Mag-log inKeadaan kembali tenang. Setelah menangis cukup lama, Mia mulai bisa mengendalikan dirinya meskipun matanya masih bengkak. Siera kembali memperhatikan buku di atas meja.Ia membuka halaman tentang pengulangan waktu. Awalnya, Siera mengira semua itu hanya mitos. Namun setelah mengalaminya sendiri, ia tidak bisa lagi menganggapnya sebagai cerita.Siera kemudian melihat sebuah pola sihir yang terasa familiar. Ia pernah melihat pola yang sama dalam catatan lama. Pola sihir orang-orang gipsi."Mia."Mia yang masih duduk di seberangnya menatapnya."Ya, Nona?""Menurutmu, apakah kita harus mencari orang gipsi?"Mia langsung terdiam. Ia tampak sedikit ragu, kemudian akhirnya menjawab,"Saya pernah mendengar ucapan Duke Muda. Beliau mengatakan bahwa orang gipsi bukan orang yang baik."Siera tidak mengatakan apa-apa."Apakah Nona benar-benar yakin ingin mencari mereka?" Lanjut Mia.Siera mengalihkan pandangan ke arah jendela. Cahaya matahari sore mulai masuk semakin rendah ke dalam kamar, membua
Mia kembali terdiam karena pertanyaan itu justru terasa lebih mengejutkan daripada pengakuan sebelumnya. Karena Siera tidak mengatakannya sambil bercanda. Tidak ada senyum di wajahnya. Tidak ada tanda bahwa ia sedang menguji Mia dengan sebuah lelucon.Siera benar-benar sedang bertanya. Apakah Mia akan percaya jika ia mengatakan bahwa semua yang mereka baca di buku itu bukan sekadar teori baginya?Mia menatap Siera lama sekali. Mia perlahan meletakkan tangannya di atas buku."Kalau Nona mengatakan itu..." suaranya terdengar ragu. "Saya tidak tahu harus percaya atau tidak."Siera menundukkan pandangan."Bukan karena saya tidak percaya kepada Nona." Lanjut Mia.Ia menarik napas pelan."Tapi karena hal seperti itu terlalu sulit dipercaya."Siera mengangguk kecil."Aku tahu.""Jadi..." Mia menatapnya lagi. "Nona benar-benar pernah mengalami kehidupan sebelumnya?"Siera tidak langsung menjawab, tatapannya berubah. Ada sesuatu yang dalam di matanya, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya d
Pertanyaan itu membuat tubuh Siera seketika kaku, ia hanya diam sambil menatap Mia. Suasana di dalam kamar yang sebelumnya terasa tenang mendadak menjadi sedikit canggung. Bahkan suara lembaran buku yang sesekali bergeser karena hembusan angin dari jendela terdengar lebih jelas daripada sebelumnya.Mia sendiri tampaknya baru menyadari bahwa pertanyaannya terdengar terlalu jauh. Ia segera menggeleng kecil dan menurunkan pandangannya pada buku di atas meja."Bukan begitu maksud saya.""Tidak apa-apa."Siera menjawab dengan tenang, meskipun jemarinya perlahan menutup halaman buku yang sedang dibacanya. Ia kemudian menundukkan wajah, seolah ingin kembali memusatkan perhatian pada tulisan di hadapannya.Mia masih belum sepenuhnya puas."Saya hanya..." Mia berhenti sebentar, mencari cara yang tepat untuk menjelaskan apa yang membuatnya merasa aneh. "Cara Nona membicarakannya tadi membuat saya berpikir seperti itu."Siera tidak menjawab.Ia tahu apa yang dimaksud Mia.Sejak tadi, tanpa sadar
Siera kembali ke kamarnya setelah makan. Meski masih lelah, ia tidak tidur dan langsung duduk di meja dekat jendela. Tumpukan buku yang dibacanya semalam masih berserakan. Ia mengambil salah satunya dan kembali membaca dari halaman yang sudah ditandai. Setelah berbicara dengan Dregory, pertanyaannya justru semakin banyak. Ia ingin menemukan jawabannya sebelum membuat kesimpulan sendiri.Tak lama kemudian, Mia masuk membawa teh dan makanan ringan. Ia meletakkan nampan di meja, lalu memperhatikan tumpukan buku di hadapan Siera."Nona, apakah Anda masih ingin melanjutkan membaca semua ini?"Siera tidak langsung mengangkat wajah. Matanya masih tertuju pada halaman yang sedang dibacanya."Ya."Mia menatapnya beberapa saat, kemudian melihat kembali buku-buku tersebut. Ia sebenarnya sudah terbiasa melihat Siera membaca, tetapi jumlah buku yang dikumpulkan kali ini jauh lebih banyak dari biasanya. Bahkan sebagian besar membahas hal-hal yang sebelumnya hampir tidak pernah disentuh Siera.Mia a
Sunyi.Benar-benar sunyi.Tangan Dregory yang tadi hendak mengambil gelas berhenti di udara. Yelian bahkan tidak sempat menyembunyikan keterkejutannya. Ia menatap Siera dengan mata sedikit melebar, seolah baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut adiknya.Siera sendiri justru mengambil sendoknya kembali. Ia menyendok makanan dengan tenang, kemudian mulai makan seperti tidak ada sesuatu yang aneh baru saja terjadi di meja makan itu.Dregory perlahan menurunkan tangannya, tatapannya masih tertuju pada Siera.“Sejak kapan kau memutuskan ini?”“Aku sudah memikirkannya.”“Itu bukan jawaban.”Siera berhenti makan dan menatap ayahnya.Dregory menghela napas. “Ayah tidak melarangmu menikah dengannya. Tapi pikirkan baik-baik. Dior sekarang adalah Kaisar. Kalau kau menikah dengannya, hidupmu juga akan berubah.”“Aku tahu.”“Setiap keputusanmu akan diperhatikan. Kau juga akan menjadi Permaisuri.”Yelian ikut menimpali, “Dan semua orang akan men
Tatapan Dregory kembali kepadanya."Mimpi yang sebelumnya kau ceritakan kepadaku?"Siera mengangguk."Benar, Ayah."Dregory tidak langsung menjawab. Siera juga tidak tahu harus berkata apa lagi.Mereka berdiri berhadapan di lorong yang mulai diterangi cahaya lampu. Dari kejauhan terdengar suara para pelayan yang sedang mempersiapkan makan malam, tetapi di antara mereka berdua justru tercipta keheningan yang terasa cukup panjang."Apa ada sesuatu, Siera?" Tanya Dregory dengan nada pelan.Siera mengangkat wajah."Kau bisa mengatakan apa pun kepada Ayah."Siera terdiam dan Dregory menatapnya dengan tenang."Apa pun."Siera menundukkan pandangan. Sebenarnya, ia sudah lama ingin menceritakan semuanya kepada seseorang, tentang kehidupan sebelumnya dan hal-hal yang masih ia ingat.Namun ia selalu takut tidak dipercaya atau dianggap hanya berkhayal. Bahkan kepada Dregory pun, Siera masih ragu untuk mengatakannya."Kalau aku katakan..." suaranya pelan, "apakah Ayah akan percaya?"Dregory tidak
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t







