Home / Rumah Tangga / Duka Pernikahan / 2. Meminta Untuk Dimengerti

Share

2. Meminta Untuk Dimengerti

Author: Queenazalea
last update Last Updated: 2024-07-08 14:36:29

Di Sebuah coffee shop duduk menyendiri di dekat jendela kaca yang memaparkan langsung orang-orang yang lewat di luar tempat tongkrongan anak muda ini. Renjana sudah berjanji untuk bertemu dengan Yoga— kekasihnya.

Setiap hari Sabtu-Minggu adalah hari di mana mereka akan bertemu untuk menghabiskan waktu. Tidak lama setelah dia membaca 30 halaman dari novel romantis yang sangat dia sukai—yaitu buku tentang pernikahan. Membayangkan kalau dia dan Yoga menikah dan kisahnya seromantis novel yang paling sering dibaca. Meskipun dengan konflik berat. Tapi Yoga harus tetap mengalah seperti para tokoh suami yang ada di novel itu.

Pria itu duduk dengan menyerahkan bunga mawar dan coklat. “Selamat hari valentine, Sayang.” Perasaan Renjana begitu bahagia ketika diberi bunga dan coklat. Yoga orang yang romantis, pria ini sangat dicintainya juga—dan sudah dipacarinya selama sembilan tahun.

Sembilan tahun adalah di mana bisa kredit rumah. Sembilan tahun cukup waktu untuk kredit dua unit mobil. Sembilan tahun adalah waktu yang tidak sebentar.

Ya, wajar saja mama dan papanya mendesaknya untuk menikah karena sebentar lagi dia akan berusia 28 tahun. Lalu dua tahun lagi adalah bencana baginya. Sedangkan Yoga apa? Pria ini sudah berusia tiga puluh tahun lebih. Tapi tidak terlalu terlihat menua, sedangkan Renjana sudah pasti akan diragukan untuk menghasilkan anak. “Mau jalan sekarang?” tawar Yoga ketika pria itu terlihat sudah berpakaian rapi. “Mau ke rumah aku? Masak mungkin seperti biasanya, biar kita ke supermarket beli bahannya.”

Andai ini adalah ajakan suami. Betapa bahagianya hati Renjana menerima ajakan ini dari suaminya sendiri. Pergi ke supermarket membeli bahan yang dibutuhkan untuk memasak, lalu memasak untuk suaminya— indah bukan? Tapi sayangnya itu jauh dari kata indah bagi Renjana.

Mereka sudah sama-sama menghabiskan banyak waktu bersama.

Delapan tahun menunggu? Bayangkan saja dia akan menjadi perawan tua nanti ketika menikah dengan Yoga. Bahkan Yoga bisa mendapatkan yang lebih muda lagi darinya. Yoga masih awet muda, hidupnya juga sangat sehat.

Yoga melambaikan tangannya di depan wajah Renjana. “Kenapa bengong?”

Buru-buru dia langsung mengalihkan fokusnya yang memikirkan tentang perjodohan dia dengan orang lain nanti, orangtuanya akan menyiapkan jodoh untuknya. Yang seperti apa? Lebih baik Renjana fokus pada hidupnya sekarang. Perihal perjodohan itu, belum tentu juga dia cocok dengan calonnya nanti.

Renjana berdiri dari tempat duduknya lalu membawa bunga dan coklat yang diberikan oleh Yoga. Sementara pria itu sedang membayar pancake dan minumannya, dia menunggu pria itu beranjak mendekatinya.

Keluar dari tempat itu mereka berdua bergandengan tangan, Yoga membukakan pintu mobil untuknya. “Uang kamu masih, kan? Jangan boros-boros, ya! Aku lagi nabung juga soalnya.”

Renjana mengangguk lalu menaruh bunga itu kemudian memasang sabuk pengaman. Ingin mengatakan apa yang diusulkan oleh temannya. Seperti yang diketahui bahwa dia harus tegas terhadap Yoga.

“Jana, kamu mikirin apa, sih? Aku tanya kamu mau masak apa kok bengong?”

Sama sekali fokusnya tidak bisa dikendalikan. Pikirannya hanya tentang perjodohan—menikah dengan orang lain—berpisah dengan Yoga yang sudah dia temani sejak awal. Mengingat perjuangannya dengan pria di sampingnya sangat panjang. Menemani Yoga untuk melengkapi berkas- berkas ketika daftar untuk menjadi pegawai dan serangkaian tes itu sangat setia ditemani.

Yoga dulu bekerja di perusahaan sepupunya. Tapi ketika ada peluang Calon Pegawai Negeri Sipil, dia memanfaatkan peluang untuk mendaftar, dan sekarang menjadi pria yang sudah cukup mapan—dari segi usia dan finansial.

“Jana, kenapa sayang?”

Sangat manis, panggilan Yoga seperti tidak terjadi apa-apa. “Aku tanya ke kamu. Kamu mikirin apa?”

“Nggak ada.”

Renjana tidak pernah berpikiran tentang selingkuh, apalagi melirik pria lain. Walaupun banyak dari teman-teman kakaknya yang pernah mengirim salam untuk meminta dijodohkan dengan Renjana. Tapi prioritas utama adalah Yoga.

Usai membeli semua bahan masakan yang dibutuhkan, Yoga ikut membantu mengupas kentang untuk dimasak Renjana nanti. Ya, dia sering berkunjung ke rumah Yoga. Karena tidak ada siapa-siapa di sana selain pria ini sendirian. Yoga tidak pernah berbuat aneh-aneh padanya sampai saat ini.

Tujuan mereka adalah menikah. Begitu kata Yoga setiap kali mereka pergi berdua.

“Kamu bikin steak, ya!” Yoga mengupas kentang dengan cekatan. Dia tidak pernah protes tentang masakan Renjana.

“Aku bikin potato wedges juga jadi cemilan kita gimana?” Usul Renjana ketika melihat banyak sekali kentang yang dibeli oleh Yoga tadi.

Yoga mengiakan dengan cepat. “Mama nggak nanya aneh-aneh, kan?” Clek.

Renjana berhenti memotong kentang yang sudah dicuci bersih oleh Yoga barusan. Kemudian kegiatannya terhenti begitu saja. “Seperti biasa. Mama tanya kapan kita nikah.”

Sebenarnya Renjana tidak enak hati mengatakan ini pada Yoga. Tapi apa yang harus dia katakan lagi kalau mama dan papanya mendesaknya untuk menikah. Jika Yoga tidak mau, maka opsi kedua adalah dijodohkan. Dan akan segera menikah, umur selalu menjadi patokan orangtua untuk menjodohkan dia.

Yoga yang baru saja membersihkan kentang untuk dibuat cemilan mereka nanti. “Aku kan sudah pernah bilang. Kamu jelasin ke mereka.”

“Aku udah ngomong. Tapi orangtua aku selalu bilang kalau usia aku sudah dua puluh tujuh. Ingat itu, Yoga!” Renjana mengatakannya dengan sedikit rasa kesal.

Ya sudah pasti dia kesal karena pacaran sudah lama. Banyak masalah yang mereka lewati, sudah pasti mereka saling memahami satu sama lain.

“Tapi kamu tahu sendiri. Rumah aku...”

“Soal rumah bisa kita selesaikan berdua, Yoga. Aku juga bakalan bantuin kamu. Aku kerja, gaji kita berdua digabung dan pakai hidup berdua dan sambil cicil rumah. Yang penting kita nikah aja dulu.”

“Kok kamu jadi kebelet gitu?”

“Aku nggak kebelet, tapi ingat umur aku.” “Aku tiga puluh tahun lebih masih santai.”

“Itu kamu. Apa orang akan permasalahkan kamu yang usia empat puluh tahun pun nggak akan masalah. Aku ... aku sebentar lagi tiga puluh tahun. Kamu tahu, kan, di luar sana banyak sekali teman-teman aku udah nikah. Mereka sudah punya dua anak semua. Aku? Aku masih jalani hubungan yang terbang ke udara tanpa tujuan, aku nggak tahu aku hidup seperti ini cuman untuk turuti kamu. Nungguin kamu sampai kapan?”

Yoga meletakkan pisaunya, pria itu memegang tangannya Renjana. “Aku tahu. Bahkan aku tahu kamu pengin nikah. Tapi tolong, kamu harus ngerti gimana keadaan aku. Aku nggak bisa buat keputusan sepihak.”

“Keputusan sepihak gimana? Aku sudah sembilan tahun nemenin kamu. Aku juga kerja. Aku nggak nganggur, kita bisa cari uang bareng.”

“Banyak hal yang aku pikirkan, Renjana. Rumah, biaya nikah, nafkah, belum lagi kalau kamu hamil, melahirkan.” Yoga menjelaskan secara rinci alasan itu. Semua orang juga tahu tentang hal itu. Tapi Renjana juga lelah.

Lagi... untuk kesekian kalinya dia harus luluh pada Yoga. “Kamu bisa kan pikirkan ini baik-baik, Ga?”

Yoga mengangguk. “Iya aku bisa. Tapi tolong kamu ngerti juga!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duka Pernikahan    66-TAMAT

    Renjana beres-beres mainan anaknya yang berserakan sebelum Kennan pulang yang katanya sore ini akan mengajak mereka untuk jalan-jalan karena sudah janji dengan anak-anak. “Kakak, adek, bantuin Mama beresin mainan dong! Bentar lagi Papa pulang lho. Katanya mau diajak jalan-jalan.” Kainabil dan Zara bergegas membantu Renjana yang sedang menyapu dan memasukkan mainan sang anak ke dalam kantong yang cukup besar. Anaknya juga membantu dia membereskan mainan di sana. “Mama, nanti Papa ajakin kita ke mana?”“Nggak tahu, pokoknya beresin aja dulu.” Nabil yang sebagai kakak selalu membimbing Zara untuk keseharian mereka. Renjana yang melihat keduanya akur. Waktu selesai beres-beres lalu mereka membawanya ke pojokan agar memudahkan Renjana menyapu. Mendengar suara mobil, “Papa,” Zara yang baru saja membantu Nabil menaruh kotak mainannya di pojokan seketika berlari keluar bersama dengan Nabil. Waktu mereka berdua keluar Kennan melihat keduanya berlari. “Kenapa lari?” Keduanya langsung meme

  • Duka Pernikahan    65

    Di kediamannya Hanif sekarang ini sedang diramaikan oleh keluarga besarnya Hanif. Pasalnya Ayuna dibawa ke rumah sakit lagi sekarang ini karena akhir-akhir ini sering pendarahan. Hanif sampai tidak bisa bekerja karena harus mengurus istrinya yang sakit. Mertua yang terus menyalahkan, sementara itu Hanif harus bagaimana? Dia juga tidak memperbolehkan Ayuna bekerja lagi setelah istrinya itu keguguran. Tapi Ayuna mengatakan kalau dia sering ke rumah kedua orangtuanya. Jadi Hanif membiarkan istrinya pergi. Perihal kesalahan Ayuna selalu saja dia maafkan karena harus bertahan untuk Ayuna. Cukup lama Ayuna diperiksa. Sampai Hanif pun akhirnya bangun ketika melihat dokter keluar dari ruang pemeriksaan. “Suaminya Ibu Ayuna?” “Iya, Dokter. Saya suaminya.” “Bisa ikut saya ke ruangan sebelah?” Hanif ikut ke ruangan dokter tersebut lalu dia dijelaskan soal penyakit yang di derita oleh istrinya. “Apa ketika berhubungan Ibu Ayuna sering mengeluh sakit?” Tapi Hanif tidak pernah menyentuh Ayun

  • Duka Pernikahan    64

    Hari ini Renjana dijemput oleh sopir yang ada di rumahnya. Mengingat kalau Kennan akan pulang nanti sore. Pria itu mengatakan kalau dia akan pergi hanya dengan waktu seminggu. Tapi ternyata lebih dari itu suaminya ada di Palembang. Baru saja dia pulang dari rumah orangtuanya, ternyata ada mertuanya yang lebih dulu sampai di rumahnya Kennan. “Ma,” Renjana menghampiri mertuanya waktu ia baru pulang. Wanita itu merangkul Renjana. “Kamu kenapa nggak pernah ke rumah?” “Mas Kennan nggak bolehin ke mana-mana kalau dia nggak di rumah. jadi aku di rumah orangtuaku.” “Sekalipun ke rumah Mama?” “Iya, kemarin aja ke dokter Kak Teguh yang anterin?” Ekspresi orangtuanya Kennan terkejut. “Kamu sakit apa?” Renjana menyengir dan memegang tangan mertuanya. “Ma, aku isi.” Wajah wanita itu berkaca-kaca. “Sungguh?” “Iya, katanya enam minggu. Aku sempat bahas itu sama Mas Kennan sebelum dia berangkat. Tapi pas periksa ternyata udah enam minggu. Dia juga kan udah pernah bahas soal anak sama aku, Ma

  • Duka Pernikahan    63

    Hubungannya Hanif dengan Ayuna kian memburuk pasca kegugurannya Ayuna yang disebabkan oleh wanita itu terlalu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan tidak peduli dengan kandungan sampai membuat Hanif meradang lalu mengabaikan apa pun yang berkaitan dengan Ayuna lagi. Kalau saja satu kali keguguran barangkali Hanif tidak akan semarah ini, tapi ini sudah kedua kalinya Ayuna mengalami itu. Hanif yang menginginkan seorang anak di dalam rumah tangga kemudian tidak mendapatkan itu dari Ayuna. Sungguh itu sangat pedih sekali setelah tahu kalau istrinya tidak menjaga kandungan dengan baik. Waktu dia pulang bekerja, di rumah orangtuanya juga demikian. Hanif dan Ayuna masih saling mengabaikan satu sama lain. “Kamu maunya apa, Hanif? Jam berapa ini? kenapa kamu baru pulang setelah jam satu dini hari?” Mereka menunggu Hanif di ruang tamu. Sementara itu Hanif menghabiskan waktunya bekerja di kantor. “Sebenarnya malas di rumah karena malas bertengkar.” “Bertengkar apa? Di dalam kamar kamu ada Ayuna lho.

  • Duka Pernikahan    62

    Kehidupan bersama dengan Kennan terasa sekali. Renjana bebas melakukan apa saja, bekerja, bahkan suaminya tidak keberatan sama sekali. Suaminya lembut, menikahi duda tidak ada yang salah. Bahkan dirinya yang berstatus janda itu bersyukur kalau ada orang yang tidak keberatan dengan masa lalunya. Renjana hidup berdua dengan Kennan di rumah pribadi Kennan. Mendapatkan mertua yang lembut juga dan sayang pada Kennan. Tidak ada masa lalu yang diungkit. Renjana juga tahu bahwa cerita sebenarnya yang dijalani oleh Kennan diceritakan oleh mertuanya tanpa sepengetahuan pria itu. Renjana yang dipindahkan ke kantor pusat juga karena suaminya ada di sana. Dia sudah tidak di Surabaya lagi karena harus ikut dengan Kennan. Waktu dia berkemas, Kennan masuk ke dalam ruangannya. Renjana menjadi admin di bagian penjualan karena itu yang dia inginkan di sini. Tidak mau mengambil jabatan bagus lantaran sang suami yang menjadi pemiliknya. “Mau pulang?” Kennan mendekati meja kerjanya. Yang lain hanya meli

  • Duka Pernikahan    61

    Renjana yang akhirnya ikut pergi untuk liburan dari acara kantor itu ke Bali. Dia pergi bersama dengan yang lainnya juga. Akan tetapi dia berangkat bersama dengan keluarganya yang lain. Mereka semua dibiayai oleh Kennan. Renjana kebetulan juga waktu itu kedatangan Anggi yang akan dia ajak ke Bali. Mereka semua akan pergi untuk refreshing sebagai syukurannya Kennan. Semua anggota keluarga tahu bahwa Renjana dilamar oleh Kennan. Tapi orang kantor sama sekali tidak tahu bagaimana kisah perjalanan hidupnya Renjana dengan Kennan yang selama ini diketahui tidak menjalin hubungan apa pun sama sekali. Kennan juga terlihat sangat biasa saja waktu datang ke Surabaya. Tapi tidak lagi menginap di rumah mbahnya Renjana. Pria itu memilih untuk menginap di hotel. Waktu mereka sedang makan malam di Bali. Kennan bersama dengan para pria lainnya. Tidak ada satu pun perempuan boleh bergabung di meja tersebut. Sebab yang diketahui bahwa memang Kennan tidak pernah mau berbaur dengan seorang perempuan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status