Masuk"Atau kau yang ingin jauh dariku," celetuk Roselyn tanpa disertai candaan.Kalimat penuh kejujuran itu sulit untuk dibantah dengan mudah.Kaelus akhirnya menatap sang pujaan hati. Ada lingkar gelap tipis di bawah mata Roselyn.“Kau baik-baik saja, Rose? Tubuhmu butuh istirahat, kenapa bangun sepagi ini.”"Aku bahkan tidak bisa tidur karena menunggumu."Sontak Kaelus tersentak. Perasaan bersalah karena telah menelantarkan istrinya semalaman kembali membuncah di dalam dada.‘Sial. Padahal seharusnya aku merawat dan menenangkannya,’ gerutunya, memaki dirinya sendiri dalam hati."Ayo kita ke kamar dan tidur sekarang," ajak Kaelus, suaranya melunak, mencoba memperbaiki keadaan yang retak."Katakan saja, apa ada pekerjaan wilayah yang bisa kubantu?""Tidak perlu, Rose. Ayo kita ke kamar—"Kalimat Kaelus terputus saat Putri Vogard itu berjalan mendekat, lalu dengan tenang duduk di sudut meja kerja. Jemari Roselyn bergerak cepat meraih lembaran berkas yang terserak, membacanya sekilas, hingg
"Dua belas, Yang Mulia."Kepala pelayan, Mrs. Hargrove, berdiri kaku di ambang ruang kerja, tumpukan kertas digenggam erat di depan dadanya seperti perisai.Kaelus tidak mengangkat kepala dari berkas yang sedang ditandatanganinya. "Dua belas apa?""Surat pengunduran diri."Pena di tangan Kaelus berhenti bergerak.Ia menatap wanita tua itu, mencari tanda bahwa ini hanya lelucon buruk yang terlambat. Tidak ada. Wajah Mrs. Hargrove pucat, matanya menghindar dari tatapan sang majikan.“Sebenarnya sudah banyak pelayan dengan gerak-gerik aneh, tapi baru semalam mereka mulai memberikan surat itu.”"Letakkan saja di meja."
Roselyn termenung di kamar yang sunyi, menatap pantulan dirinya di cermin dengan rasa lelah yang menggantung di tulang.Ia tidak terluka. Tidak ada memar atau luka yang dalam. Hanya wajah yang sama, rambut cokelat sedikit kusut, dan gaun yang masih terpasang rapi.Seolah tubuhnya sendiri enggan mengakui seberapa parah luka yang sebenarnya ia rasakan.'Pakaian dari Lancaster sebaiknya dibakar.'Kalimat itu kembali menggema, dan Roselyn memejamkan mata dengan rasa getir yang menghujam jauh ke dalam dada.Dua kehidupan telah dilalui, nyatanya belum cukup untuk membuatnya tangguh guna menumpulkan rasa sakit dari tatapan-tatapan menghakimi yang menuntut pertanggungjawaban atas kesuciannya.
Gerbang besi mansion Valthorne terbuka lebar menyambut kepulangan sang pemilik wilayah Utara.Namun, hawa dingin yang menyergap kali ini bukan sekadar karena salju yang masih betah memeluk tanah, melainkan suasana di dalam kediaman itu mendadak terasa asing bagi Roselyn."Selamat datang kembali, Grand Duke, Grand Duchess."Kepala pelayan membungkuk dalam, menyambut Kaelus dan Roselyn yang baru saja menginjakkan kaki di aula utama. Namun, keheningan yang mengikuti ucapan itu terasa terlalu pekat.Berbeda dari biasanya, barisan pelayan yang berdiri di sepanjang koridor kini menunduk begitu dalam, seolah-olah lantai marmer di bawah kaki mereka jauh lebih menarik daripada menyapa sang nyonya rumah.“Grand Duke,
Sebelum melangkah keluar dari pintu penginapan, Kaelus menahan pundak Roselyn pelan, menghentikan langkah sang istri tepat di dekat kereta kuda yang sudah siap.Pria berambut perak itu berlutut dengan satu kaki, memeriksa kembali ikatan tali sepatu Roselyn, lalu berdiri untuk merapikan mantel tebal yang menyelimuti tubuh kecil tersebut. "Ada yang sakit?" tanya Kaelus, sepasang netra merahnya menatap lurus, memindai wajah Roselyn dengan raut sarat akan kekhawatiran.Roselyn menggeleng pelan, seulas senyum tipis terbit di bibirnya. "Aku sudah jauh lebih baik, Kael. Sungguh."Kaelus tidak langsung menjawab. Ia meraih jemari Roselyn yang terbalut kain perban, menggenggamnya perlahan seolah memastikan s
Keheningan seketika menyelimuti kamar setelah kalimat itu lolos dari bibir Kaelus.Roselyn tidak langsung menjawab. Ia membalikkan tubuh dalam dekapan hangat Kaelus, menatap langsung wajah pria itu.Di luar jendela, salju Lancaster masih turun dengan lambat, perlahan menutupi noda darah di halaman dengan lapisan putih yang polos.Alam seakan tengah berusaha keras untuk berpura-pura bahwa tidak ada hal buruk yang baru saja terjadi malam itu.Namun, Roselyn tidak bisa ikut berpura-pura abai."Katakan sekali lagi," ucap Roselyn pelan."Aku cuma ingin cari tahu, kenapa kau bisa mengulang waktu, Rose."Ada semburat kegelisahan yang me
Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan dir
Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejen
Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memper
Tiga hari dalam kurungan kamar adalah waktu yang cukup bagi memar di tubuh Roselyn untuk berubah warna dari ungu pekat menjadi kuning pudar. Berkat elysium dari sang paman, luka di dahinya hanya menyisakan garis merah tipis.Vogard pun memastikan garis itu tertutup bedak sebelum menyeret putrinya k







