MasukSuaranya begitu lirih, tenggelam bersama hembusan angin dingin yang menyapu perbukitan. Tidak ada jawaban. Hanya bunyi air danau yang sesekali beriak dan kayu api unggun yang berderak pelan di kejauhan.
Selene menatap sosok Dirian yang masih duduk terpejam di tepi danau. Dalam diamnya, pria itu terlihat begitu dekat sekaligus terasa sangat jauh. Ia tampak seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan, namun masih
Bjorn menyandarkan sikunya ke meja kayu yang sudah lengket oleh tumpahan minuman, lalu menatap Lamina dengan sorot mata yang tidak sepenuhnya puas. “Tunggu,” katanya pelan namun serius. “Kau bilang tidak bertemu dalam waktu dekat. Jelaskan itu padaku. Seberapa jauh ‘tidak dekat’ yang kau maksud?”Lamina tidak langsung menjawab. Ia memejamkan mata sejenak, seolah memilah kata-kata yang tepat. Suara gelas beradu dan tawa keras dari meja sebelah terasa menjauh, seperti teredam oleh pikirannya sendiri.“Jika seseorang bertemu Viviene dalam satu atau dua hari terakhir,” ucapnya akhirnya, “jejaknya masih akan melekat. Tidak selalu kuat, tapi cukup untuk dikenali. Bahkan setelah mandi, berganti pakaian, atau berada di tempat ramai seperti ini.”Jay yang sejak tadi memperhatikan lelaki mabuk di seberang ruangan ikut angkat bicara. “Dan fakta bahwa kau tidak mencium apa pun,” katanya, nada suaranya rendah namun tegang, “berarti tidak ada kontak baru. Bukan hari ini. Bukan kemarin.”Bjorn menga
Selene menatapnya lama, lalu mengangguk kecil. “Baik.”Namun sebelum berbalik pergi, ia menambahkan, “Tapi jangan salah paham. Aku berhenti bukan karena takut… melainkan karena aku mempercayaimu.”Pintu tertutup kembali, meninggalkan Dirian sendirian di ruang kerjanya.Ia berdiri diam beberapa saat, lalu menatap meja kacamata peraknya tergeletak miring, seperti sesuatu yang ditinggalkan dengan tergesa. Dirian mengangkatnya perlahan, dan untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya menunjukkan satu hal yang tidak ia akui pada siapa pun yaitu ketakutan kehilangan, yang ia samarkan dengan kekuasaan.Selene meninggalkan koridor batu kastil dengan langkah yang terukur. Udara sore terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Pikirannya masih dipenuhi percakapan terakhir dengan Dirian nada suaranya, tatapannya, dan cara ia berusaha menutup segala sesuatu rapat-rapat, seolah semua ini adalah beban yang hanya pantas ia pikul sendiri.Pondok Lamina berdiri agak terpi
Di dalam kastil, waktu seakan berjalan lebih lambat atau justru berhenti saat laporan itu jatuh ke tangan Dirian.Ruang kerjanya kembali dipenuhi ketegangan yang pekat. Lilin-lilin tinggi menyala tenang, namun bayangan yang tercipta di dinding justru tampak seperti cakar-cakar gelap yang siap mencengkeram siapa pun yang berada di dalamnya. Mateo berdiri beberapa langkah dari meja kerja, punggungnya tegak namun rahangnya mengeras, seolah ia sudah bersiap menerima badai.“Pintu hijau akan dihancurkan,” lapornya akhirnya, suaranya sengaja direndahkan. “Wanita penghibur itu… telah menemukan pembelinya.”Dirian tidak langsung bereaksi.Ia tetap duduk, jari-jarinya bergerak perlahan menyusuri tepi meja, berhenti di atas sebuah segel besi yang belum digunakan. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi terlalu tenang untuk kabar yang seharusnya mengguncang siapa pun. Lalu, tanpa menatap Mateo, ia berkata datar namun mutlak,“Kalau begitu, tangkap semuanya. Sekarang.”Satu kata itu jatuh seperti palu.Ma
Sylar terdiam lebih lama kali ini. Ia masih berdiri di tempatnya, pandangannya tertambat pada pintu yang telah tertutup rapat pintu yang barusan dilewati sang Grand Duke seolah itu hanyalah ruang biasa, bukan ruang pertemuan kekaisaran asing. Jari-jarinya perlahan mengepal, bukan karena marah, melainkan karena ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.“Dan bukan hanya datang…” ucap Sylar akhirnya, suaranya rendah namun tegas, seakan setiap kata dipilih dengan hati-hati. “Dia terlihat terlalu nyaman. Terlalu tenang.”Jayreth menoleh, mengikuti arah pandang Sylar ke pintu yang sama. Ia mengangguk pelan. “Seolah ini bukan kunjungan pertamanya,” sambungnya. Nada suaranya ringan, tetapi sorot matanya tidak. Ada ketajaman di sana naluri seorang pangeran yang tumbuh di tengah politik, pengkhianatan, dan permainan kuasa.Mereka saling berpandangan. Tak ada kegaduhan, tak ada tuduhan yang diucapkan terang-terangan. Namun keheningan di antara mereka justru berbicara lebih banyak. Ini bukan kecur
Perasaan Mona menjadi tidak menentu.Ucapan Tuan Moreau terus terngiang di kepalanya, bukan karena kata-katanya terdengar masuk akal, melainkan karena sesuatu yang terasa janggal.Ayah mertuanya tidak sekadar menenangkan ia terdengar tidak senang. Nada bicaranya barusan, sorot matanya, bahkan cara ia memotong penjelasan Mona… semuanya memberi kesan seolah perhatian Mona pada Viviene adalah hal yang tidak diinginkan.Mona menunduk, jemarinya tanpa sadar menggenggam kain gaunnya lebih erat., pikirannya bukan pada kecurigaannya melainkan pada fokusnya.Mona sangat yakin ia tidak mungkin salah. Wajah lelaki yang kemarin ia lihat keluar itu masih jelas di ingatannya. Cara orang itu berjalan, arah pandangnya, bahkan bagaimana ia berhenti sejenak seolah memastikan tidak diikuti. Itu bukan kebetulan dan Mona mengenali orang terutama orang yang membawa keganjilan.Namun Mona juga tidak bodoh.Jika ia terus berbicara sekarang, jika ia memaksa menjelaskan lebih jauh, yang terjadi hanyalah satu h
Di tempatnya sekarang, Sylar berdiri menghadap Mona dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya, seolah dinding-dinding ikut menahan napas saat nama Viviene kembali disebut.“Ceritakan lagi,” ucap Sylar akhirnya, suaranya tenang namun dingin. “Tentang lelaki yang kau bilang mengikuti Viviene.”Mona menatapnya.Sylar masih berdiri di tempatnya, punggungnya tegak namun bahunya sedikit menegang tanda yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang terdekatnya. Mona berdiri di hadapannya, ragu untuk berbicara lagi, namun kegelisahan di dadanya jauh lebih besar daripada rasa takut pada sikap dingin Sylar.“Apa yang sebenarnya kau lihat?” tanya Sylar akhirnya, suaranya rendah dan terkendali, namun ada tekanan yang jelas di se







