Mag-log inPOV Author
Clove terperanjat. Pipinya seketika terbakar panas. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menyatukan kedua telapak tangannya dalam posisi memohon dengan raut wajah panik luar biasa."P-Pak ... tolong jangan bahas hal itu di sini," cicit wanita itu setengah berbisik, matanya bergerak liar memindai sekeliling area presidential dining."Saya takut ada orang lain yang mendengar ...."Melihat wajah cemas dan kepanikan Clove, ekspresi Dewa mendadak bPOV AuthorKata-kata Clove seketika menghantam dada Reno. Pria itu membeku. Matanya terbelalak lebar. Ia seolah tak percaya kalimat tajam itu meluncur dari bibir istrinya. Selama ini Reno selalu meremehkan dan menekan wanita itu."K-kamu bilang apa?!" gagap pria itu, suaranya mendadak bergetar antara syok dan amarah yang tertahan di tenggorokan."Kamu gak tuli, kan!" jawab Clove santai seraya menyelipka rambutnya ke telinga."Daripada aku mempertahankan suami gak berguna, gak tau diri, dan cuma sibuk sama perempuan lain, lebih baik aku cari suami baru yang jauh lebih kaya, lebih terhormat, dan jauh bisa menghargaiku!”Clove menatap wajah Reno yang kini pucat pasi, lalu mengulas senyum kemenangan yang sangat manis."Permisi. Aku mau istirahat," ucapnya dingin.Tanpa sudi melirik Reno yang masih berdiri mematung bagaikan patung batu di tengah pelataran, Clove melanjutkan langkahnya. Ta
POV AuthorBegitu kaki Clove memasuki gerbang, pintu mobil Rolls-Royce di belakangnya tertutup dengan ketukan pelan yang berat. Wanita itu menghela napas panjang. Menetralkan degup jantungnya yang masih berantakan akibat perdebatan panas dengan Dewa di dalam mobil tadi. Namun, belum sempat ia baru menutup gerbang, suaminya melangkah lebar-lebar menghampirinya.Wajah pria itu tampak merah padam. Matanya menyalang menahan murka yang sudah membakar ubun-ubunnya sejak melihat mobil mewah itu berhenti di depan rumah mereka."Dari mana aja, kamu?!" sembur Reno tanpa basa-basi. Ia menghentikan langkah Clove di tengah pelataran. Suaranya bergetar menahan ledakan emosi. "Jam berapa ini? Mobil siapa itu tadi? Kamu sengaja mau bikin malu aku, ya?!"Clove menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia menatap Reno dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan dingin yang dipenuhi rasa muak.
POV CloveAku gelagapan setengah mati. Aku buru-buru menarik pandanganku dan membetulkan posisi duduk dengan kepanikan yang membuncah."M-maksud Anda apa?!" protesku cepat, berusaha menutupi rasa malu-ku. "S-saya sedang melihat ke luar jendela! Anda jangan salah paham!"Pak Dewa menyunggingkan sebelah ujung bibirnya. Membentuk senyuman tipis yang sinis tetapi penuh godaan.Tanpa mengalihkan fokusnya dari tablet, ia bertanya santai, "Memang saya bilang apa?"Dadaku makin berdebar kencang. Wajahku terasa panas dan kebas hingga ke ceruk leher, merasa terpojok oleh jebakan kata-kata pria itu. "Tadi maksud Anda 'puas', apa?!" tagihku bersungut-sungut. Aku merasa Pak Dewa sedang mesum mengungkit kejadian di atas ranjang lagi.Ia perlahan mematikan layar tabletnya, lalu menoleh santai. "Apa kamu puas ... makan malamnya?" tanya pria itu tenang.Aku membeku. Mataku terbelalak lebar. Aku merasa ada yang berubah! Aku sangat yakin seratus persen bahwa maksud pertanyaan Pak Dewa tadi sama sekali
POV CloveAku menoleh lambat, sedikit terkejut dengan kehadiran mobil mewah yang tiba-tiba berhenti dan menutupi pandanganku.Di saat yang bersamaan, kaca jendela mobil bagian belakang yang gelap gulita perlahan-lahan bergerak turun secara otomatis.Aroma kemewahan yang sangat kuhafal dari setiap inci memoriku langsung terembus keluar dari dalam kabin berpendingin udara itu. Di balik jendela, duduk seorang pria berjas yang menatapku dingin dari balik kegelapan kabin. Manik matanya tajam, penuh keangkuhan yang tak tersentuh.Siapa lagi kalau bukan Dewangga Clinton Davidson. Pria itu tidak tersenyum sedikit pun. Wajahnya datar, seolah-olah ia adalah penguasa malam yang sedang menatap rakyatnya."Masuk!" ucap pria itu pendek, bernada dingin dan tak terbantahkan.Jantungku seolah melompat dari rongganya. Rasa tidak enak hati dan kecanggungan yang luar biasa langsung menyerbu dadaku. Set
POV Author”Hah?! Gak mungkin, May!" sahut Clove cepat, dadanya mendadak berdebar kepanikan. "Jangan ngomong sembarangan, ah. Itu sangat tidak mungkin. Pria sekelas beliau mana mungkin suka sama perempuan kayak aku? Aku ini masih istri orang, baru kena skandal. Lagian, beda kelas jauh banget!" tutur wanita itu, mengelak."Kenapa gak mungkin?" bantah Maya bersemangat. "Kamu itu cantik, berbakat, pinter memasak, dan punya aura yang elegan. Jangan minder gitu, dong!”“Ingat ya, Clo, seandainya ... seandainya nih, ternyata Pak Dewa emang ada rasa sama kamu dan punya niat ngedeketin kamu setelah kamu cerai dari Reno, JANGAN RAGU BUAT NERIMA DIA!""Maya!" tegur Clove, wajahnya memerah. Dia menoleh ke sekeliling, takut jika ada Dewa di sekitar sana.Napasnya langsung berhenti mendadak saat melihat pria itu melintas. ‘Duh, dia denger gak, ya?’ batinnya, gugup."Aku serius, Clo!" tegas Maya sa
POV AuthorClove salah tingkah luar biasa. Matanya terbelalak, refleks menolehkan kepalanya menatap lekat Dewa yang sedang menatapnya balik.Dewa menatap wanita itu dengan keangkuhan mutlak, dengan sorot mata yang begitu dalam. Ia berucap dengan suara baritonnya yang dingin dan mengintimidasi."Saya tidak suka milik saya disentuh orang lain. Saya juga benci perempuan murahan!"Ucapan tajam yang meluncur dari bibir Dewa membuat tubuh Clove menegang kaku. Kalimat itu terus bergetar di dalam kepalanya, membakar pipinya hingga merona.Clove memalingkan wajah, menggigit bibir bawahnya erat-agar rasa salah tingkahnya tidak terlihat jelas. ‘Miliknya?’ batinnya bergejolak. ‘Nikah aja belum, tapi laki-laki ini udah berani bersikap sesposesif ini? Dan mulutnya itu ... astaga, kenapa bisa ada cowok yang bicaranya selantam itu?’Ada kekesalan yang meletup di dadanya akibat cemoohan Dewa yang konstan. Namun di saat ber







