LOGINKenangan itu berakhir. Dior perlahan membuka mata dan kembali melihat ruangan di hadapannya. Wajahnya tetap datar meskipun ingatan masa kecilnya masih terlintas di pikirannya.Tidak jauh darinya, Gerald berdiri menunggu. Begitu melihat Dior sudah sadar, ia segera mendekat.“Yang Mulia.”Dior menatapnya.“Apa yang terjadi?”Gerald menundukkan kepala lebih dalam.“Pangeran Erick tidak mau pergi. Beliau masih menunggu Anda dan meminta penjelasan mengenai wanita itu.”Dior tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tenang, tetapi pikirannya sudah memahami persoalan yang dimaksud Gerald. Erick datang bukan untuk sekadar menunggu. Ia ingin jawaban, seolah dirinya masih memiliki hak untuk menuntut sesuatu dari Dior hanya karena pernah menjadi bagian dari masa lalunya.Namun bagi Dior, itu sudah selesai. Ia tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskannya kepada siapa pun.“Lemparkan dia ke penjara tempat ayahnya berada.”Gerald yang semula sudah siap menerima perintah lain langsung tertegun. Ia
Pemakaman Isla berlangsung sederhana. Tidak ada upacara besar atau banyak tamu, hanya peti, beberapa bunga putih, dan orang-orang terdekat.Grand Duke Luca berdiri diam di dekat makam. Sesekali tatapannya beralih kepada Dior yang berdiri beberapa langkah darinya dengan pakaian hitam. Anak itu tidak menangis dan hanya menatap makam ibunya.Dior tahu Isla sudah meninggal dan tidak akan kembali. Baginya, itu adalah kenyataan yang harus diterima. Namun bagi Luca, melihat putranya berdiri tanpa menunjukkan kesedihan justru terasa sangat berat. Ia tahu Dior tidak memilih keadaannya dan tidak bersalah atas apa yang terjadi.Sementara pemakaman berlangsung, beberapa bisikan mulai terdengar dari orang-orang yang melihat Dior.“Dia bahkan tidak menangis.”“Bukankah ibunya baru saja meninggal?”“Lihat wajahnya.”“Tidak ada perubahan sama sekali.”“Anak itu benar-benar tidak memiliki perasaan.”“Bagaimana bisa seorang anak tetap setenang itu setelah melihat ibunya mati?”“Tatapannya bahkan tidak
Luca seperti tersentak mendengar ucapan Kaisar, ia hanya berdiri di tempatnya, menatap keadaan di hadapannya dengan napas yang tertahan. Namun semakin lama Luca memperhatikan keadaan itu, semakin jelas sesuatu terasa tidak masuk akal baginya."Tidak mungkin." Suara Luca terdengar berat.Ia segera mendekati ranjang dan memeriksa keadaan Isla dengan tangannya sendiri. Ia menyentuh leher wanita itu, kemudian mencoba merasakan napasnya. Tidak ada respons."Isla..."Tidak ada jawaban dan Luca langsung berbalik."Dokter!" Suara kerasnya mengguncang lorong di luar kamar. "Panggil dokter sekarang!"Beberapa pelayan yang berada di luar segera berlari. Kaisar masih berdiri di dekat pintu, sementara beberapa pengawal dan pelayan yang mendengar keributan mulai berkumpul di luar kamar. Tidak seorang pun berani masuk tanpa perintah.Dior masih berdiri di tempatnya, ia hanya menatap ayahnya. Wajahnya tetap datar seperti biasa. Luca kemudian menatapnya."Dior."Dior mengangkat wajah."Kenapa kau mela
Erick melangkah mendekati meja kecil yang berada tidak jauh dari ranjang. Ia meletakkan sesuatu di atas meja dengan gerakan tenang, seolah benda itu sama sekali tidak penting."Ayah bilang kau seharusnya mati."Isla yang sejak tadi menundukkan wajah perlahan mengangkat kepalanya. Matanya sudah penuh air mata. Ia memandang Erick dengan tatapan kosong, seolah tidak lagi memiliki tenaga untuk memahami mengapa anak kecil di hadapannya bisa mengatakan sesuatu sekejam itu.Erick tidak menunjukkan keraguan sedikit pun."Matilah agar semuanya berjalan lancar."Setelah mengatakannya, ia berbalik dan berjalan keluar dari kamar.Suasana kembali sunyi.Namun tangisan Isla tidak berhenti.Suara isaknya terdengar begitu menyedihkan di dalam kamar yang luas itu. Tidak ada seorang pun di sana yang menjawabnya. Tidak ada tangan yang mengusap kepalanya. Tidak ada suara yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.Dior masih berada di bawah ranjang.Ia mendengar semuanya. Ia mendengar langkah Eri
Isla tidak menjawab."Kau bahkan rela tubuhmu sendiri dihancurkan hanya untuk menyelamatkannya. Bukankah itu aneh?" Suara Erick terdengar meremehkan.Jari-jari Isla mencengkeram selimut. Ia menoleh ke arah lain."Aku tidak berpura-pura.""Lalu apa?"Erick berdiri dari kursinya dan mendekati ranjang. Tatapannya semakin tajam."Kalau kau benar-benar membencinya, seharusnya kau membiarkan anjing-anjing itu menggigitnya."Isla terdiam."Dia bahkan bukan anak yang kau inginkan sejak awal."Kalimat itu membuat Isla akhirnya menoleh."Jangan bicara seolah kau tahu semuanya."Erick tersenyum tipis."Aku tahu cukup banyak." Ia memandang Isla dari atas ke bawah, lalu berkata, "Aku tahu kau membencinya. Aku tahu kau pernah menyakitinya. Dan aku juga tahu kau selalu berharap ayahku akan kembali melihatmu."Isla mengepalkan tangannya."Tapi sekarang kau malah melindunginya."Erick berhenti sejenak."Kenapa?"Tidak ada jawaban.Dari bawah ranjang, Dior mendengar semuanya. Ia teringat kejadian ketik
Dior sekarang berada sendirian di kamar perawatan. Sejak ayahnya pergi, ia tidak melakukan apa pun selain duduk di kursi yang diletakkan di samping ranjang. Tatapannya tertuju pada wanita yang sedang terbaring di hadapannya. Isla masih tertidur akibat obat yang diberikan tabib.Wajahnya terlihat jauh lebih pucat daripada biasanya, dan beberapa bagian tubuhnya dibalut perban tebal. Lengannya yang patah tidak dapat digerakkan, sementara kakinya juga dibalut hingga hampir tidak terlihat. Sesekali napasnya terdengar sedikit berat, tetapi sejauh yang bisa Dior lihat, ibunya masih dalam keadaan baik.Dior hanya menatapnya dalam diam. Ia mengenal wajah itu dengan baik. Wajah wanita yang selama bertahun-tahun berada di dekatnya, meskipun hubungan di antara mereka tidak pernah benar-benar seperti hubungan seorang ibu dan anak.Dior tidak tahu bagaimana seharusnya seorang anak memandang ibunya dalam keadaan seperti ini. Ia hanya mengetahui bahwa Isla terluka ketika melindunginya dari tiga anjin
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis






