Share

Chapter 6

last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-10 18:22:06

Samuel Yudhistira POV

Semua berjalan lancar.

Begitu Sienna datang, segala phobia dan trauma yang kumiliki, hilang.

Aku sedikit berekspektasi Sienna—paling tidak—akan melabrakku, begitu melihatku menyetubuhi sepupu polosnya. Siapa sangka? Di depan kamera pengintai yang William install pada tembok yang memisahkan kami, bisa kulihat ekspresi wajah Sienna dengan jelas.

Kedua pipi bersemu, napas memburu. Ekspresi itu, jelas bukan ekspresi yang dikeluarkan ketika dia sedang marah.

Kutunda dulu rasa puasku, untuk melakukan eksperimen.

Kujambak rambut Angel dari belakang, hingga lehernya tertolak menyerupai busur. Dengan rambutnya ditanganku, bisa dengan mudah aku menggenjot pinggangku di bawah sana. Bunyi benturan kulit, kecipak yang seharusnya tidak terjadi, menggema di toilet kosong ini. Mustahil, Sienna yang sedang bersembunyi di balik dinding, tidak mendengarnya.

"L-lebih cepat, Samuel ..." Angelina, dia pintar belajar.

Tanpa perlu kusuruh, dia membuat desahan-desahan erotis. Mustahil Sienna menyadari seks palsu kami. Bayangan yang kami berdua buat, cukup membuktikan betapa panas pinggulku menggempur sepupunya.

"Hmp."

Telingaku tiba-tiba menangkap sebuah desahan.

Kucekik leher Angel yang telah memerah oleh keringat. Angel terdiam karena rahangnya kupaksa menoleh, tatapannya penuh tanda tanya. Angel tidak mendesah lagi. Aku tak sanggup menyembunyikan seringai di taringku.

Itu artinya, desahan yang kudengar dari, berasal dari Sienna.

"Pfftt. Dia ikut mendesah juga?" Kutahan tawaku dengan susah payah. Aktivitas kami berhenti sejenak, aku ingin mendengar desahan yang Sienna buat di depan kamera pengintai. Bisa kusaksian jelas, tubuh nakalnya ikut bergerak maju mundur, seirama dengan gerakan panggulku. Jemari lentiknya, bermain di ujung lidah. Oh, sepertinya yang menikmati peran, bukan hanya kami berdua.

Aku mengajak Angel membuat eksperimen lagi. Kupastikan suara basah kecipak bagian bawah kami, beradu seolah-olah kami sedang berciuman panas, menguar hingga ke balik toilet. Tanganku menarik pinggang Angelina lebih dalam, namun mataku tertuju sepenuhnya pada layar monitor kecil yang William sediakan.

Kami bertiga begitu intens. Aku yakin Sienna tidak menyadari, tapi tiap kali Angel mendesah, napasnya semakin tidak beraturan. Seolah dia juga ikut merasakan kenikmatannya. Setiap pinggulku menumbuk bokong Angelina, Sienna merapatkan kedua pahanya. Dan, dia mengejang.

"Pffttt. Apa dia orgasme?" gumamku, tak tahan tawa. Bisa kulihat seringai puasku pada pantulan cermin besar toilet. Kapan terakhir kali aku sebahagia ini?

"Kalau tau dia se-lacur ini, harusnya dia yang kuajak main," gerutuku, kesal namun juga puas. Kupandangi dingin punggung Angelina, mulai terkulai lelah pada keramik wastafel. Cukup lama pagelaran palsu ini, kurasa sudah waktunya santapan utama. Agak sedikit menyesal juga. Tujuan utamaku merencanakan skenario palsu ini, untuk membuat Sienna marah padaku.

Selama ini, dia hanya melihatku sebagai objek pelampiasan kemarahannya. Aku ingin ada sebuah pemicu. Kalau kubuat situasi dimana Sienna mau tak mau harus melihatku dari dekat, marah padaku, mungkin itu bisa membangkitkan memorinya.

Saat tau bocah kecil yang dulu dikaguminya, sekarang berubah menjadi bajingan dan sedang merusak sepupunya—

—bukankah itu menjadi balas dendam paling sempurna?

Kubetulkan lagi letak celanaku. Beranjak dari Angel untuk menghampiri cermin, kurapikan tatanan rambutku di sana. Kupandangi penampilan kacauku. Meski di luar rencana, tapi reaksi Sienna tidak buruk juga.

Dia terangsang, aku tau itu. Normalnya, apakah seseorang akan terangsang melihat adegan seks orang yang dibencinya? Unless she's crazy sick, maybe. Tapi Sienna yang aku, tau tidak begitu.

Jadi, ada dua kemungkinan.

Selagi menunggu William mengeringkan rambut basahku dengan handuk, kutenggerkan pundak pada dinding toilet. Berpikir. Sienna saat ini sudah ingat semuanya, atau, dia hanyalah gadis pelacur biasa yang terangsang hanya karena melihat cowok telanjang. Tipikal yang sering aku temui dulu, saat masih di Amerika.

"Oh?" Sienna membuatku mataku mengerjap terkesima.

Penampilanku sudah rapi; celana penuh lekukan berantakan, rambut basah, kemeja dengan seluruh kancing terbuka. Sengaja ditampilkan, bulir keringat pada lekuk otot perutku. Sempurna untuk menampilkan kesan seorang Samuel Yudhistira, baru saja selesai 'memerawani' wanita.

Bahuku bergetar menahan tawa, saat aku berjalan keluar. Di depan pintu toilet, Sienna duduk bersimpuh di lantai dengan kedua kaki tremor. Ada paper bag di dekatnya—tampaknya terjatuh usai memergokiku dengan Angelina tadi.

'This is clearly not what I expected.' pikirku, jeda sedikit dengan mata bergulir pahanya yang basah. Kuharapkan tadi pertemuan perdanaku dengan Sienna sedikit dramatis; dia yang terkejut padaku, yang tiba-tiba menghampiri. Tapi begitu kusambangi, Sienna sudah KO duluan.

"Sie—"

Tanganku disentak. Aku terkesiap. Ucapanku belum selesai, Sienna sudah lebih dulu berlari kabur tanpa melihat padaku. Sama sekali.

Dia merebut paper bag itu, lalu berlari secepat kilat. Tanganku yang ditepisnya cukup kasar, sedikit terasa panas. Tapi, hatiku lebih panas.

Ditinggalkan sebelum klimaksnya selesai, senyumku keluar getir dengan gemeletuk di rahang. Kukencangkan kepalan tanganku, meninju tembok bekas Sienna bersembunyi, hingga permukaannya retak.

"Tuan muda!" William bergegas menghampiri begitu melihat tetes darah dari sela-sela jemariku.

Disusul oleh Angelina, pakaiannya masih berantakan dengan kaitan bra yang belum terpasang. Tapi, dia menghampiriku lebih dulu karena suara benturan yang begitu keras tadi. Mereka berdua kubuat terkejut dengan tinju kedua. Kali ini, yang retak sepertinya adalah tulangku. Menjelaskan William begitu panik sampai kedua lenganku ditahan olehnya.

"Wow, how messed up," Angelina bergidik horor dari kejauhan. Dia melirik pada jejak kaki sepupunya yang tertinggal di lantai. Mulai memahami situasi. "Sie kabur, kah? Kayak bukan dia. Harusnya kalau tau aku had sex dengan cowok bully-nya, harusnya, sih, dia lebih ke marah daripada kabur."

"Sialan!"

Benci mengakui, tapi Angelina benar. Alasanku membuat skenario seks palsu ini, adalah untuk membuat Sienna Halim marah, cemburu, apapun itu yang bisa membuatnya ingat padaku lagi.

Tapi, apa-apaan, tadi? Kabur tanpa melihat wajahku sama sekali? Jangan bilang, suaraku kurang jelas. Jangan bilang Sienna tak tau kalau itu adalah aku.

"Hey, kau. Cari tau kemana dia pergi. Kau sepupunya, kan? Pasti tau kemana Sienna sekarang," Dadaku panas. Kusentak Angelina yang masih kacau penampilanya. Kupaksa dia segera berbenah, untuk mengejar Sienna sebelum gadis itu pergi lebih jauh.

William memanggil dokter pribadi keluargaku. Bar ini, sebenarnya salah satu cabang bisnis keluargaku. Jonathan memilih Bar ini karna tau keluargaku akan memberikan potongan harga padanya. Justru itu, kupakai untuk menjebak Sienna. Dan kenapa semuanya jadi berantakan?

Esok harinya, Sienna absen.

Aku sudah memaksakan diri dengan drama keributan di rumah, usai ayahku marah melihat tanganku penuh perban. Saat tau Sienna Halim tidak sekolah, kucari kemana gadis itu pergi.

Seminggu berlalu, tetap tidak ada kabar. Sampai luka di tanganku membaik, Sienna belum masuk sekolah juga. Jonathan—cowok bajingan itu—tidak bisa diharapkan. Aku kecewa. Kalau tau Sienna dijodohkan dengan cowok lembek seperti dia, harusnya sudah kurebut Sienna dari dulu.

Kalau aku jadi dia, Sienna sudah kukurung, kurantai dalam kamar. Di momen kita berpacaran, akan kubuat Sienna Halim tidak bisa melihat apapun selain diriku.

Pikiranku sedang larut di hadapan jendela besar mansion kami, ketika William mengetuk pintu kamarku.

"Tuan Muda. Nona Sienna Halim kami temukan sedang mengunjungi sebuah bar," ucap pria tua berambut putih itu. Dia, membawakan bukti lima foto yang diambil oleh bawahanku, yang kuperintahkan untuk me-stalking Sienna.

Kusentuh salah satu dari foto tersebut yang masih basah. Ada beberapa warna yang tidak sinkron di kulitnya.

Memar. Mataku mendapati memar di paha dan leher Sienna, saat meneliti foto-foto itu. Terlihat jelas dia berusaha menutupinya dengan jaket, tapi mataku tidak bisa ditipu. Dan ini terjadi bukan hanya sekali. Setiap Sienna absen sekolah, dia selalu kembali dengan luka memar di tubuhnya.

"Henri sialan," aku menggeram kalah. Kubuang foto-foto itu yang sudah kumal akibat cengkeramanku. Dan bergegas keluar kamar.

"William, siapkan mobil. Kita pergi ke Bar Lumierre sekarang," perintahku cepat.

Begitu tau alasan hilangnya Sienna seminggu ini, yang kupikirkan hanyalah satu; aku harus cepat-cepat merebutnya dari Henri dan Jonathan. Aku memang membenci Sienna, yang dengan mudahnya melupakanku begitu saja. Tapi, not in my wildest dream, I would lay a finger on her, let alone hurt her. Aku tidak terima. Mainan yang harusnya aku rusak, justru disentuh oleh orang lain.

Mobilku sampai di Bar Lumierre. Sienna, mabuk parah. Dia sampai tidak mengenaliku. Hanya dengan satu pujian, dengan mudahnya Sienna mengajakku ke kamar Bar. Jelas, ini sama sekali bukan yang kuharapkan.

Saat Sienna menggodaku di kamar Bar, yang kurasakan jauh dari nafsu. Marah, benci, dan tidak terima.

Dia bahkan tidak tau siapa aku. Apa maksudnya, dia terbiasa menggoda pria asing untuk tidur dengannya?

Kupandangi wajahnya yang tertidur pulas berkat efek alkohol. Kami berpisah 10 tahun lebih. Dan di masa aku tidak ada di sisinya, siapa yang sudah membuat Sienna si gadis lugu, manis, menjadi pelacur seperti ini?

"William, ayo kita pergi." Aku melenggang dengan langkah kaki panas.

Kutinggal Sienna di kamar itu sendirian, setelah menyelimuti tubuhnya. Aku tidak menyentuhnya. Malah, Sienna yang berinisiatif melepas celana dalamnya sendiri, untuk menggodaku. Alih-alih terangsang, aku justru ingin sekali menculik dan mengurungnya di kamarku sekarang.

Malam itu, aku tidak pulang. Kembali ke rumah hanya akan memperburuk suasana. Kuhabiskan malam di hotel keluargaku, Golden Triangle, saat ponselku tiba-tiba berdering. Satu pesan masuk, Angelina Halim, melampirkan sebuah screenshot.

[Lusa, Sie ulang tahun. Tapi Raya dan Agnes mau merayakannya lebih awal besok malam. Kupikir informasi ini bakal berguna untukmu. Sekalian, kuberikan alamat lokasi party mereka. Jangan lupa untuk mengirim uang dua ratus juta yang kau janjikan, Samuel. Aku sudah bekerja keras mencari informasi ini.]

"Tikus itu berguna juga." Wajah asamku, akhirnya dihujani senyum kepuasan. Kubaca deretan pesan Angelina, lalu memanggil asistenku. "William, kirim dua ratus juta ke rekening Angelina Halim. Sekarang," perintahku seraya bangkit dari sofa.

"Baik, Tuan Muda." William menundukkan tubuhnya. "Apa anda ingin pergi ke suatu tempat? Chairman ingin bertemu anda pagi ini. Lebih baik jika—"

"Batalkan saja," sanggahku, cepat. Kupakai kembali jas hitam yang sempat kubuang tadi dengan buru-buru. "Paling, dia mau bicara soal perjodohanku dengan Laura. Bilang, aku tidak tertarik. Dan berhenti mencampuri urusanku."

Aku pergi tanpa William. Begitu mendapat informasi dari Angelina, kepalaku tak bisa tenang. Ada satu ide gila, yang bisa kulakukan untuk membuat Sienna ingat padaku.

"Kalau aku menculiknya, memperkosanya ... kira-kira, apa dia masih bisa sok pura-pura lupa padaku?" Aku tak bisa menahan seringai di balik kemudi mobil.

Salah satu ponselku menyala. Panggilan suara yang aku tunggu-tunggu, datang. Kunailkan volume suaranya—sengaja. Aku ingin mendengar suara gadis itu dengan jelas.

"Tuan Muda, kami berhasil menculik Sienna Halim. Sebagai bukti, kami akan perdengarkan suaranya padamu."

Suara putus-putus mulai terdengar, akibat gesekan dari seseorang yang berusaha meronta-ronta dari dalam mobil.

"Lepaskan aku, sialan! Kau, siapa kau!? Berani sekali kau menculikku! Akan kubuat kau menyesal! Akan kubuat kau tidak bisa mendapatkan pekerjaan apapun seumur hidupmu!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (50)
goodnovel comment avatar
Ninis
kenapa harus pakai cara kejam seperti itu? hhh
goodnovel comment avatar
Catlina
serem banget samuell. lariiiii SIENNAAAA
goodnovel comment avatar
Henikiava
tuhkan, bener ulah Samuel semua
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 27

    Samuel Yudhistira POV“Ugh—uhuk. Ah. Hng—ugh. Ha…”“Kenapa, Sam? Ugh—sakit? Atau, enak?”Jalur napasku terblokir cengkraman tangannya. Sienna bermain di atas. Kontrol seluruh permainan ada di tangannya sekarang. Apapun gadis itu lakukan, demi mencegahku pingsan. Termasuk, membuat sisa-sisa darah di tubuhku mengalir sepenuhnya ke batang penisku. Sekujur tubuhku dingin, sebeku mayat. Namun bagai tau mana prioritas yang diagungkan, penis yang dipakai bermain oleh peliharaanku sekarang, terus menegak sempurna.“Ugh—ggh.” Di sela desahan, aku terus terbatuk. Kekurangan pasokan darah ke otak memblokir napasku makin dalam. Sienna tau itu, dan sengaja membuat leherku sebagai batang tumpuannya. Selagi pinggangnya naik turun, Sienna terus mencekikku hingga wajahku berubah merah.Namun, anehnya, vaginanya terus mengetat. Yang di ambang batas kematian, padahal, aku sekarang. Seolah seluruh rasa sakitku tersalur padanya, Sienna terus menggenjot bagian atas tubuhku dengan vagina yang meremas-rema

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 26

    Samuel Yudhistira POVDi seberang tanda kutip buku sastra paling kubenci “Hunden gøer, når dens hale bliver bidt, katten kradser, når dens hoved forstyrres. For at tæmme et vildt dyr kræves der blidhed, ikke styrke. For i sin hale gemmer den sin følsomhed. En herre må vide, hvordan man tæmmer et vildt dyr, så det til sidst vender sig om og logrer med halen.” Karya Odd Fallen, pujangga agung. Namanya ada di barisan paling depan buku absensi kami. Sebesar itu, guru sastraku dulu, memujanya.Aku ingat persis. Sebelum malam natal, Ibu menangis di hadapan mayat peliharaan kami yang mendingin tertimbun tumpukkan es. Sebanyak apapun saksi di malam itu, Ibu terus menuduhku telah membunuh anjing kesayangannya. Uniknya, alasanku diam hingga detik ini, justru karena paham alasan dibalik Ibu mengatakan itu.Fortes, anjing peranakan Labrador Retriever kami.Ayah lah yang membunuhnya.Ibu menuduhku, karena tidak sanggup menerima fakta. Suami kesayangannya, adalah seorang psikopat.Buku sastra Odd F

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 25

    Christine Soediharjo POV “Iya, iya. Makasih sudah datang ke sini, Kak. Sorry, jauh-jauh ngerepotin. Oke, diganti perbannya setiap dua jam sekali. Apa? Oh, dia belum boleh mandi dulu. Oke, Kak, siap. Makasih sekali lagi.” “Ha…” Cleopatra memutuskan sambungan dari Samsong Galaxy X Flip-5, sebelum akhirnya mendaratkan satu sentilan tajam ke keningku. “Dengar barusan? Jangan mandi dulu, jangan gerak dulu, jangan marah dulu. Apalagi, tadi? Oh, Ganti perban dua jam sekali. Kakakku memutuskan pakai stitch pads daripada jahitan asli. Dia pikir, orang tuamu bakal panik kalau lihat bekas jahitan di leher anaknya nanti.” “Thanks, Cleo,” ucapku, lemah. Kering yang ditinggalkan obat bius Lidocaine dosis minor terasa di setiap kali kucoba membuka suara. Kusentuh, punggung leherku, dimana perban putih terlilit. Bekas luka yang ditinggalkan seorang lelaki, bisa terasa sesakit ini. Dadaku terasa sesak. Bukan karena pengalaman nyaris bunuh diri barusan, justru, dari seorang manusia yang bahka

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 24

    Christine Soediharjo POVMenyebrang dari deretan dining steward yang diisi kakak kelas kami, The Wisteria Pavilion lambat laun mulai ditinggali. Tebaran pendatang VVIP yang tersisa hanya menuntaskan kredit pembayaran mereka. Hanya hidangan di meja kami, dan aku, yang masih belum berambah inci dari terakhir kali mereka melayani.Ostriche Fine de Claire di mulutku mulai terasa amis. Ekspresiku bagai tengah mengunyah batangan besi, mengundang tatapan jengah dari Cheff yang susah payah menghidangkanku ini. Kalau mau berbuat, salahkan atensi lelaki yang mengisi kursi seberangku!Mulutku dipaksa menggiling semua sajian premium yang ada di meja, karena Samuel terlalu sibuk dengan layar ponselnya. Belum cukup dia mengabaikanku satu jam penuh, sekarang, sepasang earbuds menyumpal lubang telinganya. Kesal sudah menjadi penutup sampingan. Aku tak tahan malu dengan para senior yang mulai mentertawakanku!Sengaja, kuseret dining fork hingga berdenting di sebelah piringnya. Samuel melirik sedikit,

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 23

    Christine Soediharjo POV“Very well. Kalau begitu list terakhir kita—ah, bagaimana dengan Sienna Halim? Kenal dengan dia?” Sersan Domestic Investigation Unit menconteng lembaran terakhir restricted-access case folders. Payung bolpoin hitam diketuk-ketuk pada papan yang berdiri di samping dekap lengannya. Menunggu berjejer barisan siswa-siswi lain di hadapanku, mereka semua memiliki pandangan horor yang sama.“Tidak,” kubilang. Bolpoin itu menconteng lagi. Diburu desah resah pemegangnya, kutahan senyuman gembira untuk tidak mengembang.“Tapi di sini, teman sekelasmu bilang, kalian berdua teman masa kecil,” Sersan DIU itu menekan lagi. Kalau ini adalah murid lain, detik kedua mereka menghampiri, semua sudah tertangkap basah. Sayang sekali sampel yang mereka jumpai sudah menunggu-nunggu momen ini sejak tahunan lamanya.“Teman kecil bukan berarti dekat saat dewasa, Pak Polisi.” Bibirku termanyun, berlagak lesu. “Saya turut berduka cita atas hilangnya siswi Sienna Halim, di lingkungan seko

  • Dulu Pembulinya, Kini Wanita Mainannya    Chapter 22

    Sienna Halim POVPatron satir merangkak ejek, balik ke sayuku yang mendelik. Terpelintir. Di luar semampai putih mentereng di mata, adalah semboyan ekstrakurikuler PMR paling berisik seraya; “Merah di darah, putih di dada. Bagi kami, keselamatan adalah yang paling utama.”Aku meludah pada semboyan konyol itu. Mengejek, atau apa? Nyatanya di bawah sablon mentereng itu, seorang pemuda sedang merudapaksa diriku. Mana perginya perawat atau guru yang berjaga? Kurasa teriakkanku terlalu lembut, sampai dianggap untaian lulaby oleh mereka.Latihan memang tidak mengkhianati insan. Ujung celana dalamku yang masih bercium baru robek dengan suara yang renyah sekali. Perlawananku baru melejit tatkala monster di atasku lupa diri, menargetkan rok sekolahku kesekian kalinya.Kalau setan berjenis kelamin manusia ini merobeknya juga, aku mau masuk kelas pakai apa!? Demi Tuhan. Pemerkosaan kedua ini rasanya tidak setimpal dengan betapa tebal jengkelku sekarang. Terpaksa, melihat diriku kalah.“Tumben, e

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status