Home / Romansa / Duh, Kelepasan Sama Anak Magang! / 40. Pindahkan Leo, Mbak

Share

40. Pindahkan Leo, Mbak

Author: Blue Ice
last update publish date: 2026-09-23 10:16:28

Pagi hari di ibu kota mendadak diguncang oleh berita megah yang menyebar secepat kilat di seluruh stasiun televisi nasional dan portal berita finansial.

Eksekusi bawah tanah yang diperintahkan Valentino Sutedja berjalan dengan presisi yang mengerikan. Dalam hitungan jam, saham Adhijaya Group terjun bebas hingga menyentuh titik terendah dalam sejarah. Seluruh akses kredit dibokot total oleh jajaran perbankan nasional, sementara tim penyidik kepolisian dan kejaksaan bergerak serentak mengepung k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    91. Dia Datang!

    Gerbang besi bermotif ukiran emas meluncur terbuka secara otomatis. Mobil sedan hitam berpelat istimewa melaju perlahan melintasi pelataran luas Kediaman Sutedja. Sebuah istana megah berarsitektur klasik yang memancarkan pilar-pilar keangkuhan klan konglomerat paling berpengaruh di negeri ini. Pintu mobil terbuka. Pria bertubuh tegap berbalut setelan jas kustom berwarna abu-abu gelap melangkah keluar. Meskipun bekas luka di belakang kepalanya masih tersembunyi rapat di balik tatanan rambut hitamnya yang rapi, aura dingin nan mematikan yang terpancar dari tubuh Valentino Sutedja seketika menekan atmosfer di sekitarnya. Baru saja Leo menginjakkan kakinya di teras utama, pintu ganda rumah besar itu terbuka. Valerie melangkah keluar bersama Devan yang mengekor di belakangnya membawa dokumen kantor. Langkah Valerie terhenti kaku saat matanya menangkap sosok adiknya yang berdiri tegap di depannya. Binar matanya bergetar tipis, memancarkan rasa cemas yang teramat sangat melihat perban yan

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    90. Punya Cara Sendiri

    Tawa riang Arkana pelan-pelan mereda saat bocah kecil itu mulai asyik mewarnai buku gambarnya di atas meja sofa. Kinara mengusap pucuk kepala putranya sebentar, lalu melangkah kembali mendekati ranjang. Ia mendudukkan dirinya di kursi kayu tepat di samping Leo. Tatapan mata Kinara begitu tenang, memancarkan ketegasan seorang wanita dewasa yang tak mudah digoyahkan oleh gertakan. "Arka sudah tenang di sana," bisik Kinara seraya menatap jemari tegap Leo yang terbebas dari infus. "Sekarang, kita harus bicara serius, Leo." Leo mengalihkan pandangannya dari sofa, menatap wajah anggun di sampingnya dengan pendar mata yang dalam. "Soal ucapan Ayahmu tadi?" Kinara menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan cuma itu. Kita juga tidak bisa terus-terusan bertahan dan bersikap seolah semuanya baik-baik saja di sini." Leo menyempitkan matanya rapat-rapat, mengagumi keberanian wanita di hadapannya. "Maksudmu?" "Pak Devan pasti membawakan informasi penting dari Jakarta, kan?" tembak Kinara tepat sa

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    89. Tembok Kokoh Keluarga

    Pintu kamar perawatan Leo terbuka lebar. Suasana manis yang sempat menyelimuti ruangan kini lenyap sepenuhnya, berganti menjadi hembusan angin dingin yang menekan. Hendra Pramudita melangkah masuk dengan aura kepemimpinan khas Presdir Danantara yang begitu dominan, diikuti oleh Ratih dan Sarah. Sementara itu, Radit memilih untuk tetap berdiri di ambang pintu bersama Arkana, enggan memperkeruh suasana yang kian tegang. Leo yang terbaring di atas ranjang menyempitkan binar mata hitamnya. Meskipun tubuhnya masih lemah dengan perban yang melilit kepala, tatapan mata pria itu tetap tajam dan dingin. Ia menegakkan posisi duduknya secara perlahan, mengabaikan denyutan nyeri yang menjambak kepalanya. "Ayah, Mama ... tolong jangan bicara di sini. Leo masih butuh istirahat," peringat Kinara seraya melangkah pasang badan di antara mereka, raut wajahnya tampak kaku. "Justru karena dia sedang berada di ranjang rumah sakit, kita harus menyelesaikan ini seka

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    88. Restu Tak Sampai

    Sinar matahari sore menerpa kaca depan mobil sedan mewah yang menepi pelan di area parkir Rumah Sakit Medika. Langkah kaki terburu-buru beriringan memenuhi koridor lantai tiga. Hendra Pramudita melangkah tegap dengan setelan jas mahalnya, meski raut wajah paruh bayanya diliputi kecemasan mendalam. Di sampingnya, Ratih, sang istri yang berbalut gaun elegan khas sosialita, memegang erat lengan suaminya usai menempuh penerbangan darurat. Sementara itu, Sarah berjalan di sisi mereka dengan senyum tipis yang sarat akan muslihat, berpura-pura menjadi putri yang paling berbakti. "Sarah, apa Mbakmu benar-benar aman di rumah sakit ini?" tanya Ratih dengan suara tertahan namun penuh wibawa, meremas tas merek mewahnya. "Mama cemas sekali sejak koneksi bisnis Ayah memberi tahu seberapa berbahaya situasi keluarga Sutedja saat ini." "Iya, Ma. Tenang dulu," sahut Sarah dengan nada suara mendayu-dayu yang sangat meyakinkan. "Aku sengaja ajak Ayah sama Mama ke sini supaya kita bisa bicarakan ini ba

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    87. Kembalilah

    Leo menatap pria berjas hitam di ambang pintu dengan tajam dan menusuk. Rahang tegapnya menegang kaku, sementara jemari tangannya menggenggam tepi selimut dengan rapat. "Mengapa kau di sini?" desis Leo dengan suara bariton rendahnya yang amat menekan.Devan tak langsung menjawab. Pria itu membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tenang yang terukur, matanya melirik singkat ke arah Kinara yang masih berdiri canggung di samping ranjang. "Apakah Nenek Kusuma yang mengutusmu?" tebak Leo lagi, suaranya kian dingin. Mengingat belum lama ini Subrata—kepala pengawal kepercayaan Nenek Kusuma datang membawa ancaman, kehadiran Devan secara tiba-tiba tentu memicu kecurigaan besar di kepala Leo. Devan berdehem pelan untuk memecah keheningan itu. Ia mengambil satu langkah maju dan membungkuk hormat. "Saya datang ke sini atas perintah Nyonya Valerie, Tuan Muda Valen," jawab Devan dengan nada suara datar tanpa intonasi. Matanya menatap lurus ke arah Leo, menyipit tajam. "Nyonya Valerie hanya

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    86. Jangan Impulsif

    Genggaman jemari tegap Leo di bahu Kinara terasa begitu hangat, meski cengkeramannya bergetar menahan luapan emosi yang membakar dadanya. Di dalam kamar inap yang remang itu, napas Leo memburu kasar, menatap Kinara dengan binar mata hitam yang sarat akan dominasi dan keputusasaan yang campur aduk. Kinara menatap wajah tegap di hadapannya. Ia bisa melihat perban putih yang melilit kepala Leo, serta tetesan darah segar di punggung tangan pria itu akibat mencabut jarum infus secara paksa. Rasa iba dan kasih sayang membuncah di dada Kinara, namun logikanya sebagai seorang ibu dan wanita dewasa tetap berdiri tegak. Kinara perlahan memegang kedua pergelangan tangan Leo, lalu menurunkan cengkeraman pria itu dari bahunya dengan gerakan halus namun amat tegas. "Tidak, Leo," ujar Kinara seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Kita tidak akan berangkat ke Jakarta besok." Leo menyempitkan matanya rapat-rapat, rahang tegapnya menegang kaku. "Kenapa?! Kamu mau tetap di sini dan membiarkan pria i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status