Mag-log inJonathan Wilyono POV
Toile de Jouy corak gagal melengkung sempurna. Bentangan abu-abu tirai blackout hanya memudarkan panasnya, bukan cahayanya. Marmer cream di bawah kami memantulkan terik pagi bertumpuk-tumpuk. Bagai ingin menginterogasi niat kaburku yang gagal selama dua pagi ini.Lidahku pahit. Ada bekas lelehan saliva di ujung bibir, sisa ciuman kami semalam. Kecuali seutas lengan ramping yang merangkul pinggangku sedari malam, seluruh tubuhku tak berpakaian. Kepalaku“—apa.”“Tunggu—”“HAH!!???”Compang-camping, Raya menyeret Sienna ke dalam kamar mandi umum.Berdesak-desakan pada koridor itu, toilet umum mall memang tidak dikhususkan ibu hamil.Raya tak bisa berpikir lagi. Keringat dingin di telapaknya nyaris membuat tangannya meleset. Butuh beberapa kali mengetuk-ngetuk pintu toilet, sampai pada akhirnya Raya menemukan satu bilik kamar mandi kosong.“Kau! Duduk sini!”Bahu Sienna didorong. Dipaksa, gadis itu duduk di bantalan closet kosong. Hanya ada satu rak kecil—di balik cermin—toilet ini. Raya mengacak-acak isian botol-botol di dalamnya. Harap-harap cemas, bisa menemukan sesuatu.Biasanya Sienna tak pernah setuju dibuat paksa seperti ini. Sekarang, anehnya, gadis itu diam. Posisi duduknya membuat kedua paha gadis itu terbuka, pandangan Sienna jatuh tertunduk. Bukan pada lantai putih toilet dingin
—143/lbs.HR-ttexity Garmin, luxury weight scale. Angka yang Sienna Halim terakhir dapatkan—143 pounds. Seberat 64 kilogram, jika diperkirakan.Tapak kaki pucat berdiri sejajar pada lempengan kaca berkedi-kedip. Tak ada angka yang berubah, kendati telah dicoba menekan-nekan. Sederet angka digital menampilkan berat badan terkini Sienna, yang gadis itu kerap ukur tiap pagi. Semenjak, dirinya merasa begah. Bangun tidur, membawa gundukan besar di bawah lapisan rectus abdominis.Tak lama beberapa waktu, Sienna adalah pemegang gelar gadis ber-body jarum pasir paling terkenal se-tongkrongan. Berlapis bikini pantai, pun, Sienna tak takut. Satu waktu pernah terjadi, Sienna dan Raya bertengkar sebab satu potongan baju diperebutkan. Raya, mengancam—bercanda—akan menyebar foto bugil Sienna, jika tidak mau mengalah.—Oh, gadis itu tak takut. Bisa diingat deng
Kali ini, pagi tak menyapa lewat jendela— —adhesi. Tarik menarik dua energi berbeda di dalamnya memekikkan kekacauan. Tipis, pucat, menyisa cahaya tersangkut pada gundukan sela tirai yang lupa jalan pulang. Ruang tamu kediaman Wilyono menampung tarian mentari pagi tanpa antusias—gudang, mungkin lebih disebut pantas. Ruang ‘penyimpanan’ sementara dua anak manusia. Saling meluruskan usaha masing-masing. Lapisan kaca di meja tertimbun dossier separuh terbuka. Lembar demi lembaran legal melengkung, dari ujungnya yang terlalu banyak disentuh. Di sekitarannya, sisa-sisa penjajahan microplastic—bungkus mie instan, cup noodle, kertas kopi, pembungkus nasi instan, saling tumpuk-menumpuk menyerupai gundukan sampah negara. Butuh tiga hari penuh untuk menyulap ruang tamu Jonathan, serupa kamar tidur Hikikomori. Udara tak tersirkulasi segar. Padat. Memaksa dua manusia di dalamnya bernapas melalui tekanan—beban pikiran mereka. Jonathan berdiri di tengah-tengahnya. Kacamata tipisnya terus berge
“Pfftt. Sini-sini kakimu, aku bantu pijat.” Angelina mendadak mellow wajahnya. Bibirnya mengerucut, manja. “Siennaaaaa.” “Gila, sih.” Mengoceh lagi, Angelina. Keluhannya kali ini sedikit lebih datar, mengingat sudah ada Sienna yang memijit pergelangan kakinya. “Kuat kamu tinggal di sini, Sie? Aku? Kayaknya seminggu tinggal di sini bakal habis buat hapalin jalan doang.” “Pfftt.” Sienna tertawa lagi. Buncit di perutnya agak sedikit mengganggu—juga, maternity gown ini—namun sang gadis senang. Angelina datang jauh-jauh untuk menjenguk. Terlebih, dua hari ini, Sienna merasa tak enak badan usai bertengkar dengan Samuel. “Ya sudah, kalau gitu bantu aku kabur dari sini, dong. Kayak, waktu itu,” tutur Sienna. Bercanda. Sang sepupu menanggapinya dengan tragis. Posisi duduk Angelina seketika bergeser ke belakang, menjauh dari sepupunya. “Amit-amit. Seneng ya liat aku mati?” Angelina geram, memeluk kedua lengannya sendiri. Gemetaran. “Waktu itu, kalau enggak ditolong seseorang, Samuel hampir
We can do our wedding in any place—sekonyong-konyong, bagai rem, sebagaimana sebuah kalimat berbandul beban sangat berat, mengalahkan kecepatan gesek ayun kemudi. Tolehnya terporos penuh, tumpah ruah pada pemuda di sisi kiri ayunan. Minus dari ketenangan, tak hadir satupun nada bercanda pada lapisan ekspresinya. Duduk tenang sesekali condong ke arah depan—Samuel, sorot matanya lurus tanpa arah lain, selain pada Sienna. Terlalu serius cara pemuda itu mendiamkan akhir pertanyaan, sulit untuk Sienna menyangkalnya. Di atas ayunan yang masih mengayun, tubuh Sienna menengang. Jari-jemarinya menggulung tiap serat kail ayunan tanpa menyadar. Mencengkram, namun pikiran melolos entah kemana. Anywhere. Sienna bingung, bagaimana mudahnya pemuda itu berucap? Bisa jadi, sosok musuh—dirinya sendiri—memanfaatkan kesempatan, memilih tempat paling tak logis? Sienna pikir dalam diam, sejauh mana Samuel willing to, mengabulkan keinginannya? ‘Let’s fucking try.’ “Limitnya?” Menoleh, wajah Sienna. Ga
‘Tempat nikah? In this fucking situation? Can’t we just pick random places to begin with? It’s not like we’re loving each other.’ Sienna menggerutu. Kekesalannya dilimpahkan pada kulit kepala. Cekung di celah kedua alis gadis itu makin melebar, berkerut, bergelombang oleh kejengkelan. Jemari kurusnya memanjat pelipis, memijit sisi kanan kepalanya yang mendadak berdenyut. Semenjak tinggal di mansion ini—apa Sienna merasa tenang? In the hell. Kontras, gadis itu tak pernah tak mendapat mimpi buruk. Anemianya kambuh parah, migraine terasa tak ada habisnya. Lebih parah lagi, wanita hamil dilarang mengonsumsi obat—Dokter Kishibe bilang. ‘Terus? Mau dibiarkan sakit kepala sampai mati, gitu?’ geram isi kepalanya. Sienna menunduk sebentar, sandal rumahnya bergesek pada lantai batuan teras dengan gerak berulang. Gadis itu menguji kesabarannya sendiri. Ia sendiri tak mendapat diskusi proper tentang pernikahan mereka. Let alone, sang ayah. Henri menghilang setelah gift batuan ruby-nya dikembali
Penjepit kertas Greaseproof Paper pada tangannya dipelintir, sebelum Samuel menambahkan dua lembar daging asap ke bagian tengah roti panggang. Dibantu Sienna, Samuel membungkus cheese sauce dari loyang di atas kompor. Disajikan di atas helai-helai daging berwarna cokelat kemerah
“Sam, jangan nyalahin Jonathan. Aku, aku yang bawa dia ke sini.” Sienna menunjuk-nunjuk dirinya sendiri. Gadis itu gunakan tubuhnya, berdiri di tengah dua lelaki bersungut tinggi. Menjadi tameng. “Aku telpon Jo ke sini, biar bisa tau kondisi Ibu. Hari ini dia pulang, kok. Dia ha
Christine Soediharjo POV00:41 – failed00:48 – failed01:12 – failed“Hey. Pamanmu Arthur bilang dia enggak bisa bantu. Kecuali kita berdua udah lulus, dia enggak bisa bantu legalitas pernikahan. Dia minta aku dan Sienna lulus sekolah dulu. Oi. Gimana ini, maksudnya.”‘The number you dialed is not
“Ugh.” —kerikil basah lagi. Setapak jalan kecil mansion Ganta Yudhistira menghubungkan pada sebuah kolam artificial. Indah, menenangkan. Percik airnya cukup mengajak Jonathan ingin cepat-cepat menimpa empuknya kasur. Minus, ribuan kerikil pinggir jalan yang sejak tadi menyangkut pa







