مشاركة

Kaelus Valthorne

مؤلف: Rainey Alta
last update تاريخ النشر: 2026-01-13 10:47:16

Tiga hari dalam kurungan kamar adalah waktu yang cukup bagi memar di tubuh Roselyn untuk berubah warna dari ungu pekat menjadi kuning pudar. Berkat elysium dari sang paman, luka di dahinya hanya menyisakan garis merah tipis.

Vogard pun memastikan garis itu tertutup bedak sebelum menyeret putrinya ke pesta dansa kekaisaran. Ia memoles Roselyn agar kembali menjadi 'Mawar Suci' yang sempurna.

"Bersyukurlah Duke belum membatalkan pernikahan kalian. Bujuk dia malam ini dan amankan posisi Duchess itu," titah Vogard. Ia meremas tangan Roselyn kuat-kuat tepat sebelum pintu ballroom dibuka.

"Pasti mudah bagimu 'kan, Rose? Jangan buat ayahmu ini memukulmu lagi."

"Aku mengerti."

Begitu nama Keluarga Sirius menggema dan pintu terbuka, seluruh atensi tersedot pada mereka. Di balik kipas bulu, para bangsawan wanita menyembunyikan seringai, menanti noda apa yang akan ditunjukkan oleh sang pusat sosialita malam ini.

Segera setelah lepas dari pengawalan ayahnya, Roselyn menyambar segelas sampanye dan menyingkir ke sudut. Baginya, setiap pria yang mendekat tampak seperti replika Derrick—wajah mereka berbeda, namun memiliki binar lapar yang sama; ingin mencicipi sesuatu yang manis sebelum akhirnya membuangnya.

Roselyn bahkan menolak semua ajakan dansa dengan alasan kesehatan yang belum pulih, sampai akhirnya muak sendiri dan menyelinap ke balkon paling jauh. Tirai beludru tebal pun diturunkan, memblokir pandangan dari dalam. 

Dari dalam ballroom, alunan musik waltz terus mengalir. Ia bahkan tidak mendengar langkah kaki. Namun, tiba-tiba ada bayangan di sampingnya. Ketika berpaling, Derrick sudah berdiri terlalu dekat. 

"Aku menutup tirainya karena mau sendirian."

"Aku tahu,” jawab sang duke, memilin ujung rambut Roselyn. "Itulah mengapa aku ikut, Rose. Aku tidak mau kau kesepian."

"Duke harusnya berdansa saja dengan para Lady di dalam sana."

"Aku hanya mau berdansa dengan milikku … kau."

"Aku bukan milik siapa pun! Kita sudah sepakat untuk membatalkan pertunangan."

"Sejak kapan? Aku cuma memberi waktu merenung untukmu, tapi sepertinya calon pengantinku ini salah paham." 

Mata Roselyn membelalak, berusaha melepaskan diri dari dekapan Derrick. “Aku bukan calon pengantinmu lagi.”

"Jika bukan aku, ke pelukan pria mana kau akan lari, Rose? Bahkan jika aku melepaskanmu, ayahmu itu pasti akan menjualmu.” 

“Aku tak peduli. Bahkan kalau harus pergi ke neraka pun, kita tak usah bertemu lagi!”

“Berhenti bicara omong kosong, ayo lanjutkan saja yang kemarin.”

Derrick mempererat dekapannya. Ia tak peduli tubuh kecil yang memberontak itu dan malah melumat bibir Roselyn dengan kasar. 

Satu tangannya mencengkeram kuat kedua pergelangan tangan Roselyn di atas kepala, sementara tangan lainnya menekan bahu wanita itu hingga menghantam pagar balkon yang dingin. Roselyn menarik napas untuk berteriak. Namun, Derrick bergerak lebih cepat, menutup paksa mulutnya dengan lumatan yang lebih dalam dan panas.

Pria bermata biru itu sempat terkekeh pelan, sebelum kembali menariknya dalam pelukan. Tangan pria itu pun makin liar, meremas dada Roselyn. Hingga akhirnya ….

PLAK!

Tamparan pertama mendarat keras di pipi Derrick. Roselyn gemetar dari ujung kaki hingga ujung jari.

"Kau … menjijikkan."

Derrick menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Ia tidak marah, justru merasa terhibur.

"Kau memang penuh kejutan, Rose."

"Tinggalkan aku sebelum aku berteriak!"

"Teriak saja."

Derrick menjadi semakin brutal. Ia sama sekali tidak memberikan ruang sekecil apa pun bagi Roselyn untuk berpaling atau sekadar menghirup udara.

Dengan kekuatan yang jauh lebih besar, ia kembali mengunci tubuh Roselyn, mengabaikan getaran hebat yang menjalar dari bahu wanita itu.

Tangannya yang kasar kini mencengkeram rahang Putri Vograd dan membuatnya meringis kesakitan. Ia memaksa wajah Roselyn menengadah, memastikan mata biru kelamnya bisa menatap langsung pada ketakutan yang terpancar jelas di sana.

"Jangan begini, Duke ...." 

"Tidak usah menangis, Rose. Akan kunikahi kau setelah ini."

Napas Roselyn tersengal, dadanya sesak seakan dihimpit batu besar. Harga dirinya telah diinjak-injak tanpa ampun di bawah kaki pria itu. 

Di tengah kepungan gairah yang menjijikkan itu, tangan Roselyn meraba pinggiran balkon dengan sisa tenaga yang dimiliki. Ia pun meraih gelas kristal di sana. Dengan satu sentakan nekat yang penuh kemarahan, ia melemparkannya ke arah pintu hingga pecah.

PRANG!

Tepat ketika Roselyn merasa kekuatannya benar-benar terkuras habis, sebuah bayangan panjang jatuh menaungi mereka. Pintu balkon yang semula hanya terbuka sedikit, kini terbuka.

Seorang pria tampak bersandar di ambang pintu dengan tangan terbenam di saku. Rambut peraknya bersinar pucat tertimpa cahaya rembulan, bagai puncak gunung yang diselimuti salju. 

"Selera Duke D'Arest ternyata serendah ini. Bukan cuma pandai merayu wanita yang sudah menikah, kau bahkan dengan hina berusaha menodai tunanganmu sendiri."

Derrick tersentak, ia berpaling dengan napas yang masih memburu dan wajah yang memerah.  "Grand Duke Valthorne, ini urusan pribadi."

"Oh, aku baru tahu kau itu tuli. Jelas-jelas Lady itu menolakmu, 'kan?"

"Enyah saja sebelum kau menyesal."

"Menyesal, ya?" Kaelus mengulang kata itu. Belati kecil pun melesat dari balik lengan bajunya, menggores pipi Derrick sebelum tertancap di pilar di belakang. "Aku sudah lama tidak mengenal kata itu."

“Brengsek!"

Namun, sebelum tinju Derrick sempat membalas, Roselyn menyentak tubuhnya maju. Ia menyisip tepat di tengah-tengah kedua pria itu. "Hentikan!"

Ia menatap mereka berdua bergantian dengan tatapan yang penuh luka sekaligus kemarahan yang tertahan. “Walau kalian bermusuhan, jangan pernah menyeretku dalam pertikaian konyol ini! Dan kau, Duke D'Arest, Pergi sekarang juga!"

Derrick tertegun, tangannya yang terkepal perlahan melunglai. Ia menatap Roselyn cukup lama, dan baru saat itulah ia benar-benar 'melihat' kondisi wanita itu. 

Bercak merah menghiasi leher putri Vogard. Siapa pun pasti akan tahu, terjadi sesuatu padanya dari gaun yang berantakan. Terlebih ... netra yang biasanya memandang sang tunangan dengan penuh kasih, sekarang berurai air mata.

"Lady, aku hanya—"

Kaelus menarik pelan wanita itu ke belakangnya. "Kau mau melecehkannya lagi, Duke?"

Derrick pun menatap Roselyn yang sudah tak sudi melihatnya. Tanpa kata pembelaan lagi, ia mundur tanpa pembelaan lagi.

Hening kembali menyelimuti balkon, menyisakan suara deru angin malam yang terasa menusuk kulit. Begitu bayangan Derrick menghilang, seluruh kekuatan yang tadi menopang Roselyn seolah luruh seketika.

Lututnya terasa lemas luar biasa, dan pundaknya bergetar hebat saat jemarinya yang pucat berusaha merapikan bahu gaunnya yang telah terkoyak.

"Tenangkan dirimu, Lady," ucap sang grand duke sembari menutupi tubuh mungil itu dengan jubahnya.

"Iya."

"Akan kutinggalkan beberapa penjaga untukmu."

Ia baru saja hendak pergi, tetapi langkahnya terhenti. Jari-jari Roselyn yang masih bergetar mencengkeram ujung bajunya.

"Tunggu, Grand Duke …." Roselyn mendongak, matanya yang sembab. "Tolong tetaplah di sini. Sebentar saja ...."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Pendatang Baru

    Debur ombak seolah terhenti. Tepat bersamaan dengan nyala terakhir api tersebut, Roselyn tidak percaya dengan yang barusan didengar."Kalau begitu menikahlah denganku, Lady."Kaelus tidak berkedip saat mengatakannya. Pria itu pun meraih ujung rambut wanita tersebut dan mengecupnya. "Aku tidak sedang memaksamu, Lady. Kau tak perlu buru-buru menjawab, tapi tolong pertimbangkanlah setidaknya sekali.""Pasti banyak tawaran pernikahan yang menguntungkan Kael.""Aku tidak mengajukan pernikahan kontrak, Lady. Seperti kau yang memilihku untuk melarikan diri, rasanya aku hanya akan menikah jika denganmu.""Kenapa aku, Grand Duke?"Kaelus tidak langsung menjawab.Ia justru mengambil kerang terakhir, meletakkannya di depan Roselyn tanpa berkata apa-apa."Kael, aku serius bertanya.""Aku tahu.""Lalu?""Makan dulu."Wanita berambut panjang itu menatapnya tidak percaya. Pria yang baru saja melamar, sekarang malah menyuruh lanjut makan. Ia pun membuka mulut hendak memprotes, tapi Kaelus sudah berdi

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Menikahlah Denganku

    Roselyn terbangun di pagi hari dengan perut yang bergejolak. Langit seakan tiba-tiba berputar, pagar kapal yang tidak cukup kuat untuk dipegangi, dan Kaelus yang entah dari mana sudah berdiri di samping dengan alis mengerut. Berbeda dengannya, bermalam di dek tetap membuat pria itu bugar.“Biar aku akan turun dulu, Lady. Kau bisa berpegangan padaku nanti.”Putri Vogard melirik ke arah papan kayu yang terhubung dengan daratan. "Aku baik-baik saja.""Kau pucat, Lady.""Aku bilang baik-baik—"Ombak besar menghantam lambung kapal. Roselyn oleng, dan sebelum kakinya sempat menemukan pijakan, tubuhnya sudah terangkat. Kaelus sigap menggendong. Ekspresinya tidak berubah sedikit pun, dan justru itu menghindarkan mereka dari kecanggungan.“Apa ini yang disebut baik-baik saja?”“Maaf, Kael. Aku sebenarnya malu. Aku tidur di kamar, tapi tetap sakit.”“Wajar saja, ini pertama kali dirimu naik kapal sejauh ini.”Hari sudah meredup ketika dermaga kecil itu akhirnya muncul di cakrawala. Langit pesi

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Pria yang Menemanimu

    Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan diri. Gaun baru yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru terasa nyaman. Ia lantas mendekati Kaelus yang duduk di sofa dengan cangkir teh mengepul. “Minumlah, kau pasti kedinginan, Lady.”"Bagaimana kau menyiapkan baju dengan ukuranku?""Aku punya mata."Roselyn menahan senyum. Ia mengambil cangkir tersebut. Teh ini terasa berbeda dari yang biasa disajikan di kediaman Sirius — lebih ringan dan sedikit floral.Kaelus pun menatap sosok di depan sejenak, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal, pena, dan sebilah pisau kecil yang lebih mirip alat tulis daripada senjata."Vogard akan mudah menemukan anak gadis yang melarikan diri. Tapi jika bukan bagian dari Sirius lagi, pasti berbeda.""Apa itu?"“

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Gadis Tanpa Keluarga

    Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan diri. Gaun baru yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru terasa nyaman. Ia lantas mendekati Kaelus yang duduk di sofa dengan cangkir teh mengepul. “Minumlah, kau pasti kedinginan, Lady.”"Bagaimana kau menyiapkan baju dengan ukuranku?""Aku tinggal beli semua ukuran dan mengira-ngira yang cocok untukmu."Roselyn menahan senyum. Ia mengambil cangkir tersebut. Teh ini terasa berbeda dari yang biasa disajikan di kediaman Sirius, yang ini lebih ringan dan sedikit floral.Kaelus pun menatap sosok di depan sejenak, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal, pena, dan sebilah pisau kecil yang lebih mirip alat tulis daripada senjata."Vogard akan mudah menemukan anak gadis yang melarikan diri. Tapi jika

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Fajar di Pelukanmu

    Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejenak di tepi ranjang.Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke kegelapan. Mencoba bicara dengan Vogard barusan hanya membuktikan satu hal, pria itu tidak akan pernah berubah. Ambisinya lebih penting daripada putri kandung sendiri.“Kakak diajari berpedang untuk menaklukkan dunia, tapi aku malah diajari berdandan supaya dunia menaklukkanku. Cuma karena dari rahim berbeda, aku tidak dianggap manusia,” katanya.Roselyn pun melepas gaunnya dan berganti dengan seragam pelayan. Ia menunggu dalam hening, menghitung setiap detak jam dinding, hingga suara derap pergantian penjaga terdengar sayup dari luar.Begitu keadaan dirasa aman, ia menyelinap keluar menyusuri lorong pelayan menuju halaman belak

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Salju yang Hangat

    Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memperlihatkan hal memalukan ini, Grand Duke," ucapnya lirih, bibirnya dipaksa membentuk seulas senyum tipis yang gemetar.Kaelus tidak langsung menjawab. Sepasang mata merahnya yang tajam memperhatikan setiap detail kecil pada wajah Roselyn. Air mata yang mengering, penampilan yang berantakan, dan senyum palsu tampak begitu menyakitkan."Simpan senyum palsumu, Lady Sirius."Roselyn tertegun, lalu tertawa getir. "Padahal aku melatih senyum ini selama setahun di depan cermin. Ternyata Anda langsung tahu, ya. Tapi ... kenapa Anda menolongku?""D'Arest dan aku memiliki urusan yang belum selesai sejak lama." Mata merahnya tidak berkedip saat menjawab. "Melihat serangga itu merayap ke tempat sepi, aku

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status