Share

381. Keluarga

Penulis: Raisaa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 08:00:47

Kereta kuda akhirnya benar-benar berhenti di depan gerbang Kastil Leventis.

Roda kayu berdecit pelan sebelum sunyi sepenuhnya. Suara tapal kuda memudar, dan halaman kastil seolah menahan napas, hening yang ganjil, tegang, penuh penantian.

Ilard sudah berdiri paling depan, nyaris berjinjit, kedua tangannya mengepal di dada. Sven berdiri tenang di sampingnya, sementara Jay, Lucien, dan Sylar memperhatikan dengan rasa penasaran yang tak lagi mereka sembunyikan.

Pintu kereta terbuka.

Dirian turun lebih dulu. Langkahnya mantap, tatapannya menyapu halaman kastil yang begitu dikenalnya, dinding batu, menara, dan tanah yang selama ini tunduk pada namanya.

“Selamat datang kembali, Tuanku,” ucap Sven sambil menunduk hormat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   405. Penjaga

    Dirian terdiam.Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tersentuh melainkan karena tidak mengerti. Dirian merasa dia tidak melakukan apapun.Namun ia tidak mengatakan itu.Morvena melanjutkan, suaranya sedikit lebih lembut, hampir seperti bisikan kepercayaan.“Kepala pelayan berkata… aku mendapat perlakuan istimewa karena aku adalah wanitamu.”Kata itu wanitamu menggantung di udara.Dirian akhirnya meletakkan penanya. Ia bersandar di kursi, menatap Morvena lebih lama dari sebelumnya. Ia tidak melihat kebohongan di sana. Tidak ada sihir dan idak ada manipulasi. Hanya… keyakinan yang tumbuh terlalu cepat.“

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   404. Wanita yang tidak tahu apapun

    Pagi itu, ketika ia baru saja selesai menyisir rambutnya sendiri kebiasaan lama yang belum sempat ia lepaskan ketukan pelan terdengar di pintu kamar tamu yang kini ditempatinya.Tok. Tok.“Masuk,” ucapnya.Pintu terbuka, dan untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Kastil Leventis, bukan satu atau dua pelayan yang masuk melainkan enam orang sekaligus.Mereka membawa kotak-kotak besar berlapis kain beludru. Ada yang berwarna biru tua dengan segel emas, ada yang putih mutiara, ada pula yang hitam pekat dengan bordiran lambang Leventis.Morvena berdiri perlahan.“Apa… ini?”Pelayan paling depan menunduk dalam-dalam

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   403. Aku percaya suamiku

    Selene menoleh lebih dulu ke arah Ilard.Tatapan itu singkat, namun cukup untuk membuat pria itu menegakkan punggungnya tanpa sadar, seolah ia kembali menjadi ksatria muda yang menerima perintah pertamanya.“Ilard,” ucap Selene pelan, suaranya tenang namun mengandung ketegasan yang tak bisa dibantah, “dan Sven. Aku ingin kalian mulai menyusun apa saja yang harus dilakukan oleh para pelayan juga seluruh orang di kastil untuk menangani situasi ini.”Ilard terdiam sesaat.Bukan karena ragu, melainkan karena ia memahami betul makna di balik kalimat itu. Ia menunduk hormat, lalu tanpa berkata apa pun, segera mengeluarkan lembar catatan dari balik mantel.Ujung bulu pena menyentuh permukaan kasar kertas, mulai bergera

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   402. membuatnya jatuh cinta.

    Dirian tidak segera menjawab. Kereta terus melaju, roda-roda besinya berderak teratur di atas jalan batu, seolah tak peduli pada percakapan yang perlahan mengoyak sesuatu di antara dua manusia di dalamnya.“Aku tidak mempermainkanmu,” akhirnya ia berkata.Morvena tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. Ada kelelahan di sana. Ada luka yang baru saja disadari.“Lalu apa ini sekarang?” suaranya lembut, nyaris berbisik, namun sarat tuntutan. “Aku pikir… kau akan bersamaku. Hanya denganku. Aku pikir kau akan meninggalkan istrimu.”Dirian menoleh, menatap wajahnya sesaat sebelum kembali memalingkan pandangan ke depan.“Aku tidak pernah mengatakan hal itu.”

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   401. istri atau selir

    Selene cukup terkejut dengan ucapan Morvena itu. Ia menatap wanita berambut merah yang kini tersenyum seolah taruhan itu hanyalah permainan ringan, bukan sesuatu yang bisa menghancurkan hidup seseorang.“Bagaimana?” tanya Morvena sekali lagi, nadanya ringan, penuh keyakinan.Selene terdiam sesaat. Ada banyak hal yang bisa ia katakan, amarah, sindiran, bahkan tantangan. Namun semua itu terasa melelahkan. Terlalu murah untuk harga dirinya.“Aku tidak ingin menyia-nyiakan diriku,” ucap Selene akhirnya, suaranya tenang namun tegas, “pada sesuatu yang tidak perlu.”Tanpa menunggu reaksi, ia berbalik pergi. Tidak ada tatapan terakhir. Tidak ada kata penutup. Ia melangkah menjauh seolah percakapan itu tak pernah layak mendapat tempat lebih di pikirann

  • Duke Dirian, Nyonya Ingin Bercerai!   400. cinta yang murahan

    Odet dan nenek berangkat keesokan paginya, tepat setelah sarapan selesai. Udara pagi masih dingin, kabut tipis menggantung di halaman kastil seolah enggan membiarkan perpisahan itu terjadi begitu saja. Kereta sudah menunggu, pengawal berdiri rapi, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya.Selene berdiri di beranda depan bersama Dagny dan Divrio. Tangannya menggenggam tangan kedua anak itu dengan erat, seolah ia sendiri takut kehilangan keseimbangan jika dilepaskan. Odet memeluk Dagny lama, membelai rambutnya berkali-kali, sementara nenek menepuk bahu Divrio dengan senyum yang dipaksakan, matanya berkaca-kaca.“Aku ingin tinggal lebih lama dengan nenek…” gumam Dagny lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi langkah para pengawal.“Iya,” sambung Divrio, bibirnya mengerucut kesal. &ldquo

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status