Share

Bab 7

Author: L.S
"Memangnya aku bisa pergi ke mana lagi?" tanyaku dengan nada datar.

"Petugas perusahaan gas datang untuk melakukan pemeriksaan hari ini." Regina berujar dengan dingin, "Karena nggak ada orang di rumah, mereka meneleponku. Kenapa kamu nggak ada di rumah?"

Ternyata begitu. Aku sempat mengira dia akhirnya menyadari keanehanku.

Aku tersenyum, menertawakan diriku karena masih menyimpan harapan yang tidak realistis.

"Kenapa aku harus ada di rumah?" Aku membalas, "Memangnya aku nggak boleh keluar atau punya kehidupan sendiri? Aku nggak boleh berlibur?"

Nada bicara Regina terdengar makin muram. "Louis, apa sebenarnya yang terjadi padamu belakangan ini? Kamu berhenti memasak, jarang pulang, dan suka bersikap ketus padaku! Sekarang, kamu malah pergi liburan sendirian? Apa kamu sudah gila?"

Aku menatap cahaya senja di luar jendela. Suaraku nyaris berupa bisikan. "Aku nggak gila, cuma sudah sadar."

Tiba-tiba, suasana di ujung telepon menjadi hening. Setelah jeda yang cukup lama, Regina tertawa dingin dan berkata, "Oke. Teruskan saja sikapmu itu. Kalau kamu nggak pulang, aku juga nggak akan pulang. Kita lihat saja siapa yang nyerah dulu."

Seusai berbicara, Regina langsung mengakhiri panggilan.

Thomas hampir membanting ponselku.

"Apa wanita itu sudah gila? Dia itu kepala departemen. Begitu bertanya, dia akan tahu kamu lagi dirawat di rumah sakit. Tapi, dia sama sekali nggak peduli!"

Saat berbicara, mata Thomas memerah. Kemudian, dia memelukku dan berkata, "Louis, kalau kamu pengen nangis, nangis saja. Jangan dipendam."

Aku menyandarkan kepala di bahunya. Setelah terdiam cukup lama, aku menggeleng pelan. "Aku nggak bisa menangis lagi."

Seorang pria tidak mudah meneteskan air mata. Meneteskan air mata demi seseorang yang tidak pantas hanya akan membuatku terlihat makin hina.

Tiga hari kemudian, setelah kondisiku cukup pulih, aku keluar dari rumah sakit dan pulang untuk mengemasi barang-barangku. Aku mendorong pintu dan terpaku.

Ternyata Regina ada di rumah. Pandangan kami bertemu dan suasananya seakan membeku selama beberapa detik.

Dia berbicara lebih dulu, "Sudah pulang? Liburan ke mana?"

Aku tidak menjawab, melainkan langsung berjalan ke kamar. Aku membuka lemari untuk memeriksa dokumen-dokumenku. Suaranya terdengar dari belakangku.

"Bukannya kamu selalu pengen road trip dan menyusuri Jalur Aruna-Sagara? Kita baru saja selesaikan pembelian rumah. Sudah saatnya juga buat ganti mobil baru. Ayo kita pergi lihat-lihat mobil besok. Waktu aku libur nanti, aku akan temani kamu pergi."

Gerakanku terhenti sejenak. Jika itu dulu, mendengar kata-kata itu pasti akan membuatku sangat bahagia hingga tidak bisa tidur semalaman. Sekarang, semuanya sudah terlambat.

"Nggak perlu."

Regina mengernyit. "Kenapa?"

'Karena aku sudah beli mobil baru. Karena nggak akan ada kamu lagi di tempat yang akan kutuju mulai sekarang,' jawabku dalam hati. Namun, aku hanya menyahut, "Nggak ada alasan khusus."

Melihatku sama sekali tidak bergeming, Regina akhirnya kehilangan kesabaran. "Kevin terus-menerus bujuk aku untuk perlakukan kamu dengan lebih baik. Tapi, malah sikap seperti ini yang kudapatkan sebagai balasannya?"

Aku tertawa sinis dan mengejek, "Kamu begitu patuh sama dia? Kalau dia mau kamu mati, apa kamu juga akan menurut?"

Wajah Regina langsung menjadi muram. "Louis! Kenapa cara bicaramu jadi seperti itu sekarang?"

Aku menunduk dan kembali merapikan dokumen-dokumenku. Aku bahkan tidak meliriknya.

Regina berdiri di sana dengan napas memburu, lalu tertawa sinis. "Oke. Sepertinya kita berdua butuh waktu untuk tenangkan diri. Aku akan nginap di kantor selama beberapa hari ke depan. Kamu introspeksi saja sendiri."

Dia menyambar mantelnya, lalu pergi dengan membanting pintu. Dari awal sampai akhir, aku bahkan tidak mendongak. Setelah mendengar suara pintu depan ditutup, aku baru berjalan perlahan menuju meja di samping tempat tidur.

Aku mengeluarkan tiga dokumen dari tasku. Yang pertama adalah surat kesepakatan cerai yang sudah ditandatangani. Yang kedua adalah formulir persetujuan tindakan vasektomi. Yang ketiga adalah rekam medis operasi penyambungan kembali saluran sperma yang kujalani dua hari lalu.

Aku menaruh dokumen-dokumen itu dengan rapi di atas meja samping tempat tidur. Kemudian, aku menyeret koperku dan pergi.

Rumah itu terasa penuh dengan kehadiran Regina. Aku tidak sanggup tinggal di sana lebih lama lagi. Jadi, aku menghabiskan malam terakhirku di Kota Argine dengan menginap di hotel.

Keesokan paginya, aku pergi ke dealer mobil. Manajer penjualan menyambutku dengan antusias. "Pak Louis, mobil Anda sudah siap."

Tepat saat aku hendak menandatangani dokumen, terdengar suara yang familier.

"Gimana kalau yang ini?"

Aku menoleh. Tak jauh dari sana, Regina sedang berdiri di samping sebuah mobil SUV. Kevin berada di sisinya dan mencondongkan tubuh untuk memeriksa spesifikasi mobil itu. Entah apa yang mereka bicarakan, keduanya tertawa bersama. Mereka terlihat sangat serasi, seperti pasangan yang sudah bertahun-tahun bersama.

Seorang pramuniaga tersenyum lebar. "Kalian punya selera yang bagus. Model ini memang pas untuk pasangan yang suka bepergian jauh. Banyak pasangan muda yang memilihnya. Kalian boleh coba mengemudikannya."

Regina tidak memberikan penjelasan apa pun, melainkan langsung masuk ke kursi pengemudi. Sementara itu, Kevin yang tersipu juga tidak mengatakan apa-apa, hanya masuk ke kursi penumpang. Mereka pun mengendarai mobil itu untuk uji coba.

Para staf mulai berbisik-bisik.

"Mereka benar-benar serasi, sama-sama rupawan."

"Dengar-dengar, mereka lulusan dari kampus yag sama. Sekarang, mereka juga kerja di rumah sakit yang sama. Wah, ini kayak kisah cinta 'sekali bertemu langsung berjodoh' yang jadi kenyataan! Ditambah lagi, si cewek lebih mendominasi dari cowoknya. Aku benar-benar dukung hubungan mereka!"

Aku mendengar dalam diam. Tak disangka, aku tidak merasakan apa pun.

"Pak Louis?" panggil manajer penjualan itu dengan pelan.

Aku tersadar dari lamunan dan menandatangani dokumennya dengan cepat. Setelah menggesek kartu dan mengambil kunci, aku berjalan menuju mobil baruku. Kemudian, aku menyalakan mesin, memindahkan gigi, dan melaju pergi.

Melalui kaca spion, aku melihat mobil Regina melaju ke arah yang berlawanan. Aku tidak menoleh lagi.

Di depan sana, terbentang kehidupan baruku. Setelah lima tahun, aku akhirnya menemukan diriku kembali.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 19

    "Sejak ayahku meninggal." Aku menatap Regina. Suaraku terdengar sangat tenang, permukaan air yang tidak beriak. "Kita nggak seharusnya memiliki masa depan lagi."Regina tertegun di tempat. Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba tersenyum. Senyumnya terlihat getir dan menyedihkan, seperti seorang penjudi yang akhirnya kehilangan seluruh taruhannya."Aku mengerti." Dia mengangguk dan berbicara dengan suara serak, "Louis, mulai sekarang aku nggak akan mengganggumu lagi."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya sangat lambat, tetapi kali ini dia tidak menoleh lagi.Aku berdiri di tempat sambil menatap Regina berjalan semakin menjauh, hingga sosoknya menghilang di antara cahaya dan bayangan di ujung lorong.Hatiku tidak merasa lega maupun sedih, yang ada hanya ketenangan yang begitu ringan. Seperti sebuah buku yang akhirnya dibalik hingga halaman terakhir ....Lima tahun kemudian, di Kota Irgis, Negara Irgindia.Aku dan Thomas duduk di tepi Sungai Lotfi sambil me

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 18

    Akhirnya ibuku berhasil melewati masa kritis.Tim ahli internasional itu kembali menyesuaikan rencana perawatannya. Satu minggu kemudian, ibuku berhasil keluar dari ruang ICU.Pada hari aku menerima kabar itu, aku duduk di bangku panjang luar kamar sambil membenamkan wajah di kedua telapak tangan. Aku menangis cukup lama.Segala ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak berdaya yang menumpuk selama berhari-hari ini akhirnya terluapkan."Mas." Erika menyerahkan tisu, lalu berjongkok di hadapanku. Nada bicaranya terdengar sedikit kikuk, seolah tidak tahu harus berbuat apa. "Kondisi Bibi sudah membaik. Kenapa kamu masih menangis?"Aku mengambil tisu untuk menyeka mata. Mataku masih memerah. "Terima kasih, Erika. Kamu sungguh baik hati."Seandainya tidak ada Erika, aku benar-benar tidak tahu bagaimana bertahan selama beberapa hari ini.Erika menggaruk kepalanya. Dia mengalihkan pandangannya lantaran merasa agak malu. "Sebenarnya, aku melakukan semua ini bukan semata-mata karena aku baik hati."

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 17

    Aku melaporkan Kevin ke polisi, lalu dia dibawa pergi. Tindakan sengaja memicu emosi pasien setelah operasi hingga kondisinya memburuk, ditambah hasil penyelidikan atas insiden perdarahan pascaoperasi sebelumnya, semuanya akan diperhitungkan sekaligus. Hukuman yang menantinya jauh lebih serius daripada sekadar dipecat dari tempat kerja.Namun, aku sudah tidak punya waktu untuk memikirkan nasibnya.Kondisi ibuku semakin memburuk.Di luar ruang ICU, dokter berulang kali menyerahkan surat pemberitahuan kondisi kritis.Aku tidak tidur selama dua hari penuh. Dari balik kaca, aku melihat ibuku terbaring di sana dengan seluruh tubuhnya dipenuhi selang. Setiap perubahan angka pada monitor seperti pisau tumpul yang mengiris setiap sarafku.Selama beberapa hari ini, Regina juga terus berjaga di rumah sakit. Tidurnya bahkan lebih sedikit daripada aku, hingga matanya dikelilingi lingkaran hitam. Namun, setiap kali melihatnya, aku sama sekali tidak merasa berterima kasih. Yang kurasakan justru ras

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 16

    "“Operasinya berjalan dengan sangat lancar. Seharusnya nggak ada alasan kondisinya tiba-tiba memburuk." Dokter tampak kebingungan. "Kecuali ... pasien mengalami guncangan emosional yang kuat."Hatiku menjadi berat. "Guncangan emosional?"Dokter mengangguk. "Setelah operasi, pasien nggak boleh mengalami gejolak emosi yang terlalu kuat, terutama karena kondisi jantung dan tekanan darahnya memang belum stabil. Coba kalian ingat-ingat, apa terjadi sesuatu yang nggak biasa hari ini?"Sesuatu yang tidak biasa?Ibu baru selesai menjalankan operasi. Selain petugas medis dan beberapa anggota keluarga, tidak ada orang lain yang menemuinya. Tunggu.Aku langsung mengangkat kepalaku. "Periksa rekaman CCTV."Setengah jam kemudian, di dalam ruang pemantauan, rekaman CCTV sudah berhasil diputar. Orang-orang berlalu-lalang di depan pintu kamar. Para perawat keluar-masuk sambil membawa nampan. Saat pukul 15.20, sesosok bayangan muncul di layar.Kevin.Napasku seketika tercekat. Aku tanpa sadar langsung

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 15

    Setelah menerima telepon itu, aku langsung bergegas pulang ke kampung halaman malam itu juga.Di lorong rumah sakit, ibuku masih dalam penanganan darurat, sementara dokter menunjukkan ekspresi serius. "Kondisi pasien sangat kritis. Dia harus segera menjalani operasi. Tapi, fasilitas rumah sakit di sini nggak memadai. Kami menyarankan agar pasien segera dipindahkan ke rumah sakit lain."Sekujur tubuhku terasa dingin. Aku seolah-olah kembali ke tiga tahun lalu. Saat itu, ayahku berbaring di ranjang rumah sakit, dokter juga mengatakan hal yang sama kepadaku.Saat itu, aku kehilangan ayah.Kali ini, jangan-jangan aku juga akan kehilangan ibu?Aku bahkan tidak sanggup berdiri tegak dan hampir pingsan di tempat.Tepat saat itu, Regina tiba. "Biar aku saja."Semua orang tertegun.Dokter mengenalinya. "Kamu … Regina Liandra? Dokter Regina ya?"Regina mengangguk. "Berikan rekam medisnya kepadaku."Dalam beberapa menit, Regina sudah mengambil keputusan. "Bisa dilakukan. Segera persiapkan semuany

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 14

    Selama beberapa hari berikutnya, Regina selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Kami menginap di hotel yang sama, pergi ke tempat wisata yang sama, bahkan makan di restoran yang sama. Aku tahu mengabaikannya adalah cara terbaik untuk membalasnya. Jadi, aku memilih untuk menganggapnya tidak ada. Aku tetap menikmati pemandangan saat ingin menikmati pemandangan dan tetap memotret saat ingin memotret. Namun, Erika malah sudah tidak tahan lagi."Kak Mantan." Di dalam restoran, Erika meletakkan peralatan makannya di atas meja. "Apa kamu punya kecenderungan jadi penguntit?"Regina bahkan tidak mengangkat kelopak matanya. Dia mengambil sepotong sayap ayam dengan santai, lalu mengulurkan tangannya melewati meja dan meletakkannya ke dalam mangkukku. Gerakannya begitu alami seperti dulu, seolah-olah pernikahan kami belum berakhir."Aku sedang pergi jalan-jalan bersama suamiku. Kenapa malah dibilang menguntit?"Erika tersenyum manis, tetapi tidak ada sedikit pun senyum di matanya. "Aku koreksi s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status