مشاركة

Bab 6

مؤلف: L.S
Begitu melihat Kevin dengan jelas, seluruh tubuhku menegang. "Aku mau perawat yang lain."

Aku berusaha bangkit untuk duduk, tetapi dokter menahanku agar tetap berbaring.

"Omong kosong apa ini? Pak Kevin itu perawat terbaik di departemen kami. Meski ingin, orang lain juga nggak bisa dapatkan perawatan darinya saat operasi. Kamu sudah cukup beruntung karena dia yang melakukannya sendiri."

Aku masih ingin berbicara, tetapi dokter anestesi sudah melangkah maju. "Rileks. Setelah bangun, kamu akan merasa lebih baik."

Cairan dingin disuntikkan ke dalam pembuluh darahku dan kesadaranku mulai mengabur. Hal terakhir yang kulihat sebelum tertidur adalah Kevin yang berdiri di bawah lampu operasi dan menatapku dengan dingin.

Entah sudah berapa lama berlalu, aku tersentak bangun karena rasa sakit. Perut bagian bawahku terasa seperti diaduk-aduk dengan pisau. Setiap tarikan napas membuat lukaku terasa nyeri luar biasa.

Aku membuka mata dan mendapati seluruh ruangan kosong. Hanya ada Kevin yang sedang sibuk mencatat laporan perawatan.

"Aku kesakitan ...."

Kevin berjalan mendekat dan memeriksaku, lalu berkata dengan ekspresi tenang. "Itu hal yang wajar setelah operasi. Kamu akan baik-baik saja setelah istirahat."

Seusai berbicara, dia kembali menulis laporan.

Namun, nyeri di perut bagian bawahku makin parah hingga membuatku sulit bernapas. Monitor mulai mengeluarkan bunyi yang melengking.

Aku berusaha mengangkat tanganku. "Perawat ...."

Kevin mendongak dengan kening agak berkerut. "Jangan panik. Kondisimu masih lemah setelah operasi dan hanya perlu dipantau."

Dia berbalik, lalu melangkah pergi.

Kesadaranku mulai memudar lagi. Dalam keadaan setengah sadar, aku mendengar seseorang berlari masuk.

"Louis!"

Itu adalah Thomas.

Aku tidak bisa berbicara, hanya bisa mencengkeram tangannya. Dia melirik ke arah seprai tempat tidur, lalu berteriak, "Dokter! Panggil dokter! Cepat! Dia mengalami pendarahan hebat!"

Ruangan itu seketika menjadi kacau.

"Tekanan darahnya turun!"

"Hentikan pendarahannya!"

"Siapkan transfusi darah!"

Aku mendengar suara langkah kaki yang gaduh dan dentingan peralatan medis sebelum akhirnya kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Saat aku terbangun lagi, hari sudah menjelang malam. Hanya ada aku sendiri di dalam kamar rawat inap.

Terdengar suara teriakan penuh amarah dari koridor.

"Ini yang namanya penanganan benar?"

Itu suara Thomas. Aku belum pernah melihatnya semarah itu. "Pasien mengalami pendarahan hebat setelah operasi! Kalau aku nggak sadar tepat waktu, dia pasti sudah mati! Begini cara rumah sakit kalian merawat pasien?"

Setelah hening sejenak, terdengar suara Kevin yang tercekat. "Maaf .... Aku benar-benar kira itu cuma reaksi yang wajar .... Banyak pasien yang alami hal serupa sebelumnya .... Aku nggak bermaksud biarkan hal itu terjadi."

Saking marahnya, tubuh Thomas gemetar hebat. "Nggak bermaksud membiarkannya terjadi? Cuma itu yang bisa kamu katakan? Dia hampir mati!"

Tepat pada saat ini, terdengar suara seseorang yang familier. "Sudah cukup."

Napasku seketika tercekat. Itu adalah suara Regina.

"Kak Regina ...." Seolah telah menemukan seseorang yang bisa melindunginya, Kevin berkata dengan suara tercekat, "Aku benar-benar nggak sengaja ...."

Regina menenangkannya dengan suara pelan, "Jangan khawatir. Biar aku yang urus hal ini."

Thomas tertawa sinis. "Mengurusnya? Gimana kamu mau mengurusnya? Dia hampir membunuh orang!"

Suara Regina berubah tegas. "Kevin adalah perawat terbaik di rumah sakit ini. Dia nggak pernah melakukan kesalahan fatal. Dia cuma ikuti protokol saat melakukan observasi. Saat ini, nggak ada bukti kelalaiannya. Aku percaya pada penilaian profesionalnya."

Suara Thomas meninggi. "Regina! Apa kamu tahu siapa yang sedang berbaring di dalam?"

Regina terdiam sejenak, tetapi suaranya tetap tenang saat menjawab, "Kamu memang teman Louis, tapi aku nggak akan bersikap pilih kasih terhadap anggota keluargamu cuma karena hubungan kalian."

Dia mengira Thomas sedang membela kerabatnya.

Thomas tak mampu berkata-kata karena menahan amarah. Napasnya terdengar memburu.

Regina membawa Kevin pergi. Suara langkah kaki mereka perlahan menjauh.

Segera setelah itu, terdengar bisikan orang-orang.

"Dok Regina baik banget ke Pak Kevin. Dia terus lindungi Pak Kevin."

"Kalau aku jadi Pak Kevin, aku pasti sudah tawarkan diriku kepada Dok Regina."

"Mereka pasangan yang sangat serasi, juga merupakan dokter dan perawat terbaik di rumah sakit ini. Aku iri banget."

Setiap kata itu terasa seperti paku yang dihunjamkan ke dadaku.

Pintu kamarku terbuka dan Thomas masuk dengan mata memerah. Saat melihatku sudah sadar, dia buru-buru menutup telingaku. "Jangan dengarkan ucapan mereka. Itu semua cuma omong kosong."

Aku menurunkan tangannya dan memaksakan senyum. "Nggak apa-apa."

Lagi pula, aku sudah hampir mati. Apa lagi yang tidak bisa kulepaskan?

Tepat pada saat ini, ponselku berdering. Yang menelepon adalah Regina.

Wajah Thomas seketika menggelap. "Dia masih berani menelepon?"

Dengan tenang, aku menjawab panggilan itu. Suara Regina yang terdengar kesal terdengar di ujung telepon. "Louis, kamu pergi ke mana?"

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 19

    "Sejak ayahku meninggal." Aku menatap Regina. Suaraku terdengar sangat tenang, permukaan air yang tidak beriak. "Kita nggak seharusnya memiliki masa depan lagi."Regina tertegun di tempat. Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba tersenyum. Senyumnya terlihat getir dan menyedihkan, seperti seorang penjudi yang akhirnya kehilangan seluruh taruhannya."Aku mengerti." Dia mengangguk dan berbicara dengan suara serak, "Louis, mulai sekarang aku nggak akan mengganggumu lagi."Setelah mengucapkan itu, dia berbalik dan berjalan pergi. Langkahnya sangat lambat, tetapi kali ini dia tidak menoleh lagi.Aku berdiri di tempat sambil menatap Regina berjalan semakin menjauh, hingga sosoknya menghilang di antara cahaya dan bayangan di ujung lorong.Hatiku tidak merasa lega maupun sedih, yang ada hanya ketenangan yang begitu ringan. Seperti sebuah buku yang akhirnya dibalik hingga halaman terakhir ....Lima tahun kemudian, di Kota Irgis, Negara Irgindia.Aku dan Thomas duduk di tepi Sungai Lotfi sambil me

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 18

    Akhirnya ibuku berhasil melewati masa kritis.Tim ahli internasional itu kembali menyesuaikan rencana perawatannya. Satu minggu kemudian, ibuku berhasil keluar dari ruang ICU.Pada hari aku menerima kabar itu, aku duduk di bangku panjang luar kamar sambil membenamkan wajah di kedua telapak tangan. Aku menangis cukup lama.Segala ketakutan, kecemasan, dan rasa tidak berdaya yang menumpuk selama berhari-hari ini akhirnya terluapkan."Mas." Erika menyerahkan tisu, lalu berjongkok di hadapanku. Nada bicaranya terdengar sedikit kikuk, seolah tidak tahu harus berbuat apa. "Kondisi Bibi sudah membaik. Kenapa kamu masih menangis?"Aku mengambil tisu untuk menyeka mata. Mataku masih memerah. "Terima kasih, Erika. Kamu sungguh baik hati."Seandainya tidak ada Erika, aku benar-benar tidak tahu bagaimana bertahan selama beberapa hari ini.Erika menggaruk kepalanya. Dia mengalihkan pandangannya lantaran merasa agak malu. "Sebenarnya, aku melakukan semua ini bukan semata-mata karena aku baik hati."

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 17

    Aku melaporkan Kevin ke polisi, lalu dia dibawa pergi. Tindakan sengaja memicu emosi pasien setelah operasi hingga kondisinya memburuk, ditambah hasil penyelidikan atas insiden perdarahan pascaoperasi sebelumnya, semuanya akan diperhitungkan sekaligus. Hukuman yang menantinya jauh lebih serius daripada sekadar dipecat dari tempat kerja.Namun, aku sudah tidak punya waktu untuk memikirkan nasibnya.Kondisi ibuku semakin memburuk.Di luar ruang ICU, dokter berulang kali menyerahkan surat pemberitahuan kondisi kritis.Aku tidak tidur selama dua hari penuh. Dari balik kaca, aku melihat ibuku terbaring di sana dengan seluruh tubuhnya dipenuhi selang. Setiap perubahan angka pada monitor seperti pisau tumpul yang mengiris setiap sarafku.Selama beberapa hari ini, Regina juga terus berjaga di rumah sakit. Tidurnya bahkan lebih sedikit daripada aku, hingga matanya dikelilingi lingkaran hitam. Namun, setiap kali melihatnya, aku sama sekali tidak merasa berterima kasih. Yang kurasakan justru ras

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 16

    "“Operasinya berjalan dengan sangat lancar. Seharusnya nggak ada alasan kondisinya tiba-tiba memburuk." Dokter tampak kebingungan. "Kecuali ... pasien mengalami guncangan emosional yang kuat."Hatiku menjadi berat. "Guncangan emosional?"Dokter mengangguk. "Setelah operasi, pasien nggak boleh mengalami gejolak emosi yang terlalu kuat, terutama karena kondisi jantung dan tekanan darahnya memang belum stabil. Coba kalian ingat-ingat, apa terjadi sesuatu yang nggak biasa hari ini?"Sesuatu yang tidak biasa?Ibu baru selesai menjalankan operasi. Selain petugas medis dan beberapa anggota keluarga, tidak ada orang lain yang menemuinya. Tunggu.Aku langsung mengangkat kepalaku. "Periksa rekaman CCTV."Setengah jam kemudian, di dalam ruang pemantauan, rekaman CCTV sudah berhasil diputar. Orang-orang berlalu-lalang di depan pintu kamar. Para perawat keluar-masuk sambil membawa nampan. Saat pukul 15.20, sesosok bayangan muncul di layar.Kevin.Napasku seketika tercekat. Aku tanpa sadar langsung

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 15

    Setelah menerima telepon itu, aku langsung bergegas pulang ke kampung halaman malam itu juga.Di lorong rumah sakit, ibuku masih dalam penanganan darurat, sementara dokter menunjukkan ekspresi serius. "Kondisi pasien sangat kritis. Dia harus segera menjalani operasi. Tapi, fasilitas rumah sakit di sini nggak memadai. Kami menyarankan agar pasien segera dipindahkan ke rumah sakit lain."Sekujur tubuhku terasa dingin. Aku seolah-olah kembali ke tiga tahun lalu. Saat itu, ayahku berbaring di ranjang rumah sakit, dokter juga mengatakan hal yang sama kepadaku.Saat itu, aku kehilangan ayah.Kali ini, jangan-jangan aku juga akan kehilangan ibu?Aku bahkan tidak sanggup berdiri tegak dan hampir pingsan di tempat.Tepat saat itu, Regina tiba. "Biar aku saja."Semua orang tertegun.Dokter mengenalinya. "Kamu … Regina Liandra? Dokter Regina ya?"Regina mengangguk. "Berikan rekam medisnya kepadaku."Dalam beberapa menit, Regina sudah mengambil keputusan. "Bisa dilakukan. Segera persiapkan semuany

  • Dulu Aku Rela Terjebak Dalam Cintamu   Bab 14

    Selama beberapa hari berikutnya, Regina selalu mengikuti ke mana pun aku pergi. Kami menginap di hotel yang sama, pergi ke tempat wisata yang sama, bahkan makan di restoran yang sama. Aku tahu mengabaikannya adalah cara terbaik untuk membalasnya. Jadi, aku memilih untuk menganggapnya tidak ada. Aku tetap menikmati pemandangan saat ingin menikmati pemandangan dan tetap memotret saat ingin memotret. Namun, Erika malah sudah tidak tahan lagi."Kak Mantan." Di dalam restoran, Erika meletakkan peralatan makannya di atas meja. "Apa kamu punya kecenderungan jadi penguntit?"Regina bahkan tidak mengangkat kelopak matanya. Dia mengambil sepotong sayap ayam dengan santai, lalu mengulurkan tangannya melewati meja dan meletakkannya ke dalam mangkukku. Gerakannya begitu alami seperti dulu, seolah-olah pernikahan kami belum berakhir."Aku sedang pergi jalan-jalan bersama suamiku. Kenapa malah dibilang menguntit?"Erika tersenyum manis, tetapi tidak ada sedikit pun senyum di matanya. "Aku koreksi s

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status