เข้าสู่ระบบDi tengah kekacauan yang menyelimuti Kastel Elvorn, kedua belah pihak akhirnya kembali saling berhadapan.
Namun ketegangan justru terasa jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Di halaman utama kastel, Kaisar berdiri di depan pasukannya dengan wajah yang mulai kehilangan kesabaran. Di belakangnya berkumpul orang-orang yang jumlahnya masih jauh lebih banyak dibanding pihak Elvorn.
Sementara di sisi seberang, Dregory berdiri dengan tenang meskipun jelas terlihat lelah
Baru saja Siera selesai berbicara, sebuah suara terdengar dari sampingnya.“Lady Elvorn.”Siera menoleh dan mendapati Clarisse berdiri bersama beberapa lady bangsawan. Wanita itu mengenakan gaun mewah dengan perhiasan yang berkilauan di lehernya. Senyum tipis menghiasi wajahnya ketika ia melihat gulungan-gulungan kain mahal yang terhampar di meja pembayaran.Siera hanya menatapnya sekilas tanpa memberikan jawaban. Sikapnya membuat beberapa pelanggan di sekitar mereka mulai memperhatikan kedua wanita itu.Clarisse tidak keberatan. Sebaliknya, ia justru melangkah mendekat,“Keadaan ibu kota sedang sangat kacau, tetapi sepertinya Anda sama sekali tidak peduli.”Siera menghela napas pelan.“Alih-alih memikirkan keadaan kekaisaran, Anda malah menghabiskan uang untuk membeli kain mahal,” lanjut Clarisse. “Sungguh mengagumkan. Sepertinya keluarga Elvorn tidak pernah mengenal kesulitan.”“Apa yang kulakukan bukan urusan Anda, Lady Clarisse.”Clarisse tersenyum miring. Beberapa lady yang berdi
Berita tentang kekacauan di istana menyebar dengan begitu cepat hingga seluruh ibu kota dipenuhi rumor. Sejak pagi, orang-orang berkerumun di depan papan pengumuman dan toko-toko yang menjual surat kabar. Berita tentang pelarian mantan kaisar, pemberontakan keluarga Arhad, serta penetapan Pangeran Erick sebagai buronan menjadi bahan pembicaraan di setiap sudut jalan.Sebagian orang tidak percaya bahwa mantan kaisar benar-benar melarikan diri dari penjara. Sebagian lainnya justru meyakini bahwa keluarga Arhad telah merencanakan semuanya sejak lama. Namun, ada satu hal yang hampir selalu muncul dalam setiap percakapan.Perang internal mungkin akan segera terjadi.Di tengah keramaian itu, sebuah kereta kuda berhenti di depan toko kain terbesar di kekaisaran. Siera turun lebih dahulu, disusul Mia dan Zelka. Mereka akhirnya tiba di pusat kota untuk memenuhi beberapa keperluan sebelum memulai perjalanan ke utara.“Nona, kita langsung masuk?” tanya Mia sambil merapikan pakaian Siera.Siera m
Dior terdiam. Ia mengalihkan pandangan dari lambang itu kepada Dregory, “Sepertinya masih ada sesuatu yang belum diserahkan oleh kaisar sebelumnya.”Dregory tidak menjawab. Ia justru menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat. Felix terlihat menyeret seorang pria yang kedua tangannya terikat. Tanpa banyak basa-basi, ia melemparkan pria itu hingga jatuh tepat di hadapan Dior.Pria itu mengerang kesakitan. Pakaiannya berantakan, wajahnya dipenuhi luka, dan salah satu sudut bibirnya pecah akibat pukulan. Namun, Dior langsung mengenali siapa dirinya.Putra Duke Arhad. Seorang pria yang masih menyandang gelar Duke Muda Arhad, meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Bahkan, ia sebaya dengan Dregory. Dregory mengangkat alis ketika melihatnya.“Kalian menangkapnya?”Felix mengangguk santai.“Dia mencoba melempar dinamit. Jadi, saya pikir akan lebih baik jika membawanya kemari sebelum dia meledakkan dirinya sendiri bersama kita.”Dregory melirik Felix sejenak, kemudian mengangguk.“
Beberapa prajurit segera berbalik dan menyerbu Dior sekaligus. Ia menghentikan langkah, menghadapi mereka tanpa sedikit pun keraguan. Pedangnya beradu dengan senjata lawan, menimbulkan percikan kecil di tengah malam. Ia menangkis satu serangan, menghindari tusukan dari arah berlawanan, lalu menghantam lutut seorang prajurit hingga pria itu jatuh.Akan tetapi, jumlah lawan terlalu banyak. Ketika ia berhasil menjatuhkan dua orang, tiga lainnya sudah menggantikan posisi mereka. Setiap langkah maju harus dibayar dengan pertarungan baru, sementara Lionel terus dibawa menjauh.Dior menyadari bahwa mereka tidak sekadar ingin mengacaukan istana. Mereka telah merencanakan jalan keluar, menyiapkan pasukan tambahan, dan memanfaatkan racun untuk melumpuhkan para penjaga sebelum memulai serangan. Semua itu dilakukan demi satu tujuan: membawa Lionel keluar dari tahanan.Dan sekarang, mereka hampir berhasil. Dior menerobos satu serangan terakhir, kemudian melesat melewati seorang prajurit yang terja
Pada saat yang sama, beberapa prajurit yang sebelumnya berdiri di belakang Duke Arhad mencabut pedang mereka dan menyerang para kesatria Dregory. Serangan itu terjadi begitu mendadak hingga sebagian pasukan tidak sempat membentuk pertahanan.“Lindungi Duke!” teriak Gerald.Suara benturan pedang segera memenuhi halaman. Para kesatria Dregory yang semula mengepung para penyerang kini terpaksa membagi perhatian untuk menghadapi pasukan baru. Barisan mereka pun mulai menyusut, sementara anak buah Duke Arhad memanfaatkan celah tersebut untuk bergerak maju.Dregory mencabut pedangnya sendiri dan menangkis serangan seorang prajurit yang mencoba mendekatinya.“Jadi, ini tujuan kalian sejak awal,” ucapnya tajam.Duke Arhad hanya tersenyum tipis.“Kau selalu terlalu cepat mengambil kesimpulan.”“Kalau begitu, jelaskan mengapa pasukanmu menyerang anak buahku!”“Karena mereka menghalangi jalan kami.”Dregory tidak lagi membuang waktu untuk berdebat. Ia menyerang balik, memaksa beberapa prajurit m
Dior tetap bersembunyi di balik dinding batu, mengamati kelompok yang baru saja keluar dari penjara bawah tanah. Lionel berada di tengah-tengah mereka, diapit oleh dua orang yang terus mencengkeram lengannya. Mantan kaisar itu tampak lemah, tetapi masih mampu berjalan.Mereka membawanya melintasi halaman belakang, melewati pohon-pohon besar yang tumbuh di dekat bangunan penjara, seolah hendak menuju salah satu gerbang samping istana.Dior memperhatikan mereka dalam diam. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat beberapa orang berjalan lebih dahulu untuk memeriksa keadaan, sementara yang lain mengawasi bagian belakang rombongan.Mereka bergerak terlalu teratur untuk disebut sebagai sekelompok penyusup biasa. Terlebih, mereka masih bisa bergerak bebas ketika hampir seluruh penghuni istana telah tumbang akibat gas beracun.Jumlah mereka juga jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan Dior sebelumnya.Ia menghitung sekilas orang-orang yang terlihat di halaman, lalu mengalihkan pandangan
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga







