Share

Fajar di Pelukanmu

Author: Rainey Alta
last update publish date: 2026-01-13 11:10:16

Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.

Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejenak di tepi ranjang.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke kegelapan. Mencoba bicara dengan Vogard barusan hanya membuktikan satu hal, pria itu tidak akan pernah berubah. Ambisinya lebih penting daripada putri kandung sendiri.

“Kakak diajari berpedang untuk menaklukkan dunia, tapi aku malah diajari berdandan supaya dunia menaklukkanku. Cuma karena dari rahim berbeda, aku tidak dianggap manusia,” katanya.

Roselyn pun melepas gaunnya dan berganti dengan seragam pelayan. Ia menunggu dalam hening, menghitung setiap detak jam dinding, hingga suara derap pergantian penjaga terdengar sayup dari luar.

Begitu keadaan dirasa aman, ia menyelinap keluar menyusuri lorong pelayan menuju halaman belakang yang remang. Di dekat gerbang kayu yang tersembunyi, Matthew sudah berdiri menanti.

Kepala penjaga itu pun mengulurkan jubah hitam bertudung sambil memindai sekeliling dengan waspada.

"Tutupi diri Anda, Nona."

Roselyn langsung mengenakan jubah itu. "Terima kasih sudah membantuku."

"Terima kasih telah memercayai saya, Nona. Semoga Anda menemukan kebebasan yang tidak pernah didapatkan ibu Anda."

"Semoga Paman juga segera bebas."

Matthew terdiam mendengar kata 'paman'. Sesuatu di dadanya seakan luruh. "Jadi Nona sudah tahu?"

Roselyn mengganggu, mengencangkan tudung kepala yang dikenakan. "Terima kasih sudah bertahan di sini, Paman. Aku tahu itu tidak mudah."

Tenggorokan Matthew tampak bergerak. Ia menoleh ke gerbang kayu yang tertutup rapat. "Adikku mati di tangan keluarga ini karena aku gagal melindunginya. Aku bertahan demi menjaga putrinya, sekaligus keluargaku yang tersisa."

"jadi Paman bertahan di sini ... demi aku?"

"Benar." Sudut bibir Matthew melengkung tipis. "Tapi karena karena ingin melihat Count menerima karma juga. Pergilah selagi gelap, Nona."

"Aku akan menjemput Paman setelah keadaan membaik. Aku janji."

Matthew membuka gerbang. "Jangan membuat janji yang memberatkanmu, Nona. Cukup hiduplah untuk dirimu sendiri, itu sudah lebih dari cukup bagiku."

Mereka melewati jalan rahasia taman belakang yang tembus ke gang sempit jantung ibu kota. Di sana, langkah sang paman terhenti. Perjalanan Roselyn berlanjut sendirian.

Tiga kali ia berganti kereta kuda. Roselyn juga cemas kala berjalan kaki menembus pasar yang baru mulai ramai. Setiap kali bayangan seseorang bergerak terlalu cepat di belakang, jantungnya berdebar hebat dan tangannya reflek menyentuh gagang belati di balik kamisol.

Tapi tidak ada yang mengejar. Tidak ada nama yang menyebut namanya. Hanya suara kota yang perlahan bangun dari tidur.

Pelabuhan pun menyambut sang Mawar  Suci Kekaisaran dengan aroma garam. Langit mulai kemerahan di ufuk timur.

Roselyn menerobos kerumunan buruh yang mengangkut peti-peti besar. Matanya memperhatikan satu per satu bendera kapal yang berjejer di dermaga. Hingga akhirnya, berhenti pada satu titik.

Bendera Valthorne masih berkibar. Roselyn berlari ke arah itu, takut terlambat.

Sepatu hak nyaris membuatnya tergelincir. Syukurlah sepasang tangan kekar menyambar lengannya, tepat sebelum ia kehilangan keseimbangan. 

Roselyn mendongak, terengah. Mata merah Kaelus menatapnya dari atas dengan ekspresi yang sulit dibaca, antara terkejut dan seakan sudah memprediksi ini akan terjadi.

"Tolong bawa aku bersamamu," pintanya dengan napas memburu.

"Apa maksudmu, Lady Sirius? Kapal ini berangkat dalam sepuluh menit."

"Aku tahu." Roselyn merogoh balik kamisolnya, mengeluarkan sesuatu yang sudah dipegang erat sepanjang malam. Sebuah sapu tangan sutra dengan inisial R dan bordir melati di sudutnya — lusuh, tapi terlipat rapi di dalam saku jubah Kaelus yang dipinjam. "Ini milikku. Kau anak itu."

Kaelus mematung.

Kata-kata Roselyn seketika menyeret kesadarannya kembali ke belasan tahun silam, ke sudut gelap sebuah panti asuhan kumuh yang dipenuhi bau apek dan keputusasaan.

Di sana, seorang anak laki-laki dengan rambut perak kusam duduk meringkuk, menyembunyikan luka cambuk di lengan. Saat itu pula, seorang gadis kecil dengan gaun yang bersih mendekat. Tanpa jijik, ia membalut luka si bocah dengan sebuah sapu tangan yang sama.

“Lukamu harus ditutup agar tidak kotor.” Ia membalut luka itu dengan sapu tangan sutranya. “Kau menangis karena lapar, ‘kan? Makanlah rotiku. Ayahku bilang, menunjukkan kesedihan di depan orang lain itu bukti kelemahan.”

Gadis itu tersenyum, lalu pergi. Tapi Kaelus sempat melihat  bekas luka serupa, tersembunyi di balik gaun selutut itu.

Kaelus mengerjap. Pelabuhan yang ramai kembali dilihat.

Di pelukannya wanita yang sama, tetapi bukan lagi gadis kecil yang menyembunyikan luka di balik gaun. Sebaliknya, seseorang yang melarikan diri dalam seragam pelayan.

"Akhirnya kau mengingatku." Senyum yang jarang sekali muncul, melintas di wajah Kaelus. "Naiklah. Ini waktunya memanen kebaikan yang kau tanam."

"Aku takut Ayah akan mengejar kita."

"Tidak akan bisa menyentuhmu di sini, Lady." Tangannya menuntun Roselyn ke jembatan kapal. "Ayo."

Di tengah jembatan, langkah Roselyn melambat. Tangannya reflek menyentuh gagang belati di balik kamisol, satu-satunya benda yang ia bawa dari rumah itu.

Kaelus berhenti. Tanpa peringatan, ia merampas belati itu dengan sigap.

"Itu satu-satunya senjataku!"

Kaelus menatap belati sejenak. Ukirannya cantik, pemberian siapa, ia tidak bertanya. Lalu dengan satu gerakan santai, ia melemparkannya ke laut begitu saja.

"Kau punya aku." Ia berbalik menghadap Roselyn, memangkas jarak hingga suara ombak terasa lebih keras dari detak jantung. "Belati hanya akan membuat tanganmu terluka. Mulai detik ini, akulah senjatamu."

Ia meraih tangan Roselyn yang berdebu, mengecupnya dengan lembut. "Lupakan nama Vogard. Kau milik Valthorne mulai sekarang."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Racun yang Tersimpan

    Dentang lonceng terdengar begitu gaduh di luar, memecah keheningan koridor. Beberapa kesatria Valthorne bergegas menuju menara untuk memeriksa sumber keributan.Sementara itu, Kaelus masih berdiri tegak di depan ruang arsip. Jarinya mengetuk-ngetuk lengan kiri dengan irama teratur, menanti jawaban yang telah dipersiapkan oleh mendiang adik Rieta."Kuharap kau punya alasan yang masuk akal, Lexcan," ucap Kaelus datar. Tatapan matanya lurus, dingin, dan menuntut.Rieta sempat bergeming. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian. "Yang Mulia, saya menemukan catatan ini terselip di dalam buku harian Kakak.""Aku tidak tertarik membaca catatan pribadi orang yang sudah meninggal. Katakan saja intinya."

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Salju yang Menutup Luka Lama 

    Kereta kuda Valthorne bergerak meninggalkan pelabuhan saat fajar musim dingin menyemburat di ufuk timur.Rembulan merah semalam telah tenggelam, digantikan langit kelabu yang membawa angin dingin khas Utara.Di dalam kabin yang hangat, Roselyn bersandar pada bahu Kaelus. Jemarinya yang terbalut sarung tangan beludru digenggam erat, seolah pria itu enggan membiarkan sejengkal jarak pun memisahkan mereka."Kau memikirkan ucapan Merran semalam, Rose?"Roselyn menghela napas tipis, matanya menatap kosong ke luar jendela yang buram oleh embun es. "Tentang langit yang mencoba mengembalikan takdir awal. Iya, aku kepikiran.”“Kau tahu sudah banyak yang berubah dibanding masa lalu.”

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Rahasia Keturunan Lennox

    Gemuruh guntur membelah keheningan di dalam kamar itu.Ledakan cahaya dari Jantung Emas Samudera pelan-pelan memudar, meninggalkan kehangatan magis yang kini mengendap di antara aromaterapi herbal yang pekat.Raja Odiley termenung sejenak. Kelopak mata Brenand sedikit bergetar, menatap sepasang netra hitam jernih yang selama 12 tahun ini ditunggu untuk terbuka kembali.Namun, Merran sama sekali tidak menoleh ke arah sang raja. Ekspresi wanita itu tampak teramat dingin, seolah Brenand hanyalah seonggok angin lalu.Tidak kuasa menahan diri, ia pun mendengus pelan, memprotes dengan nada getir yang bercampur rasa tidak terima yang kekanak-kanakan. “Aku yang menunggu

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Bulan Merah

    “Sebenarnya sejak kapan kau curiga aku juga kembali ke masa lalu?” tanya Roselyn sembari bersandar di dada Kaelus.Pria bermanik merah itu pun menatapnya sejenak, sebelum memeluk tubuh sang istri yang duduk di atas kedua pahanya. Mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, Kaelus sempat terdiam, jemarinya mengusap pelan helai rambut cokelat Roselyn.Kereta kuda yang sempat berguncang pun kini bergerak lambat, membelah hujan salju lebat yang menutupi jalur curam menuju wilayah perbatasan.“Kau mau jawab atau tidak?”Roselyn sedikit mendongak, memegangi pipi Kaelus dengan kedua telapak tangan yang mungil, sementara bibirnya cemberut, meminta jawaban.Kaelus mengecup dahi sang pujaan hati, lalu menyahut, “Sejak melihatmu di pesta kekaisaran.”“Ah, saat pertama kali bertemu, ya?” lanjut Roselyn, kelopak matanya berkedip heran.“Benar, Sayangku.”“Mustahil kau langsung tahu, ‘kan?”“Hm, kalau diingat-ingat, hari itu kau tampak murung. Bahkan seperti orang yang tidak nyaman berada di keramaian,” t

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Janji Raja Odiley

    “Kepalamu akan langsung melayang kalau bergerak,” ancam Kaelus dengan pedang yang terhunus tepat di samping nadi sang penyusup.Pria di bawah bayangan pohon willow itu sempat terkejut. Kelopak matanya sedikit melebar menangkap pantulan cahaya dari bilah besi yang menempel erat di kulit leher. Ia tidak menyangka Kaelus bisa bergerak secepat ini dalam sunyi. Padahal beberapa saat lalu, dirinya sempat terkecoh hingga masuk kembali kamar dan mengunci pintu balkon.Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sesaat. Ketegangan di wajah sang tamu tak diundang itu luruh. Ia terlampau santai untuk seseorang yang nyawanya berada di ujung tanduk."Kalau aku mati, maka kau sendiri yang akan kesulitan," sahut pria itu. Suaranya besar, tetapi terdengar begitu halus.Ia pun berbalik dengan senyuman yang tersungging di bibir tipisnya. Cahaya bulan yang tipis akhirnya menyinari wajah tegas nan rupawan milik Brenand Cyruss, Raja Odiley.Kaelus tidak menurunkan pedangnya sedikit pun. Matanya kian menggela

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Penguntit Tampan

    Jeritan perawat memecah kesunyian pagi.Roselyn menjatuhkan pena yang digenggam. Sebelum sempat mencerna kalimat yang menyusul—tinta menciprat, membentuk bercak hitam di atas laporan yang belum sempat ditandatangani."Grand Duchess! Lady Lexcan sudah sadar!"Kursi kerja terdorong ke belakang dengan suara berderak keras. Roselyn sudah berlari sebelum benar-benar memutuskan untuk berlari, gaunnya melambai liar, melewati lorong yang terasa lebih panjang.Dua hari menunggu tanpa jawaban pasti dari para dokter, dua hari menahan napas setiap kali pintu Kamar Emerald berderak, akhirnya berujung pada satu kalimat yang membuat dadanya bergetar antara lega dan takut untuk berharap terlalu banyak.Ia sampai di depan Kamar Emerald

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Gadis Tanpa Keluarga

    Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan dir

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Salju yang Hangat

    Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memper

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Kaelus Valthorne

    Tiga hari dalam kurungan kamar adalah waktu yang cukup bagi memar di tubuh Roselyn untuk berubah warna dari ungu pekat menjadi kuning pudar. Berkat elysium dari sang paman, luka di dahinya hanya menyisakan garis merah tipis.Vogard pun memastikan garis itu tertutup bedak sebelum menyeret putrinya k

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Luka yang Membiru

    Roselyn berlari keluar tanpa menoleh lagi. Hawa dingin malam itu terasa menusuk kulitnya yang hanya terbalut gaun tipis. Namun, itu tak sebanding dengan jantung yang nyaris copot. Berdebar antara cemas dan puas karena baru saja menendang ego sang Duke.Empat jam menuju rumah pun terasa seperti siks

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status