Beranda / Rumah Tangga / Duka Pernikahan / 3. Tanpa Kepastian

Share

3. Tanpa Kepastian

Penulis: Queenazalea
last update Terakhir Diperbarui: 2024-07-08 14:37:02

Tanpa ada izin dari Yoga, keluarga besar rencana juga sangat lelah dengan keputusan tanpa ada kepastian. Mereka sudah menanyakan tentang pernikahan itu pada Renjana. Tapi Yoga selalu bereaksi sama, yaitu tanpa adanya ajakan untuk menikah.

Malam ini adalah rencana yang sudah diatur sedemikian rupa oleh orangtuanya. Dilamar oleh pria asing, dengan tujuan untuk menikah.

Renjana membayangkan jika calon suaminya gendut, perutnya buncit, berkumis tebal, matanya menyoroti tajam dan menyeramkan. Ini bukan soal menghina fisik calon suaminya. Tapi karena tubuhnya yang kecil, mungil dan bisa dipelintir oleh calon suaminya nanti jika mereka bertengkar. Itu yang paling ditakutkan sebenarnya.

Wajahnya pucat ketika baru saja selesai berdandan sesuai perintah mamanya. Tadi pagi, tidak ada angin tidak ada hujan mamanya mengatakan kalau malam ini akan ada tamu. Yaitu keluarga dari pria asing bersama dengan keluarga besarnya untuk melamar. Sekali lagi, dia akan dilamar oleh pria itu.

Sejenak ia memejamkan matanya.

Ting

Notifikasi ponselnya tiba-tiba menyadarkan dia dari lamunannya. ”Aku sudah pikirkan tentang pernikahan itu, Renjana. Aku tetap minta kamu nunggu.”

Renjana tidak akan termakan omongan lagi. Dia sudah lelah, lelah dengan penolakan Yoga yang kesekian kalinya Renjana harus melunturkan harga diri untuk menikah. Tapi sayangnya ditolak dan terus ditolak oleh Yoga.

Dia meletakkan ponselnya lalu menghela napas beberapa kali lalu menghembuskannya mencoba menenangkan kegelisahan yang ada pada dirinya. Andai saja bukan karena sakit kecewa, dia juga tidak akan setuju dengan perjodohan ini.

Pelan kakinya melangkah menuju ruang tamu melihat mamanya sedang menyiapkan jamuan untuk tamu dari pihak keluarga pria itu.

“Tante.”

Seketika Renjana membalikkan badannya ketika ditepuk dari belakang oleh Cindy. “Kenapa?”

“Cieee yang akhirnya nikah juga.” Senyumannya terpaksa sekali sekarang.

Barangkali setelah ini Renjana butuh satu butir pereda sakit kepala untuk menghilangkan rasa sakitnya karena memikirkan perjodohannya. “Jangan pikirkan Om Yoga!”

“Nggak ada yang mikirin dia. Kamu saja yang mikir aneh soal dia.”

Terdengar suara mobil yang cukup ramai di luar. Renjana merasa sangat sesak dengan kondisi sekarang.

“Renjana, sini! Sambut bareng-bareng!” Mamanya sudah berdiri di ambang pintu menunggu kedatangan calon besan orangtuanya dan juga keluarga besar dari pihak si pria.

Gugup.

Rasanya Renjana ingin pingsan setelah ini karena tidak sanggup lagi menerima kenyataan tentang calon suaminya.

Sedikit pun dia tidak berani mengangkat kepalanya menatap para tamu yang hadir. Mereka juga ke ruang tamu dan mulai berbincang basa-basi. Sama sekali ia belum siap untuk melihat siapa calon suaminya dan tadi tidak sempat bersalaman dengannya.

“Hanif, kamu kenalan dulu dong sama calon istri kamu!” usul dari seseorang. Sedangkan Renjana hatinya seperti nuklir yang siap meledak sekarang.

Suasana hatinya kacau sekali karena ucapan seseorang yang diyakini tadi bahwa itu ibunya dari pria tersebut yang bernama Hanif. Ya Renjana baru mendengarnya.

“Renjana, kenalan dulu!” kali ini giliran Yusron—ayahnya Renjana yang begitu gigih mengatakan hal itu pada anaknya agar Renjana mau mengangkat kepalanya.

Renjana memejamkan matanya lalu membukanya pelan usai menarik napas barusan menghilangkan rasa gugupnya. “Maklum malu-malu.” Mamanya menengahi pembicaraan saat Renjana masih enggan menatap pria itu.

Dengan ketabahan hatinya ia memaksakan diri untuk mengangkat kepalanya. “Padahal cantik banget calon mantu kita.” Suara tawa dari perempuan yang diyakini Renjana itu calon mertuanya.

Tatapannya tertuju pada pria berkumis dengan tubuh yang besar di tempat berlawanan dengannya. “Aiiih, kok natap aku? Salah tatap. Calon suami kamu yang itu. Kalau aku kakaknya.” lirik Renjana pada pria yang baru saja ikut bergabung dengan mereka setelah pria itu menunjuk orang yang berbeda.

Demi apa Tuhan? Ini Renjana sedang bermimpi atau apa? Pria dengan mata indah, tampan, putih dan kulitnya sangat bersih tersenyum ke arahnya sambil mengulurkan tangan yang baru saja pindah tempat duduk.

“Hanif.”

Ia segera membalas uluran tangan pria itu. “Renjana.”

“Hanif, tangannya! Mentang-mentang mau nikah nggak mau lepas tangan calonnya.” Ledek kakaknya Hanif yang tadi sempat dianggap bahwa itu adalah calon suaminya.

Pria itu duduk di sofa yang dekat dengan Renjana. “Jadi Mama kapan acaranya berlangsung?” Hanif menyambar dengan pertanyaan soal pernikahan mereka.

“Secepatnya, Nak. Mungkin dua minggu dari sekarang.”

Meninggalkan cinta yang selama sembilan tahun sudah dia temani sampai sekarang ini. Namun semua akan berakhir dengan tragis karena dia harus meninggalkan Yoga untuk bersama dengan orang baru yang datang melamarnya langsung.

Kakaknya pernah mengatakan bahwa orang yang ditemani dari awal akan kalah oleh orang yang melamar. Dan ini adalah bukti yang sebenarnya mengenai Renjana yang menerima lamaran orang lain. Tidak buruk dan juga belum mengenal satu sama lain.

“Renjana, ini anak tante. Dia sibuk kerja sampai nggak ada waktu buat nyari pasangan. Waktu tante ngobrol sama mama kamu, akhirnya kami sepakat jodohin kalian berdua. Hanif sibuk kerja, dia berusia tiga puluh tahun. Kamu tenang aja, dia nggak aneh-aneh kok permintaannya. Dia orangnya sederhana, dia nggak keras kepala. Dia sudah punya rumah sendiri, kalian nggak tinggal sama kami. Dia udah lama tinggal sendiri di rumahnya, itu pun dia jarang pulang. Karena lebih sering di kantornya. Gila kerja, jadi tante inisiatif jodohin dia. Biar dia tahu yang namanya kangen istri.”

Senyumnya sederhana. “Ah iya tante.”

“Besok jalan bareng deh. Biar kalian kenal satu sama lain.” Saran dari Tante Ami. Dia pernah mendengar nama itu dari mamanya langsung.

Dan mengenai kencan yang disarankan oleh Tante Ami. Mungkin Renjana belum siap untuk kencan dengan Hanif.

“Renjana mau pastinya.” giliran Sukma yang menyambar tanpa pernah bertanya dulu kepada Renjana.

Atas dasar apa mamanya langsung berkata demikian tentang dia yang bersedia berkencan dengan Hanif.

“Ya sudah besok aku jemput jam sembilan. Kita pergi untuk bikin undangan langsung.”

Gila

Gila

Dan benar-benar gila.

Renjana ingin berteriak ketika calon suaminya mengatakan mereka akan membuat kartu undangan pernikahan besok ini. “Besok?” tanya Renjana memastikan.

“Iya besok, sekalian cari gaun. Nggak mau nunda lama-lama kalau sudah sepakat begini.”

Dua sifat yang berbeda akan menyatu. Renjana tidak pernah mengenal Hanif sebelumnya. Baru kali ini dia bertemu dengan pria itu dan akan menjadi suaminya, hidup bersama selamanya dengan pria itu.

Renjana menoleh ketika ada hantaran lamaran itu baru saja masuk bersama beberapa orang. “Nyonya hantarannya.”

“Iya taruh saja di sini.” Tante Ami meminta orang-orang itu menaruh hantaran di atas meja ruang tamu.

Begini ya rasanya dilamar?

Renjana menghela napas dan melihat banyak sekali hantaran yang diserahkan untuknya malam ini.

“Aku titip cincinnya juga di kamu. Karena acaranya akan digelar di sini. Mungkin pernikahannya tiga hari lagi. Kalau untuk resepsinya yang dua minggu lagi, apa kamu setuju, Renjana?”

Tuhan.

Renjana    ingin    menangis.    Tiga    hari    lagi?   Yang    artinya    itu adalah anniversary dia dan Yoga.

“Ah iya. Aku ngikut kalian saja.”

Tapi tunggu? Perihal cincin, kenapa bisa cincin langsung dipesan?

“Cincinnya juga cocok untuk kamu. Karena Mama kamu pernah ngasih ukuran cincin kamu. Jadi kami nyari yang cocok dan cantik buat kamu.”

Dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi sekarang. Dia akan benar- benar menikah dengan orang asing.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Duka Pernikahan    66-TAMAT

    Renjana beres-beres mainan anaknya yang berserakan sebelum Kennan pulang yang katanya sore ini akan mengajak mereka untuk jalan-jalan karena sudah janji dengan anak-anak. “Kakak, adek, bantuin Mama beresin mainan dong! Bentar lagi Papa pulang lho. Katanya mau diajak jalan-jalan.” Kainabil dan Zara bergegas membantu Renjana yang sedang menyapu dan memasukkan mainan sang anak ke dalam kantong yang cukup besar. Anaknya juga membantu dia membereskan mainan di sana. “Mama, nanti Papa ajakin kita ke mana?”“Nggak tahu, pokoknya beresin aja dulu.” Nabil yang sebagai kakak selalu membimbing Zara untuk keseharian mereka. Renjana yang melihat keduanya akur. Waktu selesai beres-beres lalu mereka membawanya ke pojokan agar memudahkan Renjana menyapu. Mendengar suara mobil, “Papa,” Zara yang baru saja membantu Nabil menaruh kotak mainannya di pojokan seketika berlari keluar bersama dengan Nabil. Waktu mereka berdua keluar Kennan melihat keduanya berlari. “Kenapa lari?” Keduanya langsung meme

  • Duka Pernikahan    65

    Di kediamannya Hanif sekarang ini sedang diramaikan oleh keluarga besarnya Hanif. Pasalnya Ayuna dibawa ke rumah sakit lagi sekarang ini karena akhir-akhir ini sering pendarahan. Hanif sampai tidak bisa bekerja karena harus mengurus istrinya yang sakit. Mertua yang terus menyalahkan, sementara itu Hanif harus bagaimana? Dia juga tidak memperbolehkan Ayuna bekerja lagi setelah istrinya itu keguguran. Tapi Ayuna mengatakan kalau dia sering ke rumah kedua orangtuanya. Jadi Hanif membiarkan istrinya pergi. Perihal kesalahan Ayuna selalu saja dia maafkan karena harus bertahan untuk Ayuna. Cukup lama Ayuna diperiksa. Sampai Hanif pun akhirnya bangun ketika melihat dokter keluar dari ruang pemeriksaan. “Suaminya Ibu Ayuna?” “Iya, Dokter. Saya suaminya.” “Bisa ikut saya ke ruangan sebelah?” Hanif ikut ke ruangan dokter tersebut lalu dia dijelaskan soal penyakit yang di derita oleh istrinya. “Apa ketika berhubungan Ibu Ayuna sering mengeluh sakit?” Tapi Hanif tidak pernah menyentuh Ayun

  • Duka Pernikahan    64

    Hari ini Renjana dijemput oleh sopir yang ada di rumahnya. Mengingat kalau Kennan akan pulang nanti sore. Pria itu mengatakan kalau dia akan pergi hanya dengan waktu seminggu. Tapi ternyata lebih dari itu suaminya ada di Palembang. Baru saja dia pulang dari rumah orangtuanya, ternyata ada mertuanya yang lebih dulu sampai di rumahnya Kennan. “Ma,” Renjana menghampiri mertuanya waktu ia baru pulang. Wanita itu merangkul Renjana. “Kamu kenapa nggak pernah ke rumah?” “Mas Kennan nggak bolehin ke mana-mana kalau dia nggak di rumah. jadi aku di rumah orangtuaku.” “Sekalipun ke rumah Mama?” “Iya, kemarin aja ke dokter Kak Teguh yang anterin?” Ekspresi orangtuanya Kennan terkejut. “Kamu sakit apa?” Renjana menyengir dan memegang tangan mertuanya. “Ma, aku isi.” Wajah wanita itu berkaca-kaca. “Sungguh?” “Iya, katanya enam minggu. Aku sempat bahas itu sama Mas Kennan sebelum dia berangkat. Tapi pas periksa ternyata udah enam minggu. Dia juga kan udah pernah bahas soal anak sama aku, Ma

  • Duka Pernikahan    63

    Hubungannya Hanif dengan Ayuna kian memburuk pasca kegugurannya Ayuna yang disebabkan oleh wanita itu terlalu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan tidak peduli dengan kandungan sampai membuat Hanif meradang lalu mengabaikan apa pun yang berkaitan dengan Ayuna lagi. Kalau saja satu kali keguguran barangkali Hanif tidak akan semarah ini, tapi ini sudah kedua kalinya Ayuna mengalami itu. Hanif yang menginginkan seorang anak di dalam rumah tangga kemudian tidak mendapatkan itu dari Ayuna. Sungguh itu sangat pedih sekali setelah tahu kalau istrinya tidak menjaga kandungan dengan baik. Waktu dia pulang bekerja, di rumah orangtuanya juga demikian. Hanif dan Ayuna masih saling mengabaikan satu sama lain. “Kamu maunya apa, Hanif? Jam berapa ini? kenapa kamu baru pulang setelah jam satu dini hari?” Mereka menunggu Hanif di ruang tamu. Sementara itu Hanif menghabiskan waktunya bekerja di kantor. “Sebenarnya malas di rumah karena malas bertengkar.” “Bertengkar apa? Di dalam kamar kamu ada Ayuna lho.

  • Duka Pernikahan    62

    Kehidupan bersama dengan Kennan terasa sekali. Renjana bebas melakukan apa saja, bekerja, bahkan suaminya tidak keberatan sama sekali. Suaminya lembut, menikahi duda tidak ada yang salah. Bahkan dirinya yang berstatus janda itu bersyukur kalau ada orang yang tidak keberatan dengan masa lalunya. Renjana hidup berdua dengan Kennan di rumah pribadi Kennan. Mendapatkan mertua yang lembut juga dan sayang pada Kennan. Tidak ada masa lalu yang diungkit. Renjana juga tahu bahwa cerita sebenarnya yang dijalani oleh Kennan diceritakan oleh mertuanya tanpa sepengetahuan pria itu. Renjana yang dipindahkan ke kantor pusat juga karena suaminya ada di sana. Dia sudah tidak di Surabaya lagi karena harus ikut dengan Kennan. Waktu dia berkemas, Kennan masuk ke dalam ruangannya. Renjana menjadi admin di bagian penjualan karena itu yang dia inginkan di sini. Tidak mau mengambil jabatan bagus lantaran sang suami yang menjadi pemiliknya. “Mau pulang?” Kennan mendekati meja kerjanya. Yang lain hanya meli

  • Duka Pernikahan    61

    Renjana yang akhirnya ikut pergi untuk liburan dari acara kantor itu ke Bali. Dia pergi bersama dengan yang lainnya juga. Akan tetapi dia berangkat bersama dengan keluarganya yang lain. Mereka semua dibiayai oleh Kennan. Renjana kebetulan juga waktu itu kedatangan Anggi yang akan dia ajak ke Bali. Mereka semua akan pergi untuk refreshing sebagai syukurannya Kennan. Semua anggota keluarga tahu bahwa Renjana dilamar oleh Kennan. Tapi orang kantor sama sekali tidak tahu bagaimana kisah perjalanan hidupnya Renjana dengan Kennan yang selama ini diketahui tidak menjalin hubungan apa pun sama sekali. Kennan juga terlihat sangat biasa saja waktu datang ke Surabaya. Tapi tidak lagi menginap di rumah mbahnya Renjana. Pria itu memilih untuk menginap di hotel. Waktu mereka sedang makan malam di Bali. Kennan bersama dengan para pria lainnya. Tidak ada satu pun perempuan boleh bergabung di meja tersebut. Sebab yang diketahui bahwa memang Kennan tidak pernah mau berbaur dengan seorang perempuan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status