مشاركة

Pendatang Baru

مؤلف: Rainey Alta
last update تاريخ النشر: 2026-06-11 21:37:34

Debur ombak seolah terhenti. Tepat bersamaan dengan nyala terakhir api tersebut, Roselyn tidak percaya dengan yang barusan didengar.

"Kalau begitu menikahlah denganku, Lady."

Kaelus tidak berkedip saat mengatakannya. Pria itu pun meraih ujung rambut wanita tersebut dan mengecupnya. "Aku tidak sedang memaksamu, Lady. Kau tak perlu buru-buru menjawab, tapi tolong pertimbangkanlah setidaknya sekali."

"Pasti banyak tawaran pernikahan yang menguntungkan Kael."

"Aku tidak mengajukan pernikahan kontrak, Lady. Seperti kau yang memilihku untuk melarikan diri, rasanya aku hanya akan menikah jika denganmu."

"Kenapa aku, Grand Duke?"

Kaelus tidak langsung menjawab.

Ia justru mengambil kerang terakhir, meletakkannya di depan Roselyn tanpa berkata apa-apa.

"Kael, aku serius bertanya."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Makan dulu."

Wanita berambut panjang itu menatapnya tidak percaya. Pria yang baru saja melamar, sekarang malah menyuruh lanjut makan. Ia pun membuka mulut hendak memprotes, tapi Kaelus sudah berdiri, menepuk pasir dari celana.

"Besok kita berangkat pagi. Istirahat, Lady."

Roselyn hanya bisa menatap punggung tegap Kaelus yang menjauh. Di tangannya, kerang itu masih terasa hangat. Sama seperti satu pertanyaan yang belum terjawab, Kenapa aku?

Malam itu Roselyn tidak langsung tidur. Ia duduk di ambang jendela, mendengarkan debur ombak yang pelan-pelan menenangkan. Entah kenapa, malam itu ia tidak terlalu membutuhkan jawaban. Sesaat, ia lupa bahwa dirinya adalah seorang pelarian yang diburu.

***

Keesokan pagi, kabut masih memeluk dermaga saat Kaelus menuntun seekor kuda hitam besar ke depan villa. Hewan itu tampak terlatih dan kuat, tetapi belum tentu bisa membawa dua orang sekaligus. Terlebih rute mereka masih panjang.

"Kudanya hanya satu, Kael?"

"Iya, Lady. Lagipula lebih aman jika kau bersamaku."

Tanpa menunggu izin, Kaelus memegang pinggang Roselyn dan mengangkatnya dengan mudah ke atas pelana. Disusul pria itu naik tanpa canggung sedikit pun.

"Kau bisa ikut memegang tali kekangnya, Lady."

Roselyn tidak menjawab. Ia hanya menyentuh tali itu, merasakannya di antara jemari.

"Kael, makin cepat sampai, makin bagus, 'kan?"

"Benar, kenapa—"

Belum sempat Kaelus menyelesaikan kalimatnya, Roselyn menyentak tali dengan kuat dan memberi aba-aba pada kuda hitam besar itu dengan tekanan kaki.

Kuda itu meringkik, lalu melesat bagai anak panah yang lepas dari busur. Kaelus tersentak. Refleksnya sebagai ksatria membuatnya hampir mengambil alih kendali.

"Lady! Apa yang kau lakukan?!"

"Tenang saja, Kael. Paman melatihku sejak kecil saat tidak ada orang di rumah. Aku ini sangat mahir, tahu!"

Rambut panjang wanita itu berkibar tertiup angin, dan untuk pertama kalinya, Kaelus melihat binar penuh kebebasan di mata cokelat itu.

Mereka membelah hutan pinus dan jalanan berbatu. Kaelus yang awalnya berniat melindungi, kini justru hanya bisa melingkarkan tangannya di pinggang Roselyn.

"Kael!"

"Ah, maaf, Lady. Aku khawatir salah satu dari kita akan jatuh."

Bohong.

Ksatria yang terbiasa memacu kuda sambil memenggal kepala lawan, mana mungkin jatuh semudah itu.

"Baiklah, pegangan yang erat kalau begitu. Akan kubuat kita tak perlu bermalam di luar lagi."

Meski beberapa kali berhenti untuk mengistirahatkan kuda, mereka benar-benar tiba lebih awal. Roselyn menarik tali kekang, membuat kuda itu melambat hingga berhenti.

Sang grand duke pun menarik napas pendek, menatap siluet kastil yang mulai terlihat dari balik pegunungan bersalju. Tampak garis cakrawala jingga, senja Valthorne belum pernah secantik itu.

"Kita seharusnya sampai besok pagi, Lady."

"Aku tak mau tidur di villa lagi, Kael. Lalu … rakyatmu pasti merindukanmu."

Kaelus melirik sekilas. Pipi Roselyn kemerah-merahan diterpa angin Utara yang dingin menusuk, rambutnya kusut, dan ada rumput kering yang entah kapan tersangkut di ujung kepang.

Wanita itu masih memandang ke arah kastil, tanpa tahu bahwa ucapan barusan memberikan kesan yang dalam.

Rakyatmu pasti merindukanmu.

Bukan kamu pasti ingin pulang. Bukan kita harus segera tiba.

"Kaelus, tentang lamaranmu semalam …."

"Katakan, Lady."

Pria itu terpejam, bersiap menerima penolakan. Namun, sepasang tangan mungil nan lembut tiba-tiba saja menggenggam tangannya yang kekar.

"Aku menerimanya."

"Kau yakin?"

"Apa Kael berubah pikiran?"

"Tidak akan. Ayo buat pesta pernikahan yang mewah, Lady. Seluruh Kekaisaran Hera harus menyaksikan kebahagiaan kita."

Sekali lagi, Roselyn tersenyum dan memacu kuda. Kali ini perlahan, melewati hamparan salju yang tebal.

Gerbang kastil Valthorne pun terbuka. Batu-batu hitam yang dingin menyambut mereka di bawah langit jingga yang perlahan memudar.

Kaelus turun lebih dulu, lantas mengulurkan tangan ke arah Roselyn. Beberapa prajurit yang berjaga membungkuk singkat saat mereka melintas. Semua orang mengamati sang tamu dalam diam. 

Vivianne sudah berdiri di depan pintu masuk kastil, kedua tangan terlipat rapi di depan tubuh. Wanita berambut hitam itu membungkuk singkat saat Kaelus mendekat.

"Selamat datang pulang, Grand Duke."

"Terima kasih, Kakak Ipar."

Vivianne tersenyum tipis, lalu matanya beralih sebentar ke arah kuda hitam yang kini dibawa seorang prajurit ke kandang.

"Kami mengirim dua kuda untuk menjemput Anda, Grand Duke. Apakah terjadi sesuatu pada salah satunya?"

Kaelus tidak langsung menjawab. Baru tiga detik berselang, ia angkat suara.

"Lebih aman naik kuda dengan rute seperti itu."

Vivianne mengangguk pelan, seolah sudah cukup paham. Mana mungkin seorang kesatria yang pernah memimpin pasukan menembus badai salju selama tiga hari tiga malam, tidak tahu kalau membebani kuda di jalanan ekstrim justru berbahaya.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Pendatang Baru

    Debur ombak seolah terhenti. Tepat bersamaan dengan nyala terakhir api tersebut, Roselyn tidak percaya dengan yang barusan didengar."Kalau begitu menikahlah denganku, Lady."Kaelus tidak berkedip saat mengatakannya. Pria itu pun meraih ujung rambut wanita tersebut dan mengecupnya. "Aku tidak sedang memaksamu, Lady. Kau tak perlu buru-buru menjawab, tapi tolong pertimbangkanlah setidaknya sekali.""Pasti banyak tawaran pernikahan yang menguntungkan Kael.""Aku tidak mengajukan pernikahan kontrak, Lady. Seperti kau yang memilihku untuk melarikan diri, rasanya aku hanya akan menikah jika denganmu.""Kenapa aku, Grand Duke?"Kaelus tidak langsung menjawab.Ia justru mengambil kerang terakhir, meletakkannya di depan Roselyn tanpa berkata apa-apa."Kael, aku serius bertanya.""Aku tahu.""Lalu?""Makan dulu."Wanita berambut panjang itu menatapnya tidak percaya. Pria yang baru saja melamar, sekarang malah menyuruh lanjut makan. Ia pun membuka mulut hendak memprotes, tapi Kaelus sudah berdi

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Menikahlah Denganku

    Roselyn terbangun di pagi hari dengan perut yang bergejolak. Langit seakan tiba-tiba berputar, pagar kapal yang tidak cukup kuat untuk dipegangi, dan Kaelus yang entah dari mana sudah berdiri di samping dengan alis mengerut. Berbeda dengannya, bermalam di dek tetap membuat pria itu bugar.“Biar aku akan turun dulu, Lady. Kau bisa berpegangan padaku nanti.”Putri Vogard melirik ke arah papan kayu yang terhubung dengan daratan. "Aku baik-baik saja.""Kau pucat, Lady.""Aku bilang baik-baik—"Ombak besar menghantam lambung kapal. Roselyn oleng, dan sebelum kakinya sempat menemukan pijakan, tubuhnya sudah terangkat. Kaelus sigap menggendong. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun, dan justru itu menghindarkan mereka dari kecanggungan.“Apa ini yang disebut baik-baik saja?”“Maaf, Kael. Aku sebenarnya malu. Aku tidur di kamar, tapi tetap sakit.”“Wajar saja, ini pertama kali dirimu naik kapal sejauh ini.”Hari sudah meredup ketika dermaga kecil itu akhirnya muncul di cakrawala. Langit pesi

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Pria yang Menemanimu

    Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan diri. Gaun baru yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru terasa nyaman. Ia lantas mendekati Kaelus yang duduk di sofa dengan cangkir teh mengepul. “Minumlah, kau pasti kedinginan, Lady.”"Bagaimana kau menyiapkan baju dengan ukuranku?""Aku punya mata."Roselyn menahan senyum. Ia mengambil cangkir tersebut. Teh ini terasa berbeda dari yang biasa disajikan di kediaman Sirius — lebih ringan dan sedikit floral.Kaelus pun menatap sosok di depan sejenak, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal, pena, dan sebilah pisau kecil yang lebih mirip alat tulis daripada senjata."Vogard akan mudah menemukan anak gadis yang melarikan diri. Tapi jika bukan bagian dari Sirius lagi, pasti berbeda.""Apa itu?"“

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Gadis Tanpa Keluarga

    Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan diri. Gaun baru yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru terasa nyaman. Ia lantas mendekati Kaelus yang duduk di sofa dengan cangkir teh mengepul. “Minumlah, kau pasti kedinginan, Lady.”"Bagaimana kau menyiapkan baju dengan ukuranku?""Aku tinggal beli semua ukuran dan mengira-ngira yang cocok untukmu."Roselyn menahan senyum. Ia mengambil cangkir tersebut. Teh ini terasa berbeda dari yang biasa disajikan di kediaman Sirius, yang ini lebih ringan dan sedikit floral.Kaelus pun menatap sosok di depan sejenak, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal, pena, dan sebilah pisau kecil yang lebih mirip alat tulis daripada senjata."Vogard akan mudah menemukan anak gadis yang melarikan diri. Tapi jika

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Fajar di Pelukanmu

    Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejenak di tepi ranjang.Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke kegelapan. Mencoba bicara dengan Vogard barusan hanya membuktikan satu hal, pria itu tidak akan pernah berubah. Ambisinya lebih penting daripada putri kandung sendiri.“Kakak diajari berpedang untuk menaklukkan dunia, tapi aku malah diajari berdandan supaya dunia menaklukkanku. Cuma karena dari rahim berbeda, aku tidak dianggap manusia,” katanya.Roselyn pun melepas gaunnya dan berganti dengan seragam pelayan. Ia menunggu dalam hening, menghitung setiap detak jam dinding, hingga suara derap pergantian penjaga terdengar sayup dari luar.Begitu keadaan dirasa aman, ia menyelinap keluar menyusuri lorong pelayan menuju halaman belak

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Salju yang Hangat

    Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memperlihatkan hal memalukan ini, Grand Duke," ucapnya lirih, bibirnya dipaksa membentuk seulas senyum tipis yang gemetar.Kaelus tidak langsung menjawab. Sepasang mata merahnya yang tajam memperhatikan setiap detail kecil pada wajah Roselyn. Air mata yang mengering, penampilan yang berantakan, dan senyum palsu tampak begitu menyakitkan."Simpan senyum palsumu, Lady Sirius."Roselyn tertegun, lalu tertawa getir. "Padahal aku melatih senyum ini selama setahun di depan cermin. Ternyata Anda langsung tahu, ya. Tapi ... kenapa Anda menolongku?""D'Arest dan aku memiliki urusan yang belum selesai sejak lama." Mata merahnya tidak berkedip saat menjawab. "Melihat serangga itu merayap ke tempat sepi, aku

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status