian mantra penyembuhan. Keputusan telah diambil, dan kini yang tersisa hanyalah kepasrahan yang manis serta duka yang teramat dalam namun dibungkus oleh rasa kasih yang meluap.Pagi itu, sinar matahari terbit memancarkan warna keemasan yang lembut menembus celah jendela. Di dalam kamar, Yi Fang duduk bersandar di tumpukan bantal wol tebal. Wajahnya masih pucat pasi dan tubuhnya makin melemah seiring berjalannya hari, namun matanya memancarkan kedamaian yang tak tergoyahkan.Di pangkuannya, terbentang selembar kain selimut bayi berbahan rami paling halus. Jemari lenturnya yang kian kurus dan dingin memegang sebatang jarum perak kecil serta benang sutra berwarna indigo dan emas. Dengan kehati-hatian yang luar biasa, Yi Fang menusukkan jarum itu menembus serat kain, menganyam pola sulaman yang indah.Hao Yu melangkah masuk membawa sebuah mangkuk tanah liat berisi sup kaldu burung puyuh hangat yang ia rebus sejak su
Lampu-lampu kota melintas di luar jendela mobil bagaikan garis-garis cahaya yang buram dan membingungkan. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku mengemudikan sedan hitamku membelah jalanan protokol yang mulai lengang oleh kendaraan. Kepalaku terasa kosong, hampa, namun di saat yang sama, ada badai ya
Wang Jun terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat meremehkan dan sarat akan keangkuhan, seolah pertanyaan defensif yang kuajukan adalah hal paling konyol dan naif yang pernah dia dengar dari seorang wanita paruh bangkrut."Seorang wanita yang menyandang nama belakang Marga Wang tidak perlu
Suara ketukan ujung sepatu pantofel di atas lantai marmer Italia butikku terdengar bagaikan detak jam pasir yang sedang menghitung mundur sisa-sisa kejayaanku. Setiap ketukan membawa gaung yang berat, memantul di antara dinding-dinding kaca yang memajang mahakarya terbaikku. Pagi ini, atmosfer di d
Aku tidak boleh mati! Aku harus tetap hidup!Siapapun, tolong aku!Suara itu bergema hampa, terjebak di dalam labirin pikiranku sendiri. Di sini, di tempat aku berada saat ini, semuanya tampak gelap gulita, pekat, dan teramat menyesakkan. Rasa dingin yang luar biasa merayap perlahan, membekukan alir







