LOGINSamuel Yudhistira POV
"Ini ponsel Sienna yang kujanjikan. Sekarang aku sudah menyerahkannya padamu, kau akan memberikanku uang itu, kan?" Hitam legam tanpa dihiasi apapun, berbeda sekali dengan seleranya pada saat taman kanak-kanak dulu. Seorang gadis berkacamata tebal, membersikan permukaan telapaknya di atas rok biru, berkali-kali. Usai membiarkanku merasakan lempengan metalik berlayar gelap itu, Angelina Halim terpucat-pucat wajahnya. Bahu ringkih gadis di depanku gemetar, mengikuti suaranya yang sarat akan ketakutan. "Kau akan memberikan uang itu persis dengan jumlah yang kau janjikan, bukan, Samuel? Aku sangat membutuhkannya. Hari ini, aku harus menyerahkannya pada orang itu." Hidungku mendengus. Manusia, lelaki atau wanita, sifat aslinya terkuak begitu dihadapkan oleh harta. Kugerakkan jari telunjukku, pada William—pelayan pribadiku. Usai dia menyampirkan jubah hitam panjangnya, William menyeret sekoper besar uang dari dalam mobilku. Koper besar diletakkan tepat di depan sang gadis yang sudah banjir air liurnya. Kuinjak bagian engselnya, tepat sebelum tamu kami dapat menyentuh. "Empat ratus juta rupiah," bibirku bergerak cepat. "Aku tambahkan sepuluh persen dari yang kita janjikan. Anggap saja, ini reward karena kau berhasil mencuri ponsel Sienna satu jam lebih cepat dari yang kita janjikan. Silakan, hitung. William akan mengurus, kalau nominalnya salah." "T-terima kasih, Samuel!" Angel berderai air mata. Di bawah kakiku, wajahnya menciumi tumpukan uang yang besarnya sudah melebihi tubuhnya sendiri. Kacamata tebalnya longsor jatuh, tarkala bibirnya basah menghitung jumlah uang sebanyak itu. Kutenggerkan senyum jijik, melirik dari ujung mata. Wanita, akan melalukan apapun saat uang sudah menguasai pikirannya. Termasuk, mengkhianati saudaranya sendiri. "Ngomong-ngomong, kau tau sandinya?" Kuputar-putar batangan metalik dingin itu, pada sela-sela jari. Kuketukkan layarnya menunggu lawan bicaraku bereaksi. Angel menarik posisi kacamatanya dengan telunjuk, memandangku sambil berpikir. "Mengingat sifat asli Sienna, kurasa tanggal lahir dan tahunnya. Kau tau kapan dia ulang tahun, kan? Coba saja," dia menjawab, usai mendapat jeda keterkejutan dari ekspresiku. Layar redup itu, kupandangi lagi, "Ulang tahunnya? Dan bukan nama Jonathan?" ulangku kurang yakin, memastikan, sambil mencoba saran yang gadis itu berikan. Angel mengendikkan bahu, "Jonathan?" Wajah berparas lugu itu diam sejenak. "Aku rasa nama Jo justru paling terakhir di list kata sandi Sienna. Yang pertama, tanggal lahirnya, kedua, nama kucing peliharaannya, Cupcake. Dan yang ketiga ..." "Namanya," tenggorokanku menyahut, spontan. Angel tersenyum getir saat perkataannya ditebak secara gamblang. "Benar," sahutnya, berkeringat dingin. "Lebih mungkin Sienna memakai namanya sendiri untuk kata sandi ponselnya, daripada nama Jonathan." Menggunakan tanggal lahirnya, jemariku berhasil menaklukkan layar redup itu hingga tampak semua kelemahannya. Bertelanjang tubuh di depan mataku, kupandangi ponsel milik Sienna Halim dalam tatap kepuasan. Semua berjalan mulus, berkat bantuan sekretaris OSIS kami yang begitu teladan. Di dalam ruang dapur Bar terbengkalai ini, tempat janji bertemu bersama Angel, aku tak menyesal memutuskan berkerja sama dengannya. Aku, Sienna, Jonathan, kami adalah teman kecil, sahabat taman kanak-kanak yang berjanji sehidup semati. Atau, lebih tepatnya, hanya aku yang ingat akan janji kecil kami itu. Lagipula, orang dungu mana yang terus terbelenggu dengan janji bocah TK, sampai dia SMA? Kalau bisa, aku pun ingin menghapus ingatan itu dari kepalaku selamanya. Sayang, di antara banyaknya kecerdasan yang aku punya, satu-satunya hal yang tak bisa kulakukan adalah menghapus ingatanku tentang Sienna. Menghabiskan masa kecilku di Amerika, kembali ke Jakarta untuk belajar bisnis keluarga, kembali lagi ke Jerman, lalu pulang lagi ke Indonesia untuk kesekian kalinya. Hampir separuh dari dunia ini sudah aku arungi. Nyatanya, satu-satunya yang tidak bisa aku hapuskan, hanyalah perasaanku padanya. Aku tidak menyalahkannya. Lebih aneh lagi, kalau gadis sesibuk Sienna Halim masih ingat dengan janji yang dibuatnya di taman kanak-kanak dulu. Hanya saja, saat kembali ke Indonesia dan mengetahui Jonathan sudah lebih dulu merebut Sienna dariku— —untuk pertama kalinya, aku ingin sekali menghancurkan dunia. "Kau ... teman TK-nya Sie, kan?" Suara Angel membidik telingaku tanpa diundang. Alisku berkedut terganggu. "Kalau kau begitu menyukainya ... mengapa enggak bilang langsung saja? Kalau itu Sie, aku yakin dia paham. Kalau dia tau siapa identitasmu yang sebenarnya, saat kau menyatakannya cinta padanya, aku yakin—" "Cinta?" Aku tergelak. Kusampirkan helai rambutku menjauhi wajah. William sigap memantik korek api elektrik, dipasangkan oleh batang tembakau Premiere di bibirku. Pangkal hidung Angel terhembus oleh asap rokok mengepul dariku, dia terbatuk. Sementara aku, masih dengan buih ledakan tawa di dada. Begitu geli, sampai membuat lawan bicaraku terkesima. "Cinta?" Kulontarkan lagi kata itu, mengulang sinis, lebih tepat. Bara rokok menyala di wajahku, menajamkan betapa jijik aku memandang. "Jangan salah paham. Kalau aku mencintainya, sudah lebih dulu kurebut dia dari sepupuku. Apa yang kulakukan saat ini, jauh dari kata cinta." Lutut gadis berkacamata itu mulai memar dari posisi bersimpuhnya yang tak nyaman. Sebagaimana, mulutnya yang terbuka ragu menanggapi jawabanku. "Begitu," wajahnya terjatuh lesu, iris yang bergerak gelisah, mencoba meraih mataku. "Kalau bukan cinta, lalu apa? Aku tak tau hubungan apa yang kalian punya di TK dulu. Aku dan Sienna berbeda sekolah, jadi aku kurang paham detailnya. Cuma ... um, melihat kau membayar sebanyak ini hanya untuk ponsel Sienna, kurasa kau punya urusan penting sekali dengannya." "Apa mungkin ... balas dendam?" Gadis itu menebak. Tawaku justru semakin kencang. "Pfftt. Balas dendam, ya," tawaku menggema di ruangan. William di belakangku, ikut mengekor saat kubawa sepatu usang ini melangkah meninggalkan gudang. Sebelum pintu kuraih, kutolehkan wajah ke belakang pada Angel yang belum berubah raut takutnya. Usai melihat ekspresi apa yang kupasang saat tertawa. "Bisa kau sebut begitu," timpalku, menyeringai di balik tirai rambut. "Jangan lupa, tugasmu sekarang adalah, sebagai pionku, memastikan balas dendamku dengan Sienna berjalan lancar. Aku ingatkan, sebelum hari ini selesai, peranmu jauh dari kata berakhir." Dengan ogah-ogahan, Angel menyerahkan pengamanan koper uangnya pada pelayan pribadiku. Giliran, gadis itu yang berganti mengekor. Berjarak empat unit ruangan, menunggu toilet Bar yang menjadi tempat kedua dalam pementasan drama kami malam ini. Tugas Angelina Halim malam ini, dua. Pertama, mencuri ponsel Sienna Halim saat dia lengah, tanpa meninggalkan jejak. Dan yang kedua, adalah peran yang paling penting. Kucengkeram rahang gadis itu dari belakang. Wajahnya meringis ketakutan, di hadapan cermin toilet yang memantulkan tubuh kami berdua saling menimpa. Dua belas kancing bajunya kupisahkan satu-persatu. Punggung polos tidak tersentuh, telanjang pasrah di hadapan mataku yang berkilat tajam. Kuseka keringat dingin yang membulir permukaan pori-pori halus itu. Pandanganku kosong, jauh dari kata nafsu sama sekali. Angel memposisikan bokongnya, persis di depan gundukan kemaluanku. Alih-alih terangsang, dua di antara kami saling larut dalam perasaan tragis masing-masing. Angel, matanya nyaris menangis saat aku menarik jatuh roknya hingga menumbuk lantai. Pahanya yang kurus gemetar bahkan sebelum perannya dimulai. Tanganku berhenti pada kaitan bra putih gadis itu, menahan rasa mual luar biasa saat tubuh Angelina Halim nyaris telanjang di depanku. "Kau oke?" Angel membalik wajahnya, bertanya gusar. Meski peran terberat ada di dia—mungkin karena melihat wajahku hampir semaput—Angel jadi berbalik mencemaskanku. Kendati, dia sendiri nyaris pingsan karena ketakutan. Kuanggukkan kepala, asal. Telapakku masih bertahan di depan mulut untuk mencegah apapun itu dari dalam perut, agar tidak keluar. Sebelumnya saat memasuki toilet, aku biasa. Baru setelah melucuti pakaian Angel satu persatu, merasakan kontak tubuh begitu intim, penolakan itu terjadi. "Perlu saya yang menangani, Tuan Muda?" William, berjongkok untuk memberikanku segelas air minum, dan handuk tipis. Kutepis keduanya dengan tak suka. Dia selalu begitu. Setiap aku muntah setelah bersentuhan dengan seorang wanita, William selalu ikut campur. Ini semua berkat ibuku. Sebelum meninggal, dia yang selalu menjadi korban kekerasan ayah, melampiaskan amarahnya padaku, sejak aku kecil. Aku tidak membencinya. Tapi, semua trauma itu membuatku menjadi phobia dengan sentuhan perempuan. Setiap kali kontak fisik dengan perempuan, sengaja atau tidak, aku selalu muntah. Anehnya, seolah mengonfirmasi perasaanku, Sienna Halim adalah satu-satunya perempuan yang tidak membuatku jijik. Aku tidak pernah muntah setiap disentuh olehnya. Sebanyak apapun perempuan itu menyentuh, atau menyiksaku. "Ayo, cepat. Waktu kita tipis," sentakku, tak sabar. Dengan dibantu William, Angel memposisikan tubuhnya sempurna di depan lampu toilet; memastikan siluetnya bergerak jelas hingga ke bagian depan pintu. Spot sempurna untuk Sienna nanti melihatnya. Kuturunkan sedikit resleting celana. Tak sampai melucuti celana dalam, tapi cukup untuk membuat adegan seks palsu kita nanti. Di depanku adalah Angel yang sibuk dengan naskah di dalam kepala; berlatih desahan dan rintihan seperti yang sudah kita rencanakan tiga bulan lalu. Aku mendesah malas. Part tersulit, posisi doggy-style—bagianku. Meski palsu, tapi aku tetap harus membuat gerakan memompa panggul, maju mundur, kalau mau aksi kami terlihat real. Masalahnya, kalau sentuhan tangan saja sudah membuatku nyaris memuntahkan isi perut, bagaimana kalau penisku yang bertabrakan dengan pantatnya? "Ha." Napasku tertarik lelah. Kucoba tenangkan diri, berusaha me-replace batangan tubuh Angelina di dalam kepalaku, dengan bantal. Benar. Bayangkan saja aku sedang masturbasi dengan bantal raksasa berbentuk Sienna. Tak jadi masalah. Aku pernah melakukannya dulu, saat malam pubertas pertamaku. Melakukannya sekarang, tak jadi masalah. "Oke, kita latihan dulu." Aku memposisikan panggulku tepat di belahan bokong angel, yang hanya tertutup kain underwear tipis. "Kau, mendesahlah kencang, sesuai dengan rencana. Ingat, jangan pakai suaramu, pakai suara Sienna. Kalian bersaudara, kan? Pasti kau bisa menirunya." Angelina mulai mendesah. Dia bahkan menambahkan 'bantuan' berupa menggesek-gesekkan bongkahan pantatnya ke gundukan kemaluanku. Yang mana alih-alih membantu, aku justru semakin ingin muntah. "Cukup." Tanganku menghentikannya. Mulai tak kuat, kepalaku rasanya nyaris meledak. "Kita istirahat dulu. William, ambil handuk tadi. Rasanya aku sebentar lagi muntah—" Dari titik terjauh mataku bisa menangkap, aku melihat sosok gadis dengan rambut panjang indah terbuai oleh derai angin artifisial. Langkah arogan dibingkai kecantikan tubuh Dewi, wajah mungil super putih melebihi dempul murahan, iris biru yang selalu muncul dalam mimpiku. Hanya satu manusia di dunia ini yang memiliki semua itu. Aku, tersenyum menang. Butuh tiga bulan untukku mulai terbiasa satu ruangan dengan Angelina, meski endingnya phobia-ku tetap datang. Tapi, hanya butuh tiga detik untukku terangsang sempurna, setelah melihat wajah Sienna. "Haha." Aku tertawa, melirik ke dalam celana. Penis yang sejak tadi lemas kendati gadis secantik Angelina sudah menggodanya, sekarang berubah tegak sempurna. Hanya dengan melihat wajah tukang bully-ku dari kejauhan.Samuel Yudhistira POVBahkan ajal pun, tak pernah mengemudi secepat ini.Setir mobil bergetar di tanganku—atau, tanganku yang bergetar.Jantungku sesempit diseret, seperti pada kecepatan tak manusiawi kendaraan ini. Terikat pada bumper, terseret pada aspal, kubayangkan diriku sendiri berkali-kali, dalam lumurah darah,Calon bayiku yang hendak diaborsi ibunya sendiri.“Jesus’s sake—Sam! Lo mau bunuh gue apa gimana!?” suara Julius meledak pecah di samping telingaku.[Lokasi Rumah Sakit ditemukan. Sebelah barat pantai. Target, cocok. Identitas, cocok. Indikasi, prosedur aborsi. Time, sepuluh menit setelah nomor antrean dipanggil]Panjangnya pesan singkat terakhir bodyguard Ganta melekat terus di ujung mataku. Aku bersumpah dalam seumur hidup, belum pernah sebuah pesan membuat duniaku seketika runtuh.“Paham, paham! Lo lagi buru-buru, oke. Makanya gue yang nyetir! Lo mau ambil Sienna Harim—siapalah itu, kalau Lo mati di sini juga percuma! Buruan, minggir!” Sepupuku memberontak. Mobil yang
Timur pucat arunika berlenggak-lenggok dalam selembaran yang terurai pawana. Keduanya dinaungi atap bahtera langit sepi, senyap, kekurangan saksi mata kepanikan yang membendung.Seandainya sang dokter dapat menghentikan angin, Ia turut berprihatin meskipun semua bukan terjadi dalam kehendaknya. Sisa aroma hujan semalam, tergeser fabric putih yang tergerak berisik. Lebih dulu dari sang pemilik nama, Dokter Jessia menyambangi rekan sejawatnya.Iris birunya telah menjadi abu-abu. Dokter Jessica lebih memikirkan kondisi Sienna—gadis itu, tampak berhenti bernapas begitu namanya terpanggil, tadi. “Hey, kau tak salah sebut nama?” Dokter Jessica menarik nurse dengan tumpukan kertas di dadanya. “Coba sini, kulihat. Mana? Nama dia ada dimana?”Nurse tadi—Anggun, santai saja meskipun sang senior meragukan porsi pekerjaannya sendiri. “Tuh. Sienna Halim. Sienna, Halim,” Anggun ulangi nama gadis itu, sampai dua kali, jarinya menunjuk-nunjuk dokumen yang Jessica tangkap lekat. “Namanya dari huruf S
Mood dalam aliran darah keduanya tidak dalam kondisi tertawa. Baik Sienna maupun Angelina, harap-harap cepat menyelesaikan drama dadakan di malam ini. Gemetaran tangan gadis itu—keringat dingin mengucur secara tragic bagai aliran sungai di lehernya—menunjukkan, sebuah history pesan antara Ia dan sang tunangan.“Ayo kita pergi ke Australia, Sie. Dokumennya, yang kemarin aku bawa ke rumahmu—oops.” Mulut Angelina tersudutkan oleh telapak tangannya. Seketika, Ia melangkah mundur. Ekspresi gadis itu menerangkan jelas ketakutan yang hendak Sienna beberkan di detik ke depan.“Australia,” bibir Sienna bergerak lemah. “Isi dokumen itu adalah surat rumah, kepemilikan apartemen, dan visa yang sudah Jonathan siapkan. Ada nama aku dan dia di sana. Kalau kupakai milikku saja, besok pagi aku bisa langsung ke bandara.”Angelina tertular tremor parah sepupunya. Gadis itu mengedip tak stabil; Ia ingin membahas soal Sienna yang terlihat begitu pucat di matanya. Sem
Mereka sama——meski kau tidak menginginkannya, sekalipun.Pohon palm imitatif, lelampu sudut bergelantungan, rest area selalu menawarkan rasa yang sama. Secuil mentari terpercik pada tengah-tengah tarian guyuran hujan. Yang mana cahayanya, menekan tak sopan. Mengecilkanmu, menyudutkanmu. Anak manusia menyeruak lahan bumi. Calm is a privilege, Samuel duduk, mencari kepingan teka-teki hilang dalam hatinya. Duduk sang ayah di samping, tidak membantu apapun kendati Samuel telah diberi banyak hal. Sudut ponselnya Ia tekan-tekan. Sedang berpikir. Sang ayah tadi berpendapat, Samuel terus menggodoknya setengah mati.‘Siapa?’ pemuda itu, dalam tatap heningnya, mencoba menjahit pikiran. ‘Siapa anak kelas yang dekat sama Sienna? Cukup dekat buat dia bisa membantu Sienna melarikan diri? Kecuali Jonathan? Aku enggak bisa pikir orang lain selain anak itu.’ Logika Samuel mulai tersudut hingga ke ujung.Ganta berlindung dari asap tembakau yang menghala
Audi R8XII-nya berubah menjadi medan gema.Notifikasi, kebisingan ponsel, uapan mesin mobil, semuanya beradu dengan tangis Dewi Halim yang pecah belah. Perintah Samuel terlalu banyak, terlalu cepat, sama sekali tidak membantu meringankan beban udara yang diterima oleh para bawahannya. Langkah-langkah para pelayan saling bertabrakan. Mereka dipaksa hadir dalam menit waktu yang tidak manusiawi. Dua tangan saja tidak cukup bagi Samuel untuk melacak semuanya. Ditambah—Dewi—wanita itu, terus menangis di jeritannya.“Hilang! Putriku hilang!” Tubuh wanita itu runtuk ke lantai. Rest area bukan lagi mereka tumpangi, mereka invasi. Datang segerombol pengemudi lain, secepat itu pula mereka melaju pergi, mengetahui tidak ada space tenang yang tersisa.“Sienna—oh, putriku yang malang.” Dewi terus menangis. Bengkak pada matanya semakin parah. Ia tidak bisa melihat, wanita itu terus jatuh, bertabrakan, dengan bodyguard lain yang tengah sibuk dengan laptop merek
“Sebagai gantinya, jangan pernah sentuh Sienna lagi.”“S-Samuel!”Sejak tadi, peran Dewi Halim hanyalah sebagai bantalan suaminya yang beremosi tak stabil. Rule tersembunyi dari kesepakatan Samuel dan William sebelum mereka menginvasi tempat ini; ‘Jika terjadi apa-apa pada Dewi Halim, perjanjian dibatalkan.’ Itu, yang Samuel tekankan pada pelayannya.Henri adalah the real predator yang sebenar. Setengah jam pertama negosiasi mereka, tak terhitung Samuel hampir melayangkan tinju pada pria busuk itu. Bukan hanya memperlakukan Dewi Halim tanpa kemanusiaan, Henri juga sempat menjambak rambut istrinya. Di hadapannya.Sebelum menyelamatkan Sienna, Samuel tampaknya harus berpikir cara tercepat untuk memisahkan Dewi dari predatornya itu. Mungkin, sebab terlahir dari DNA Henri Halim sendiri, sifat Sienna yang keras kepala diturunkan darinya. Namun, Dewi?Jauh dari kata melawan, Dewi Halim bahkan tidak merasakan apapun saat dilecehkan oleh suaminya







