MasukTiga hari dalam kurungan kamar adalah waktu yang cukup bagi memar di tubuh Roselyn untuk berubah warna dari ungu pekat menjadi kuning pudar. Berkat elysium dari sang paman, luka di dahinya hanya menyisakan garis merah tipis.
Vogard pun memastikan garis itu tertutup bedak sebelum menyeret putrinya ke pesta dansa kekaisaran. Ia memoles Roselyn agar kembali menjadi 'Mawar Suci' yang sempurna.
"Bersyukurlah Duke belum membatalkan pernikahan kalian. Bujuk dia malam ini dan amankan posisi Duchess itu," titah Vogard. Ia meremas tangan Roselyn kuat-kuat tepat sebelum pintu ballroom dibuka.
"Pasti mudah bagimu 'kan, Rose? Jangan buat ayahmu ini memukulmu lagi."
"Aku mengerti."
Begitu nama Keluarga Sirius menggema dan pintu terbuka, seluruh atensi tersedot pada mereka. Di balik kipas bulu, para bangsawan wanita menyembunyikan seringai, menanti noda apa yang akan ditunjukkan oleh sang pusat sosialita malam ini.
Segera setelah lepas dari pengawalan ayahnya, Roselyn menyambar segelas sampanye dan menyingkir ke sudut. Baginya, setiap pria yang mendekat tampak seperti replika Derrick—wajah mereka berbeda, namun memiliki binar lapar yang sama; ingin mencicipi sesuatu yang manis sebelum akhirnya membuangnya.
Roselyn bahkan menolak semua ajakan dansa dengan alasan kesehatan yang belum pulih, sampai akhirnya muak sendiri dan menyelinap ke balkon paling jauh. Tirai beludru tebal pun diturunkan, memblokir pandangan dari dalam.
Dari dalam ballroom, alunan musik waltz terus mengalir. Ia bahkan tidak mendengar langkah kaki. Namun, tiba-tiba ada bayangan di sampingnya. Ketika berpaling, Derrick sudah berdiri terlalu dekat.
"Aku menutup tirainya karena mau sendirian."
"Aku tahu,” jawab sang duke, memilin ujung rambut Roselyn. "Itulah mengapa aku ikut, Rose. Aku tidak mau kau kesepian."
"Duke harusnya berdansa saja dengan para Lady di dalam sana."
"Aku hanya mau berdansa dengan milikku … kau."
"Aku bukan milik siapa pun! Kita sudah sepakat untuk membatalkan pertunangan."
"Sejak kapan? Aku cuma memberi waktu merenung untukmu, tapi sepertinya calon pengantinku ini salah paham."
Mata Roselyn membelalak, berusaha melepaskan diri dari dekapan Derrick. “Aku bukan calon pengantinmu lagi.”
"Jika bukan aku, ke pelukan pria mana kau akan lari, Rose? Bahkan jika aku melepaskanmu, ayahmu itu pasti akan menjualmu.”
“Aku tak peduli. Bahkan kalau harus pergi ke neraka pun, kita tak usah bertemu lagi!”
“Berhenti bicara omong kosong, ayo lanjutkan saja yang kemarin.”
Derrick mempererat dekapannya. Ia tak peduli tubuh kecil yang memberontak itu dan malah melumat bibir Roselyn dengan kasar.
Satu tangannya mencengkeram kuat kedua pergelangan tangan Roselyn di atas kepala, sementara tangan lainnya menekan bahu wanita itu hingga menghantam pagar balkon yang dingin. Roselyn menarik napas untuk berteriak. Namun, Derrick bergerak lebih cepat, menutup paksa mulutnya dengan lumatan yang lebih dalam dan panas.
Pria bermata biru itu sempat terkekeh pelan, sebelum kembali menariknya dalam pelukan. Tangan pria itu pun makin liar, meremas dada Roselyn. Hingga akhirnya ….
PLAK!
Tamparan pertama mendarat keras di pipi Derrick. Roselyn gemetar dari ujung kaki hingga ujung jari.
"Kau … menjijikkan."
Derrick menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Ia tidak marah, justru merasa terhibur.
"Kau memang penuh kejutan, Rose."
"Tinggalkan aku sebelum aku berteriak!"
"Teriak saja."
Derrick menjadi semakin brutal. Ia sama sekali tidak memberikan ruang sekecil apa pun bagi Roselyn untuk berpaling atau sekadar menghirup udara.
Dengan kekuatan yang jauh lebih besar, ia kembali mengunci tubuh Roselyn, mengabaikan getaran hebat yang menjalar dari bahu wanita itu.
Tangannya yang kasar kini mencengkeram rahang Putri Vograd dan membuatnya meringis kesakitan. Ia memaksa wajah Roselyn menengadah, memastikan mata biru kelamnya bisa menatap langsung pada ketakutan yang terpancar jelas di sana.
"Jangan begini, Duke ...."
"Tidak usah menangis, Rose. Akan kunikahi kau setelah ini."
Napas Roselyn tersengal, dadanya sesak seakan dihimpit batu besar. Harga dirinya telah diinjak-injak tanpa ampun di bawah kaki pria itu.
Di tengah kepungan gairah yang menjijikkan itu, tangan Roselyn meraba pinggiran balkon dengan sisa tenaga yang dimiliki. Ia pun meraih gelas kristal di sana. Dengan satu sentakan nekat yang penuh kemarahan, ia melemparkannya ke arah pintu hingga pecah.
PRANG!
Tepat ketika Roselyn merasa kekuatannya benar-benar terkuras habis, sebuah bayangan panjang jatuh menaungi mereka. Pintu balkon yang semula hanya terbuka sedikit, kini terbuka.
Seorang pria tampak bersandar di ambang pintu dengan tangan terbenam di saku. Rambut peraknya bersinar pucat tertimpa cahaya rembulan, bagai puncak gunung yang diselimuti salju.
"Selera Duke D'Arest ternyata serendah ini. Bukan cuma pandai merayu wanita yang sudah menikah, kau bahkan dengan hina berusaha menodai tunanganmu sendiri."
Derrick tersentak, ia berpaling dengan napas yang masih memburu dan wajah yang memerah. "Grand Duke Valthorne, ini urusan pribadi."
"Oh, aku baru tahu kau itu tuli. Jelas-jelas Lady itu menolakmu, 'kan?"
"Enyah saja sebelum kau menyesal."
"Menyesal, ya?" Kaelus mengulang kata itu. Belati kecil pun melesat dari balik lengan bajunya, menggores pipi Derrick sebelum tertancap di pilar di belakang. "Aku sudah lama tidak mengenal kata itu."
“Brengsek!"
Namun, sebelum tinju Derrick sempat membalas, Roselyn menyentak tubuhnya maju. Ia menyisip tepat di tengah-tengah kedua pria itu. "Hentikan!"
Ia menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan yang penuh luka sekaligus kemarahan yang tertahan. “Walau kalian bermusuhan, jangan pernah menyeretku dalam pertikaian konyol ini! Dan kau, Duke D'Arest, Pergi sekarang juga!"
Derrick tertegun, tangannya yang terkepal perlahan melunglai. Ia menatap Roselyn cukup lama, dan baru saat itulah ia benar-benar 'melihat' kondisi wanita itu.
Bercak merah menghiasi leher putri Vogard. Siapa pun pasti akan tahu, terjadi sesuatu padanya dari gaun yang berantakan. Terlebih ... netra yang biasanya memandang sang tunangan dengan penuh kasih, sekarang berurai air mata.
"Lady, aku hanya—"
Kaelus menarik pelan wanita itu ke belakangnya. "Kau mau melecehkannya lagi, Duke?"
Derrick pun menatap Roselyn yang sudah tak sudi melihatnya. Tanpa kata pembelaan lagi, ia mundur tanpa pembelaan lagi.
Hening kembali menyelimuti balkon, menyisakan suara deru angin malam yang terasa menusuk kulit. Begitu bayangan Derrick menghilang, seluruh kekuatan yang tadi menopang Roselyn seolah luruh seketika.
Lututnya terasa lemas luar biasa, dan pundaknya bergetar hebat saat jemarinya yang pucat berusaha merapikan bahu gaunnya yang telah terkoyak.
"Tenangkan dirimu, Lady," ucap sang grand duke sembari menutupi tubuh mungil itu dengan jubahnya.
"Iya."
"Akan kutinggalkan beberapa penjaga untukmu."
Ia baru saja hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti. Jari-jari Roselyn yang masih bergetar mencengkeram ujung bajunya.
"Tunggu, Grand Duke …." Roselyn mendongak, matanya yang sembab. "Tolong tetaplah di sini. Sebentar saja ...."
Kereta kuda berlogo keluarga Lexcan telah bersiap di pelataran depan Kastil Valthorne. Udara sore itu masih terasa menggigit, membawa embusan angin dingin yang menerbangkan butiran salju tipis di sekitar tangga kastil. Baroness Lexcan yang kondisinya belum sepenuhnya pulih sudah berada di dalam kereta, menyisakan Rieta yang berdiri di luar untuk mengucapkan perpisahan terakhir kepada para penguasa Utara."Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Grand Duke," ucap Rieta, suaranya terdengar jernih di tengah deru angin. “Saya tidak akan sambutan hangat kalian.”“Maaf karena tidak bisa menjamu secara langsung selama kalian di sini.”“Tidak masalah, Grand Duke. Sekali lagi maaf atas perbuatan buruk kakak saya.”Kaelus hanya mengangguk kecil. Ia tidak ingin mengatakan sesuatu yang buruk terhadap jiwa yang telah pergi.Di sisi lain, Roselyn berdiri di samping. Setelah ketegangan yang berhasil mereka urai di ruang kerja tadi pagi, kehadiran keduanya kini memancarkan ketenangan, membuat para pe
Gagang pintu di depan terasa sedingin es saat jemari Roselyn menggapainya. Setelah Rieta berpamitan dan melangkah pergi menyusuri lorong dengan gaun duka, keheningan kembali memenuhi sudut Kastil Valthorne.‘Padahal bukan dia yang salah,’ gumamnya sambil mengingat Rieta yang meminta maaf hingga pundaknya tampak bergetar.Roselyn menunduk, memandangi nampan perak di tangan. Uap hangat dari hidangan sarapan mulai menipis, berpacu dengan udara musim dingin yang merayap dari balik jendela besar.Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa bersalah yang sejak semalam menyumbat dadanya. Panggilan formal "Grand Duchess" yang diucapkan Kaelus dengan begitu kaku kemarin masih menyisakan semburat kegitiran Namun, melihat kastil yang goyah pagi ini, Roselyn tahu ia tidak bisa terus bersembunyi di balik tameng trauma. Pemimpin Utara harus kembali rukun demi menjaga wilayah mereka. Mereka tidak boleh terus berjalan dalam ketegangan yang membekukan ini.Tok. Tok.Roselyn mengetuk pintu denga
Dua belas surat pengunduran diri di meja kerja Kaelus sukses membungkam Kastil Valthorne pagi ini. Tidak ada derap langkah pelayan yang biasanya bersahutan, hanya menyisakan keheningan yang agak mengganggu di sepanjang koridor.“Jadi mereka benar-benar pergi?” bisik seorang kesatria yang tengah berpatroli.“Syut, diam saja. Kudengar mereka tidak akan bisa bekerja di wilayah ini lagi.”“Yah … kalau sampai segitunya, kurasa Tuan sedikit keterlaluan.”“Walau bersikap dingin, hati Tuan sebenarnya lembut. Hanya saja, Beliau bisa jadi kurang rasional kalau menyangkut Grand Duchess.”Rieta ada di sana, berdiri di balik pilar besar saat para penjaga lewat. Ia sama sekali tidak berniat menguping, tetapi rasa penasaran selalu saja terusik tiap kali nama Roselyn disebut.Tanpa mengubah ekspresi datarnya, wanita itu berjalan anggun ke dapur. Sepanjang koridor, ia mengamati beberapa lilin di dinding sengaja tidak dinyalakan. Entah lupa atau memang tidak ada yang bertugas pagi itu. Cahaya matahari
"Atau kau yang ingin jauh dariku," celetuk Roselyn tanpa disertai candaan.Kalimat penuh kejujuran itu sulit untuk dibantah dengan mudah.Kaelus akhirnya menatap sang pujaan hati. Ada lingkar gelap tipis di bawah mata Roselyn.“Kau baik-baik saja, Rose? Tubuhmu butuh istirahat, kenapa bangun sepagi ini.”"Aku bahkan tidak bisa tidur karena menunggumu."Sontak Kaelus tersentak. Perasaan bersalah karena telah menelantarkan istrinya semalaman kembali membuncah di dalam dada.‘Sial. Padahal seharusnya aku merawat dan menenangkannya,’ gerutunya, memaki dirinya sendiri dalam hati."Ayo kita ke kamar dan tidur sekarang," ajak Kaelus, suaranya melunak, mencoba memperbaiki keadaan yang retak."Katakan saja, apa ada pekerjaan wilayah yang bisa kubantu?""Tidak perlu, Rose. Ayo kita ke kamar—"Kalimat Kaelus terputus saat Putri Vogard itu berjalan mendekat, lalu dengan tenang duduk di sudut meja kerja. Jemari Roselyn bergerak cepat meraih lembaran berkas yang terserak, membacanya sekilas, hingg
"Dua belas, Yang Mulia."Kepala pelayan, Mrs. Hargrove, berdiri kaku di ambang ruang kerja, tumpukan kertas digenggam erat di depan dadanya seperti perisai.Kaelus tidak mengangkat kepala dari berkas yang sedang ditandatanganinya. "Dua belas apa?""Surat pengunduran diri."Pena di tangan Kaelus berhenti bergerak.Ia menatap wanita tua itu, mencari tanda bahwa ini hanya lelucon buruk yang terlambat. Tidak ada. Wajah Mrs. Hargrove pucat, matanya menghindar dari tatapan sang majikan.“Sebenarnya sudah banyak pelayan dengan gerak-gerik aneh, tapi baru semalam mereka mulai memberikan surat itu.”"Letakkan saja di meja."
Roselyn termenung di kamar yang sunyi, menatap pantulan dirinya di cermin dengan rasa lelah yang menggantung di tulang.Ia tidak terluka. Tidak ada memar atau luka yang dalam. Hanya wajah yang sama, rambut cokelat sedikit kusut, dan gaun yang masih terpasang rapi.Seolah tubuhnya sendiri enggan mengakui seberapa parah luka yang sebenarnya ia rasakan.'Pakaian dari Lancaster sebaiknya dibakar.'Kalimat itu kembali menggema, dan Roselyn memejamkan mata dengan rasa getir yang menghujam jauh ke dalam dada.Dua kehidupan telah dilalui, nyatanya belum cukup untuk membuatnya tangguh guna menumpulkan rasa sakit dari tatapan-tatapan menghakimi yang menuntut pertanggungjawaban atas kesuciannya.
Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan dir
Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejen
Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memper
Roselyn berlari keluar tanpa menoleh lagi. Hawa dingin malam itu terasa menusuk kulitnya yang hanya terbalut gaun tipis. Namun, itu tak sebanding dengan jantung yang nyaris copot. Berdebar antara cemas dan puas karena baru saja menendang ego sang Duke.Empat jam menuju rumah pun terasa seperti siks






