เข้าสู่ระบบDregory mundur satu langkah, bukan karena gentar, melainkan agar jarak di antara mereka tetap terjaga. Wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan penyesalan.“Jika Anda berpikir demikian, terserah Anda.”“Kau—!”“Putri Anda saat itu hanya calon selir, bukan calon ratu.” Dregory memotong perkataan Duke Arhad dengan nada dingin. “Saya tidak memiliki alasan untuk takut mengatakan hal seperti ini.”Duke Arhad mendadak terdiam. Amarah masih terlihat jelas pada wajahnya, tetapi perkataan Dregory telah membuatnya kehilangan jawaban Sebab ia tahu betul bahwa pada waktu yang dibicarakan itu, Viola belum menjadi ratu. “Kalau begitu, mengapa kau baru mengatakannya sekarang?” Viola terdengar sinis.Dregory menoleh kepadanya.“Karena aku tidak akan mengatakannya jika kalian tidak memulainya.”Viola terdiam. Ia tidak bisa menyangkal bahwa ayahnya yang lebih dahulu menyinggung masa lalu, bahkan dengan sengaja memancing Dregory mengenai hubungannya dengan wanita-wanita yang pernah berada di sisi kais
Alexis membeku, ia hanya memandang Dior tanpa berkedip, memastikan bahwa ia tidak salah mendengar. Tapi, Dior sudah kembali memusatkan perhatian pada dokumen di hadapannya, seolah baru saja mengatakan bahwa ia harus menghadiri rapat singkat.“Apa?”“Aku harus pergi berkencan,” ulang Dior dengan nada datar.Alexis menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk tumpukan dokumen di atas meja.“Jadi, kau memanggilku ke sini, mengatakan bahwa aku akan menjadi kaisar, menyuruhku belajar dari Vale, dan memberitahuku bahwa seluruh tanggung jawabmu akan menjadi tanggung jawabku, hanya karena kau ingin pergi berkencan?”“Benar.”“Dengan Siera?”"Perbaiki panggilanmu." Tegur Dior."Kakak ipar."“Ya, benar begitu.”Alexis menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ia benar-benar tidak tahu apakah harus tertawa atau marah. Dior bahkan tidak berusaha menyembunyikan alasan sebenarnya di balik semua keputusan itu.Setelah bertahun-tahun menghadapi medan perang dan berbagai persoalan yang men
Ucapan yang disampaikan dengan nada datar seolah sedang membicarakan sesuatu yang sama sekali tidak penting membuat Gerald menoleh.“Yang Mulia sudah menduga mereka akan melakukan sesuatu?”“Mereka tidak akan datang ke penjara hanya untuk berbincang.”Gerald terdiam sesaat karena ia jelas memahami maksud Dior. Selama ini, Duke Arhad memang belum menunjukkan pergerakan yang cukup besar untuk dianggap sebagai ancaman langsung. Namun, kunjungan kepada Lionel menjadi petunjuk bahwa pihak yang kehilangan kekuasaan itu mungkin mulai menyusun langkah berikutnya.“Apakah kita perlu memperketat pengawasan terhadap kediaman Arhad?” tanya Gerald.“Tidak perlu mengubah apa pun secara mencolok. Biarkan mereka berpikir bahwa rencana mereka belum diketahui.”Gerald mengangguk.“Lalu, bagaimana dengan Lionel?”“Biarkan dia tetap di penjara.”Dior kembali membuka dokumennya, seolah pembicaraan itu telah berakhir. Baginya, Lionel yang terkurung tidak bisa melakukan banyak hal tanpa bantuan dari luar. S
Duke Arhad menatap Lionel.“Semuanya sudah kuatur. Kau hanya perlu bersabar.”Lionel menyipitkan mata, seolah ingin memastikan bahwa Duke Arhad benar-benar memiliki rencana dan bukan sekadar berusaha menenangkannya. Namun, Duke Arhad tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia hanya berdiri dengan sikap tenang, sama sekali tidak menunjukkan kegelisahan seperti yang dirasakan Lionel.Viola pun memilih diam. Ia mengenal ayahnya dengan baik. Jika Duke Arhad sudah mengatakan bahwa sesuatu telah diatur, berarti pria itu memang memiliki rencana yang belum ingin diungkapkan. Meski demikian, ia tetap tidak bisa sepenuhnya merasa tenang. Keadaan mereka sekarang jauh berbeda dari sebelumnya, terutama setelah Dior mengambil alih kekuasaan dan memperketat pengawasan di seluruh kekaisaran.Duke Arhad kemudian berbalik, bersiap meninggalkan tempat itu.“Tunggulah kabar dariku. Jangan melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku.”Lionel mengerutkan kening, tetapi tidak membantah. Ia hanya memperhatikan
Dior duduk di ruang kerjanya, dikelilingi tumpukan dokumen yang harus diperiksa dan disetujui. Sejak pagi, ia belum selesai bekerja ketika Vale kembali meletakkan setumpuk dokumen baru di atas mejanya.Dior mengangkat wajah dan menatap Vale sekilas, ia kemudian mengalihkan pandangan ke dokumen tersebut.“Ini masih belum akan selesai?”Vale tidak langsung menjawab. Ia justru memandang tumpukan dokumen di atas meja, kemudian kembali menatap Dior dengan ekspresi datar.“Itulah sebabnya saya tidak pernah setuju Anda menjadi Kaisar.”Dior mengangkat pandangannya.Vale tetap berbicara seolah baru saja menyampaikan pendapat biasa.“Anda lebih cocok menjadi jenderal perang atau Grand Duke. Mengurus wilayah Rurich saja tidak serumit ini. Setidaknya, ketika menjadi jenderal, Anda hanya perlu memikirkan strategi, pasukan, dan bagaimana memenangkan perang. Setelah semuanya selesai, Anda bisa kembali beristirahat.”Dior menatap Vale beberapa saat, lalu mengembuskan napas pendek. Ia menyandarkan tu
Siera membeku, ia hanya menatap Zelka tanpa berkata-kata. Ia membutuhkan waktu untuk memahami maksudnya. Jari-jarinya yang berada di atas sampul buku perlahan mengendur, sementara pikirannya langsung kembali kepada kehidupan sebelumnya, kepada hari-hari yang ingin ia lupakan, dan kepada akhir menyakitkan yang telah membawanya kembali ke masa lalu.“Kematian...” Siera mengulang kata itu pelan, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah mendengar. “Maksudmu, kematianku di kehidupan sebelumnya?”Zelka mengangguk.Siera menundukkan pandangan sesaat. Ia tidak pernah menganggap kematiannya sebagai sesuatu yang mudah dibicarakan, terlebih dengan seseorang yang tidak menyaksikan seluruh kejadian itu secara langsung.Selama ini, ia berusaha menjalani kehidupan yang sekarang tanpa terus-menerus menoleh ke belakang. Ia telah membatalkan pertunangannya dengan Erick, menjaga jarak dari orang-orang yang pernah menyakitinya, dan memilih jalan yang berbeda dari kehidupan sebelumnya.Akan tetapi, ny
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis
Siera membuka mulut, tetapi kata-kata terasa sulit keluar. Tenggorokannya kering, pikirannya masih kacau oleh apa yang baru saja ia alami.“A-aku…”“Apa karena Putra Mahkota Erick?” potong Dregory tiba-tiba.Nada suaranya rendah, namun justru terasa lebih menekan. Tidak ada kemarahan yang meledak, t







