Share

Bab 40

Author: NamNamjoo
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-25 21:23:38

Udara dingin sisa gerimis masih menempel di dinding kayu ruang kerja darurat. Lampu gantung kuning berkedip pelan, memantulkan bayangan remang di wajah Bu Dita yang kelelahan. Wanita muda itu memeluk cangkir kertas berisi air mineral hangat, menatap lurus ke arah Sugiono yang duduk tenang di kursi plastik.

"Bagaimana anak sama istrimu ngasih izin merantau ke kota, Yono? Apa istrimu tidak kesepian di kampung?" tanya Bu Dita pelan, memecah keheningan di antara mereka.

Sugiono tersenyum tipis, men
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 71

    "Mas..."Suara itu lembut, nyaris seperti embusan angin. Santi melepaskan pegangannya pada gagang pel. Matanya membulat, menatap pria di hadapannya dengan tatapan tidak percaya."Santi? Benar kamu, Santi?" Sugiono melangkah satu kaki ke depan, tangan kasarnya gemetar. "Ke mana saja kamu selama ini? Anak kita..."Belum sempat kalimat itu tuntas, sebuah suara keras memecah keheningan koridor kantor yang dingin."Mbak! Kopi hitam dua! Buatkan sekarang, saya ada rapat!" Seorang staf pria berjas rapi, dengan wajah penuh ambisi, mendekat dengan ponsel menempel di telinganya. Ia melirik sekilas ke arah Sugiono dengan tatapan merendahkan. "Dan itu, di ruang kerja saya juga kotor, tolong dipel. Cepat!"Santi menunduk dalam, bahunya sedikit bergetar. "Baik, Mas. Segera saya kerjakan.""Santi, tunggu," Sugiono hendak meraih lengan mantan istrinya, namun Santi segera berbalik, menarik ember pelnya dengan terburu-buru, menghindari kontak mata."Maaf, Mas. Saya harus bekerja," bisik Santi pelan, ny

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 70

    Matahari pagi telah sepenuhnya naik, memancarkan sinarnya yang terik ke seluruh penjuru halaman rumah mewah keluarga besar Bu Rita. Di pos penjagaan depan, Asep tampak sibuk merapikan beberapa berkas dan laporan logistik keamanan yang berserakan di atas meja. Di tengah kesibukannya, matanya tak sengaja menangkap sebuah map biru tebal yang terselip di balik kursi kayu tempat Tuan Bayu duduk semalam.Asep memunguti map yang tertinggal jatuh itu dengan tergesa-gesa, lalu membuka lembaran pertamanya untuk memastikan isinya. Wajah satpam paruh baya itu langsung berubah pias."Wah, gawat..." gumam Asep panik sambil menepuk jidatnya. "Ini waduh, ada berkas penting Pak Bayu yang tertinggal! Kalau sampai dokumen kontrak ini tidak sampai ke kantornya pagi ini, bisa-bisa saya kena amuk lagi."Asep yang tengah dilanda cemas langsung menoleh ke arah Sugiono yang baru saja keluar dari area paviliun membawa gunting tanaman. Tanpa pikir panjang, Asep langsung menghampiri sang tukang kebun dengan waja

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 69

    Napas Rita semakin memburu, suaranya tercekat di tenggorokan seiring ritme gerakan tangannya yang semakin cepat dan tak beraturan. Sentuhan fisik yang melampaui batas kewajaran itu membuat dinding kamar seolah berputar, menghapus sisa-sisa batasan status sosial di antara mereka berdua.Di bawah kungkungan gejolak hasrat yang teramat pekat, Sugiono tak lagi mampu mempertahankan perisai pertunangannya. Cincin gaib yang melingkar di jarinya berpendar hangat, mengirimkan gelombang energi yang menyatukan aliran darah mereka dalam pusaran nikmat yang tak terelakkan."Bu... ahh... pelan-pelan, Bu..." erang Sugiono tertahan, kedua tangannya mencengkeram erat tepi seprai kasur untuk menahan diri agar tidak sepenuhnya hilang kendali.Rita mendongakkan kepala, membiarkan rambut panjangnya tergerai berantakan di atas bantal. Tatapan matanya sayu penuh kepuasan, sementara debar di dadanya bergemuruh hebat setiap kali ia merasakan denyut nadi dari pusaka sang tukang kebun di dalam genggamannya. Kes

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 68

    "Sebaiknya piyama sama pengait bra-ku dilepas saja ya, Yono... aku merasa gerah sekali malam ini. Kamu tidak masalah, kan?" bisik Rita dengan suara yang terdengar begitu lirih, menyembunyikan getar gugup di balik helaan napasnya yang berat.Sugiono mengerjap pelan, mengusap lembut sisa minyak zaitun di telapak tangannya. "Aku tidak masalah, Bu. Yang penting Ibu merasa nyaman, tidak ada yang perlu dikhawatirkan," balas Sugiono berusaha menjaga suaranya tetap tenang di tengah debar jantung yang kian bergemuruh.Mendengar jawaban itu, Rita perlahan memejamkan matanya. Ia menuruti instruksi Sugiono untuk berbaring memiringkan tubuhnya, membelakangi sang tukang kebun agar posisinya lebih leluasa."Coba membelakangi saya dulu, Bu. Biar saya cek bagian pinggulnya secara menyeluruh, takutnya ada bagian otot atau saraf yang terkilir," ujar Sugiono sambil mulai mendekatkan kedua lututnya ke sisi ranjang.Rita mengangguk pasrah. Sugiono mulai memajukan siku tangannya, menekan permukaan kulit di

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    Bab 67

    Malam semakin larut merayap, membawa keheningan pekat ke dalam kamar pribadi Bu Rita di lantai dua. Wanita paruh baya itu duduk bersila di atas selembar tikar bambu halus yang beralaskan karpet lembut. Ia hanya mengenakan sehelai piyama tipis berbahan katun lembut berbalut renda transparan di bagian tepinya.Kain tipis itu menjiplak jelas bentuk tubuhnya, membuat dua bukit kembar di dadanya tampak menonjol naik ke depan dengan bentuk yang masih padat berisi. Meskipun usianya sudah tidak lagi muda, keindahan aset tubuhnya terbukti masih mampu bersaing dengan gadis-gadis usia belia.Rita memegang sebuah cermin rias berukuran kecil di tangan kanannya. Ia memandangi pantulan wajahnya yang sengaja dipoles makeup tipis agar terlihat segar. Pikirannya melayang jauh, merenungkan gejolak aneh yang baru saja ia rasakan."Akan aku buktikan malam ini... apakah sentuhan tangan kasar Yono memang benar-benar sihir yang membuatku bergairah, ataukah itu sekadar keinginan sesaat akibat kesepian?" batin

  • Dukun Pijat Penarik Janda Desa    BAB 66

    Langkah kaki Sugiono terasa begitu berat namun pasti saat ia menaiki anak tangga besi menuju lantai dua rumah utama. Hasutan dari siluman kucing serta gejolak rasa penasarannya beradu baur di dalam dada. Mengabaikan akal sehat yang terus memperingatkan bahaya, ia kini berdiri tepat di depan pintu kamar pribadi Bu Rita.Di dalam ruangan berukuran luas itu, Bu Rita tengah duduk gelisah di kursi kerjanya. Wanita paruh baya tersebut sama sekali tidak fokus menatap layar komputer di hadapannya. Pikirannya masih kacau balau, terus-menerus terngiang dengan apa yang ia lakukan tadi siang di balkon—saat jemarinya menyentuh area pribadi sambil membayangkan sosok sang tukang kebun. Rasa malu dan gejolak nafsu yang belum sepenuhnya padam membuat dadanya bergemuruh hebat.Tok... tok... tok...Suara ketukan pintu yang pelan namun tegas membuat Rita terperanjat kaget dari lamunannya. Ia menoleh cepat ke arah pintu, lalu berdehem untuk menormalkan suaranya yang sedikit bergetar."Masuk, Yono! Kamu ke

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status