Mag-log inDior sekarang berada sendirian di kamar perawatan. Sejak ayahnya pergi, ia tidak melakukan apa pun selain duduk di kursi yang diletakkan di samping ranjang. Tatapannya tertuju pada wanita yang sedang terbaring di hadapannya. Isla masih tertidur akibat obat yang diberikan tabib.Wajahnya terlihat jauh lebih pucat daripada biasanya, dan beberapa bagian tubuhnya dibalut perban tebal. Lengannya yang patah tidak dapat digerakkan, sementara kakinya juga dibalut hingga hampir tidak terlihat. Sesekali napasnya terdengar sedikit berat, tetapi sejauh yang bisa Dior lihat, ibunya masih dalam keadaan baik.Dior hanya menatapnya dalam diam. Ia mengenal wajah itu dengan baik. Wajah wanita yang selama bertahun-tahun berada di dekatnya, meskipun hubungan di antara mereka tidak pernah benar-benar seperti hubungan seorang ibu dan anak.Dior tidak tahu bagaimana seharusnya seorang anak memandang ibunya dalam keadaan seperti ini. Ia hanya mengetahui bahwa Isla terluka ketika melindunginya dari tiga anjin
Ia berlari. Para pengawal segera menyerang ketiga anjing tersebut dan menarik mereka menjauh. Salah satu pengawal bahkan harus menjatuhkan dirinya di antara Isla dan anjing itu agar serangan berikutnya tidak mengenai mereka."Amankan anjingnya!""Jangan biarkan mereka mendekat!"Ketiga anjing akhirnya berhasil dikendalikan. Grand Duke langsung berlutut di samping Dior."Apakah kau terluka?"Dior menggeleng."Aku tidak terluka."Grand Duke memeriksa tubuh putranya dengan cepat. Setelah memastikan Dior tidak mengalami luka serius, pandangannya beralih kepada Isla.Ia langsung terdiam karena kondisi Isla jauh lebih buruk. Salah satu lengannya patah akibat gigitan. Salah satu kakinya juga mengalami patah parah. Punggung dan pahanya penuh luka akibat serangan bertubi-tubi. Darah membasahi pakaian dan tanah di sekitarnya."Isla..."Grand Duke segera mendekatinya. Isla masih sadar, tetapi napasnya sangat berat."Dior..."Grand Duke menoleh."Dia selamat."Isla menutup mata sebentar."Syukurl
Hari-hari berlalu. Empat hari di Kediaman Elvorn dan tiga hari di Kediaman Rurich membuat Dior mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Di Elvorn, ia mengikuti latihan Dregory, sementara di Rurich ia menghabiskan waktu bersama ayahnya dan belajar melukis.Suatu hari, Dior duduk di depan kanvas. Di sekelilingnya terdapat banyak lukisan berbagai ekspresi wajah. Namun, ada satu wajah yang paling sering ia lukis, yaitu seorang gadis kecil dengan rambut rapi dan mata biru.Siera.Saat Dior sedang melukis wajahnya, Grand Duke masuk ke ruangan. Ia melihat beberapa lukisan di sekelilingnya, lalu tatapannya berhenti pada lukisan Siera.Alisnya perlahan mengernyit."Dior."Dior menoleh. Grand Duke berjalan mendekat dan menatap lukisan di hadapannya dengan ekspresi sulit dijelaskan."Kalau Dregory tahu kau melukis putrinya diam-diam sebanyak ini, bisa-bisa Kediaman Elvorn terbakar habis."Dior tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ayahnya, lalu mengalihkan pandangan kembali kepada lukisan di
Dior hanya diam. Tidak ada perubahan pada wajahnya. Tidak ada rasa tersinggung, marah, ataupun malu. Ia hanya memandang Siera seolah sedang mencoba memahami mengapa gadis kecil itu terus membicarakan matanya.Yelian akhirnya memutuskan bahwa percakapan ini tidak akan selesai jika ia terus membiarkan adiknya berbicara.“Siera, jaga bicaramu. Lebih baik kau kembali. Aku akan latihan.”Siera langsung menoleh.“Kalau Kakak pergi, aku sendirian.”Yelian menatapnya.“Kau bisa bermain dengan para pelayan.”“Aku tidak mau.”“Dengan pengawal?”“Tidak mau.”“Kalau begitu tetap di kamar.”Siera langsung menggeleng keras.“Aku tidak mau sendirian.”Yelian terdiam sejenak. Ia tahu Siera memang tidak suka ditinggal sendirian, tetapi kali ini ia juga tidak mungkin membiarkan adiknya mengganggu latihan. Tatapannya kemudian beralih kepada Dior yang masih berdiri tidak jauh dari mereka bersama Felix. Anak laki-laki itu tampak begitu tenang, seolah semua percakapan mereka tidak ada hubungannya dengan di
Perjalanan dari Kastil Rurich berlangsung cukup lama, tetapi sepanjang perjalanan Dior hanya duduk diam di dalam kereta tanpa banyak bertanya. Ia tidak terlihat penasaran dengan tempat yang akan menjadi rumah keduanya. Tidak ada rasa sedih karena harus meninggalkan kastil, juga tidak ada kegembiraan karena akan tinggal di tempat baru. Ia hanya mengikuti keputusan ayahnya seperti biasa.Begitu kereta berhenti di depan Kediaman Elvorn, Dregory turun lebih dulu. Dior kemudian mengikuti dari belakang dengan langkah kecil yang masih sedikit hati-hati. Para pelayan yang telah mengetahui kedatangan mereka segera berdiri di sisi jalan dan menundukkan kepala. Namun Dior tidak memperhatikan siapa pun. Tatapannya hanya bergerak mengikuti Dregory yang berjalan menuju halaman utama.Dregory berhenti setelah beberapa langkah dan menoleh kepadanya.“Dior.”Dior mengangkat wajah.“Mulai sekarang kau tinggal di sini. Ikuti Felix.”Dior melihat seorang pria yang berdiri tidak jauh dari mereka. Felix se
Hari-hari berlalu sejak kejadian itu.Kastil Rurich masih terasa berbeda. Para pelayan lebih berhati-hati, tabib terus memeriksa Dior, dan paviliun Isla dijaga agar ia tidak bisa keluar tanpa perintah Grand Duke.Dior keluar dari kamarnya. Tubuhnya masih lemah dan kepalanya masih diperban, tetapi rasa ingin tahu membawanya berjalan sendirian. Saat melewati sebuah ruangan, ia melihat Dregory dan ayahnya di dalam.Grand Duke duduk di depan sebuah canvas kosong. Ia hanya menatap lukisan itu tanpa berkata apa-apa. Dior berdiri diam di balik pintu, memperhatikan mereka. Setelah beberapa saat, Dregory akhirnya memecah keheningan.“Aku pikir kau mengabaikannya.”Grand Duke tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada lukisan di hadapannya.“Aku hanya tidak tahu bagaimana menghadapinya.”Dregory menatapnya dan Grand Duke menarik napas panjang.“Selama ini dia tumbuh bersama ibunya. Aku sibuk dengan urusan negara dan militer. Hampir seluruh waktuku dihabiskan di luar rumah.”Dregory
“Hah… hah…”Napas Siera memburu setelah berlari tanpa henti. Keringat mengalir di pelipisnya, sementara tangannya mencengkeram pinggir pintu balkon untuk menahan tubuhnya tetap berdiri.Sang ratu kekaisaran itu berusaha memahami apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu cepat… begitu kacau
Siera meneguk ludah. Ia memang merasa malu karena tertangkap basah, namun ia tetap berdiri tenang, berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.“Maaf… saya tidak bermaksud mendengar pembicaraan Anda berdua.” Siera membungkuk, menjaga sopan santunnya.Saat ia mengangkat kepala, ia bisa melihat pandanga
Siera tahu bukan hanya Erick, Dregory, dan semua orang yang berada di ruangan itu tertegun mendengar ucapan Siera yang tiba-tiba.“Apa… yang kau katakan?” suara Erick terdengar tertahan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia bahkan bangkit dari posisinya.Siera sempat menoleh
Suara ketukan pintu membuat Siera tersentak. Ia menoleh ke arah pintu ketika daun pintu terbuka perlahan, dan seorang gadis masuk dengan langkah hati-hati.“Nona…”Siera menatapnya.“Mia…”Wajah Mia terlihat lega, bahkan sedikit senang. “Yang Mulia Duke benar… Anda sudah bangun.”Siera menatap gadis







