LOGINDregory terdiam.Matanya sedikit membesar ketika mendengar panggilan yang baru saja keluar dari mulut Dior. Ia bahkan sempat mengira dirinya salah dengar. Namun, melihat wajah kaisar yang tetap datar, ia tahu pria itu sama sekali tidak sedang bercanda."Apa?" tanyanya dengan suara tertahan.Dior sudah kembali mengalihkan pandangan ke meja."Aku bilang baiklah.""Bukan itu yang kumaksud!" Suara Dregory sedikit meninggi.Beberapa orang yang masih berada di dekat pintu langsung menoleh ke arah mereka. Mereka sebenarnya sudah hendak meninggalkan ruangan, tetapi panggilan Dior barusan membuat langkah mereka terhenti.Ayah mertua?Mereka saling pandang dengan ekspresi terkejut. Bahkan ada yang tanpa sadar menoleh kembali kepada Dior, seolah ingin memastikan bahwa kaisar benar-benar baru saja memanggil Duke Elvorn dengan sebutan tersebut.Dregory sendiri tampak semakin kesal. Ia menatap Dior lekat-lekat, seakan ingin meminta penjelasan mengapa pria itu bisa mengucapkan panggilan seperti itu
Dregory tidak langsung menjawab.Perkataan itu membuat suasana ruangan berubah. Selama ini, kematian wanita tersebut telah diterima sebagai fakta. Tidak ada jenazah yang dibawa pulang, tetapi penjelasan mengenai cinta sang pangeran dianggap cukup untuk mengakhiri segala pertanyaan. Tidak seorang pun merasa perlu menyelidikinya lebih jauh.Jika wanita itu sebenarnya masih hidup, maka seluruh cerita yang selama ini dipercaya bisa jadi hanya kebohongan. Dregory perlahan menegakkan tubuhnya."Kau berpikir mereka sengaja menyembunyikan keberadaannya?""Ada kemungkinan."Dior mengalihkan pandangan ke peta, meskipun pikirannya jelas tidak lagi tertuju pada jalur pelarian Lionel."Jika wanita itu masih hidup dan berada di Kekaisaran Barat, maka hubungan antara Lionel dan keluarga kekaisaran mereka bukan sekadar hubungan diplomatik."Dregory mulai memahami maksudnya. Ia kembali mengingat bahwa wanita tersebut merupakan adik perempuan Lionel. Jika keberadaannya memang disembunyikan, maka ada al
Dregory menatapnya lebih tajam."Silsilah keluarga kaisar?""Benar.""Apakah ada sesuatu yang Anda curigai?"Dior tidak segera menjawab. Ia memalingkan wajah ke arah peta di atas meja, tetapi pikirannya jelas sedang tertuju pada hal lain. Informasi yang diberikan Siera sebelumnya masih tersimpan dalam ingatannya, terutama mengenai hubungan rahasia antara Lionel dan Kekaisaran Barat.Jika adik perempuan Lionel benar-benar masih hidup dan telah dikirim ke Kekaisaran Barat sebagai selir kaisar mereka, maka hubungan kedua keluarga kekaisaran itu mungkin jauh lebih dekat daripada yang selama ini diketahui orang-orang.Dior tidak berniat mengambil keputusan hanya berdasarkan cerita dari kehidupan yang telah berlalu. Ia membutuhkan bukti yang dapat dipastikan di masa sekarang."Ada sesuatu."Mendengar itu, ekspresi Dregory berubah serius. Para jenderal kembali saling berpandangan. Mereka mulai memahami bahwa perintah tersebut bukan sekadar pemeriksaan biasa. Ada kemungkinan Dior sedang menca
Dior menatap Siera."Bagaimanapun beritahu aku, kau dan wanita itu sedang mencari lingkaran sihirnya, bukan?"Siera sedikit tertegun. Ia kemudian menghela napas pelan. Di tengah keadaan yang semakin kacau, Dior ternyata masih mengingat persoalan mengenai Zelka dan lingkaran sihir yang selama ini mereka cari."Keadaan sekarang sedang kacau. Kau tidak perlu memikirkan masalahku."Dior tidak segera menjawab. Tatapan merahnya tetap tertuju pada Siera, seolah perkataan wanita itu tidak mengubah apa pun dalam pikirannya."Apapun yang terjadi, kau yang terpenting."Siera terdiam sesaat. Ia sudah terbiasa dengan sikap Dior yang selalu mengutamakan keselamatannya, tetapi kali ini ia tidak ingin pria itu terus-menerus mengesampingkan segala sesuatu demi dirinya."Namun, sekarang apa yang terjadi bisa melibatkan banyak orang. Kau tidak boleh mengabaikan mereka hanya karena ingin mengurus masalahku."Dior memperhatikan wajahnya. Ia tidak membantah ataupun memberikan alasan. Setelah beberapa saat,
Dior terdiam sesaat dan kembali mengangkat pandangannya kepada Siera."Kapal pemecah es?"Siera mengangguk pelan.Dior memperhatikannya, seolah masih berusaha memahami betapa besar kekuatan yang mungkin dimiliki Kekaisaran Barat. Jika informasi itu benar, maka ancaman yang mereka hadapi bukan lagi sekadar pemberontakan dari dalam kekaisaran. Ada kemungkinan kekuatan asing ikut campur dan memanfaatkan kekacauan yang sedang terjadi.Siera menundukkan pandangan."Sepertinya perang itu memang tidak bisa dihindari."Dior menatapnya."Perang yang pernah kau ceritakan sebelumnya?""Benar. Perang itu." Siera menghela napas pelan. "Apa pun alasannya, perang tersebut tetap terjadi. Namun, kali ini penyebabnya bukan lagi perebutan wilayah seperti yang pernah kulihat."Ia kembali menatap Dior."Kali ini, semuanya mungkin terjadi karena mantan kaisar."Dior menatapnya."Jadi, sekarang Lionel terlibat di dalamnya?"Siera menggeleng."Aku tidak tahu. Seperti yang sudah kukatakan, keadaan dalam kehid
Beberapa jenderal lainnya langsung tertawa kecil.Dregory terdiam. Ia menatap mereka satu per satu dengan wajah yang mulai mengeras."Apa yang lucu?""Tidak ada, Duke. Kami hanya mengingat kejadian itu.""Benar. Siapa yang menyangka kaisar yang biasanya tidak pernah meninggalkan pekerjaannya justru bisa mengosongkan jadwal hanya untuk menemui seorang wanita?"Dregory mengembuskan napas pendek."Jika kalian masih memiliki waktu untuk membicarakan urusan pribadi kaisar, sebaiknya gunakan waktu itu untuk menemukan keberadaan para pemberontak.""Baik, baik. Kami mengerti."Meskipun menjawab demikian, senyum di wajah beberapa jenderal itu belum sepenuhnya menghilang.Dregory hanya menggelengkan kepala. Ia tidak tahu apakah harus merasa senang atau justru pusing karena putrinya telah membuat kaisar yang terkenal dingin itu memiliki kebiasaan baru. Yang jelas, jika Dior benar-benar pergi menemui Siera di tengah keadaan seperti ini, ia hanya berharap pria itu tidak membuat alasan yang terlalu
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga







