MasukSienna Halim POV
Buru-buru kutarik celana dalamku, mengancingkan rok asal demi mengejar pengintip itu. "Jangan kabur kau! Hey! Sialan!" Pengintip itu sudah kabur. Kakiku, justru tersandung pintu toilet yang menghalangi jalan. Sepanjang berlarian kutahan sakit, tapi tak sebanding dengan amarah mencuat untuk menangkap pengintip sialan itu. 'Akan kubunuh. Akan kubunuh dia begitu kutangkap. Takkan aku biarkan siapapun melihat matahari besok dengan matanya yang dia pakai untuk mengintipku,' sumpah serapahku bertebaran dalam hati. Lorong gedung SAINTEK aku lewati, kutemukan sepasang jejak basah dari sepatu yang menyambung dari toilet, hingga ke gedung perabotan kimiawi sekolah. 'I got you, bitch,' batinku tergelak. Permainan mengejar rubah telah usai. Senyumku mengembang seraya kudapatkan pengintip itu, rambutnya mencuat dari balik jendela kaca—niat sembunyinya berhasil kupatahkan. Hockey Player, Dilan, yang pernah nembak aku tahun lalu, berjalan lewat di depanku. Mereka hendak menuju lapangan untuk pemanasan pagi. Seketika ide gila yang tak kusangka, menghampiri. Kucegah langkah Dilan, kurebut tongkat Hockey-nya hingga dia tertinggal diam. Kuseret batangan besi itu, sepanjang koridor senyap dengan suara gesekkannya yang nyaring. Kumasuki gedung perabotan dengan langkah tajam. Tongkat di tanganku, kutancapkan ujungnya tepat pada samping kepala pengintip itu. Sang empunya terdiam, tak berani bergerak. Baru setelah kusaksian jelas siapa wajah yang berani bermain-main denganku, tawaku meledakkan udara. "Samuel." Mataku memicing sinis. Rubah yang kutangkap, sudah tak mampu melarikan dirinya. Tapi, aneh. Saat nama itu terlontar, ada rasa puas asing yang menyelam di dada. Fakta bahwa si cowok kutu busuk itu yang ternyata mengintipku, rasanya aku sangat lega. Apa jangan-jangan dalam hatiku, diam-diam berharap Samuel lah yang mengintipku? "Sudah kuduga, kau si mesum sialan," lidahku berdecik, cibir. Tongkat tadi kugunakan untuk mengangkat dagunya—Samuel terdiam. Tapi, ada hal lain yang aku sadari dari tubuhnya. Samuel, duduk di lantai dengan kedua paha terbuka, menampilkan batangan penisnya yang tegak di balik celana. Sontak, getir horor menimpa wajahku. Kujauhkan badanku darinya, namun satu kakinya mengunci betis kurusku secepat kilat. "Ngh." Samuel—si sialan itu mendesah. Tak perlu kudorong mataku ke bawah untuk mengetahui. Samuel, dia memakai bagian bawah tubuhku sebagai stimulasi onaninya. Kakiku tak bisa bergerak. Bukan karena kedua tangannya yang memelukku, namun, tubuhku tak membiarkan aku pergi. "Kau. Jangan-jangan, kau terangsang setelah mengintipku?" celetuk lidahku, mencibir miris. Palsu. Aslinya, badanku ikut terasa panas. Samuel lihai sekali menggoda kepala penisnya—yang berwarna pink segar—dengan jemarinya, hingga tubuh atletis ramping itu mengejang nikmat. Insting primataku ikut meronta. Suara desahan Samuel di bawah sana, mengingatkanku momen panasnya dengan Angel, di toilet Bar. Cowok cupu yang hanya tau tugas dan buku itu, mendadak menjelma menjadi lelaki yang lihai bermain seksual. Panggulnya bergerak maju mundur, membenturkan batang penisnya pada ujung sepatuku. Aku menelan ludah. Ingatanku terbawa pada teriakkan Angel yang penuh kenikmatan. Digempur habis oleh Samuel. Seperti sedang membawa pintu surga jatuh padanya. Bagian bawahku mulai basah. Dan, aku tak tahan lagi. Kepribadianku seperti membelah menjadi dua. Satu, sisi rasional yang membenci cowok cupu itu. Sisi lain, adalah Sienna si gadis biasa yang terangsang melihat seorang lelaki masturbasi dengan kakinya. Aku menggigit bibir basahku. Apa ... Memang seenak itu? Senikmat itu, kah, seks dengan Samuel, sampai membuat Angel terkenal polos, berteriak meminta kenikmatan seperti orang memakai? 'Bagaimana ... Kalau aku juga—' kata hatiku, langsung terpangkas. Kami berdua buru-buru mengubah posisi, saat mendapati seseorang masuk ke gudang perabotan kimiawi. Dan, hampir menangkap basah kami berdua. "Sienna?" Suara Jonathan meremang di telinga. Pintu gudang terbuka, Jonathan datang membawa sekotak penuh cairan kimiawi untuk eksperimen lensa warna kami Minggu depan. Rautnya memasang terkejut. Detik kemudian, matanya jatuh pada Samuel yang sudah bercelana lengkap. Duduk bersimpuh di lantai—di depanku. Tak sanggup membawa wajahnya ke depan. "Apa yang mau lakukan di sini, bro?" Jonathan menegur Samuel terlebih dahulu. Nadanya sarat akan tak suka. Karena tau, dia tidak bisa memarahiku, jadi dia menargetkan Samuel lebih dulu. "Ini ruang khusus guru dan staf. Murid dilarang masuk kecuali ada izin khusus. Kau, ada keperluan apa di sini?" Samuel—dia diam. Hening lelaki itu ditemani rambut basahnya oleh keringat, tersapu halus oleh gerak tubuhnya yang beringsut bangkit berdiri. "Maaf," ucapnya, halus, kental oleh nada bersalah. Kubiarkan Jonathan mengurus cowok cupu itu, tapi mataku, justru fokus pada tengah selangkangannya. Yang ... masih berdiri. "Eh! Tunggu!" Mulutku memekik spontan. Seketika wajah merahku berubah pucat mayat. Jo, Samuel, melirik padaku bersamaan. Melirik pada selangkangan Samuel lagi, wajahku mulai menyalin merahnya tomat. Samuel—juga, sok ikut memandangku dengan tatapan bertanya. Ini berkat kau, sialan. Maksudnya, dia mau berdiri dan berjalan di depan Jonathan dengan kondisi penis tegak, basah di dalam, seperti itu? Hanya ada aku di sini. Kalau Jonathan berbalik menuduhku, nyawaku jadi taruhan! Kupilih jalan pintas. Liquid box bawaan Jo kurampas sekali serang. Total tujuh botol cairan warna di dalamnya, kubuka semua. Dan, kusiram seluruhnya ke tubuh Samuel. Semuanya. Sampai tubuh kutu busuk itu basah kuyup penuh warna-warni cairan. Kupastikan tak ada bagian yang kering. Cukup untuk menyembunyikan cairan cinta Samuel dalam celananya. Samuel, terdiam. Jonathan, berkerut keningnya, tak suka melihat aksiku. "Hey ..." Jo mengelenguhkan napas menderu. Wajah blasteran Indonesia-Jerman itu tergeleng padaku. "Itu untuk ujian kita Minggu depan, Sienna." Ekspresiku datar. Aku tau Jo akan marah. Tapi, daripada dia melihat Samuel ereksi di satu ruangan denganku, ocehan wali kelas kami nanti terasa lebih ringan untuk ditahan. Aku terus dimarahi Jonathan, Samuel sibuk membersihkan sisa cat warna yang menggenang di kepalanya. Bayaran yang tak setimpal untuk menyelamatkan harga diri. Tapi, diamnya aku di depan Jonathan menyimpan rasa penyesalan. Kalau saja Jo tidak menganggu, mungkin, aku bisa sedikit lebih lama menyaksikan cowok cupu itu. Penasaran. Bagaimana Samuel bisa menggoda sepupu polosku, Angel, sampai berubah segenit pelacur? Aku mau melihat. Memastikan. Mungkin, Samuel bisa menunjukkan— —tunggu dulu. Apa? Menunjukkan apa, Sienna? Dan kenapa ... aku jadi penasaran sama cowok cupu itu? "Intinya, tolong refrain something like this to happen in our school. Dan kamu, sayang, harus secepatnya menyudahi bully-mu itu. Kamu enggak tau, Samuel itu sebenarnya adalah—hey! Sienna! Aku belum selesai bicara!" Langkahku berlarian meninggalkan gudang. Jo masih di sana, peduli setan. Rasa jijik pada pikiranku sendiri melebihi bersalahku saat ini. Begitu otakku kembali waras, kusadari pikiranku soal Samuel si cupu mulai berbelok drastis. Sebelumnya, dia hanya pelampiasan emosiku semata. Sekarang, terjalin rasa penasaran tabu yang seharusnya aku, Sienna Halim, paling tidak boleh merasakannya. Oke. Kuakui, seks Samuel dan Angel memang menggoda. Bikin penasaran. Lalu, apa? Bukan sekali dua kali aku memergoki teman sekolah kami seks di luar nikah. Perawanku hanya di badan, bukan di mata. Tapi, kenapa Samuel begitu istimewa? "Jangan bilang aku suka sama dia," gumanku, entah kenapa, tergelak sendiri saat kakiku sibuk berlarian kabur entah dari apa. Demi mengembalikan kewarasan, aku kembali masuk kelas. Sienna Halim terkenal hobi bolos, tapi kali ini aku rela duduk diam 7 jam penuh di kelas tanpa komplain. Semua demi menghilangkan bayangan wajah horny Samuel dari kepalaku. Walau setiap aku melihat ke dalam kertas, yang muncul justru ekspresi terangsang cowok itu yang menggesek kemaluannya pada kakiku. Jam sekolah usai, orang pertama yang menagih penjelasan padaku: Raya, bisa ditebak. Gadis berambut ikal itu menodongku di depan kelas. Tanpa ampun. Penjelasanku langsung ditagih di tempat. "Kau!" Raya menudingku di depan kawan-kawan kami. "Seminggu enggak ada kabar! Kau sudah enggak anggap aku temanmu lagi, hah!" "Tsk." Kutepis telapaknya, yang hampir mencolok mataku. "Bukan gitu. Aku mau telpon, hape-ku disita ayah. Gimana mau kasih kabar?" Ocehan Raya berhenti di moment kubawa kata sakral itu ke tengah percakapan kami. "A-ayahmu menyita ponselmu? Wow, girl. What did you do this time to make him that angry, huh." Pandanganku terbuang jengah. Kekesalan Raya langsung dipoles bersih oleh rasa takutnya. "Mau dengar ceritaku? Tapi, jangan di sini. Cari tempat aman. Oh, sekalian, besok ultah-ku. Kau dan Agnes berjanji mentraktirku," kupotong sisa ucapan, menunggu reaksi Raya yang cekikikan sok lupa. "Hehe. Iya, mau makan dimana?" sahutnya bernada tak enak. "Gimana kalau resto Hotel kakakku? Kau suka seafood, kan? Di sana best banget. Sekalian malamnya kita party, ajak Jo! Aku telpon dia, oke?" "Jangan." Ku hentikan gerak tangannya. Raya menyorot bingung. Sebelum dengar dia komplain, buru-buru kuluruskan. "Jo sibuk. Nanti aja. Panggil anak lain, atau kita bertiga juga oke," kusambung cepat. Dengan mudahnya Raya menerima alibiku, realitanya aku sedang menyembunyikan sesuatu. Benci kuakui, tapi belakangan ini terlalu banyak insiden aneh terjadi. Dan semuanya, berkaitan dengan Samuel. Bohong kalau aku tak terpikirkan. Malah, isi kepalaku penuh dengan wajahnya. Jonathan, dia sangat sensitif. Dia orang pertama yang tau ayah menyiksaku sebulan penuh, meski memar ditubuh sudah kututup. Aku jamin kalau Jo melihatku malam ini, dia akan menyadari ada sesuatu yang calon tunangannya sembunyikan. Yaitu, Sienna Halim diam-diam memiliki guilty pleasure pada cowok paling cupu di sekolah. "Lama banget. Katanya, mau jemput pakai mobil." Aku menggerutu sendirian. Kakiku mulai kebas, berkat memilih tempat paling sepi di sekolah untuk gerbang utama pesta kecil kami nanti. Demi menghindari Jonathan, aku menyuruh Raya dan Agnes menjemputku di belakang gedung keperawatan yang masih kosong. Tempat paling sepi yang bahkan anak paling nakal pun ogah untuk mampir. Kutunggu sendirian di sini, sambil merasakan gatalnya gigitan nyamuk. Layar ponsel kulirik kesekian kali, Raya belum juga mengangkat panggilan. Kesabaranku mulai tipis. Kuketik satu pesan singkat lewat W******p, untuk Raya sebagai peringatan terakhir. 'Telat 5 menit lagi, kau kutinggal.' Bunyi pesan itu. Lalu, kirim. Aku tau dimana hotel bintang lima milik kakak tertua Raya, tapi kami bertiga sepakat berangkat bersama. Karena, Raya yang berjanji akan membiayai pesta ulang tahun early-ku malam ini. Raya selalu membual, tentang betapa sukses kakaknya. Kita lihat malam ini, se-tajir apa keluarganya. Kalau dia bohong, aku tinggal mem-bully-nya juga. Lima menit terakhir berlalu. Perjanjian dibatalkan. Raya dan mobilnya tidak kunjung datang, aku pun bersiap untuk memesan taksi online sendiri. Sambil mengumpat kesal, kupilih titik jemput paling dekat dengan jalan raya. Di tengah sepinya jalur pertigaan, mataku mendapati sebuah mobil mewah—terlalu mewah untuk taksi online, pun untuk mobil pribadi Raya. Tapi, mobil itu berhenti di depanku. Aku mulai mencium hal tak beres. I had my fair share of fight in the middle school, jadi aku tau mana mobil yang mencurigakan, mana yang bukan. Dugaanku tepat. Dua pria berjas hitam, berbadan besar mirip petinju, dengan tato naga di leher mereka, keluar dari mobil mewah itu. Melihatku berlari ketakutan, mereka cepat mengejar. "Tolong!" aku berteriak. Panik. Mengapa genre hidupku cepat sekali berubah? Dikejar pria garang di sekolah, ini bukan sinopsis film action! Kaki kurusku tak sanggup menandingi kecepatan lari mereka. Dengan sekejap, dua pria itu menangkapku. Salah satu di antara mereka menutup mulutku dengan sapu tangan basah. Seketika, aku kehilangan napas. Sedetik kemudian, kesadaranku menghilang. Di tengah kesadaran menggantung, aku bisa mendengar kedua pria itu tertawa. "Bawa dia ke mobil. Tuan Muda sudah menunggu," ucap salah seorang di antara mereka.“Minggir, Stacy. Sasya mau gendong juga!”“Cepetan difoto!”“Hmm… harumnyaa~”“Oh, oh! Dia senyum! Buruan difoto!”“…”“M-Mahkotanya jatuh!”Sambutan paling meriah dengan urutan:1. Classic biola Argenvale Symphony-Set2. Grand Piano Elmont Grand-Pearl Edition3. Diiringi Harpa kristal, terbaru dari Elarisse H-12 Concert SeriesPotongan pohon Sakura imitasi paling besar ditanam pada tengah lantai satu mansion Yudhistira. Ratusan kelopak merah mudanya, menutupi cetak tulisan kaca Aurelith:[Happy 1st Birthday, Mirae Yudhistira]Tak ada yang mengindahkan, sebab, seluruh atensi para tamu pesta ulang tahun jatuh pada bayi dengan senyuman penuh memesona.Semuanya berebut ingin foto dengan Mirae versi sempurna, bergaun renda-renda Étoile Diamond Baby Dress; Stacy, Bella, Aurel, Jinha, gadis-gadis tercantik dari keluarga Yudhistira saling line-up, berbaris. Menunggu giliran berfoto dengan princess cantik di atas kursi ulang tahun ber-safety khusus.Wanita yang melahirkannya, yang susah payah
“Sie...”“...”“Hm?”“...”“...kita tadi, enggak pake kondom, ya.”“Iya.”Plafon dingin di atas mesin filter udara smart air Cryovent ZR-5 Climate Unit. Berdengung. Masih belum ada satupun suara eksternal layar monitor bayi Nestoria M4 Guardian-Cam. Bayi cantik menggemaskan—Mirae, masih tertidur pulas dengan stuffed bunny di tangannya.Tanpa tau, kedua orang tuanya hampir terkena serangan jantung.Bantal di bawah panggulnya seketika dibanting melawan karpet model Velcrona Soft-Step RX yang tak bersalah. Paling pertama panik, justru Samuel sendiri. Sienna, sudah menyadari sejak lebih awal seks mereka yang tanpa pengaman. Paniknya Samuel sampai membuatnya terpeleset piyama berserakan sendiri.“Kenapa enggak bilang, Sie.”“Hah? Kok aku?”Samuel kenakan cepat-cepat boxer hitam hingga piyama tidur lengkap. “Harusnya henti-in aku waktu kita enggak pakai kondom. For god’s love.”“Kok nyalahin aku!?” Sienna naik pitam. Walaupun paniknya juga gradually terus naik. Disaksikan sang suami cepat-c
Separuh yang masuk.Daripada kenikmatan, yang Sienna rasakan pertama kali justru—‘Fuck! Sakit! Serius, sakit! Seriusan se-gede ini? Sumpah, sakit!Kotak putih berenda ivory berlabel Arvenix R-12 Newlywed Collection—tadinya diabaikan, Sienna paksa buka dengan posisi penis Samuel ‘tersangkut’ setengah di dalam kemaluannya.Merutuk dalam hati dan agak kesal juga. Sienna kira seks setelah punya anak akan terasa lebih ‘mudah’ dipagelarkan? Rasa sakitnya sama, dan pelumas alami vaginanya kurang cukup melubrikasi penetrasi.Sienna sempat percaya diri dengan saluran vaginanya—Ia sempat melahirkan, bukan? Perasannya atau apa? Penis Samuel terasa lebih besar dari lubang lahirnya sendiri.“Tsk. Sam! Kecil-in kemaluanmu!” geram Sienna akhirnya memutus mood romantis ‘malam pertama’ mereka. Terpaksa dibuka botol baru lubricant untuk melumasi vaginanya. Banyak, butuh banyak sekali. Sienna tak paham dimana yang salah, pahanya mulai lelah sebab terlalu lama mengangkang.Berawal dari perih dan sesak,
Jika tidak berkat terbantingnya engsel jendela model Asteron VX-4 Panorama Glass—terhempas angin malam—Sienna mungkin akan sangat nervous dengan awkward terjatuh ke atas tubuh suaminya.T-shirt baju tidur pemuda itu tersingkap hingga ke lekuk otot abdomennya. Untung saja, Sienna cepat-cepat pindah posisi sebelum tak sengaja melihat. Terlalu sibuk menetralkan suasana penuh gugup, Sienna asal saja membuka berbagai rak dan lemari yang—jumlahnya banyak sekali di kamar super besar ini—penuh dengan barang, entah apa.Benda panjang diambil. Rak sebelah kiri dari ranjang raksasa mereka, menempel sebuah tempat yang ketika digeser pegangannya, berbagai macam botol-botol kecil warna-warni tersimpan di sana.Menyernyit sebentar, Sienna. Salah satu botol berwarna pink dengan tekstur semacam gel, diambil, diangkat ke hadapan wajah sang pemuda.“Sam,” panggil gadis itu, menoleh sebentar, “Ini apaan, deh? Botol sebanyak ini. Minuman atau apa?”Bantal berpasangan dari ranjang besar Corvessa M11 Imperi
“SUMPAH! AKU BELUM NGELAKUIN APA-APA!”Bantal dari Elluné Cradle-Pro tiba-tiba ditendangnya. Dua lengan terangkat ke udara—pose criminal tertangkap basah. Histeris Mirae yang terbangun dengan posisi menjerit trauma, diperparah dengan Samuel yang mendadak tertular virus tantrum.“Sam, kamu itu kenapa?” bahu kanannya kram, pegal, dipakai terlalu lama menimang Mirae sendirian. Dilihatnya Samuel dengan kepala terdongak. “Kamu kenapa tiba-tiba teriak begitu? Enggak boleh main lempar-lempar barang.”“TAPI AKU KESEL!” satu lagi bantal dibalingnya dengan hembus emosi. “AKU BELUM NGAPA-NGAPAIN! LOOK, SIE. DID I TOUCH ANYTHING? NO! I WAS JUST HERE, BREATH! AND—YET,”“Iya, aku paham,” Sienna coba tenangkan suaminya sambil mencoba—juga—tenangkan bayi mereka. “Aku ngerti kamu kesel, but please, don’t throw anything. Aku trauma lihat laki-laki yang suka lempar-lempar barang. Cukup, ayahku aja—”/crash!/“SAM!”Tabung akrilik penuh dengan bubuk bedak steril Vellatrix Care Powder ditendang, Samuel ke
Lengketnya deep-raven surai Samuel menandingi lengket dari tanah lumpur bekas guyuran hujan di lahan taman mansion Yudhistira.Cepat alat sensor Orphéline Vault-Access memindai ‘keberadaan’ Samuel—semenjak memiliki anak, keamanan di mansion-nya diubah sangat ketat. Ada Julius yang terus mengekor di belakang, sedang diperiksa barang bawaannya.Hari ini, hari terberat bagi Samuel.Meski kehidupan perkuliahan tak jauh dari sebatas ‘formalitas’, tugas dan banyak kunjungan tetap memenuhi absensi. Samuel telat sedikit, absennya merah. Ganta marah. Terhitung selesai urusan kampus, Samuel ganti seragam jadi jas hitam formal.Tanpa ampun. Sang ayah meminta Samuel memegang empat cabang Perusahaan Yudhsitira sekalipun. Usianya belum genap dua puluh tahun, client-nya berusia puluhan tahun. Bulan terbit meninggi, Samuel baru bisa menjejak pulang.Dihimpit kerasnya kewajiban sebagai anak, ayah, suami, kata ‘lelah’ tak cukup membantu Samuel. Matanya lengket sekali, Samuel berjalan cepat ingin segera
Julius menutup separuh wajah pucatnya dengan punggung tangan. ‘Fuck. What did you do to this boy? Fucking chris,’ batinnya memburu. Pemuda bertindik itu mengusap punggung lehernya—kikuk bukan main. “Err, Christ ada di dalam, kan? Kau mau masuk? Atau pulang?” tanyanya. Berbasa-basi.
Buih cairan antiseptic pencuci mulut menyisakan rasa pahit mengigit sampai ke pangkal lidah. Kepalanya terus merunduk di hadapan ember transparan, hingga seluruh cairan itu keluar. Tetes air matanya jatuh tak beraturan. Sambil terbatuk-batuk, Jonathan paksa wajahnya mendongak. “A-A
Cumbu amatir yang mengantarkan ke sekujur tubuhnya.Bibir basah menempel terlalu lama. Tak hanya pinggangnya—pinggulnya, bergetar sebagaimana dansa di lidah mereka. Detik-detik cumbu mereka menekan terlalu lama, bukan sebab sang pemuda dibanjiri nafsu. Melainkan, Jonathan takut Christine
“S-Sebentar—” Tangan Olivia tersendat di udara. Tamunya itu telah mangkir dari ruangan bahkan sebelum memberikan Olivia kesempatan apa-apa. Balon helium yang diikat pada kaki meja tadi, Olivia sambar. Beberapa kotak kado yang—sangat—berat wanita itu peluk. Langkahnya tertatih mengikuti gerak jala







