LOGIN"Di rumah ini, kau punya dua pilihan: mati membusuk atau mematuhi rahasia sang Tuan Tanah." Menjadi pelayan di Manor Weatherwoods adalah keputusan paling gila yang pernah diambil Caelia. Rumah tua itu tak hanya miskin dan hantu, tapi juga dipimpin oleh Tuan Tanah berwujud telur yang bisa meledak sewaktu-waktu jika rahasianya terbongkar!
View MoreUdara pagi di Midwintry menusuk kulit, membawa aroma tanah kering yang bercampur dengan bau jelaga dari perapian tua Manor Weatherwoods. Caelia Vance berdiri di halaman depan, punggungnya tegak lurus, tangan kirinya mencengkeram gagang sapu kayu yang sudah lapuk. Sapu itu bergerak ritmis, menyingkirkan dedaunan mati dan debu yang menutupi jalan masuk utama yang retak-retak.
Manor Weatherwoods tampak seperti kerangka raksasa yang sedang menunggu waktu untuk runtuh. Dinding-dinding batu hitamnya kehilangan kilau, jendela-jendela tinggi tertutup lapisan debu tebal, dan taman di depan hanya menyisakan ilalang kuning yang meranggas.
Tiga ketukan keras menghantam gerbang besi. Bunyi logam beradu bergema ke seluruh halaman.
Caelia tidak berhenti menyapu. Debu mengepul di bawah gerakannya.
Suara teriakan kasar membelah kesunyian pagi.
"Keluar, pelayan! Kami tahu Viscount Weatherwoods bersembunyi di dalam. Buka gerbangnya sebelum kami merobohkannya!"
Seorang pria dengan jubah sutra yang terlalu mencolok untuk cuaca sedingin ini berdiri di balik jeruji besi. Di belakangnya, tiga orang pria bertubuh kekar dengan wajah penuh bekas luka menunggangi kuda. Baron Pedrick. Pria itu menempelkan wajahnya pada celah gerbang, matanya menyapu halaman dengan penuh nafsu—bukan pada wanita, melainkan pada harta yang ia yakini tersembunyi di balik pintu kayu besar manor.
Valerie muncul dari balik pintu depan, apron putihnya bersih meski tampak kusam oleh seringnya dicuci. Ia tidak berlari, namun langkahnya cepat dan pasti. Wanita itu berhenti di depan Caelia, lalu menatap gerbang dengan pandangan tajam.
"Baron Pedrick. Pagi yang terlalu dini untuk perilaku tidak beradab seperti ini."
Baron Pedrick mendengus, meludah ke tanah di luar gerbang.
"Simpan basa-basi itu, Valerie. Aku sudah lelah dengan sandiwara kemiskinan kalian. Viscount Weatherwoods punya utang besar pada kerajaan. Serahkan dia sekarang, atau aku akan menyita seluruh isi manor ini untuk menutupi kerugian."
Valerie menyilangkan tangan di dada, wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda gentar sedikit pun.
"Viscount sedang tidak menerima tamu. Silakan kembali saat ada janji temu yang tertulis secara resmi di atas kertas bermaterai."
Baron Pedrick tertawa, suara parau yang memuakkan bagi telinga Caelia. Ia memberi isyarat pada salah satu anak buahnya. Pria bertubuh besar di belakangnya turun dari kuda, mendekati gerbang, dan dengan satu hentakan kaki yang kuat, engsel gerbang yang sudah berkarat itu menyerah. Gerbang besi terbuka lebar, membentur dinding batu dengan suara keras.
Pedrick melangkah masuk, diikuti oleh anjing-anjing penjaganya. Ia berhenti tepat di depan Valerie, mendorong bahu wanita itu dengan kasar hingga Valerie tersandung mundur.
"Kau pikir aku peduli pada surat wasiat? Aku adalah hukum di distrik ini."
Caelia masih berdiri di sana, memegang sapunya seolah-olah itu adalah senapan panjang. Tatapannya tertuju pada sepatu bot Baron yang menginjak tanah kering, menghancurkan sisa-sisa tanaman yang baru saja ia bersihkan.
"Di mana dia? Di mana Viscount bersembunyi?"
Pedrick menatap Caelia, mengabaikan Valerie yang berusaha bangkit.
"Kau. Pelayan baru, kan? Cepat katakan di mana Viscount atau kau akan berakhir di pasar budak Timur sebelum matahari terbenam."
Caelia meletakkan sapunya perlahan. Ia menarik napas panjang, meresapi udara dingin yang masuk ke paru-parunya.
"Viscount tidak ada di sini."
"Bohong!"
Pedrick menarik kerah baju Caelia, wajahnya hanya berjarak beberapa inci. Napas pria itu berbau anggur murah dan arogansi.
"Aku punya surat wasiat yang menyatakan semua properti ini milikku jika Viscount gagal melapor dalam tiga hari. Dan hari ini adalah batas akhirnya. Aku akan menjualmu sebagai budak tambang untuk membayar pajak yang tertunggak."
Caelia menatap mata Pedrick. Tidak ada ketakutan, tidak ada kecemasan. Hanya ada ingatan tentang ribuan prajurit yang mati demi mempertahankan tanah yang kini diinjak oleh pria brengsek ini. Ingatan tentang kawan-kawannya yang mengorbankan nyawa agar orang-orang seperti Pedrick bisa hidup nyaman, namun kini malah memanfaatkan celah hukum untuk menindas yang lemah.
"Melepaskan tanganmu dari kerah bajuku adalah pilihan paling bijak yang bisa kau buat hari ini."
Pedrick tertegun sejenak mendengar nada bicara Caelia yang datar dan dingin. Ia tertawa meremehkan, lalu melepas cengkeramannya dan meraih sekop tanah yang tersandar di dinding dekat Caelia.
"Berani mengancamku? Pelayan bodoh."
Pedrick mengayunkan sekop itu ke arah kepala Caelia dengan niat penuh untuk melukai.
"Caelia, tahan dirimu! Jangan buat kekacauan di pagi hari!" Valerie berteriak dari belakang.
Caelia mengabaikan peringatan itu. Baginya, peringatan Valerie adalah saran administratif, bukan perintah. Dan saat ini, tubuhnya bergerak berdasarkan insting perang yang tidak pernah benar-benar padam.
Dengan gerakan yang terlalu cepat untuk mata telanjang, Caelia menunduk. Sekop itu memotong udara, hanya mengenai helai rambutnya. Caelia tidak mengambil senjata. Ia hanya menggunakan telapak tangannya yang terbuka.
PLAK.
Suara tamparan itu terdengar seperti cambuk yang memecah keheningan pagi. Baron Pedrick terhempas, tubuhnya meluncur di udara seperti boneka kain, menghantam dinding batu Manor Weatherwoods dengan bunyi retakan yang menyakitkan. Ia merosot jatuh ke tanah, tidak sadarkan diri.
Tiga anak buah Pedrick terpaku sejenak, lalu serempak mencabut belati mereka.
"Kau wanita gila!"
Salah satu pria menerjang. Caelia berputar, satu tendangan telak menghantam ulu hati pria itu. Ia tersungkur, memuntahkan sisa sarapan di jalanan. Tanpa memberi jeda, Caelia menangkap pergelangan tangan pria kedua dan memuntirnya hingga terdengar suara tulang beradu, lalu mendorongnya menabrak rekannya sendiri. Keduanya jatuh bertumpuk, tak sadarkan diri.
Pria terakhir mencoba melarikan diri ke arah gerbang, namun Caelia sudah berada di depannya dalam dua langkah panjang. Sebuah tamparan telak pada pelipis membuatnya tumbang seperti pohon yang ditebang.
Halaman kembali sunyi. Hanya suara napas Caelia yang teratur, tenang, seolah ia baru saja menyelesaikan kegiatan menyiram bunga, bukan merobohkan empat preman bersenjata.
Caelia memungut kembali sapunya.
Valerie mendekat, menatap empat tubuh yang tergeletak di halaman dengan ekspresi lelah.
"Aku bilang tahan diri, Caelia. Bukan berarti kau harus meremukkan tulang mereka sampai perlu biaya pengobatan mahal. Siapa yang akan membayar kerusakan dinding ini?"
Caelia menatap tubuh Baron Pedrick yang masih terkulai dengan mulut sedikit terbuka.
"Dia yang memulai. Dia yang merusak gerbang. Jadi, dia yang harus menanggung biaya perbaikan."
Valerie memijat pelipisnya.
"Lalu apa rencanamu dengan sampah-sampah ini? Kita tidak bisa membiarkan mereka membusuk di sini. Baunya akan menarik tikus."
Caelia tidak menjawab. Ia berjalan menuju Baron Pedrick. Dengan satu gerakan santai, ia mencengkeram pakaian pria berbadan besar itu di bagian tengkuk dan pinggang, lalu mengangkatnya dengan mudah seolah ia hanya membawa karung gandum.
"Caelia, apa yang kau lakukan?"
"Memindahkan mereka."
Caelia berjalan menuju gerbang, membuang Baron Pedrick ke sisi jalan raya di luar properti manor. Ia kembali lagi, mengambil anak buah kedua, lalu ketiga, dan keempat. Ia menyejajarkan keempat pria itu di bahu jalan raya, berbaris rapi seperti sedang berjemur di bawah sinar matahari yang mulai terik.
Ia berdiri di samping barisan tubuh tak sadarkan diri itu, membersihkan tangannya dari debu yang menempel di baju pria-pria tersebut.
"Apa kau benar-benar akan meninggalkan mereka di sini?" Valerie berdiri di ambang gerbang, menatap keempat pria itu dengan skeptis. "Ini jalan raya utama. Kereta kuda akan lewat sebentar lagi."
Caelia mengangguk singkat.
"Tepat sekali. Mungkin salah satu kusir kereta akan menabrak mereka jika mereka tidak segera bangun. Itu akan menjadi pelajaran yang sangat efektif tentang bahaya memarkir tubuh sembarangan di jalan raya."
Valerie menatap Caelia, lalu beralih menatap Baron Pedrick yang masih pingsan. Tidak ada ketakutan akan pembalasan hukum dari seorang bangsawan, tidak ada kekhawatiran tentang polisi yang akan datang mengetuk pintu.
"Yah," gumam Valerie sambil melipat tangannya, "asuransi mungkin tidak menanggung kerusakan akibat kebodohan sendiri. Ayo masuk. Aku punya banyak cucian yang harus kau selesaikan sebelum makan siang."
Caelia berbalik, kembali ke halaman manor tanpa menoleh lagi pada empat pria yang terancam terlindas kereta kuda. Baginya, ancaman pertama sudah selesai. Besok, mungkin ada ancaman lain. Tapi untuk sekarang, prioritasnya adalah menyelesaikan tugas rumah tangga yang tertunda.
-to be continued-
Cahaya matahari siang memanggang taman depan Manor Weatherwoods, mengubah ilalang kering menjadi warna emas yang menyakitkan mata. Caelia berdiri di balik bayang-bayang pohon ek, membiarkan punggungnya bersandar pada kulit batang yang kasar. Fokusnya terkunci pada satu titik: profil samping wajah Lucian De Eris.Pria itu sedang membaca buku tebal bersampul kulit di kursi taman, kakinya menyilang santai. Caelia tidak memerhatikan isi buku itu. Ia memerhatikan telinga Lucian.Dua daun telinga pria itu penuh dengan deretan lubang tindikan halus, simetris, dan presisi. Tidak ada perhiasan emas atau perak yang menggantung di sana. Kosong. Bagi orang awam, itu mungkin hanya bekas tindikan lama. Namun, bagi mata seorang mantan komandan perang yang terbiasa membedah pola sihir musuh, lubang-lubang itu adalah sesuatu yang lain.Titik alir mana.Belasan lubang itu dirancang untuk menanamkan artefak penyembunyi status sihir tingkat tinggi. Lucian tidak sedang menyembunyikan identitasnya sebagai
Cahaya lilin berkedip, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu ruangan belakang pub. Suasana pengap, berbau keringat, arak murahan, dan ketakutan yang kental. Di atas meja kasar, sebuah koin emas tergeletak. Sisi permukaannya tidak menampilkan wajah raja atau lambang kerajaan, melainkan pahatan burung gagak yang sedang mematuk mata manusia.Si Bartender menarik sudut bibirnya, membiarkan darah menetes dari luka di hidungnya. "Kau pikir kau bisa menguasai jalanan? Koin ini adalah surat kematian bagi siapa pun yang berani menyentuh harta Buried Letter."Gideon mundur dua langkah, punggungnya menabrak dinding kayu. Napasnya memburu, matanya membesar menatap benda kecil yang berkilau di atas meja. Tangannya yang gemetar terkepal di samping jubah gordennya."Buang benda itu, Nona Caelia. Sekarang." Gideon menelan ludah dengan susah payah. "Itu tanda kontrak eksekusi. Sekali koin itu diperlihatkan, mereka tidak akan berhenti sampai targetnya menjadi abu. Mereka tidak membal
Udara di dalam Pub Piece of Land terasa seperti napas busuk orang mati. Campuran bir basi, tembakau murah, dan keringat dingin para pria yang terbiasa hidup dalam bayang-bayang memenuhi ruangan. Caelia berdiri di ambang pintu, matanya yang sedingin es memindai interior pub. Cahaya lampu gantung berayun pelan, melemparkan bayangan panjang yang menari di dinding kayu.Di dinding belakang bar, sebuah bingkai foto besar tergantung dengan kemiringan yang tidak sopan. Tujuh Pahlawan Perang Penyihir. Ada Auden Vance di sana, wujud prianya dahulu, berdiri tegak di samping Grand Duke Raphael. Foto itu menatapnya dengan kejayaan yang sudah membusuk, mengingatkan pada masa ketika dunia masih terasa memiliki aturan yang jelas. Sekarang, hanya ada sampah.Enam pria duduk mengelilingi meja bundar besar di tengah ruangan. Mereka adalah pimpinan Merchants' Association. Wajah-wajah mereka adalah peta dari setiap dosa kecil yang dilakukan di jalanan Midwintry.Langkah kaki Caelia berhenti tepat di bawa
Pasar Midwintry berbau busuk. Aroma keringat basi, limbah ikan, dan sampah organik yang membusuk di bawah matahari siang menyerang indra penciuman. Caelia menyentakkan tas belanjaan di bahunya. Ia berhenti di bawah naungan atap kedai tua, memeriksa isi tas. Tujuh kentang. Satu, dua, tiga... sampai delapan.Penjual itu salah hitung. Ketidakteraturan ini mengusik sarafnya. Dalam perang, kesalahan hitung logistik berarti kelaparan bagi satu peleton. Caelia memutar tumit, kembali ke arah gang sempit di sisi pasar. Ia tidak suka memiliki sesuatu yang bukan miliknya.Gang yang dilaluinya begitu gelap, tertutup bayang-bayang toko kain di kedua sisi. Lantainya lembap, dipenuhi genangan air sisa cucian. Suara sepatu botnya beradu dengan batu jalanan yang licin, menciptakan irama monoton yang terputus oleh suara erangan. Caelia melambat. Ia menempelkan punggungnya ke dinding bata yang kasar, mengintip ke tikungan.Tiga pria berdiri mengepung seorang wanita tua. Salah satu pria, dengan tato naga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.