Beranda / Romansa / Duh, Kelepasan Sama Anak Magang! / 50. Bertemu Keluarga Parasit

Share

50. Bertemu Keluarga Parasit

Penulis: Blue Ice
last update Tanggal publikasi: 2026-09-27 11:38:48

Di meja makan restoran itu, berkumpul keluarga besar yang dulu pernah menjadi mimpi buruk dalam hidupnya. Ibu Dewi—mantan ibu mertuanya yang judes dan selalu memandangnya sebelah mata—duduk bersama Rian, serta istri barunya, Sinta, dan putra mereka yang sempat bertengkar dengan Arkana di sekolah, Noel (Immanoel).

Rian yang sedang memegang cangkir kopi seketika berdiri, matanya menatap tajam ke arah Kinara, lalu beralih penuh permusuhan pada sosok Leo yang sedang menggandeng tangan Arkana.

"Wa
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    54. Siapa Ayah Kandung Arkana?

    Seluruh ruang sidang seketika pecah oleh seruan syok para hadirin. Kinara membeku total di kursinya. Napasnya tertahan di tenggorokan, kedua matanya membelalak lebar tak percaya. "A-apa? Arka ... bukan anak Rian?" Rian di meja penggugat seketika pucat pasi bak mayat, tubuhnya gemetaran hebat seolah rahasia paling kelam dalam hidupnya baru saja ditelanjangi di depan publik. "Bukan hanya itu, Yang Mulia," tambah Henry dingin, menunjuk Rian yang terduduk lemas. "Lima tahun lalu, Saudara Rian dan keluarganya terbukti melakukan penipuan dokumen medis dan manipulasi identitas untuk menjebak Ibu Kinara dalam pernikahan palsu demi menguasai aset keluarga Pramudita!" "Kurang ajar!" teriak Kinara dengan air mata yang seketika menetes deras membasahi pipinya. Rasa ditipu, dimanfaatkan, dan dibohongi selama bertahun-tahun membakar dadanya hingga sesak luar biasa. Bu Dewi bersungut-sungut ketakutan, menutup wajahnya dengan tas mewah seraya histeris. "Bohong! Semuanya bohong!" Tok! Tok! Tok!

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    53. Kejutan di Meja Sidang

    Gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan tampak begitu riuh. Suasana dingin di ruang sidang utama terasa makin menekan begitu rombongan penggugat melangkah masuk. Rian berjalan membusungkan dada dengan kemeja rapinya. Di sampingnya, Bu Dewi berjalan anggun seraya menyunggingkan senyum culas yang sarat akan kemenangan. Di belakang mereka, tiga orang pengacara berjas hitam membawakan tumpukan dokumen tebal berisi foto-foto skandal Kinara dan Leo di kebun binatang. "Kamu lihat Kinara nanti, Rian," bisik Bu Dewi penuh dendam saat mendudukkan diri di kursi penggugat. "Wanita tidak tahu diri itu pasti akan menangis memohon di kaki kita agar Arkana tidak kita ambil." Rian terkekeh licik, membetulkan letak kerah kemejanya. "Tentu saja, Ibu. Hari ini kariernya hancur, dan hak asuh Arka jatuh ke tangan kita." Tak lama kemudian, Kinara melangkah masuk ke dalam ruang sidang. Tampil amat tegar dan anggun dalam balutan blazer navy blue, Kinara berjalan didampingi oleh Leo yang mengenakan setelan

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    52. Anda Membuang Saya?

    Keputusan Kinara memindahkan Leo ke divisi Sarah memancing singa tidur. Jam makan siang telah tiba. Koridor kantor perlahan sepi saat para karyawan melangkah menuju area kantin. Di dalam ruangan kerjanya yang hening, Kinara menyandarkan punggungnya yang lemas di kursi, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Biasanya jam segini, asistennya-Leo akan membawakan secangkir teh hangat atau cemilan untuknya."Apakah aku perlu merekrut asisten baru?" guman Kinara. Sejujurnya ia sangat terbantu dengan kehadiran Leo selama ini. Mungkin ... bisa dibilang ia mulai ketergantungan dengan sikap pemuda itu.Klek. Pintu ruangan terdorong pelan tanpa ketukan. Sebelum Kinara sempat mendongak, sebuah bayangan tegap melangkah cepat masuk, lalu mengunci pintu ruangan dari dalam dengan gerakan kilat. Kinara tersentak kaget. "L-Leo?!" Belum sempat Kinara berdiri dari kursinya, Leo sudah memotong jarak di antara mereka. Pemuda berusia itu menarik lengan Kinara, mengungkung tubuh molek wanita itu di anta

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    51. Keputusan Paling Benar

    Keheningan di koridor divisi Pengembangan Bisnis seketika pecah oleh pintu ruang kerja Kinara yang terdorong kasar. Brak! Rendra melangkah masuk dengan raut wajah memerah padam menahan amarah. Di tangannya, beberapa lembar foto hasil cetakan kasar digenggamnya begitu erat hingga berkerut. Kinara yang sedang memeriksa dokumen di mejanya terperanjat, mendongak menatap adiknya dengan alis bertaut. "Rendra? Ada apa masuk tanpa mengetuk seperti ini?" Rendra melemparkan foto-foto tersebut tepat ke atas meja kerja Kinara. Foto-foto hasil rekaman Sinta di kebun binatang kemarin—momen saat Kinara memegang wajah Leo, momen ketika Leo merangkul pinggang Kinara, hingga tawa bahagia mereka bersama Arkana—terpampang jelas di hadapan Kinara. "Mbak ini sebenarnya punya otak dan rasa malu atau tidak, sih?!" bentak Rendra dengan suara menekan. "Jumat malam kemarin, Mbak sudah janji sama Ibu mau berkenalan dan berdansa dengan Pak Erwin di acara gala! Tapi apa yang Mbak lakukan?! Pak Erwin malah kab

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    50. Bertemu Keluarga Parasit

    Di meja makan restoran itu, berkumpul keluarga besar yang dulu pernah menjadi mimpi buruk dalam hidupnya. Ibu Dewi—mantan ibu mertuanya yang judes dan selalu memandangnya sebelah mata—duduk bersama Rian, serta istri barunya, Sinta, dan putra mereka yang sempat bertengkar dengan Arkana di sekolah, Noel (Immanoel). Rian yang sedang memegang cangkir kopi seketika berdiri, matanya menatap tajam ke arah Kinara, lalu beralih penuh permusuhan pada sosok Leo yang sedang menggandeng tangan Arkana. "Wah, wah ... ternyata janda sombong ini lagi jalan-jalan," cibir Bu Dewi dengan suara melengking tajam, menatap Kinara dari atas ke bawah dengan pandangan jijik. "Pantesan kemarin gaya-gayaan menolak diajak rujuk sama Rian. Ternyata kerjaannya keluyuran bawa anak sama brondong tidak jelas!" Sinta menyunggingkan senyum miring yang penuh ejekan seraya mengelus kepala Noel. "Aduh, Ibu ... kasihan tahu. Mungkin mbaknya memang sukanya yang daun muda, biar bisa disuruh-suruh." Rian melangkah mendekat

  • Duh, Kelepasan Sama Anak Magang!    49. Jangan Menambah Masalah

    Pagi hari di akhir pekan itu terasa begitu tenang di dalam apartemen Kinara. Sinar matahari pagi menerobos tipis lewat celah gorden ruang tamu. Kinara mengusap pelipisnya yang terasa sedikit berat seraya memijat bahunya yang pegal. Tubuhnya sejujurnya terasa lelah luar biasa akibat gejolak emosi dan kepenatan pasca-acara Gala Investor Jumat malam lalu. Rasa malas untuk beranjak dari apartemen begitu kuat menguasai dirinya, apalagi Mbak Yuni masih berada di kampung halaman. Namun, melirik Arkana yang sudah rapi mengenakan kaus bergambar dinosaurus dan sepatu kets kesayangannya, Kinara tidak tega untuk membatalkan janji. Ia sudah berjanji bahwa di hari libur mereka, Kinara akan membawa putra kecilnya itu pergi berjalan-jalan seharian. Ting-tong! Bel pintu depan apartemen berbunyi nyaring. Kinara mengernyitkan alisnya bingung. Siapa yang berkunjung sepagi ini? Begitu pintu terdorong lebar, sosok pemuda berusia dua puluh enam tahun berdiri tegap di ambang pintu. Leo tampil amat santa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status