MasukDirian terdiam.
Ia tidak langsung menjawab. Bukan karena tersentuh melainkan karena tidak mengerti. Dirian merasa dia tidak melakukan apapun.
Namun ia tidak mengatakan itu.
Morvena melanjutkan, suaranya sedikit lebih lembut, hampir seperti bisikan kepercayaan.
“Kepala pelay
Pintu kamar menutup rapat di belakang mereka.Dirian tidak langsung melepaskan tangan Selene. Ia masih berdiri dekat pintu, seolah memastikan tak ada satu pun suara dari luar yang mengikuti mereka. Baru setelah itu ia berbalik, tatapannya jatuh ke wajah Selene dengan ekspresi puas seperti seseorang yang akhirnya berhasil mencuri waktu di tengah kekacauan dunia.Selene menarik tangannya, menata napas. “Kau ini benar-benar,” gumamnya sambil menggeleng, “kalau sudah begini tidak pernah berubah.”Dirian mendekat tanpa tergesa, jarak di antara mereka menyusut perlahan. “Berubah?” ulangnya ringan. “Aku hanya efisien.”Selene mendengus kecil. “Itu bukan kata yang tepat.”Dirian berhenti te
Mona tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap lantai, sementara di dalam dadanya tumbuh perasaan yang sulit ia jelaskan antara ragu, takut, dan kesadaran pahit bahwa ada kebenaran yang mungkin tidak ingin didengar oleh siapa pun.Sylar menarik napas dalam sebelum berkata pelan, seolah menutup pembicaraan itu dengan keputusan yang telah bulat,“Mona… kita harus fokus pada pernikahan kita.”Mona menatapnya sejenak. Ada banyak kata yang ingin ia ucapkan, banyak kegelisahan yang ingin ia tumpahkan, namun semuanya tertahan di tenggorokan. Akhirnya ia hanya mengangguk kecil.“Baiklah.”Sylar meraih tubuh Mona dan memeluknya. Pelukan itu hangat, protektif pelukan seorang pria yang ingin menjaga dunianya tetap sederhana dan aman. Mona membalas pelukan itu, menyandark
Alis lelaki itu terangkat perlahan. Bukan terkejut lebih tepatnya tertarik.“Siapa?” tanyanya singkat.Viviene menyeringai tipis. Senyum yang tidak mengandung kehangatan, hanya keberanian yang dipaksakan.“Anda benar-benar menginginkannya?” balasnya, suaranya pelan namun penuh tekanan.Lelaki itu terdiam. Untuk sesaat, ruangan terasa semakin sempit. Ia tidak menjawab, namun tatapannya mengunci Viviene, menunggu kelanjutan dan itu sudah cukup sebagai jawaban.Viviene menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan nada hampir mengejek, “Seorang wanita yang bahkan dalam mimpi pun… tidak akan bisa Anda miliki.”Perubahan itu terjadi seketika.
Bjorn menyandarkan sikunya ke meja kayu yang sudah lengket oleh tumpahan minuman, lalu menatap Lamina dengan sorot mata yang tidak sepenuhnya puas. “Tunggu,” katanya pelan namun serius. “Kau bilang tidak bertemu dalam waktu dekat. Jelaskan itu padaku. Seberapa jauh ‘tidak dekat’ yang kau maksud?”Lamina tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata sejenak, seolah memilah kata-kata yang tepat. Suara gelas beradu dan tawa keras dari meja sebelah terasa menjauh, seperti teredam oleh pikirannya sendiri.“Jika seseorang bertemu Viviene dalam satu atau dua hari terakhir,” ucapnya akhirnya, “jejaknya masih akan melekat. Tidak selalu kuat, tapi cukup untuk dikenali. Bahkan setelah mandi, berganti pakaian, atau berada di tempat ramai seperti ini.”Jay yang sejak tadi memperhatikan lelaki mabuk di seberang ruangan ikut angkat bicara. “Dan fakta bahwa kau tidak mencium apa pun,” katanya, nada suaranya rendah namun tegang, “berarti tidak ada kontak baru. Bukan hari ini. Bukan kemarin.”Bjorn menga
Selene menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. “Baik.”Namun sebelum berbalik pergi, ia menambahkan, “Tapi jangan salah paham. Aku berhenti bukan karena takut… melainkan karena aku mempercayaimu.”Pintu tertutup kembali, meninggalkan Dirian sendirian di ruang kerjanya.Ia berdiri diam beberapa saat, lalu menatap meja kacamata peraknya tergeletak miring, seperti sesuatu yang ditinggalkan dengan tergesa. Dirian mengangkatnya perlahan, dan untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya menunjukkan satu hal yang tidak ia akui pada siapa pun yaitu ketakutan kehilangan, yang ia samarkan dengan kekuasaan.Selene meninggalkan koridor batu kastil dengan langkah yang terukur. Udara sore terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Pikirannya masih dipenuhi percakapan terakhir dengan Dirian nada suaranya, tatapannya, dan cara ia berusaha menutup segala sesuatu rapat-rapat, seolah semua ini adalah beban yang hanya pantas ia pikul sendiri.Pondok Lamina berdiri agak terpi
Di dalam kastil, waktu seakan berjalan lebih lambat atau justru berhenti saat laporan itu jatuh ke tangan Dirian.Ruang kerjanya kembali dipenuhi ketegangan yang pekat. Lilin-lilin tinggi menyala tenang, namun bayangan yang tercipta di dinding justru tampak seperti cakar-cakar gelap yang siap mencengkeram siapa pun yang berada di dalamnya. Mateo berdiri beberapa langkah dari meja kerja, punggungnya tegak namun rahangnya mengeras, seolah ia sudah bersiap menerima badai.“Pintu hijau akan dihancurkan,” lapornya akhirnya, suaranya sengaja direndahkan. “Wanita penghibur itu… telah menemukan pembelinya.”Dirian tidak langsung bereaksi.Ia tetap duduk, jari-jarinya bergerak perlahan menyusuri tepi meja, berhenti di atas sebuah segel besi yang belum digunakan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi terlalu tenang untuk kabar yang seharusnya mengguncang siapa pun. Lalu, tanpa menatap Mateo, ia berkata datar namun mutlak,“Kalau begitu, tangkap semuanya. Sekarang.”Satu kata itu jatuh seperti palu.Ma







