INICIAR SESIÓNPintu kamar perawatan Leo terbuka lebar. Suasana manis yang sempat menyelimuti ruangan kini lenyap sepenuhnya, berganti menjadi hembusan angin dingin yang menekan. Hendra Pramudita melangkah masuk dengan aura kepemimpinan khas Presdir Danantara yang begitu dominan, diikuti oleh Ratih dan Sarah. Sementara itu, Radit memilih untuk tetap berdiri di ambang pintu bersama Arkana, enggan memperkeruh suasana yang kian tegang. Leo yang terbaring di atas ranjang menyempitkan binar mata hitamnya. Meskipun tubuhnya masih lemah dengan perban yang melilit kepala, tatapan mata pria itu tetap tajam dan dingin. Ia menegakkan posisi duduknya secara perlahan, mengabaikan denyutan nyeri yang menjambak kepalanya. "Ayah, Mama ... tolong jangan bicara di sini. Leo masih butuh istirahat," peringat Kinara seraya melangkah pasang badan di antara mereka, raut wajahnya tampak kaku. "Justru karena dia sedang berada di ranjang rumah sakit, kita harus menyelesaikan ini seka
Sinar matahari sore menerpa kaca depan mobil sedan mewah yang menepi pelan di area parkir Rumah Sakit Medika. Langkah kaki terburu-buru beriringan memenuhi koridor lantai tiga. Hendra Pramudita melangkah tegap dengan setelan jas mahalnya, meski raut wajah paruh bayanya diliputi kecemasan mendalam. Di sampingnya, Ratih, sang istri yang berbalut gaun elegan khas sosialita, memegang erat lengan suaminya usai menempuh penerbangan darurat. Sementara itu, Sarah berjalan di sisi mereka dengan senyum tipis yang sarat akan muslihat, berpura-pura menjadi putri yang paling berbakti. "Sarah, apa Mbakmu benar-benar aman di rumah sakit ini?" tanya Ratih dengan suara tertahan namun penuh wibawa, meremas tas merek mewahnya. "Mama cemas sekali sejak koneksi bisnis Ayah memberi tahu seberapa berbahaya situasi keluarga Sutedja saat ini." "Iya, Ma. Tenang dulu," sahut Sarah dengan nada suara mendayu-dayu yang sangat meyakinkan. "Aku sengaja ajak Ayah sama Mama ke sini supaya kita bisa bicarakan ini ba
Leo menatap pria berjas hitam di ambang pintu dengan tajam dan menusuk. Rahang tegapnya menegang kaku, sementara jemari tangannya menggenggam tepi selimut dengan rapat. "Mengapa kau di sini?" desis Leo dengan suara bariton rendahnya yang amat menekan.Devan tak langsung menjawab. Pria itu membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tenang yang terukur, matanya melirik singkat ke arah Kinara yang masih berdiri canggung di samping ranjang. "Apakah Nenek Kusuma yang mengutusmu?" tebak Leo lagi, suaranya kian dingin. Mengingat belum lama ini Subrata—kepala pengawal kepercayaan Nenek Kusuma datang membawa ancaman, kehadiran Devan secara tiba-tiba tentu memicu kecurigaan besar di kepala Leo. Devan berdehem pelan untuk memecah keheningan itu. Ia mengambil satu langkah maju dan membungkuk hormat. "Saya datang ke sini atas perintah Nyonya Valerie, Tuan Muda Valen," jawab Devan dengan nada suara datar tanpa intonasi. Matanya menatap lurus ke arah Leo, menyipit tajam. "Nyonya Valerie hanya
Genggaman jemari tegap Leo di bahu Kinara terasa begitu hangat, meski cengkeramannya bergetar menahan luapan emosi yang membakar dadanya. Di dalam kamar inap yang remang itu, napas Leo memburu kasar, menatap Kinara dengan binar mata hitam yang sarat akan dominasi dan keputusasaan yang campur aduk. Kinara menatap wajah tegap di hadapannya. Ia bisa melihat perban putih yang melilit kepala Leo, serta tetesan darah segar di punggung tangan pria itu akibat mencabut jarum infus secara paksa. Rasa iba dan kasih sayang membuncah di dada Kinara, namun logikanya sebagai seorang ibu dan wanita dewasa tetap berdiri tegak. Kinara perlahan memegang kedua pergelangan tangan Leo, lalu menurunkan cengkeraman pria itu dari bahunya dengan gerakan halus namun amat tegas. "Tidak, Leo," ujar Kinara seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Kita tidak akan berangkat ke Jakarta besok." Leo menyempitkan matanya rapat-rapat, rahang tegapnya menegang kaku. "Kenapa?! Kamu mau tetap di sini dan membiarkan pria i
Matahari pagi menyusup tipis melewati celah jendela koridor, menyinari lorong Rumah Sakit Medika yang sepi. Kinara berjalan perlahan di samping Radit menuju taman belakang. Di tangannya, sebotol air mineral terasa dingin, sedingin pikirannya yang kalut sejak insiden penyerangan tempo hari. "Kinara, kamu kelihatan pucat sekali," tutur Radit lembut seraya menghentikan langkahnya di dekat deretan kursi taman. Pria itu menatap Kinara dengan raut wajah penuh keprihatinan yang tulus. "Duduklah dulu. Aku ambilkan teh hangat untukmu." Kinara menarik napas panjang, lalu mendudukkan dirinya di bangku kayu. "Terima kasih banyak, Mas Radit. Maaf kalau aku jadi merepotkanmu beberapa hari ini." Radit menyunggingkan senyum hangat. Ia melangkah sebentar ke kantin rumah sakit dan kembali membawa secangkir teh manis hangat. Dengan hati-hati, Radit menyerahkan cangkir itu ke genggaman Kinara. "Aku tahu situasi saat ini sangat berat dan menakutkan buat kamu, Kinara," ujar Radit lembut, menatap lurus
Setelah Sarah diusir pergi, Kinara menghela napas seraya melangkah mendekati meja di sisi ranjang. Ia mengambil segelas air putih hangat dan membantunya mengarahkan sedotan ke bibir Leo. Pria bertubuh tegap itu meminumnya perlahan, matanya yang redup tak lepas menatap wajah Kinara yang masih menyisa jejak air mata. "Terima kasih ..." bisik Leo dengan suara bariton parau usai meneguk air. Kinara meletakkan kembali gelas itu ke meja. "Kamu harus banyak beristirahat, Leo. Jangan emosi lagi seperti tadi." Namun, sebelum Kinara sempat menarik tangannya kembali, jemari tegap Leo yang sedikit gemetar menjangkau dan menggenggam jemari Kinara dengan erat. Binar mata hitam Leo menatap Kinara dengan sorot yang amat dalam. "Aku serius dengan ucapanku tadi," ujar Leo tegas, mengabaikan rasa nyeri yang masih berdenyut di belakang kepalanya. "Aku tidak akan biarkan Nenek Kusuma atau siapa pun dari keluarga Sutedja menyentuh keluargamu. Kamu tidak usah takut." Kinara menahan napasnya, merasakan







