Share

Gadis Tanpa Keluarga

Author: Rainey Alta
last update publish date: 2026-05-05 13:21:50

Kabin utama kapal itu jauh dari kata sempit. Dinding kayu yang dipoles mengkilap memantulkan cahaya temaram dari lampu gantung yang bergoyang lembut mengikuti irama ombak. Beberapa pria berseragam hitam berjaga di depan pintu tanpa sepatah kata.

Sementara itu, Roselyn sudah selesai membersihkan diri. Gaun baru yang ia kenakan tidak mewah, tapi justru terasa nyaman. Ia lantas mendekati Kaelus yang duduk di sofa dengan cangkir teh mengepul. 

“Minumlah, kau pasti kedinginan, Lady.”

"Bagaimana kau menyiapkan baju dengan ukuranku?"

"Aku tinggal beli semua ukuran dan mengira-ngira yang cocok untukmu."

Roselyn menahan senyum. Ia mengambil cangkir tersebut. Teh ini terasa berbeda dari yang biasa disajikan di kediaman Sirius, yang ini lebih ringan dan sedikit floral.

Kaelus pun menatap sosok di depan sejenak, lalu mengeluarkan selembar kertas tebal, pena, dan sebilah pisau kecil yang lebih mirip alat tulis daripada senjata.

"Vogard akan mudah menemukan anak gadis yang melarikan diri. Tapi jika bukan bagian dari Sirius lagi, pasti berbeda."

"Apa itu?"

“Kontrak. Bacalah dulu.”

Roselyn membacanya dua kali. Wanita berambut cokelat itu memastikan tidak ada isi ambigu yang mungkin akan merugikannya. 

Hanya ada klausa bahwa selama berada di bawah langit Valthorn, sang pemimpin akan memastikan keamanannya. Di sisi lain, Roselyn menambahkan bahwa dirinya bersumpah setia dan membantu wilayah dengan seluruh keterampilan dan informasi yang dimiliki.

Ia sama sekali tidak ragu, Terlebih kehangatan saat tangannya dikecup Kaelus itu masih membekas.

Kaelus pun melirik pisau kecil, bersiap memberikan cap. "Kalau kau setuju, kita—"

Sret.

Roselyn sudah mengambil pisau itu dari meja. Ia menggoreskan ibu jari kanannya dengan ekspresi serius, lalu menekan bekas luka tepat di bawah namanya di kertas itu.

“Lady, kenapa sangat buru-buru?! Perjanjian yang dibubuhi darah tidak bisa dibatalkan!”

“Aku tahu. Meskipun aku yakin Grand Duke tidak akan menipuku, aku sudah kubaca dengan teliti.”

“Baiklah.”

Ia mengambil kembali pisau dari tangan Roselyn, lalu menggores jempol sendiri. Kini dua cap merah tertera di perjanjian itu.

Dokumen itu dilipat, disimpan di kotak perak, dan dimasukkan ke laci. "Mulai sekarang, tidak ada seorang pun yang bisa menyentuhmu tanpa izinmu."

"Termasuk Valthorne?"

"Termasuk aku dan semua yang ada di bawahanku."

Putri Vogard menatap ibu jarinya yang masih perih. Ia menggores sedikit terlalu dalam. "Grand Duke–”

“Kael,” potong sang pria bermata merah. “Ibuku memanggilku dengan nama itu. Sekarang kau boleh memanggilku begitu."

“Tidak. Mana mungkin aku bersikap tidak sopan ….”

“Kalau begitu, tidak akan ada yang menyebut nama panggilanku.” 

Ia tidak langsung menjawab. Barulah beberapa saat kemudian, dirinya membalas, “Kael, terima kasih sudah menerimaku.”

“Siapa yang membantumu kabur?” 

“Matthew, pamanku yang bekerja sebagai kepala penjaga. Sepertinya dia juga yang membuat ledakan tadi. Aku … cukup beruntung kali ini, mengetahui ada satu keluargaku di sana lebih awal.”

Kaelus terdiam. Ada yang aneh di ucapan itu. 

“Apa maksudmu kali ini?”

Deg!

Roselyn telah kelepasan bicara tanpa sadar. Namun, ia sama sekali tidak berniat memberi tahu orang lain tentang dirinya yang mengulang waktu. Lagipula, belum tentu ada yang percaya.

"Maksudku aku tidak pernah benar-benar mengenal Paman sebelumnya. Ayah tidak memberitahu apa pun. Baru malam ini Matthew berbicara jujur tentang ibuku. Jadi aku bilang cukup beruntung kali ini karena sebelumnya aku bahkan tidak tahu ada yang peduli padaku."

Pria berambut perak itu yakin jika ada yang wanita itu sembunyikan. Namun, sekarang bukan saat yang tepat untuk mendesak jawaban.

Kaelus pun balik menatap punggung Roselyn. Di sana, di bawah tepi gaun yang sedikit bergeser, garis lebam lama tampak samar di kulit yang lebih terang dari area sekitar. 

“Aku tidak sengaja melihat lebam saat pesta kemarin.”

“Ah, aku tidak apa-apa."

Ia terdiam sebentar, tahu jika itu bukan jawaban yang sang grand duke inginkan.  "Aku sering dipukuli Ayah, Kael. Sejak aku dibawa ke ibu kota.”

“Iya, aku pernah dengar katanya fisikmu lemah, jadi kau tidak dibesarkan di sini.”

"Kael pasti tahu itu cuma alasan. Sebelum itu aku di peternakan wilayah Sirius bersama ibuku. Aku pikir Ayah menjemputku karena akhirnya merindukanku. Ternyata ia butuh anak untuk pernikahan politik. Kakakku sedang menyelesaikan pendidikannya, jadi hanya aku yang tersisa."

"Jadi kau dan ibumu pindah begitu saja?"

"Tidak. Ibuku meninggal setahun sebelum aku dibawa. Dulu aku tinggal bersama pengurus peternakan."

Kaelus mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Menunggu giliran untuk menyahut.

"Berapa lama kau di peternakan itu?"

"Sampai usia dua belas. Tepat saat ulang tahunku ke-13, aku dibawa. Awalnya kukira tidak akan ada lagi yang merendahkanku, ternyata di mansion itu ada ibu tiri yang membenciku. Tapi itu masa lalu.”

Hening sejenak. Jelas sekali wanita itu tidak ingin membahas kejadian tersebut lebih lanjut.

"Kael. Apa kau pernah menyesal mengajakku naik?"

"Belum."

Roselyn tertawa kecil. "Kau terlalu jujur."

"Aku tidak suka berbohong."

Putri Vogard menghela napas dengan lembut dan senyum tipis. Ia kagum pada sosok rupawan di hadapannya, yang selalu melakukan apa pun sesuai kata hati, tanpa repot-repot memperdulikan anggapan sekitar.

Kaelus pun bangkit, coba memalingkan wajahnya yang terasa panas kala melihat senyum tersebut. "Istirahatlah, wajahmu pucat."

"Ruang mana yang bisa kupakai?"

"Pakai saja kabin ini."

Roselyn memandang sekeliling, hanya ada satu sofa, satu meja, satu pintu bilik yang tadi digunakan untuk berganti pakaian. Meskipun kapal itu cukup besar dan mewah, tidak didesain untuk membawa tamu. 

"Aku akan tidur di sofa. Kael juga istirahatlah."

“Aku tidur di luar.”

“Tapi ini kapalmu.”

Kaelus tidak menjawab. Ia melangkah ke pintu, membukanya, dan keluar begitu saja, membiarkan angin menerobos masuk sebelum pintu tertutup kembali. Angin tengah laut musim itu pasti menusuk hingga ke tulang. 

Ia sangat tahu, tetapi tetap berdiri di dek. Tindakannya begitu impulsif. Karena untuk pertama kali, pria yang tidak pernah kalah dalam perang itu, mengalah demi seorang wanita yang baru ditemui lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Racun yang Tersimpan

    Dentang lonceng terdengar begitu gaduh di luar, memecah keheningan koridor. Beberapa kesatria Valthorne bergegas menuju menara untuk memeriksa sumber keributan.Sementara itu, Kaelus masih berdiri tegak di depan ruang arsip. Jarinya mengetuk-ngetuk lengan kiri dengan irama teratur, menanti jawaban yang telah dipersiapkan oleh mendiang adik Rieta."Kuharap kau punya alasan yang masuk akal, Lexcan," ucap Kaelus datar. Tatapan matanya lurus, dingin, dan menuntut.Rieta sempat bergeming. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum akhirnya mengumpulkan keberanian. "Yang Mulia, saya menemukan catatan ini terselip di dalam buku harian Kakak.""Aku tidak tertarik membaca catatan pribadi orang yang sudah meninggal. Katakan saja intinya."

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Salju yang Menutup Luka Lama 

    Kereta kuda Valthorne bergerak meninggalkan pelabuhan saat fajar musim dingin menyemburat di ufuk timur.Rembulan merah semalam telah tenggelam, digantikan langit kelabu yang membawa angin dingin khas Utara.Di dalam kabin yang hangat, Roselyn bersandar pada bahu Kaelus. Jemarinya yang terbalut sarung tangan beludru digenggam erat, seolah pria itu enggan membiarkan sejengkal jarak pun memisahkan mereka."Kau memikirkan ucapan Merran semalam, Rose?"Roselyn menghela napas tipis, matanya menatap kosong ke luar jendela yang buram oleh embun es. "Tentang langit yang mencoba mengembalikan takdir awal. Iya, aku kepikiran.”“Kau tahu sudah banyak yang berubah dibanding masa lalu.”

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Rahasia Keturunan Lennox

    Gemuruh guntur membelah keheningan di dalam kamar itu.Ledakan cahaya dari Jantung Emas Samudera pelan-pelan memudar, meninggalkan kehangatan magis yang kini mengendap di antara aromaterapi herbal yang pekat.Raja Odiley termenung sejenak. Kelopak mata Brenand sedikit bergetar, menatap sepasang netra hitam jernih yang selama 12 tahun ini ditunggu untuk terbuka kembali.Namun, Merran sama sekali tidak menoleh ke arah sang raja. Ekspresi wanita itu tampak teramat dingin, seolah Brenand hanyalah seonggok angin lalu.Tidak kuasa menahan diri, ia pun mendengus pelan, memprotes dengan nada getir yang bercampur rasa tidak terima yang kekanak-kanakan. “Aku yang menunggu

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Bulan Merah

    “Sebenarnya sejak kapan kau curiga aku juga kembali ke masa lalu?” tanya Roselyn sembari bersandar di dada Kaelus.Pria bermanik merah itu pun menatapnya sejenak, sebelum memeluk tubuh sang istri yang duduk di atas kedua pahanya. Mendengar pertanyaan tiba-tiba itu, Kaelus sempat terdiam, jemarinya mengusap pelan helai rambut cokelat Roselyn.Kereta kuda yang sempat berguncang pun kini bergerak lambat, membelah hujan salju lebat yang menutupi jalur curam menuju wilayah perbatasan.“Kau mau jawab atau tidak?”Roselyn sedikit mendongak, memegangi pipi Kaelus dengan kedua telapak tangan yang mungil, sementara bibirnya cemberut, meminta jawaban.Kaelus mengecup dahi sang pujaan hati, lalu menyahut, “Sejak melihatmu di pesta kekaisaran.”“Ah, saat pertama kali bertemu, ya?” lanjut Roselyn, kelopak matanya berkedip heran.“Benar, Sayangku.”“Mustahil kau langsung tahu, ‘kan?”“Hm, kalau diingat-ingat, hari itu kau tampak murung. Bahkan seperti orang yang tidak nyaman berada di keramaian,” t

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Janji Raja Odiley

    “Kepalamu akan langsung melayang kalau bergerak,” ancam Kaelus dengan pedang yang terhunus tepat di samping nadi sang penyusup.Pria di bawah bayangan pohon willow itu sempat terkejut. Kelopak matanya sedikit melebar menangkap pantulan cahaya dari bilah besi yang menempel erat di kulit leher. Ia tidak menyangka Kaelus bisa bergerak secepat ini dalam sunyi. Padahal beberapa saat lalu, dirinya sempat terkecoh hingga masuk kembali kamar dan mengunci pintu balkon.Namun, keterkejutan itu hanya bertahan sesaat. Ketegangan di wajah sang tamu tak diundang itu luruh. Ia terlampau santai untuk seseorang yang nyawanya berada di ujung tanduk."Kalau aku mati, maka kau sendiri yang akan kesulitan," sahut pria itu. Suaranya besar, tetapi terdengar begitu halus.Ia pun berbalik dengan senyuman yang tersungging di bibir tipisnya. Cahaya bulan yang tipis akhirnya menyinari wajah tegas nan rupawan milik Brenand Cyruss, Raja Odiley.Kaelus tidak menurunkan pedangnya sedikit pun. Matanya kian menggela

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Penguntit Tampan

    Jeritan perawat memecah kesunyian pagi.Roselyn menjatuhkan pena yang digenggam. Sebelum sempat mencerna kalimat yang menyusul—tinta menciprat, membentuk bercak hitam di atas laporan yang belum sempat ditandatangani."Grand Duchess! Lady Lexcan sudah sadar!"Kursi kerja terdorong ke belakang dengan suara berderak keras. Roselyn sudah berlari sebelum benar-benar memutuskan untuk berlari, gaunnya melambai liar, melewati lorong yang terasa lebih panjang.Dua hari menunggu tanpa jawaban pasti dari para dokter, dua hari menahan napas setiap kali pintu Kamar Emerald berderak, akhirnya berujung pada satu kalimat yang membuat dadanya bergetar antara lega dan takut untuk berharap terlalu banyak.Ia sampai di depan Kamar Emerald

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Fajar di Pelukanmu

    Roselyn menutup pintu kamarnya dengan hati-hati. Ia menahan diri, meski jiwanya menjerit ingin membanting pintu itu sampai hancur.Sarung tangan sutranya ditanggalkan, perhiasan dilepas satu per satu. Mutiara dan permata mahal itu jatuh berserakan di atas meja rias tanpa dipedulikan. Ia duduk sejen

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Salju yang Hangat

    Hening yang mencekam menyelimuti balkon, hanya menyisakan suara napas Roselyn yang masih tersengal dan patah-patah. Di hadapannya, Kaelus berdiri mematung seperti patung es yang tidak tersentuh waktu.Roselyn menunduk, mencoba mengatur detak jantungnya yang masih menggila. "Maaf karena harus memper

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Kaelus Valthorne

    Tiga hari dalam kurungan kamar adalah waktu yang cukup bagi memar di tubuh Roselyn untuk berubah warna dari ungu pekat menjadi kuning pudar. Berkat elysium dari sang paman, luka di dahinya hanya menyisakan garis merah tipis.Vogard pun memastikan garis itu tertutup bedak sebelum menyeret putrinya k

  • Duke, Aku Bukan Pengantin Boneka Lagi   Luka yang Membiru

    Roselyn berlari keluar tanpa menoleh lagi. Hawa dingin malam itu terasa menusuk kulitnya yang hanya terbalut gaun tipis. Namun, itu tak sebanding dengan jantung yang nyaris copot. Berdebar antara cemas dan puas karena baru saja menendang ego sang Duke.Empat jam menuju rumah pun terasa seperti siks

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status